7 Ketakutan Pemanasan Global – Politik Global Warming

Ketakutan Pemanasan Global – Politik Global Warming

Defenisi – Rasa takut adalah desakan situasi yang membuat seseorang merinding, gemetaran, berteriak, sembunyi dan berlari terbirit-birit.

Takut sifatnya relatif. Tiap-tiap orang memiliki aspek yang berbeda soal rasa yang membuat mereka merinding, gemetaran, berteriak, sembunyi sampai berlari terbirit-birit. Tidak ada orang yang tidak pernah mengalami hal-hal ini, tetapi yang terjadi adalah masing-masing mampu menyesuaikan dan membiasakan diri sehingga dapat menekan rasa tersebut ke dalam bentuk yang memberi dampak lebih minimal. Tentu tidak mudah untuk sampai ke titik adaptasi sehingga seseorang mampu menepis sesuatu yang selama ini menerornya dari dalam dan dari luar. Demikian halnya juga saat kita berupaya untuk memahami lingkungan alamiah di sekitar, butuh waktu untuk mengerti bencana yang menimpanya.

Ada rasa takut yang datangnya sebentar, memberi dampak sementara lalu segera juga hilang. Juga ada rasa takut yang datangnya  perlahan-lahan tetapi menyebabkan dampak negatif yang terus ada selama beberapa waktu. Khusus pada bagian ini, kita akan membahas tentang rasa takutnya segelintir orang yang tetap ada selama mereka hidup. Suatu kekuatiran yang datangnya dari pengetahuan yang kurang tepat mengenai alam semesta. Menggambarkan seolah-olah kiamat akan segera terjadi. Padahal kisah yang telah mereka saksikan dan terlanjur dipercayai, hanyalah suatu perumpamaan. Suatu kisah yang begitu menawan dan menggegerkan khalayak

Ketakutan bukanlah bencana. Tetapi di sisi lain, ada juga manfaat baik dari rasa tersebut.  Adalah bagus bila kita takut akan Tuhan dengan segenap hati dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan dan dengan segenp akal budi sendiri. Berupaya menurut talenta yang diberikan Tuhan kepada kita  untuk menjadi saksi-saksi-Nya dimana pun ditempatkan, entah itu di pedesaan maupun di perkotaan. Rasa takut akan Tuhan tidak dihadapi dengan bersembunyi. Sebab orang yang melarikan diri dan bersembunyi dari hadapan Tuhan adalah orang berdosa, seperti kisah Adam dan Hawa dahulu kala. Melainkan rasa takut yang benar disikapi dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sayang, di sisi lain ada pula kekuatiran yang bermunculan setelah menyaksikan desas-desus yang disebarkan oleh media-media besar sampai menjadi sebuah film. Seperti kebanyakan cerita yang tujuannya untuk menghibur pendengar, tentu diangkat dari kisah yang tidak seutuhnya nyata dan tidak semuanya khayalan. Suatu perpaduan yang memukau indra dan sangat seru lagi menarik saat disaksikan. Tetapi, lihatlah akibat sampingan dari kisah tersebut. Menciptakan kekuatiran tersendiri yang disimpan dalam hati tiap-tiap orang. Tepat saat mereka memiliki cukup banyak sumber daya, saat itulah muncul niat untuk menggunakan kekayaannya demi mencegah dirinya terhempas oleh bencana yang tidak pernah datang.

Pada dasarnya, kekuatiran orang kaya dengan orang miskin sangat berbeda. Mungkin rasa takutnya serupa, akan tetapi tindakan yang selanjutnya mereka ambil adalah berbeda. Orang yang hidup sederhana terbatas materi, saat meragukan masa depannya, pasti pasrah saja kepada Tuhan. Sebab katnya, “Yang terjadi, biarlah terjadi, biarlah kehendak Tuhan yang ternyata benar melingkupi semua orang.” Sebaliknya, ketika seorang yang kaya raya meragukan keselamatannya di masa depan, cenderung melakukan tindakan antisipasi. Tindakan antisipasi inilah yang cenderung menjadi pemborosan yang menghabiskan banyak sumber daya. Tentu tidak ada yang bisa melarang mereka menggunakan uangnya: memanen sumber daya dan menimbun keperluannya sebanyak-banyaknya.

Kemewahan dan kemegahan hidup orang yang tajirnya kebangetan tidak semata-mata dipicu oleh tingginya nafsu melainkan turut pula didorong oleh ketakutan yang membuat hati tidak tenang sepanjang hari.

