Pengertian Dan Pendekatan Teknologi Kloning (Biosintetik) Peternakan Hewan

Pengertian Dan Pendekatan Teknologi Kloning (Biosintetik) Peternakan Hewan

Kontroversi

Pernahkah anda mendengar tentang teknologi kloning? Rasa-rasanya kabar tentang teknologi yang satu ini sedikit mendapat image miring dari segelintir masyarakat. Namun sesungguhnya itu hanyalah sesuatu yang dibesar-besarkan sekaligus sebagai salah satu upaya untuk menutupi kecanggihan dan kepraktisan dari teknologi tersebut. Mungkin ada yang berupaya mengendalikan harganya agar tetap tinggi sehingga hal tersebut dilakukan secara rahasia. Padahal bila kita melihat di negara-negara maju, hal semacam ini sudah dibeberkan sehingga tidak ada masalah yang menimbulkan kontroversi. Itulah usaha kami dalam tulisan kali ini, yakni untuk membuka sedikit tabir tentang teknologi ini melalui beberapa pendekatan sederhana yang dapat anda temui dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan awal

Dari sejak pendidikan di sekolah dasar (SD) atau sekolah menengah pertama (SMP): “btw yang betulnya dimana ya? apa anak SD, SMP atau SMA yang sudah mulai belajar tentang dua jenis hewan di bumi, yakni ada yang bertelur dan ada yang tidak bertelur.” Ada unggas yang semuanya melanjutkan keturunan dengan bertelur dan ada mamalia yang melanjutkan keturunan dengan beranak. Sebenarnya, kedua jenis hewan ini sama-sama memiliki telur, hanya saja perbedaannya adalah ada yang perkembangan telur setelah pembuahan secara internal dan ada yang secara ekternal. Sekali lagi perlu diketahui bahwa semua hewan memiliki telur dan struktur telur tersebut hampir sama (serupa) untuk tiap-tiap hewan.

Dikembangkan berdasarkan pemikiran tentang adanya telur unggas yang lebih besar

Sekarang, pernahkah anda melihat telur burung, telur ayam dan telur kalkun? Bagi yang belum pernah melihatnya, kami kasih tahu perbedaannya, yaitu telur burung lebih kecil, telur ayam sedang-sedang saja dan telur kalkun memiliki ukuran yang lebih besar. Jadi, para ilmuan menyimpulkan bahwa telur merupakan rahim ekternal yang lebih stabil dan tahan terhadap perubahan dibandingkan dengan telur (rahim) internal seperti yang dimiliki hewan mamalia. Lantas, mereka berpikir, “bagaimana caranya agar ukuran telur-telur unggas tersebut bisa lebih besar lagi agar dapat membesarkan bayi unggas yang bobotnya setara dengan unggas dewasa.” Lalu mereka memasukkan telur tersebut pada cangkang yang lebih besar yang disebut dengan tabung sintetis.

Butuh lebih banyak kuning & putih telur yang disintesis lewat bahan kimia buatan, dimana sebagian besar diperdagangkan di tengah masyarkat

Tentu saja untuk membuat bayi-bayi unggas tersebut terus tumbuh dan membesar, mereka perlu menambah ektra kuning telur dan putih telur ke dalam tabung tersebut. Mereka kemudian bereksperimen sehingga menemukan bahan-bahan penyusun kuning dan putih telur yang bisa disintesis secara kimiawi di laboratorium. Dari sinilah penemuan besar tentang teknologi biosintesis pembuatan telur terus berkembang. Besar kemungkinan, sebagian besar dari telur yang beredar di masyarakat merupakan produksi besar-besaran industri telur biosintesis. Artinya, telur-telur yang ukurannya agak besar dan hampir semua berukuran mirip (serupa) tersebut tidak dikoleksi dari ayam asli melainkan dibuat di pabrik.

Ayam adalah hasil teknologi kloning pertama yang dikembangkan dalam rahim sintetis

Apa kalian tahu bahwa unggas adalah makanan paling disukai hampir di seluruh dunia? Ini turut disebabkan karena produksinya lebih mudah untuk dilakukan. Benih-benih ayam tersebut diletakkan dalam tabung yang lebih besar yang terus disuplai dengan kuning telur dan putih telur yang memadai. Ketika bobot dan ukurannya sudah sesuai dengan yang dikehendaki maka semuanya akan dipanen secara serentak. Maka jadilah daging ayam yang lembutnya minta ampun. Sekalipun dagingnya tebal namun kelembutannya seperti daging bayi yang renyah sampai tulang-tulangnya. Bukankah anda bisa menemukan daging semacam ini di restoran-restoran mewah di seluruh negeri? Itulah teknologi kloning alias teknologi biosintetik peternakan hewan.

