Hukum Yang Berlaku Sebelum Hukum Taurat Dan Yesus Kristus Ada

Hukum Yang Berlaku Sebelum Hukum Taurat Dan Yesus Kristus Ada

Perjalanan hidup umat manusia di bumi tidak sesingkat saat menuliskannya dan tidak secepat saat mengingat-ingatnya. Butuh waktu yang sangat panjang saat satu kehidupan terpelihara oleh satu keluarga; saat satu keluarga terpelihara oleh keberadaan suatu bangsa. Saat suatu bangsa terpelihara oleh suatu peradaban. Demikianlah satu peradaban berlangsung dari zaman ke zaman kemudian lenyap lalu digantikan oleh peradaban lainnya yang jauh lebih baik. Ukuran kebaikan di sini tidak dinilai dari kemakmuran sebab ada banyak bangsa makmur yang tenggelam dalam kemegahan peradabannya. Melainkan lebih baik berarti lebih damai dalam kebersamaan yang majemuk. Sebab peradaban yang tidak mampu mengatasi kemajemukan pasti tenggelam dalam peperangan dan bencana lingkungan.

Saat zaman demi zaman bergulir, ada peradaban tertentu yang berhasil mendokumentasikan dirinya namun ada juga peradaban yang hanya diketahui namanya saja namun tidak menyisakan apa-apa. Dari semua peradaban yang telah ada di muka bumi, salah satu peradaban yang sangat terkenal bahkan kisah-kisahnya terus-menerus dibahas sampai saat ini adalah peradaban orang Israel. Kehidupan mereka yang naik turun sebagai sebuah bangsa diperkuat oleh keyakinan hidup yang mereka pegang. Merupakan bangsa pertama yang mendapatkan hukum langsung dari Tuhan yang dikenal sebagai Hukum Taurat. Tidak sampai di situ saja, mereka juga bangsa pertama yang menyaksikan Mesias yang kelak menjadi Penyelamat Agung umat manusia.

Saat nenek moyang kita yang pertama ditempatkan di bumi. Tuhan tidak langsung memberikan hukum universal kepada mereka yang masih kekanak-kanakan. Malah yang terjadi adalah hubungan manusia dengan Tuhan retak terpisahkan oleh jurang dosa yang tak terkirakan jauhnya. Lalu muncullah pertanyaan, “bagaimana bisa Tuhan menghakimi manusia tetapi tidak memiliki hubungan dekat dengan mereka?” Atau lebih tepatnya, “bagaimana orang yang tidak tahu hukum universal Allah dapat dihakimi di akhir zaman?” Orang-orang tersebut sama seperti hewan yang bebas liar melakukan apa saja. Mereka tidak mengetahui/ mengenal ‘kebenaran hakiki” sehingga kebenaran tersebut tidak bisa menjerat mereka sekalipun telah dilanggarnya.

Mungkin para pembaca juga pernah bertanya-tanya seputar pertanyaan yang kami ajukan ini. Adakah hal tersebut pernah terbesit dalam pikiran atau pernah diperdengarkan dalam diskusi-diskusi kecil diantara sahabat? Mudah-mudahan jawaban yang diperoleh sama dengan yang kami hendak sampaikan. Atau setidak-tidaknya seiras/ senada dengan sudut pandang yang kami tampilkan. Memang hal ini tidak ada kaitannya dengan kehidupan kita zaman sekarang karena Hukum Taurat telah diperdengarkan dimana-mana dan semua orang telah percaya kepada Karya Penebusan Yesus Kristus.  Yang kita lakukan di sini hanyalah sekedar menambah ilmu pengetahuan dan wawasan kekristenan yang dimiliki.

