Jenis Dosa – Macam Aspek Kesalahan Yang Dilakukan Manusia

Jenis Dosa – Macam-Macam Aspek Kesalahan Yang Dilakukan Manusia

Berjalan menyusuri hidup di dunia yang fana, kita tidak akan lepas dari kesalahan. Tetapi, tak mengapa: karena akibatnya akan mengajari kita untuk tidak melakukan itu lagi. Seperti seorang anak yang tidak mendengar saat ditegur agar tidak bermain api. Pada suatu waktu, api tersebut akan memanaskan permukaan kulitnya sehingga ia kesakitan. Tepat pada waktu itulah ia enggan untuk bermain api lagi. Rasa sakit ternyata dapat mengubah seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Akibat dari suatu perbuatan mengajari kita untuk melanjutkan perbuatan tersebut atau malah menghentikannya. Itulah dasar perubahan yang dapat menggiring seseorang entah ke dalam hal-hal baik atau dalam hal-hal buruk.

Di atas semuanya itu, janganlah menjadi pribadi yang terlalu naif. Ketika ada hal-hal yang menyakitkan, langsung dicap sebagai keburukan yang harus dijauhi. Namun saat ada hal-hal yang membuat nyaman, justru dianggap sebagai salah satu kebaikan yang harus ditekuni. Generalisasi sikap berdasarkan rasa yang ditimbulkannya, tidak pernah akurat. Untuk menilai sesuatu benar atau jahat dan baik atau buruk dibutuhkan hati yang murni dan pikiran yang jernih. Kemurnian yang didasarkan pada kehendak yang tulus. Sedangkan kejernihan pikiran dapat diperoleh lewat sudut pandang yang bersih dimana orangnya pun harus turut bersih sikap. Dan tentu saja semuanya ini perlu dijalankan dan dibandingkan dengan standar kasih sejati yang diyakini masing-masing.

Macam-macam jenis dosa selama manusia hidup di muka bumi

Diantara semua pendapat yang ada, kami tidak begitu yakin: “apakah Tuhan membedakan antara dosa kecil dan dosa besar?” Layaknya ungkapan yang sering kita dengar di dalam pergaulan: “kecil besar dosanya sama saja di hadapan Tuhan.” Kami anggap ini sebagai sudut pandang yang masih perlu dijelaskan lebih rinci lagi, dalam hal apa dan seperti apa itu kecil dan besar? Mungkin yang dimaksud dengan kecil adalah kesalahan recehan yang sesungguhnya merupakan ujian dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan yang besar adalah pelanggaran nyata seperti mencuri, membunuh dan memfitnah sesama. Jika sudut pandangnya demikian, tentu tidak ada kesamaan antara yang kecil dan besar, sebab yang besar tersebut tergolong pelanggaran berat dan bisa dipidanakan.

Berikut akan kami jelaskan sedikit tentang berbagai jenis dosa dalam kehidupan umat manusia.

  1. Dosa Adam dan Hawa (dosa kepada Allah).

    Seperti kisah nyata yang langsung dituliskan dalam kitab pertama dalam Alkitab. Kesalahan nenek moyang kita yang paling awal adalah ketidaktaatan terhadap firman Allah. Mereka menyepelekan firman dan lebih mementingkan hawa nafsunya yang besar terhadap kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Buah Pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat sangat mempesona panca indranya. Pesona itupun merasuk dalam lubuk hatinya sampai menjelma menjadi keinginan yang menggebu-gebu, melebihi firman Tuhan. Jadi perampasan buah dari pohon kehidupan merupakan wujud nyata besarnya keinginan manusia terhadap hal-hal duniawi melebihi ketaatan kepada Tuhan. Bukankah itu masih terus terjadi sampai sekarang?