Contoh kekuatiran dan tindakan antisipasi yang menyertainya

Ada rasa takut yang gelombang acaknya hanya diderita oleh hati saja kemudian berlalu begitu saja tanpa mengubah sesuatu dalam hidup kita. Akan tetapi, ada pula rasa takut yang akibatnya tidak hanya mempengaruhi pikiran, melainkan perilaku dan perkataan pun turut dirubah olehnya. Masalah yang selanjutnya muncul adalah “kemanakah arah perubahan itu? Apakah ke arah positif atau ke arah negatif?” Saat isu tentang pemanasan global berhembus bahkan sampai filmnya juga keluar, populer di dalam masyarakat. Biasanya yang paling sibuk adalah orang-orang yang memahami alias mengerti tentang cerita tersebut. Sedang yang kurang paham akan menganggapnya sebagai hiburan balaka. Lantas apa saja bentuk-bentuk antisipasi dari rasa takut yang mereka miliki? Berikut beberap contuhnya.

  1. Takut terkena sinar matahari.

    Mengapa ketakutan saat berdiri di bawah sinar matahari? Seharusnya kita bersyukur karena mentari kembali memancarkan sinarnya di pagi hari. Sebab tanpa mentari, tidak ada kehangatan! Atau, apakah anda suka bila hari selalu gelap? Seharusnya tidak, semua juga tidak suka! Sebab perpaduan antara gelap dan terang yang terus bergonta-ganti adalah suasana terbaik yang dapat kita nikmati sendiri maupun bersama orang lain. Isu tentang global warming hanyalah sesuatu yang dilebih-lebihkan. Sebab demikianlah ciri khas dari sniar matahari: hangat, panas dan kadang menyengat. Percayalah bahwa kita mampu menyesuaikan diri dengan semuanya itu.

  2. Takut dengan udara luar.

    Iklim yang berubah-ubah dianggap sebagai pertanda bencana, bukannya sebagai fenomena alam yang lumrah. Suatu pertanda yang disebut sebagai pemanasan global akan menawan berbagai wilayah di berbagai negara. Bencana yang dipicu akibat udara yang menjadi kotor penuh karbon, hasil dari pembakaran tidak sempurna mesin kendaraan dan mesin-mesin pabrik lainnya. Karbon aktif yang mengkontaminasi udara tidak baik bagi bumi dan tidak baik pula untuk kesehatan manusia di dalamnya. Oleh karena itu, orang-orang kaya yang suka pamer akan menutup pintu, jendela dan ventilasi rumahnya agar tidak terkontaminasi dengan udara luar yang menjijikkan. Mereka tentu memakai AC agar dapat menyaring semua udara yang masuk dan keluar ke dalam tempat tinggalnya.

  3. Takut ke luar rumah.

    Kami juga orang rumahan yang aktivitasnya banyak dilakukan dan diselesaikan di dalam rumah. Akan tetapi, alasan tidak keluar rumah bukan karena takut panas melainkan karena tugas-tugas cukup diselesaikan di depan laptop selama beberapa jam kerja. Justru bagus saat tubuh kita terpapar sinar matahari. Karena dengan demikian darah akan dipanaskan sehingga metabolisme tubuh dipercepat yang turut meningkatkan efektifitas dan efisensinya. Dalam keadaan semacam ini, panas dari alam berperan sebagai katalisator metabolisme tubuh.

  4. Memberi kendaraan mahal.

    Ada informasi yang menyatakan bahwa saat puncak pemanasan global berkecamuk, energi (bahan bakar) yang dapat diproduksi berkurang drastis. Akibatnya, terjadi krisis energi di mana-mana yang memicu terjadinya kerusuhan dan pencurian. Jadi, orang dengan uang yang melimpah ruah membeli kendaraan mahal agar dapat terelakkan dari kerusuhan dan pencurian entah berantah.

    Bahkan beberapa di antara mereka yang menyadari bahwa kota-kota dunia akan mengalami krisis besar-besaran. Akan membeli sesuatu yang dapat menyelamatkan dirinya dengan cepat. Sesuatu yang dapat terbang dan mendarat di mana saja yang dinamakan helikopter. Sebab global warming yang merajalela kemungkinan besar akan menghentikan aktivitas transportasi di jalan-jalan utama. Ada kemacetan di mana-mana, sehingga tidak ada satupun kendaraan yang dapat lalu-lalang di jalanan kota. Satu-satunya kendaraan yang bisa lalu-lalang adalah helikopter.

  5. Membangun rumah mewah yang tinggi besar.

    Saat menyaksikan film tentang banjir besar yang akan melanda berbagai daerah akibat pemanasan global yang katanya membuat iklim tidak stabil. Padahal dari dulu sampai sekarang, iklim memang berubah-ubah menurut waktu dan pola tertentu. Mereka yang hidupnya sederhana mungkin akan berdiam diri dengan tenang dan pasrah dengan keadaan. Akan tetapi, lain halnya dengan orang bermodal tebal. Ia akan membangun rumahnya bak gedung yang mewah, besar, berkelas dan tentu saja tinggi.

