3 Pengampunan Dosa Dalam Kekristenan

Penghapusan Dosa Dalam Kekristenan Hanya Terjadi Tiga Kali

Kami adalah orang berdosa, sama seperti semua orang yang saat ini hidup di seluruh penjuru dunia. Bahkan kami bisa mengatakan bahwa sesungguhnya diri ini adalah pabriknya dosa sebab dalam tiap-tiap hari yang kami jalani, ada-ada saja bibit-bibit kejahatan itu terbesit dari dalam hati ini. Mungkin saja perkataan dan perbuatan kami disaksikan orang lain, baik adanya. Akan tetapi, pikiran inilah yang banyak sekali campur baur dengan kekotoran yang bisa muncul tiba-tiba walau tidak sempat untuk dilakukan setelah dipertimbangkan baik-baik. Jadi, kotornya kami mungkin dari luar tampak bersih namun sesungguhnya di dalamnya kerap muncul kejahatan-kejahatan kecil yang tak terprediksi dan kadang tak terkendali.

Kekuatan jahat pada suatu waktu bisa menimbulkan dorongan yang kuat. Mungkin dalam keadaan normal, yang jahat itu tetap terkendali dan terukur kadar pelepasannya. Akan tetapi, saat situasi emosional labil karena beratnya persoalan hidup, bisa membuat pikiran kacau. Suatu kondisi kacau yang di mulai dari dalam pusat kendali diri yang berpeluang besar mendorong sikap buruk diam-diam berceceran di tempat tersembunyi. Bila inti kehidupan kita tidak stabil karena suatu hal yang menimbulkan kejengkelan dan mengganggu fokus berpikir. Besar kemungkinan perilaku yang diekspresikan setelahnya, jauh dari nilai dan norma yang berlaku luas di dalam masyarakat. Akibatnya, kita berdosa terhadap diri sendiri dan sesama manusia juga terhadap lingkungan sekitar kita.

Ada banyak jenis dosa yang ada di dalam diri kita. Yang pertama-taman adalah (1) dosa Adam dan Hawa; (2) dosa orang tua, nenek dan buyut kita serta yang terakhir adalah (3) dosa kita sendiri. Kita tidak mampu memahami dan mengakui semua kesalahan tersebut sebab sebagian besar telah terjadi sebelum kita menghembuskan nafas di bumi yang rupawan ini. Dari semua jenis pelanggaran, yang paling sering dilakukan manusia adalah berbohong/ menipu. Semuanya itu sudah ada, telah ada dan terus saja ada dari tahun ke tahun. Lantas apa yang bisa kita lakukan adalah mengurangi intensitasnya (meminimalisir kesalahan nyata). Sambil mengupayakan permohonan agar Tuhan berkenan mengampuni dosa-dosa kita.

Sampai berapa kali manusia diampuni dosanya?

Ada ketertarikan khusus saat membahas tentang “sampai berapa kalikah dosa-dosa kita dapat diampuni Tuhan?” Atau adakah batasan, sejauh mana kita boleh memohon ampunan Tuhan? Kalau memang ada, batasan-batasan inilah yang perlu kita cari tahu agar menjauhkan diri dari praktek ini-itu yang tidak benar dihadapan Tuhan. Sebab pada dasarnya, semakin minim kesalahan yang dilakukan maka semakin tenang-tenteram hati menjalani carut-marut kehidupan. Akan tetapi, ketika kita berlumuran dosa, gelisah dan takutlah yang menawan setiap langkah kaki yang ditempuh. Oleh karena itu, mari memohon belas kasihan Tuhan agar berkenan mengampuni kita.

Pada dasarnya, semua yang salah dari yang kita lakukan akan kita rasakan langsung dampaknya terhubung dalam hati masing-masing orang. Semakin banyak kesalahan yang kita perbuat maka semakin terbeban jiwa menanggung semuanya itu. Kuatnya ketakutan di dalam diri pendosa akan semakin menjadi-jadi hingga membuatnya tidak mampu lagi berkonsentresi terhadap sesuatu. Bisa jadi, saking kuatnya rasa tersebut, belajar pun tidak mampu fokus dan bekerja tidak bisa konsen bahkan saat hatinya mencoba terhubung dengan Tuhan, selalu saja berakhir hapa. Pada awalnya, dia mungkin tidak akan tahu penyebab dari guncangan yang belakangan menghujam jiwanya. Akan tetapi, lama kelamaan, pasti Roh Kudus akan membisikkan penyebabnya, yaitu karena dosa.