Untuk diketahui bersama, tidak ada ilmu lain di dunia yang bisa melebihi atau menyangkal ajaran yang diungkapkan oleh Yesus Kristus. Sebab wawasan yang diajarkan-Nya kepada kita adalah pengetahuan sorgawi. Suatu ilmu yang berasal dari tempat tinggi dan yang menjadi tempat impian bagi seluruh umat yang percaya kepada jalan-Nya. Oleh karena itu, jawaban yang kami berikan pun atas pertanyaan besar pada tulisan ini tidak akan jauh-jauh dari firman yang diungkapkan oleh Sang Penyelamat Agung. Suatu perkataan yang dikenal akrab oleh semua orang percaya dan kerap kali dijadikan sebagai suatu ungkapan hidup. Besar kemungkinan, para pembaca pernah melihat dan mendengar quote seputar pernyataan tersebut, yang berbunyi demikian.

(Matius  7:12) “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Dapatkah anda mencicipi betapa dalamnya makna dari perkataan firman yang diungkapkan oleh Tuhan tersebut di atas? Firman tersebut jelas sangat universal. Selain itu, kata-kata yang menyebutkan tentang “kehendaki” merupakan perkataan yang sangat manusiawi. Sebab kehedak sama dengan keinginan atau bisa juga diartikan sebagai hawa nafsu. Pada posisi ini, manusia memegang kendali penuh terhadap dirinya. Artinya, bila hukum tidak ada atau masih belum ada maka yang berlaku dalam kehidupan tiap-tiap orang adalah keadilan atas hawa nafsunya sendiri. Keinginan manusialah yang dijadikan Tuhan sebagai tolak ukur tentang seberapa banyak pelanggaran yang telah diperbuatnya salama hidup di bumi ini.

Orang yang tidak mengenal kebenaran tidak bisa dijerat oleh kebenaran sekalipun dirinya sedang bersikap tidak benar. Akan tetapi, orang yang memiliki keinginan akan dijerat oleh keinginannya tersebut ketika melakukan pelanggaran (melakukan sesuatu di luar keinginannya). Sebab manusia tidak bisa mengkhianati dirinya sendiri dengan melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki olehnya secara pribadi. Misalnya saja, si A ingin agar orang lain memperlakukannya dengan baik tetapi si A enggan untuk berbuat baik kepada orang lain. Sikap ini jelas salah karena dia tidak adil kepada sesamanya. Sebab sudah seharusnya apa yang kita inginkan dari orang lain, perlu juga kita lakukan kepada mereka sehingga ada kesamaan alias kesetaraan alias keadilan diantara semua orang.

Tentu saja, hukum keadilan perlakuan ini berlaku untuk semua orang dalam batasan usia. Mengapa kami mengatakan demikian? Sebab berbeda cara kita memperlakukan teman dewasa yang sebaya dengan anak-anak yang masih di bawah umur kita. Tidak mungkin kita memperlakukan anak-anak sebagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Oleh karena itu, kita perlu membayangkan bagaimana perasaan kita saat seumuran seperti anak-anak tersebut. Perlakuan seperti apa yang saat itu kita inginkan dari orang dewasa? Tentu hal ini butuh perenungan yang lebih intens sambil menggali pengalaman di masa silam. Atau singkatnya, bisa juga dengan menganggap anak tersebut seperti anak sendiri (bagi yang sudah punya anak). Sebagaimana kita memperlakukan anak sendiri demikianlah kita memperlakukan anak-anak yang lainnya.

Betapa pentingnya keadilan itu, sudah berlaku sejak zaman dahulu kala bahkan sebelum hukum taurat dan Tuhan Yesus Kristus hadir di antara manusia. Jika manusia menginginkan sesuatu dari orang lain, maka dia pun perlu melakukan hal yang sama kepada orang lain. Jika apa yang dilakukannya berbeda dari apa yang diinginkannya, berarti dia mengkhianati dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia berlaku tidak sesuai atau tidak sejalan dengan apa yang diinginkan hatinya? Inilah satu dosa yang kelak akan dihakimi di akhirat. Apabila hal tersebut terjadi secara berulang-ulang dan lebih banyak dilakukan. Yaitu manusia melakukan apa yang tidak dikehendakinya niscaya nerakalah yang ada di depannya.