    Tujuan pembangunan rumah ini tentu tidak semata-mata soal estetika yang serba glamour. Melainkan bertujuan pula untuk meningkatkan jarak dari permukaan tanah. Agar sedapat-dapatnya memiliki tempat aman lainnya di dalam rumah guna menghindari banjir besar yang bisa terjadi tiba-tiba. Suatu bencana yang terjadi akibat pemanasan global yang mendorong cairnya es di kutub sampai air laut meluap melewati batasnya (garis pantai).

  6. Membangun ruang bawah tanah – bunker.

    Berdasarkan cerita demi cerita yang tersebar menurut momentum perubahan iklim yang membuat atmosfer kehilangan kemampuan untuk menahan radiasi sinar matahari. Keadaan ini membuat radiasi sinar matahari merusak segala kehidupan yang ada di permukaan bumi, termasuk manusia dan binatang. Orang-orang yang akan bertahan hanyalah mereka yang memiliki pertahanan bawah tanah yang kuat atau disebut juga sebagai bunker bawah tanah.

    Mereka yang uangnya sangat banyak akan ketakutan setelah memahami kisah tersebut. Ini mendorong mereka untuk membangun pertahan yang sama bagi dirinya sendiri. Ini merupakan bentuk antisipasi “buat jaga-jaga, siapa tahu cerita tentang terbakarnya permukaan bumi akibat sinar matahari langsung, benar-benar terjadi.” Mereka akan menghabiskan banyak sumber daya untuk menggali ke dalam tanah dan membuat rumah aman di bawah rumahnya sendiri.

    Ada sangat banyak persediaan yang disembunyikan di bawah tanah, mulai dari kebutuhan pangan, sandang sampai energi (bahan bakar minyak). Semua itu ditampungnya di rumah aman yang tidak bisa di buka apalagi dibongkar selaian oleh dirinya sendiri. Tentu saja ia rutin mengganti barang-barang persediaannya ketika kualitasnya mulai jelek akibat kadaluarsa.

  7. Membangun lebih banyak rumah.

    Katanya, salah satu akibat global warming yang tak terelakan adalah mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan. Bencana ini senyatanya mengakibatkan lautan penuh dengan air sehingga kadar keasinannya menurun. Lalu semua laut dan sungat meluap sehingga memenuhi daratan. Kota-kota pertama yang akan ditenggelamkan oleh luapan air laut adalah kota yang berada di daerah pesisir. Padahal, pusat kapitalisme berada di daerah pesisir.

    Orang dengan kekayaan melimpah-limpah akan membangun rumahnya dimana-mana. Salah satu yang sangat strategis adalah di atas pegunungan yang asri nan hijau. Akibatnya hutan di sekitar pegunungan menjadi gundul dipenuhi vila mewah konglomerat. Rencananya ketika tempat mereka jelas-jelas terancam di pesisir maka mereka akan melarikan diri ke vila, tempat aman yang jauh dari keganasan air laut dan tsunami.

    Isu lain yang beredar di antara orang-orang kaya adalah tentang meningkatnya kerusuhan di tengah pemanasan global yang berkecamuk. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan, mulai dari gagal panen, kegagalan sistem/ organisasi sampai pada kegilaan manusia itu sendiri. Ketakutan karena beratnya gelombang kerusuhan yang akan datang membuat orang tajir abis membangun kediamannya dimana-mana, bahkan di semua daerah. Mereka melakukan hal tersebut agar dapat menghindari kerusuhan yang meluas dalam kota dengan berpindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lain.

  8. dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Desas-desus soal global warming sangat menguntungkan pihak tertentu, termasuk dalam hal ini adalah pemerintah. Isu global warming turut meningkatkan perputaran ekonomi dalam suatu negara. Sayangnya perputaran tersebut lebih banyak terjadi di antara orang-orang yang sudah duluan kaya di negeri.

Pemanasan global adalah fluktuasi iklim yang sesungguhnya lumrah terjadi tetapi dibesar-besarkan seolah-olah bisa membakar langit. Sebab biar bagaimana pun juga, intensitas sinar dan energi matahari yang diterima oleh bumi selalu konstan dari waktu ke waktu. Ketika di suatu tempat tiba-tiba panas maka tempat lainnya di bumi akan tiba-tiba dingin. Padang gurun di seluruh bumi sangat panas karena atmosfer mengalirkan banyak panas ke wilayah tersebut. Akibatnya, thermal atmosfer di daerah lain akan dicuri untuk dialirkan ke gurun. Sehingga daerah lain mendingin (kehilangan sebagian besar panas). Percayalah bahwa sinar matahari tidak akan pernah membakar bumi sampai memicu bencana alam dan bencana kemanusiaan yang sangat besar. Sebab yang terjadi di atmosfer hanyalah peralihan panas yang selalu diimbangi dengan peralihan dingin sehingga ada keseimbangan.

Salam, Ketakutan orang kaya
menyebabkan pemborosan
!
Ketakutan orang yang
hidupnya sederhana
mendorong kepasrahan hidup
di dalam perlindungan Tuhan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.