Kesenangan Dan Kesombongan Manusia

Kesenangan Dan Kesombongan Manusia

Hidup ini campur aduk. Ada-ada saja sesuatu yang seperti pelangi: bisa dibedakan antara satu sinar warna dengan sinar warna lainnya. Akan tetapi ada juga sesuatu yang seperti teh atau susu: tidak bisa lagi dibedakan yang mana airnya dan yang mana teh/ susunya. Mudah bagi kita untuk membedakan sesuatu yang memang berbeda menurut pengamatan mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Segera juga kita mendapatkan hasilnya yang mana ini dan yang mana itu. Akan tetapi bagaimana cara kita membedakan sesuatu bila berdasarkan pengamatan panca indra tidak jauh beda karena telah bercampur sempurna? Untuk memilah-milah sesuatu yang telah tersuspensi lengkap inilah, kita membutuhkan lebih banyak waktu agar dapat memisahkan bubur di antara lumpur.

Dalam banyak situasi, sikap baikpun bisa dikategorikan buruk karena waktu yang tidak tepat, tidak sesuai kebutuhan dan tujuan (motivasi) yang salah. Bila kita bagus-bagus kepada seseorang hanya agar dia pun maunya baik-baik kepada kita: makna ketulusannya telah hilang. Saat kita berbagi kasih kepada orang lain lalu mengumbar kemurahan hati tersebut kepada yang lainnya: itu namanya menyombongkan diri. Ketika kita mau hidup sederhana tetapi merasa diri lebih baik dari orang-orang kaya: inipun tidak tulus dan terkesan angkuh. Bahkan tidak perlu pun orang lain mendengarkan kata-kata angkuh tersebut, hati berbangga saja: itu juga termasuk keangkuhan. Jadi, semakin banyak yang kita libatkan dalam suatu sikap maka semakin rentan sikap tersebut dengan kesalahan.

Mengingat ke masa lampau buat bangga banyak prestasi

Ada baiknya bila semua masa lalu positif yang disadari, kita lupakan. Sebab ingat-ingatan yang bagus itu sangat menyenangkan yang membuat kita terlena sehingga hal-hal penting lainnya kita lupakan. Kita terpaku dalam kesenangan masa lalu yang membuat pikiran buntu, tidak ada hal lain yang kita kerjakan dan tekuni lagi. Akibatnya, lebih banyak hal yang bermutu kita lakukan di masa lalu dibandingkan dengan saat ini. Keadaan inipun semakin diperparah oleh karena ingat-igatan tersebut menimbulkan kebanggaan hati. Keangkuhan membuat kita kehilangan daya tahan saat menghadapi persoalan. Sebab saat berbuat baik sekalipun pasti ada rintangannya. Mungkin saja itu berupa pengabaian, ejekan, penghinaan dan kekerasan verbal lainnya. Keangkuhanlah yang membuat ejekan, hinaan, pengabaian (dan sikap buruk lainnya) semakin menyakitkan saat diingat.

Jika masa lalu membuatmu sombong, belajarlah dari masa depan, “bahwa kita bukan apa-apa dibandingkan dengan generasi yang datang berikutnya.” Mengapa demikian? Sebab manusia terus berkembang dari masa ke masa. Penemuan terus berkembang dari waktu ke waktu yang membuat sistem mengalami efisiensi dan efektivitas untuk hidup yang lebih baik. Terpaku pada masa lalu memang merupakan suatu awal bencana yang membuat hidup benar-benar stagnan alias tidak menghasilkan apa-apa. Ini akan terus berlanjut jika dukungan materi dari warisan leluhur memanjakan mereka. Akan tetapi, mereka yang bijak mampu membuat berbagai hal kreatif dari puing-puing kehidupannya. Sekalipun sudah makmur, mereka terus bekerja, tidak semata-mata demi uang. Melainkan untuk memberi arti, bermanfaat bagi sesama.

Senangnya mengembang sombongnya membengkak

Hampir tidak bisa kita bedakan antara kedua hal ini. Bagi seorang pemula muda-mudi mungkin tidak menyadari bahwa rasa senangnya sedang disombongkan kepada pihak lain. Seorang pemuda merasa senang tetapi tiba-tiba berubah menyombong karena membeberkan perasaannya kepada sesama. Jadi, bisa dikatakan bahwa kesenangan kita cenderung berubah jadi kebanggaan ketika secara sadar atau tidak sadar mengungkapkan hal tersebut kepada sesama. Ada sebesit niat di hati agar diakui orang lain atau dipuji sehingga membeberkan rasa tersebut. Merasa bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang unik, fantastis bahkan istimewa sehingga hasrat untuk mengumbarnya semakin kuat.

