Pancasila Adalah Standar Semua Aturan Yang Ada Di Indonesia

Pancasila Adalah Standar Semua Aturan Yang Ada Di Indonesia

Negeri ini bukanlah negara asal-asalan yang adanya tiba-tiba sehingga aturan di dalamnya tidak saling terhubung satu sama lain. Melainkan negara ini dibangun atas dasar yang jelas! Sekalipun awalnya ditempuh dengan cara yang terburu-buru tetapi lambat laun semuanya menjadi jelas. Setelah melewati tahap awal yang rumit banyak proses panjang yang sangat lama demi pembangunannya. Kekuatan kecil yang awalnya terpusat di daerah tertentu saja, kini telah berkembang pesat dan meluas menguasai hingga ke seluruh penjuru negeri. Akan tetapi, penyimpangan terhadap aturan yang ada, cenderung menguntungkan pihak tertentu saja. Padahal aturan awal saat negeri ini mulai dirangkaikan berpihak kepada seluruh elemen masyarakat.

Tidak ada suara protes terhadap penyimpangan tersebut sebab pihak yang diuntungkan menguasai dan mengendalikan informasi. Sedang mereka yang dirugikan kebanyakan tidak menyadarinya sehingga cenderung membiarkannya begitu saja. Sekalipun ada yang tersadar akan hal tersebut, pihak yang diuntungkan akan memaksa orang-orang tersebut untuk diam. Atau bila mereka bisa menyetirnya, maka orang tersebut akan dipaksa berubah menjadi seperti mereka yang beroleh kekayaan dan kekuasaan dari semuanya itu. Pengaruh buruk yang di bawa oleh mereka yang diuntungkan atas situasi yang kurang tepat tersebut dapat mengendalikan hampir semua hal. Sebab mereka menguasai uang yang bisa mengontrol banyak hal dan menguasai lahan pekerjaan strategis yang menggiurkan banyak orang. Serta mereka pun menguasai media-media yang tersebar di seluruh negeri, sehingga tidak ada yang berani bersuara tentang keadilan sosial yang sesungguhnya.

Ada banyak peraturan yang dibuat setelah dasar-dasarnya ditentukan. Masih banyak lembaga lain yang dibentuk saat negeri ini semakin kokoh. Akan tetapi, semuanya itu hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Masing-masing berkoalisi dengan mengedepankan kecerdasan dan pengaruhnya di dalam masyarakat untuk menunjukkan betapa hebat peran yang dilakukannya. Sembari mengatakan bahwa “semuanya ini demi kepentingan bersama agar semuanya damai, agar semuanya makmur!” Padahal kenyataannya, itu hanya menguntungkan dirinya sendiri, keluarganya dan kelompoknya belaka. Mereka sama sekali telah melupakan aturan dasar yang menjadi tolak ukur semua sistem yang tumbuh dan berkembang di negeri.

Seharusnya, Pancasila ada untuk mempersatukan sekaligus mengawal pembangunan di seluruh negeri. Tetapi orang-orang penting menggunakannya hanya untuk mempopulerkan perjuangan kemerdekaan belaka. Seolah-olah hal tersebut hanya berlaku di masa awal perebutan kemerdekaan saja sehingga dipajang begitu saja di perpustakaan dan museum terkenal. Seolah-olah aturan dasar tersebut dijadikan sejarah yang ditinggalkan di belakang. Padahal, lima azas fundamental tersebut merupakan kekuatan dasar yang menjadi inti dari segala lembaga yang di dirikan di seluruh negeri. Suatu pondasi yang mendasari segala sesuatu sehingga mau tidak mau nilai-nilainya perlu diwujudkan secara seimbang dalam hubungan kerja sama yang berkelanjutan.