Kami tidak akan menjawab pertanyaan ini. Sebab bila kami mengatakan bahwa sampai tiga kali, maka bisa saja orang lain dengan sengaja melakukan dosa sampai tiga kali, lalu berkata dalam hatinya: “tidak apa-apa berdosa sampai tiga kali, toh nanti pasti dipuni!” Oleh karena itu, kami tidak mengutarakan angka-angkanya. Melainkan yang kami pahami adalah “sebanyak apa diri sendiri berdosa, demikian pulalah banyaknya kita mengampuni dosa orang lain.” Sebab seperti kata Tuhan Yesus “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (bnd. Matius 6:12). Apakah anda pernah menghitung seberapa banyak kesalahan anda? Maka demikianlah juga banyaknya kita perlu mengampuni orang yang bersalah kepada kita!

Macam-macam pengampunan (penghapusan dosa)

Ada banyak sekali bentuk penghapusan dosa yang dicatatkan di dalam Alkitab. Akan tetapi, khusus pada bagian ini, kami hanya mengutarakan tiga macam pengampunan yang pasti akan dialami oleh orang percaya. Ini hanya bercerita tentang jenisnya saja sedangkan angka kejadiannya dalam seumur hidup kita, terjadi lebih dari tiga kali. Masing-masing orang pasti pernah melanggar titah Tuhan karena lebih mengikuti hawa nafsunya yang syarat dengan kedagingan belaka. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus akan diselamatkan sekaligus diberi petunjuk tentang bagaimana hidup dengan benar di hadapan Allah. Bukankah semua petunjuk tentang hidup yang benar itu sudah termuat dalam ajaran Yesus? Berikut ini akan kami jelaskan beberapa penghapusan dosa yang pasti telah dan akan dialami oleh tiap-tiap orang kristen.

  1. Pengampunan setelah memahami dan percaya kepada ajaran Yesus Kristus.

    Seorang bayi yang baru lahir, pasti pernah membuat orang lain kesal. Kesalahan yang dilakukan tanpa dipahami sebelumnya tidak terhitung sebagai dosa. Sebab hanya orang-orang yang sudah memahami apa artinya dosalah yang bisa menghindari hal tersebut. Ini sama halnya seperti dalam dunia hewan: mereka tidak mengenal dosa sehingga saat mereka saling membunuh untuk bertahan hidup, tidak ada yang dapat mempersalahkan hal tersebut.

    Pelanggaran yang sering dilakukan waktu masih anak kecil, lebih banyak dikarenakan oleh faktor “lupa.” Seorang anak mungkin saja pernah ditegur tentang “jangan berbuat ini dan jangan berbuat itu.” Akan tetapi, mereka melalaikannya sehingga melakukan pelanggaran. Biasanya pelanggaran semacam ini ditanggung oleh orang yang bertanggung jawab terhadap mereka, yaitu orang tua. Mengapa orang tuanya yang dipersalahkan? Karena lalai mengawasi si anak.

    Semenjak kecil hingga besar, ada-ada saja kesalahan yang kita lakukan, entah itu karena tidak tahu aturannya atau karena lupa dengan aturannya. Memang sebagian hal tersebut disebabkan oleh kelalaian orang tua sehingga merekalah yang menanggungnya. Akan tetapi, sebagian lagi, kitalah yang menanggung sendiri dosa tersebut. Hal-hal semacam inilah yang telah ditebus Tuhan Yesus di atas kayu salib tepat saat seorang anak mengerti dan percaya tentang karya agung penyelamatan. Mengerti di sini bukan hanya sekedar tahu artinya saja tetapi paham juga terhadap prosesnya dan nubuatan yang menyertai peristiwa tersebut.

    Kesalahan lain yang turut diampuni Tuhan Yesus adalah yang dilakukan secara tidak sengaja seumur hidup kita. Dalam arti, dosa tersebut tidak lagi dituntut di hari penghakiman namun akibat dari kesalahan tersebut pasti ada dan dirasakan saat itu juga (atau beberapa saat setelahnya). Hal yang tidak disengaja tersebut dilakukan secara tidak sadar. Biasanya setelah menyadarinya, kita langsung meminta maaf, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia. Akan tetapi, untuk dosa yang disengaja tidak akan diampuni karena dilakukan secara sadar dan langsung menentang Roh Kudus yang pada saat itu berusaha menghentikan kita.

    Semua dosa yang telah kita lakukan sejak dari kecil sampai hari dimana kita memahami karya penyelamatan melalui Yesus Kristus akan diampuni. Ini adalah pengampunan dosa terbesar sepanjang hidup kita. Cakupan penghapusannya meliputi dosa Adam dan Hawa, nenek moyang serta dosa yang tidak sengaja yang dilakukan oleh diri sendiri. Merupakan penghapusan kesalahan jenis dua yang dialami oleh orang kristen. Sebab ini baru terjadi setelah beberapa tahun belajar ilmu pengetahuan dasar dan beberapa tahun belajar tentang kekristenan. Seperti ada tertulis.