    Pelanggaran ini disebut juga sebagai kesalahan yang dilakukan terhadap Sang Pencipta. Manusia meninggalkan pencipta-Nya, melalaikan persembahan terhadap-Nya dan mengabaikan aturan-aturan Taurat yang diberikan-Nya. Pelanggaran yang terjadi karena kita mendua hati dari Tuhan dan lebih cenderung mengutamakan kecintaan terhadap materi dan kemuliaan duniawi. Bahkan kerap kali beberapa orang mengusahakan keduniawian tersebut sampai menghalalkan segala cara.

  2. Dosa nenek moyang (generasi pertama, kedua, ketiga sampai empat sebelumnya).

    Seorang bayi dilahirkan suci ke dunia ini sebab daging dan darah kita tidak menularkan dosa. Akan tetapi, yang menularkan dosa sampai membuat seseorang najis di mata Tuhan adalah harta benda yang dimilikinya. Apakah anda bisa menjamin bahwa para pendahulu sebelumnya meraih harta yang diwariskan itu dengan jujur? Mungkinkah mereka dulu mendapatkannya tanpa merusak lingkungan hayati? Apakah mereka dahulu tidak membunuh atau memanipulasi pihak lain demi memperolehnya?

    Ini bukan soal sesuatu yang dapat dimakan dan diminum. Sebab apa yang dimakan dan diminum pasti besoknya akan dikeluarkan. Tetapi kenajisan yang menjalar melalui harta berasal dari warisan. Sesuatu yang diwariskan dalam nilai tertentu dan dituliskan dengan jelas serta ditanda-tangani. Segala hak waris yang kita peroleh dari generasi sebelumnya, bersamaan dengan itu, kita juga mendapatkan warisan dosa yang terkandung dalam kekayaan tersebut.

  3. Dosa yang dilakukan sejak kecil sampai besar sebelum mengerti jalan kebenaran di dalam Yesus Kristus.

    Manusia tidak luput dari pelanggaran bahkan sejak kecilpun mungkin saja telah melakukan kesalahan. Mungkin pernah ditegur berulang kali tetapi mendengarkan karena daya ingatnya tidak cukup kuat. Tentu pernah ditegur oleh suara hatinya sendiri tetapi mengabaikan hal tersebut karena masih belum peka dan belum mampu membedakan mana sisi yang benar dan mana yang jahat. Semua penyimpangan yang kita lakukan karena kurang pemahaman dan kurang pengalaman telah diampuni bersamaan dengan kematian Tuhan Yesus Kristus sekali untuk selamanya. Percayakah anda pada karya keselamatan tersebut?

  4. Dosa yang tidak disengaja (terhadap Tuhan dan sesama).

    Merupakan pelanggaran yang terjadi karena kebodohan manusia itu sendiri. Tidak pernah direncanakan sebelumnya melainkan hal ini terjadi begitu saja. Dimana kejadiannya berlangsung sangat cepat. Saking cepatnya, orang yang melakukannyapun tidak ingat terhadap kejadian tersebut. Terkadang amnesia ini berlangsung sebentar dan langsung disadari (beberapa saat, beberapa jam, beberapa hari kemudian). Akan tetapi, ada juga yang terlupakan sama sekali alias tidak pernah disadari oleh orangnya.

  5. Dosa yang disengaja (terhadap Tuhan dan sesama).

    Besar sekali kesalahan terhadap dosa yang disengaja karena kita telah menyusun dan membahas-bahas hal tersebut di dalam hati, beberap saat sebelum dilakukan. Pelanggaran yang sebelumnya kerap kali menimbulkan pertengkaran di dalam hati. Seolah-olah ada sisi lain dalam diri kita sebelum melakukannya. Sisi lain yang tidak kasat mata tetapi pekerjaannya nyata inilah yang membuat pikiran tidak bisa fokus sehingga banyak rutinitas yang terbengkalai.

    Bertengkar dengan suara hati sendiri merupakan salah satu aktivitas internal yang beresiko memusingkan kepala. Seolah-olah ada orang yang melawan dan menghasut yang posisinya di dalam otak sendiri. Ini membuat hati cenderung tidak bisa tenang. Dimanapun berada, kita tidak bisa tenteram melainkan pertengkaran tersebut terus berkecamuk dan sesekali membesar menyebabkan stres yang membuat sikap turut amburadul.