Ketika manusia belum mengenal kebenaran maka yang menjadi tolak ukur dosa adalah keinginan manusia itu sendiri terhadap dirinya. Seseorang tidak dikatakan “jahat” selama ia memperlakukan orang lain sebagaimana yang dia mau orang lain lakukan kepadanya. Akan tetapi, sorga akan menganggap seseorang “bersalah” karena orang tersebut tidak adil atau tidak memperlakukan sesama sama seperti yang dia ingin orang lain lakukan kepadanya. Hukum inilah yang berlaku bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah yang hidup, penyembah berhala dan berbagai ajaran kepercayaan lainnya di luar kekristenan. Tentu saja ini adalah jenis hukum yang cukup berat terlebih lagi ketika sistem yang mendukung kehidupan bermasyarakat tidak mendukung keadilan sosial.

Kesimpulan

Anu:  Apa kamu mau dicubit?
Ino:   Tidak dong….
Anu: Tapi kamu barusan mencubit saya, itu dosa tau!
Ino:   Apa kamu mau dipermain-mainkan oleh orang lain?
Anu: Tidaklah….
Ino:  Tapi sikapmu itu semena-mena mempermainkanku, itu dosa tau!
Anu: Tau dari mana?
Ino: Karena “perlakuan yang kamu harapkan dari ku, harusnya demikianlah perlakuan mu terhadap ku.”

Keadilan adalah hukum yang berlaku di segala zaman. Apabila zaman sekarang keadilan sosial bisa dicapai melalui jalur hukum yang difokuskan pada persamaan kekuatan (pengetahuan, kekuasaaan dan pendapatan). Pada zaman dulu, ketika firman Tuhan belum dinyatakan, Allah menilai manusia berdasarkan keinginannya yang adil: apa yang ingin dialaminya, itu pulalah yang harus dilakukannya kepada orang lain. Orang yang dikategorikan jahat tidak melakukan apa yang ingin dialami/ dirasakannya kepada orang lain. Hukum kesetaraan hawa nafsu inilah yang akan menjerat seseorang dalam dosa sehingga tersangkut di neraka, penderitaan tanpa akhir.

“Tolak ukur dosa = Kesetaraan perlakuan = Perlakuan yang anda inginkan dari orang lain, demikianlah anda memperlakukan sesama manusia lainnya = Perlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri = Kasihilah sesamamu manusia seperti diri sendiri = keadilan sosial”

Bila tidak ada hukum yang berlaku di dunia maka yang menjadi hukum adalah keinginan manusia itu sendiri. Artinya, orang jahat identik dengan manusia yang tidak memperlakukan sesamanya seperti yang diinginkannya. Pendosa yang tidak memperlakukan orang lain sama atau setara dengan kehendaknya atas diri sendiri akan mendapatkan hukuman berat. Sampai saat ini, hukum tersebutpun masih berlaku: “perlakuan yang kita inginkan dari orang lain, maka demikianlah juga seharusnya kita memperlakukan orang lain.” Jika anda ingin orang lain ramah; ramahlah terlebih dahulu. Saat anda menghendaki orang lain baik; perbuatlah kebaikan juga kepada mereka. Sewaktu anda maunya dimaklumi oleh sesama; maklumlah juga pada kekhilafan mereka. Demikian sebaliknya, ketika anda berbuat jahat kepada orang lain, maka itu adalah undangan agar orang lain berbuat jahat pula kepada anda.

Salam, Kamu ingin ini…
Lakukanlah ini kepada orang lain
!
Kamu mau itu…
Lakukanlah itu kepada orang lain
!
Perlakukan orang lain
seperti apa yang kamu ingini
untuk dirimu sendiri,
layaknya dia adalah dirimu sendiri!
Adakah orang yang jahat
terhadap dirinya sendiri
?

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.