    (Roma 10:9) Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

  2. Pengampunan yang berasal dari sesama manusia.

    Penghapusan dosa semacam inilah yang sesungguhnya pertama sekali di alami oleh tiap-tiap manusia. Setiap dari kita adalah kristus-kristus kecil, bila Anak Manusia bisa mengampuni maka orang kristen juga dapat mengampuni siapa saja yang diinginkan hatinya. Tiap-tiap pelanggaran orang lain terhadap diri ini, bisa juga tidak dimaafkan dengan cara memendamnya sebagai dendam. Hanya saja, siapakah orang yang hendak menyimpan sakit hati berlama-lama di dalam pikirannya? Semakin lama suatu dendam dipendam, semakin besar keinginan untuk melakukan pembalasan yang bisa membuat sikap kita sama jahatnya dengan sikap orang yang bersalah itu. Bahkan kesalahan kita bisa menjadi sangat besar karena pembalasan yang dilakukan menyebabkan kerugian besar terhadap orang tersebut.

    Kelemahan lainnya bila tidak mengampuni sesama adalah terhambatnya kebaikan terhadap orang tersebut. Sesungguhnya, kita mampu berbagi kasih tetapi tertahan di tengah jalan karena ingat terhadap kejahatannya yang dulu. Dimana pun berada, saat melihat orang tersebut pasti konsentrasi pecah karena terngiang dengan dirinya yang dulu memuakkan. Ini membuat hati tidak tenang dan hari-hari jauh dari rasa damai. Oleh karena itu, baiklah kita mendengar saran Tuhan Yesus untuk mengasihi musuh demi diri kita sendiri dan demi hari esok yang lebih baik. Saat kita mengampuni orang lain maka Tuhanpun akan memaafkan kesalahan kita.

    Sebaiknya, saat kita menyadari telah melakukan kesalahan kepada sesama, perlu ada tindakan nyata untuk meminta maaf kepadanya. Biar bagaimana pun, perlu berinisiatif dan bersikap rendah hati agar dapat melakukannya secara langsung dan terbuka. Biasanya semakin cepat meminta maaf maka semakin mudah mengatakannya dan hatipun tidak lagi terbeban. Akan tetapi, bila kita menahan-nahan untuk tidak segera meminta maaf maka semakin sulit mengatakannya dan hatipun terbeban dengan kesalahan tersebut.

    Maaf dari orang lain perlu kita dapatkan setelah melakukan kesalahan yang disengaja. Ini adalah sebuah ajakan kepada sesama agar memaklumi kemanusiaan kita yang kerap melakukan hal yang tidak pantas, terlebih kalau hal tersebut dilakukan dan diniatkan secara sadar. Ini bisa menjadi kesalahan yang akan dituntut di akhir zaman. Sebab kesalahan yang belum dimaafkan sesama, akan tetap dihitung sebagai dosa, seperti ada tertulis.

    (Yohanes 20:23) Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.

    Tuhan menuntut kita agar tidak hanya meminta maaf kepada Allah saja saat menyakiti hati orang lain. Tetapi, permohonan maaf tersebut perlu juga kita layangkan kepada orang yang bersangkutan agar status dosa tersebut jelas. Semakin banyak orang yang kita mintai maaf maka semakin banyak pula kita beroleh pengampunan dari sesama. Terlebih saat kita sering menjalin suatu hubungan dengan banyak orang, permintaan maaf perlu dihaturkan dalam momen yang tepat. Agar sekiranya kesalahan yang tidak kita sadari dapat dimaafkan. Itulah sebabnya, ramah tamah kerap disertai dengan kata “maaf” agar keangkuhan menjauh dan kita terbiasa memohonkan pengampunan kepada sesama.

  3. Kemurahan hati Tuhan.

    Tuhan Yesus pernah berkata, “mintalah maka kepadamu akan diberikan!” Demikian jugalah kita meminta pengampunan dari Tuhan, pasti akan diberikan-Nya. Sebab Dia adalah Bapa yang memahami keadaan kita bahkan sebelum kita paham terhadap diri kita sendiri. Dia tahu persis setiap niat jahat dalam hati manusia dan hendak memaklumi sekaligus mengubahkannya. Hanya saja, pertanyaannya adalah “adakah orang yang dengan rela hati menaati tuntutan kasih sejati yang benar dan adil?” Mereka yang mengharapkan kemurahan hati Tuhan akan bersandar penuh pada firman dan bukan hanya setengah-setengah!