Peternakan hewan di dalam cangkang sintetis lebih efisien dan efektif serta ramah lingkungan dibandingkan dengan peternakan konvesional

Ada ide lain yang bermunculan dalam benak para saintist. Mereka ingin menambahkan embrio spesies lain ke dalam tabung-tabung sintesis tersebut. Mereka berpikir, “mengapa hanya mengembangkan unggas saja, bagaimana dengan jenis hewan ternak lainnya, misalnya domba, sapi, babi dan berbagai hewan ternak lainnya?” Mulai dari sinilah para ilmuan mengembangkan teknologi rahim sintesis untuk menternakkan berbagai jenis hewan lainnya. Tentu saja, tujuannya untuk menghemat penggunaan biaya dan efisiensi waktu. Tidak hanya itu saja, peternakan dalam telur sintesis ini juga membuat lingkungan tetap terjaga lestari. Sebab tidak ada lagi kotoran ternak yang bau dan suka mengunyah tumbuhan sampai habis. Serta tidak ada keributan yang tidak kita inginkan akibat hewan yang berkeliaran ke sana ke mari.

Saat teknologi kloning, diterapkan kepada manusia: sangat banyak kekurangan yang ditemui

Ide-ide para ilmuan terus berkembang, mereka hendak mencoba menambahkan embrio manusia ke dalam rahim-rahim sintetis tersebut. Di sinilah timbul kontroversi di antara para cendikiawan. Mereka menganggap bahwa teknologi ini telah dieksploitasi secara berlebihan dan menghina kemanusiaan. Sebab, bila teknologi kloning manusia tersebut memang bisa diadakan maka perempuan tidak perlu lagi melahirkan. Bahkan kaum LGBT sekalipun pasti memiliki anak dengan teknologi bayi tabung. Beruntunglah penelitian tentang ini telah dihentikan karena dianggap tidak etis. Lagipula sekalipun seorang manusia dewasa ukuran dan bobot tubuhnya dapat dihasilkan, namun tingkat kecerdasannya tetap 0 alias sama dengan kecerdasan bayi.

Masih banyak lagi kekurangan dari bayi tabung ukuran dewasa, yaitu tulang-tulangnya pun masih seperti tulang bayi. Besar kemungkinan manusia hasil kloning masih belum bisa berjalan dengan kedua kakinya. Termasuk dalam hal ini adalah tidak mampu berbicara dan tidak mampu memahami manusia lainnya. Juga tidak dapat dipungkiri bahwa mereka tidak akan mampu pup dan pis mandiri, sebab semuanya itu dilakukan dibalik popoknya. Jadi, merawat bayi ukuran dewasa sangat sulit dibandingkan dengan merawat bayi yang masih kecil. Sebab mudah mengendalikan anak-anak yang masih kecil daripada orang dewasa yang masih kekanak-kanakan. Jadi, penelitian tentang bayi tabung dewasa jelas-jelas mengalami kegagalan dan jalan buntu karena tidak ada ilmuan lajang yang mau repot-repot merawat bayi-bayi gede.

Teknologi kloning dibatasi penggunaannya pada manusia

Demi kebijaksanaan alam semesta dan kemaslahatan orang banyak, penelitian kloning terhadap manusia tidak dilanjutkan melainkan dibatasi sampai kepada pembuahan saja. Dari pemikiran inilah mulai populer istilah bayi tabung bagi perempuan mandul. Keadaan ini khusus ditujukan bagi mereka yang memiliki rahim yang selalu gagal melakukan pembuahan. Artinya, rahim perempuan tersebut sehat dan menghasilkan sel telur namun karena sesuatu dan lain hal sel sperma dan ovum tidak dapat bertemu. Jadi, di sinilah sisi teknologi bayi tabung dimanfaatkan para dokter, yaitu untuk mempertemukan sel telur ibu dengan sel sperma ayah sehingga terjadilah pembuahan di dalam tabung sintetis tersebut. Lantas setelah itu, zigot yang terbentuk akan kembali disuntikkan ke dalam rahim ibu yang tadi. Teknologi bayi tabung jelas berbeda dengan kloning karena perkembangan bayi tabung terjadi dalam rahim perempuan dewasa. Sedangkan perkembangan teknologi kloning tetap di dalam rahim sintetis sampai bobot dan ukurannya sesuai dengan yang dikehendaki.

Kesimpulan

Kloning atau bioteknologi/ biosintetis peternakan hewan menggunakan rahim eksternal atau telur sintetis atau tabung sintetis sebagai media untuk mengembangkan embrio ternak. Agar dihasilkan ternak yang tetap seperti bayi sampai ukuran badannya mencapai bobot ideal. Artinya, sebesar apapun daging ternak yang diinginkan, pasti bisa dicapai dengan memperbesar kapasitas cangkang. Embrio pertama yang dimasukkan dalam tabung sintetis tersebut adalah embrio unggas dan terus dikembangkan untuk hewan ternak lainnya, seperti babi, sapi, domba dan lain-lain. Tentu saja, apa yang kita bicarakan di sini tidak sesederhana itu. Teknologi ini pasti memiliki kerumitan tersendiri namun semuanya bisa disediakan secara masal dengan harga yang tidak murah. Harga mahal tersebut dapat diatasi dengan melakukan produksi besar-besaran. Tentu saja, hanya pemerintah yang memilikinya, terkecuali bila hal tersebut telah diperdagangkan sehingga hasilnya masuk kantong-kantong pribadi (swastanisasi).

Salam, Zaman sekarang,
beternak tidak perlu repot.
Agar alam tetap terjaga alami
namun masyarakat puas
dengan ketersedian daging
yang hampir tidak terbatas
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.