7 Kebohongan Besar Pemerintah

Kebohongan Besar Pemerintah

Khusus untuk tulisan ini, kita berbicara tentang tipu muslihat hura-hura yang dilakukan oleh pemerintahan negara “Y.” Ini tidak berbicara tentang pemerintahan yang ada di dekat kita melainkan berkisah tentang pemerintah di wilayah lain yang jauh di sana. Mereka melanggengkan kekuasaannya di atas ketidakbenaran lalu berharap mendapatkan hal baik dari ketidakbenaran tersebut. Padahal dengan berlaku demikian, mereka semakin jauh dari ketenangan dan ketenteraman hati. Namun semakin dekat dengan kegelisahan dan kekuatiran tak terbatas yang beresiko membuat hidup kacau balau. Mereka seolah tak tertahankan sehingga bertambah-tambahlah penipuan yang mereka sebarkan di seantero negeri.

Sepatutnya pemerintah sebagai bagian dari sistem bernegara adalah pihak yang paling dapat dipercayai. Tetapi, ternyata tindak-tanduk mereka sungguh jauh dari apa yang selama ini diharapkan. Sebab mereka memberi solusi dan sekaligus memakan penduduknya sendiri. Ini seperti di zaman bar-bar dimana manusia saling memburu dan membunuh satu sama lain dan dalam hal ini pemerintah “Y” adalah pemain utamanya. Bagaimana mungkin ini bukan negara bar-bar, garam saja diracun. Itukan hal kecil yang letaknya didapur tetapi telah dinajiskan oleh koorporat bawahan pemerintah. Mungkinkah orang-orang ini hidup dengan tenang bila pekerjaannya hanya hobi mengerjai penduduk negeri?

Penipuan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah “Y” terhadap masyarakat

Satu orang saja berbohong kepada satu orang lainnya, pasti kerugian yang didatangkannya besar. Terlebih lagi kalau dikatakan bahwa pihak yang melakukan manipulasi adalah koorporasi: sistem di dalam masyarakat. Coba bayangkan berapa banyak orang yang tertipu dan tentu saja hal tersebut setara dengan ketakutan yang ditimbulkannya. Apa lagi yang menyebabkan atau yang mendorong keadaan ini kalau bukan karena power yang besar? Tentu saja penyimpangan pengetahuan dilakukan demi mengokohkan dinasti kekuasaan mereka dan demi meraih lebih banyak dolar dalam kantong pribadi para petingginya. Para elit politik ini memang nggak ada logika, apa mereka tidak sadar bahwa ada yang memperhatikan dari atas? Berikut akan kami jelaskan seadanya kebohongan besar yang dilakukan oleh koorporat.

  1. Alutsista baru diboyong dari Mamarika.

    Siapa pulak yang berperang zaman sekarang? Apa pemerintah “Y” tidak malu melawan rakyat tangan kosong dengan menodongkan senjata? Punya harga diri dikit, setidaknya cari lawan yang seimbang. Lagipula siapa yang mau melawan anda? Semua orang sudah pada makmur dan nggak ada lagi yang perlu diperebutkan. Katanya ada barang baru tetapi nyatanya hanya barang lama yang dicat ulang dan nomor serinya ditempel dengan label yang baru.

  2. Membeli beras dari Vietnas.

    Ngapain pulaklah negara “Y” menghubung-hubungkan dirinya dengan Vietnas dan Lusia. Seolah dua negara ini selalu diperdengarkan ke telinga publik: apa ini semacam jebakan bagi kaum sosialis agar mereka menyimpang: melakukan demonstrasi, kerusuhan, kekerasan hingga menjadi teroris? Usut punya usut, ternyata beras yang dihasilkan pemerintah “Y” diproduksi oleh Bulos sebagai lembaga ketahanan pangan negara. Di sisi lain, kualitas beras gratisan yang dihasilkan industri sintesis Bulos adalah kelas tiga. Artinya, kualitasnya buruk setara makanan ternak. Tak heran bila orang kampung justru lebih suka menjadikannya sebagai makanan ayam belaka.