Awalnya cuma mau senang-senang dengan berbangga diri, malah kebablasan. Jadi malas untuk kembali berbuat baik karena banyaknya rintangan yang dilalui. Sebab hati yang terlanjur sombong membuat rintangan sepuluh kali lebih berat. Orang yang tidak segera mengatasi rasa angkuhnya dipastikan akan terus tenggelam dalam arogansi yang semakin memburuk. Tetapi, mereka yang mau belajar merendahkan hati akan merasa kaku di awal-awal. Namun seiring berjalannya waktu menjadi terbiasa dalam ketekunan tanpa akhir. Melakukan apa yang baik memang tidak segampang mengatakannya. Hanya yang rendah hati merelakan dirinya terbiasa menderita yang akan menemukan kelegaan sejati.

Menyombongkan diri demi menepis luka di hati

Di sisi lain kehidupan beberapa orang yang kurang tabah masih menggunakan rasa bangganya agar bisa bertahan dari penderitaan. Derita yang menimbulkan dukacita akan diselaraskannya dengan kebanggaan diri yang menyebabkan sukacita sesaat. Untuk sementara waktu, aktivitas ini membuatnya mampu bertahan dari hempasan badai hidup yang keras. Tetap saja, itu hanya sementara karena apa yang disombongkannya tidak selalu ada. Guncangan yang berat akan dialaminya ketika kelebihan yang diunggulkan kalah saing dengan milik orang lain yang jauh di atasnya. Terlebih ketika apa yang dibanggakanannya memudar seiring waktu bahkan lenyap sama sekali. Pada situasi inilah terjadi puncak tekanan hidup yang beresiko menyebabkan stres.

Kesenangan yang datangnya dari dunia ini tidaklah abadi. Demikian juga dengan kelebihan yang kerap kali dianggarkan kepada pihak lain. Memang menyombongkan diri adalah cara tercepat untuk merasa senang sekaligus menepis pahitnya persoalan. Sayang, ini juga merupakan kelemahan terbesar karena bila direnggut, beresiko menyebabkan depresi sampai sikap memburuk: merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, hindari berpegang pada hal-hal duniawi yang anda tahu tidak akan bertahan lama. Sebab menyandarkan hidup pada kenikmatan dan kemuliaan duniawi, seratus persen (100%) ditunggui oleh kekecewaan di masa depan, entah itu cepat atau lambat.

Kesimpulan

Dimanapun anda merasakan kesenangan, disitulah resiko kesombongan mematung. Anda akan menghidupkan patung keangkuhan tersebut begitu senangnya dirimu kebablasan yang diiringi dengan hasrat untuk membeberkannya kepada sesama. Hanya diri sendirilah yang dapat mengukur tingkat kesenangan tersebut, apakah masih terkendali atau sudah berubah lebay. Tingkatkan mawas diri dan dengarkanlah suara Roh Kudus yang memberi inspirasi agar dapat memahami situasi di dalam dan di luar diri sendiri.

Sadarilah bahwa saat merasa senang, tepat saat itulah rasa sombong mulai parkir di sisi hati anda. Ketika senangnya jadi berlebihan dan ada keinginan untuk mengungkapkan atau memamerkannya kepada dunia. Di saat seperti itulah arogansi semakin kuat yang mendorong timbulnya berbagai kekhilafan kecil sampai kesalahan besar merintangi jalan yang ditempuh. Masalah tidak lagi dihadapi dengan elegan melainkan pukul rata semuanya: mengabaikannya, mengabaikan orangnya, termasuk mengabaikan orang terdekat/ terkasih di sekitar kita. Ditambah lagi rasa-rasanya buly: ejekan, hinaan dan pengabaian jadi sepuluh kali lebih menyakitkan dari sebelumnya. Semuanya ini membuat keadaan kita rusak parah: yang dimulai dari pikiran yang kacau lalu di susul oleh perkataan yang kasar dan sikap kita pun turut melanggar peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karena itu, sebelum semua hal buruk tersebut terjadi berhentilah membanggakan gemerlapan duniawi yang kita miliki. Melainkan bersandarlah kepada Tuhan saja: muliakanlah nama-Nya, turutilah firman-Nya dan percayalah kepada sorga-Nya. Inilah kesenangan sejati yang tidak akan direnggut oleh siapapun.

Salam, Berhenti bersenang-senang
mengumbar gemerlapan duniawi
ini semakin memperjelas keangkuhan.
Tetapi, bersenang-senanglah
dalam hati karena perkara sorgawi
Itulah sukacita yang selalu ada
di sepanjang kehidupan kita
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.