  6. Dosa terhadap sistem.

    (Matius 16:19) “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

    Tuhan mengizinkan manusia untuk membuat aturannya sendiri. Ini lebih dikenal sebagai “Kunci Petrus.” Setiap bentuk kerja sama yang terjadi antar manusia dalam sebuah organisasi memiliki aturan tersendiri. Orang yang melanggarnya tentu saja tidak hanya melanggar kode etik organisasi, dia juga dianggap berdosa oleh Tuhan. Hanya saja, peraturan seperti apa dulu yang dilanggarnya? Adakah aturan tersebut telah dipertimbangkan secara benar dan adil untuk semua orang? Maka aturan yang dianggap pantas akan ikut dijadikan standar di hari penghakiman. Sedangkan segala peraturan yang dibuat dengan hanya menguntungkan pihak tertentu saja akan dibatalkan-Nya.

  7. Pembagian dosa lainnya.

    Berdasarkan segmen kehidupan yang terlibat.
    a) Yang diperankan oleh pikiran.
    b) Yang diperankan oleh perkataan.
    c) Yang diperankan oleh perbuatan.
    Berdasarkan kesadaran saat melakukannya.
    a) Kesalahan yang disadari (disengaja).
    b) Kesalahan yang tidak disadari (tidak sengaja).
    Berdasarkan pihak yang dirugikan.
    a) Kejahatan yang dilakukan terhadap Tuhan.
    b) Kejahatan yang dilakukan terhadap diri sendiri.
    c) Kejahatan yang dilakukan terhadap sesama.
    d) Kejahatan yang dilakukan terhadap sistem.
    e) Kejahatan yang dilakukan terhadap lingkungan alamiah.
    Berdasarkan cepat-lambatnya dampak yang dirasakan.
    a) Kesalahan yang dampaknya segera dirasakan.
    b) Kesalahan yang dampaknya dirasakan nanti.
    Berdasarkan luasnya dampak dari kejahatan tersebut.
    a) Kesalahan yang terjadi saat itu juga (sikap yang salah).
    b) Kesalahan yang terus-menerus ada (karya yang salah).

  8. Dan lain sebagainya.

Aspek dosa ditinjau dari berbagai sudut pandang

Tuhan tidak bisa kita akali dengan konspirasi kita yang panjang dan lebar untuk menutup-nutupi sesuatu yang jahat. Sebab sehebat apapun akal bulus manusia untuk meloloskan diri dari kesalahannya, hal tersebut justru akan memperberat pelanggarannya. Oleh karena itu, jangan pernah berencana melakukan dosa  terhadap orang ini atau itul Sebab berpikir untuk melakukan kejahatan sama saja dengan sudah melakukannya di dalam pikiran sendiri. Demikian juga dengan orang yang memperkatakan dosanya sama seperti orang yang melakukannya. Sebab tiga dimensi dalam hidup kita terhubung satu sama lain dan yang menjadi sumbernya adalah hati/ pikiran masing-masing. Berikut akan kami antarkan beberapa yang kami pahami tentang aspek-aspek tersebut.

  1. Aspek pikiran setara dengan perbuatan.

    (Matius 5: 27-28)Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

    Selama ini, mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa pikiran kotor bukanlah dosa. Akan tetapi, setelah mendengar firman tersebut di atas barulah kita paham bahwa sesungguhnya memikirkan hal-hal buruk terhadap sesama sudah terhitung sebagai pelanggaran di hadapan Allah. Tentu ini bisa terjadi secara tidak sengaja yang muncul dari kedagingan sendiri. Akan tetapi, berpikir hendak berbuat jahat kepada sesama juga bisa dibahas-bahas dalam hati secara terencana. Apa yang direncanakan disadari adanya dan termasuk kesalahan yang disengaja. Seandainya ada perkara kejahatan yang melibatkan banyak orang maka orang yang memikirkan dan merencanakan kejahatan tersebut sama sanksinya dengan orang yang melaksanakannya.