Hanya ada dua kemungkinan, Pancasila sengaja dibiarkan sebagai pajangan sejarah atau perwujudannya memang sengaja diselewengkan maknanya. Saat dasar negara hanya jadi bagian dari kisah romantis yang memilukan sekaligus membanggakan di masa lalu, banyak orang tidak paham betul dengan maksud butir-butirnya. Mungkin mereka kurang mengenyam pendidikan atau terlena dengan situasi yang seolah-olah gaduh di sana-sini. Orang-orang melupakannya karena ada desas-desus yang seolah-olah sangat genting berlangsung di sana-sini. Media-media melarikan fokus masyarakat kepada isu-isu imajinatif hasil rekayasa entah-berantah. Sehingga yang tidak penting menjadi penting dan yang sangat penting malah terlupakan.

Di sisi lalin, orang-orang cerdas yang berpihak kepada kalangan atas melakukan penyimpangan makna dari butir tertentu dalam Pancasila. Mereka menjelaskannya tanpa memberi penegasan terhadap apa dan untuk siapa serta seperti apa penerapan tersebut. Tidak menyatakan kepastian bahwa negara menjamin hak-hak setiap warga secara adil. Sebab seolah-olah keadilan negara hanya berlaku untuk orang-orangnya saja, yaitu pegawai pemerintah, swasta atau kontrak yang bekerja secara terperinci dan terjadwal. Sedangkan masyarakat yang bekerja melakukan usahanya sendiri akan dibiarkan begitu saja. Sekalipun pemerintah memberikan bantuan, itu masih jauh lebih kecil dari apa yang diterima oleh orang-orangnya (pegawainya).

Masyarakat dibagi dalam kelas demi kelas menurut pekerjaan yang mereka lakukan. Ada orang-orang yang memiliki pekerjaan istimewa dan ada pula yang memiliki pekerjaan biasa. Mereka yang istimewa di gaji lebih baik dibandingkan dengan mereka yang bekerja di tempat-tempat biasa. Orang tertentu seperti anak dewa-dewi yang berpenghasilan fantastis, bekerja di tempat-tempat terkenal. Simak juga, superman dan supergirl yang bergaji tinggi. Sedangkan sebagian besar masyarakat lainnya diberikan jatah pendapatan yang pas-pasan. Belum lagi kalau dibandingkan dengan orang-orang yang ada di daerah-daerah terpencil. Kehidupan mereka lebih tidak diperhatikan dibandingkan dengan masyarakat di perkotaan. Padahal aturan dasar yang pertama sekali dibuat telah menegaskan jaminan kesetaraan kekuatan (kekuasaan, pengetahuan, pendapatan) untuk seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Soal pendapatan ini, bukan soal besar kecilnya yang diterima oleh tiap-tiap orang. Melainkan lebih kepada besarannya yang setara antar profesi namun berbeda menurut umur. Simak juga, pengertian keadilan sosial. Penyetaraan antar keluarga dibutuhkan selain demi keadilan juga untuk mengendalikan aktivitas konsumsi masyarakat. Bagaimana anda membayangkan aktivitas konsumsi dari orang-orang berpenghasilan besar? Mereka yang gaji tiap tahunnya dimungkinkan untuk membeli satu kendaraan mewah untuk dirinya sendiri, atau dalam lima tahun bisa membangun rumah mewah baru bagi dirinya sendiri. Bukankah aktivitas pemborosan sumber daya ini akan sangat berbahaya jika terus-menerus berlanjut dari tahun ke tahun? Atau mungkinkah pemborosan ini tidak perlu dikhawatirkan karena dominasi pemukiman manusia yang menyingkirkan alam tidak berdampak buruk terhadap kehidupan di bumi?

Memang harus kita terima kenyataan bahwa bangsa ini berbeda dari ujung ke ujung. Perbedaan tersebut seputar suku, agama, ras dan golongan (SARA). Seharusnya perbedaan tersebut hanya sebatas itu dan tidak mencampuri hal-hal besar yang sangat mempengaruhi kehidupan seperti pengetahuan, kekuasaan dan pendapatan. Perbedaan pengetahuan membuat manusia tidak bisa mengaktualisasi diri dan semakin melemahkan kalangan yang terbelakang. Pada perbedaan kekuasaan, membuat pihak-pihak tertentu merajalela bertindak sesuka hatinya. Sedangkan perbedaan pendapatan menciptakan kesenjangan kesejahteraan. Pada akhirnya, perbedaan dari tiga kekuatan ini beresiko menciptakan instabilitas yang memicu ketidakseimbangan alam. Oleh karena itu, jangan heran kalau kabar-kabar tentang bencana terdengar dimana-mana.