    (Lukas 11:9) Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

    Kita memohonkan belas kasihan Tuhan atas diri sendiri karena kerap kali kita melawan diri sendiri. Mengatakan “begini-begini” kepada orang lain tetapi ternyata yang dilakukan adalah “begitu-begitu.” Saat kita tidak jujur terhadap diri sendiri, memang orang lain tidak dirugikan tetapi akibatnya dirasakan oleh diri sendiri. Sedang pribadi lain yang berada dalam diri kita adalah Roh Kudus. Kita perlu belas kasihan dari Tuhan agar kesalahan yang tidak sengaja terhadap diri sendiri dan terhadap Roh Kudus dapat diampuni. Akan tetapi, satu-satunya kesalahan yang tidak diampuni adalah saat kita secara sadar dan sengaja menentang Roh Allah yang bersuara menegur kita tentang suatu kesalahan. Yaitu saat kita menghujat dan mulai menentang Roh Kudus tentang suatu pelanggaran. Seolah kita bertengkar dengan diri sendiri sehingga konsentrasi pecah dan hampir tidak mampu beraktivitas. Seperti ada tertulis.

    (Matius 12:31)  Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.

    Tuhan mengenal hati kita lebih dari yang kita tahu. Dia Tahu apakah permohonan maaf yang dihaturkan ke hadapan-Nya dilakukan dengan jujur dan tulus hati. Biasanya orang yang tidak jujur hanya memberitahukan sebagian dari kesalahan dan tidak mengakui yang lainnya. Sedangkan orang yang tidak tulus saat memohon ampun cenderung mengulang-ulang pelanggarannya secara sengaja. Mereka tidak melepaskannya dengan penuh kesungguhan hati melainkan hanya setengah-setengah. Padahal kita tahu bersama bahwa Tuhan bukanlah pihak yang bisa dipermain-mainkan oleh kelicikan dan akal-akalan manusia.

    (Galatia 6:7) Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

    Bila kita sudah berusaha meminta maaf akan sesuatu kepada orang lain tetapi hal tersebut tidak dimaafkannya. Tempat terakhir kita untuk memohonkan pengampunan adalah dengan mengharapkan belas kasihan Allah. Kita berharap, semoga Tuhan melihat perjuangan dan ketulusan hati kita yang berusaha minta maaf sambil mengubah sikap yang salah tersebut. Sehingga sekiranya mungkin, Ia berkenan untuk memaafkan dosa tersebut.

    Lantas, bagaimana caranya agar kita memperoleh kemurahan hati Tuhan? Tidak ada cara lain selain hidup seperti Yesus, yang merupakan teladan sempurna selama hidup di dunia yang keras. Berusaha terus-menerus mengasihi Allah seutuhnya dan mengasihi sesama seadil-adilnya. Tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain melakukan firman Tuhan sepenuhnya dan bukan malah setengah-setengah. Tuhan tidak akan bermurah hati jika perintah-Nya yang satu kita patuhi sedangkan perintah-Nya yang lain kita abaikan.

Kesimpulan

Ada tiga macam pengampunan yang kita peroleh selama hidup di dunia ini: satunya kita peroleh sekali seumur hidup, sedangkan dua yang lainnya bisa kita peroleh secara berulang-ulang. Perjuangkanlah hal-hal tersebut agar tuntutan terhadap diri sendiri di hari penghakiman semakin minim. Tidak perlu jauh-jauh meninjau ke hari penghakiman, saat ini saja efek samping dari kesalahan kita sangat nyata. Hal tersebut dapat kita rasakan saat bertemu dengan sesama, rasa takut membahana di dalam dada. Bahkan saat bertemu anak kecilpun kita ketakutan karena ada Roh Kudus dalam diri tiap-tiap orang percaya: Ialah yang menyudutkan kita.

Tuhan Yesus Kristus mati bersama seluruh dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa serta seluruh nenek moyang kita, sekali untuk selamanya. Itulah pengampunan terbesar yang diberikan kepada umat manusia. Suatu penghapusan dosa yang dilakukan tanpa harus meminta maaf kepada sesama manusia.  Ini terjadi saat kita mengerti dan percaya terhadap karya penyelamatan dari Sang Mesias. Setelah itu, untuk pelanggaran lainnya, kita perlu meminta maaf secara langsung kepada Tuhan memohonkan kasih karunia-Nya. Semoga doa-doa yang kita panjatkan dilayakkan menjadi dupa yang harum di hadapan-Nya. Selain itu, kita perlu juga meminta maaf secara langsung dan terbuka kepada sesama terhadap kesalahan yang telah kita lakukan secara sengaja. Sadarilah bahwa kepahitan yang dilakukan secara sadar kepada orang lain bisa dituntut di akhir zaman, kecuali orang tersebut telah memaklumi dan melepas ikhlas perbuatan jahat anda dari dalam hatinya.

Salam, Penghapusan dosa
telah dilakukan
Tuhan Yesus di kalfari
dan akan terus terjadi
selama Allah bermurah hati
dan sesama mengampuni
kesalahan anda
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.