  2. Aspek kata-kata sama dengan memperbuatnya langsung.

    (Matius 5:21-22) Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

    Mungkin selama ini kita merasa bahwa mengumbar kata-kata kotor tentang orang lain bukanlah dosa. Akan tetapi, setelah membaca firman di atas, perkataan kita yang menghakimi orang lain sama saja dengan membunuhnya. Sebab kata-kata sangat mudah menjalar dan menyebar kemana-mana. Image seseorang mudah sekali hancur hanya karena fitnah kotor yang tak berdasar menimpanya. Fitnah tersebut seolah menghukumnya untuk sesuatu yang mungkin tidak pernah dilakukannya. Besar kemungkinan kehadiran di tengah masyarakat tidak lagi seperti biasa karena semua orang membicarakan dan menjauhinya secara diam-diam.

  1. Aspek materi.

    Sisi kesalahan yang satu ini sangat mudah untuk dimengerti. Sebab ada hitung-hitungan yang menunjukkan kepastian secara logika matematika. Misalnya saja, seseorang melakukan kesalahan yang merugikan orang lain sebesar “jutaan rupiah.” Mau tidak mau orang yang melakukan kejahatan yang merugikan tersebut harus membayarkan sejumlah uang. Biasanya, jika tidak mampu membayar akan digantikan dengan hukuman lainnya (misalnya hukuman kurungan di lembaga pemasyarakatan setempat). Orang yang telah menuntut ganti rugi yang dialaminya selama hidup di bumi, tidak akan lagi mendapatkan upah karena dirugikan secara materi di akhir zaman.

    Harap diperhatikan, bila manusia menilai kepemilikan materi dari angka-angka yang termuat dalam bingkai mata uang, tidak demikian dengan Tuhan. Ia menilai materi dengan membandingkannya dengan jumlah total harta yang dimiliki seseorang. Sehingga dalam pandangan-Nya yang dinilai adalah persentasi yang dibandingkan dengan nilai total harta yang dimiliki seseorang. Jadi nilai satu harta (100%) di antara manusia sama dimata-Nya sekalipun jumlah tersebut berbeda-beda di mata kita.

  2. Aspek jumlah orang yang dirugikan.

    Besar-kecilnya suatu kesalahan dapat pula ditinjau dari orang-orang yang dirugikan akibat aksi kejahatan tersebut. Semakin banyak yang terbukti rugi maka semakin besar hukumannya. Akan tetapi, di dalam Tuhan kerugian yang dialami seseorang tidak mesti terbukti/ tidak harus berupa materi. Bisa juga hal tersebut berupa kerugian emosional yang dirasakan seseorang walau kurang bisa dipahami oleh orang lain seperti apa rasanya kehilangan sesuatu.

    Semakin banyak orang yang mengenal seseorang, maka semakin banyak pula yang merasakan kehilangan ketika orang tersebut tiada. Kerugian dalam hal emosional ini memang terbilang sepele tetapi semakin banyak yang kehilangan maka semakin besar pula kesalahan yang dilakukan karena melenyapkan seseorang. Saat orang yang bersedih hati cukup banyak karena suatu kejadian yang menimpa saudara/ sahabat/ temannya, Mereka adalah orang-orang yang dirugikan secara emosional atas kejahatan tersebut. Semakin banyak jumlahnya maka semakin besar pula dosa karena berbuat jahat terhadap seseorang yang sangat dicintai oleh orang banyak.

    Contoh berikutnya adalah dosa korupsi. Orang yang mencuri ayam memiliki kesalahan kepada (merugikan) satu orang atau satu keluarga. Akan tetapi orang yang mencuri uang negara berdosa kepada seluruh rakyat Indonesia. Sebab uang tersebut berasal dari-, dikelola-, dan ditujukan untuk (azas kemasyarakatan/ demokrasi) seluruh warga tanpa terkecuali. Jika seorang kepala daerah yang korup maka dia berdosa kepada seluruh masyarakat satu provinsi/ satu kabupaten. Apabila kepala desa yang korup maka dosanya akan dipertanggung jawabkan kelak kepada seluruh warga desa yang dipimpinnya.