Pancasila perlu dipulihkan fungsinya sebagai dasar negara sekaligus sebagai standar dari semua aturan yang berlaku di Indonesia. Ini adalah usaha terbaik yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengembalikan keseimbangan sistem yang langsung berimbas dengan keseimbangan alam. Artinya sistem yang berkeadilan menciptakan keseimbangan di antara masyarakat sehingga tidak saling menekan satu sama lain. Dimana keseimbangan gejolak dalam masyarakat menciptakan kedamaian, keamanan, ketenangan dan kemakmuran hidup yang turut mendorong terwujudnya keseimbangan alam. Sebab tanpa keadilan kalangan atas diseluruh negeri cenderung saing-saingan melakukan pemborosan terhadap sumber daya dan bertindak semena-mena. Tentu saja tidak ada yang dapat melarang mereka untuk menggunakan kelebihan power yang dimilikinya (kekayaan, kekuasaan, kelicikan) karena merekalah rajanya/ merekalah dewa-dewinya. Memang yang namanya gangguan keseimbangan alam dan bencana alam tidak segera terjadi. Akan tetapi, dalam tahun-tahun ke depannya hal tersebut pasti akan terjadi juga dalam skala kecil, menengah hingga besar.

Kesimpulan

Pancasila adalah hukum yang pertama-tama dibuat saat negara ini didirikan. Sayangnya, kebanyakan hukum dan undang-undang yang dibuat setelah itu adalah hasil dari percontohan milik negara-negara kapitalis (misalnya Belanda). Sudah saatnya para pemimpin kita menyesuaikan aturan yang ada di negeri menjadi lebih pancasilais demi kepentingan bersama seluruh elemen masyarakat.

Tidak ada yang bisa mengubah negara ini selain dari kesadaran para petingginya. Bahkan segala usaha yang kita lakukan tidak ada artinya jika para elite bertindak di luar batas sebab merekalah raja dan ratunya juga merekalah dewa dan dewinya. Jadi, mari doakan mereka….

Mungkin sebagian orang tidak menyadari bahwa Pancasila merupakan nilai fundamental yang sekaligus menjadi standar dari semua peraturan yang ada di seluruh negeri. Namun seiring berjalannya waktu mereka akan menyaksikan akibat dari pengabaian terhadap nilai-nilai dasar tersebut. Mari ambil beberapa contoh seperti kesewenang-wenangan terhadap sesama (penyalahgunaan kekuasaan). Penyalahgunaan jabatan dan pencucian uang dimana-mana (penyalahgunaan kekuasaan). Orang pintar membodohi sesamanya demi memperoleh keuntungan terbesar (penyalahgunaan pengetahuan). Masyarakat awam semakin terpinggirkan kehidupannya (kesenjangan pendapatan). Reaksi antara kesombongan dan iri hati merusak hampir segala hal di negeri (persaingan antar orang yang memiliki power/ kekuatan lebih). Konspirasi untuk melenyapkan kalangan tertentu semakin menjamur. Hingga ancaman bencana alam mulai menunjukkan batang hidungnya dimana-mana. Artinya, tanpa toalak ukur yang jelas (tanpa standar), sistem yang tidak stabil lambat laun akan menyimpang sampai mengorbankan kaum yang lemah (bencana kemanusiaan). Gangguan keseimbangan juga mengguncang masyarakat yang pada akhirnya merembes ke lingkungan menyebabkan bencana alam yang meluluh lantakkan segala sesuatu.

Salam, Kembalikan standar pada tempatnya
agar penyimpangan yang terjadi
kembali dipulihkan.
Pancasila mampu menjaga
masyarakat dalam harmoni
yang seimbang sambil
menjaga kelestarian alam
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.