    Contoh lainnya adalah informasi salah yang kita sebarkan. Semakin banyak orang yang mendengar informasi tersebut, semakin banyak yang dirugikan dan semakin besar pula kesalahan kita. Teknologi informasi bisa menjadi pengganda kebaikan tetapi bisa juga menjadi pengganda dosa kita, yang secara tidak langsung menjadi pengunggah utama dari suatu informasi yang salah.

  3. Aspek waktu.

    Ada kejahatan yang dampaknya dirasakan singkat oleh seseorang tetapi ada juga yang dampaknya dirasakan dalam waktu lama bahkan sangat lama sampai seumur hidup. Suatu kesalahan yang sederhana biasanya berdampak pendek terhadap seseorang. Tetapi ada juga kesalahan yang dampaknya menimbulkan rasa sakit di dalam hati seseorang selama berhari-hari. Di lain pihak, ada juga pelanggaran yang sampai membuat seseorang menderita efek penyakit selama bertahun-tahun bahkan sepanjang sisa umurnya mengalami disabilitas. Semakin lama efek kejahatan yang diderita seseorang, semakin besarlah kejahatan pendosa tersebut.

    Sudut pandang waktu juga menjelaskan kepada kita bahwa ada kesalahan yang dilakukan saat itu dan dampaknya terjadi saat itu juga atau beberapa saat setelah itu. Akan tetapi, ada juga kesalahan yang dilakukan saat itu tetapi dampaknya sampai beberapa waktu lamanya. Yang terakhir ini biasanya dihasilkan oleh suatu karya seni yang menyesatkan umat manusia. Selama karya seni tersebut dipamerkan ke publik dan membuat beberapa orang sesat pikir maka selama itulah dosa-dosanya terkumpul. Bahkan setelah seorang seniman meninggal dunia, kesalahan yang ditanggungkan kepadanya akibat karya yang menyesatkan tetap ada selama orang yang sesat pikir karena karya tersebut ada.

  4. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Semua dosa yang anda tuntut ganti ruginya selama hidup di bumi, baik lewat rapat, sidang dan pengadilan. Tidak akan lagi mendapatkan upah di hari penghakiman karena kerugian/ kesalahan tersebut dianggap telah lunas. Sebab apa yang telah diselesaikan di bumi, tidak lagi dipersoalkan oleh Tuhan (bandingkan dengan Matius 6:1-6). Setiap orang yang mendapat upah dari kesalahan orang lain tidak lagi mendapatkan upah dari sorga.

Sebagai manusia biasa, kita adalah sarangnya dosa. Ada-ada saja kesalahan yang dilakukan dalam banyak kesempatan yang kita jalani dari hari ke hari terutama di dalam pikiran sendiri. Sebab tidak ada manusia yang bisa membatasi pikirannya, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah dengan membuat otak selalu aktif – sadar. Ini termasuk dalam kesalahan yang tidak disengaja, yang terjadi secara otomatis tanpa kita sadari. Akan tetapi, ketika suara hati kita mulai berkata-kata menegur tentang ini dan itu namun tidak kita dengarkan: di sinilah dosa sengaja dilakukan. Sesungguhnya kesalahan yang kita buat bisa dilihat dalam berbagai sudut pandang yang berbeda sehingga pembagiannya sangat beragam. Demikian juga dengan cakupan kejahatan yang kami tampilkan masih bisa dikembangkan dalam berbagai presepsi. Kami berharap setelah membaca tulisan ini, anda menyadari bahwa manusia adalah pendosa dan satu-satunya jalan untuk menekan dan meminimalisirnya adalah dengan fokus kepada Tuhan.

Salam, Habis waktu membahas dosa
Kapan berbuat yang benarnya
?
Jangan fokus pada hal yang salah
tetapi lakukanlah kebenaran
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.