  3. Daging impor dari Auslalia atau Singasura.

    Yaela, katanya daging impor tetapi nyatanya dihasilkan oleh perusahan bioteknologi negara “Y.” Mengapa pulak masyarakat harus dibohongi soal daging sapi? Apa salahnya berkata jujur dan terbuka menyatakan kebenaran? Atau jangan-jangan ini adalah usaha untuk menaikkan harga daging tersebut sehingga kelebihannya masuk kantong-kantong elite yang bertanggung jawab? Lagi pula negara daging impor yang dipilih Auslalia dan Singasura, bukankah itu terkesan aneh?

  4. Pulau dicuri negara lain.

    Bagaimana pula ceritanya pulau Ambalas sampai dicuri Malingsia? Dasar negara maling, namanya saja ada malingnya, pantae orangnya kayak maling. Atau jangan jangan pemerintah “Y” maling teriak maling? Istilah kata, mereka pura-pura kecolongan padahal maling tersebut sengaja diundang agar bisa melakukan transaksi. Cincailah kira-kira satu pulau kaya minyak bisa dijual berapa? Lantas uang hasil transaksinya dibagi-bagikan kepada seluruh elit pemerintah yang bertugas. Belum lama ini, ada juga pulau lain yang sedang diincar Malingsia, yaitu Natusa tapi kemudian tidak jelas kelanjutannya. Sepertinya kedok pemerintah sudah mulai terbongkar sehingga tidak berani lagi menjual pulau secara diam-diam ke negara tetangga.

  5. Makanan plastik.

    Apa pulak makanan dari plastik? Beras dan telur pun dari plastik: apa masyarakat terlalu bodoh sehingga tidak bisa membedakan mana yang plastik dan mana yang asli? Atau jangan-jangan ini hanyalah kamuflase agar oknum pemerintah bisa menyembunyikan keberadaan perusahaan sintetik negara? Sehingga mereka bisa mengeruk untung pribadi sebesar-besarnya dari perusahaan itu. Atau jangan-jangan mereka hanya ingin menakut-nakuti orang cerdas di negeri agar percaya bahwa seleksi alam itu nyata. Sehingga para cendikiawan tersebut tidak mendukung keadilan sosial dan malah ikut-ikutan menjadi bawahan kapitalis yang kaya raya dan suka mewah-mewahan.

  6. Ancaman pemanasan global.

    Semalam siang hari sejuk tetapi hari ini mataharinya sangat terik. Lantas karena teriknya menyengat langsung saja dianggap sebagai pemanasan global. Pemerintah “Y” sengaja manas-manasin situasi agar orang tertentu menjadi resah terhadap kehidupannya. Bagaimana caranya agar orang-orang ketakutan karena bencana global di depan mata. Sehingga mereka mengungsi dari tempatnya dan pergi ke kota lain. Padahal kenyataannya itu hanya ulah dari pemerintah “Y” agar orang-orang menjadi khawatir berlebihan terhadap perubahan iklim yang lazim terjadi. Sebab memang yang namanya panas dan dingin sudah biasa bergonta-ganti dari waktu ke waktu.

  7. Ancaman dibalik keadilan sosial.

    Kalau soal konspirasi, pemerintah “Y” adalah jagonya. Salah satu persekongkolan jahat mereka adalah untuk memfitnah keadilan sosial di antara tokoh-tokoh masyarakat. Seolah mereka memberi pesan-pesan implisit yang menyatakan bahwa mustahil berlaku adil diantara ratusan juta penduduk. Mereka menganggap bahwa dirinya (pemerintah) tidak akan sanggup membagi kemakmuran seperti yang dirasakannya dan dirasakan oleh konco-konconya. Padahal gaya hidup merekalah yang terlalu tinggi sehingga tidak bisa diaplikasi kepada semua orang. Coba mereka hidup lebih sederhana, sebab kesederhanaan membuat manusia bisa menikmati sumber daya turun-temurun. Lagipula ada yang namanya ekonomi bergilir khusus untuk sumber daya yang terbatas sehingga semua orang dapat memperolehnya tetapi tidak dalam waktu yang bersamaan.

    Lagipula pemerintah “Y” terlalu lebay mempersoalkan jam kerjanya yang terlalu padat sedangkan banyak diantara rakyat yang tidak bekerja seharian. Padahal, bila memang kerjanya terlalu berat, ditambah saja pegawainya lalu dibagi shift kerjanya, bila perlu sampai enam shift per hari sehingga waktu kerjanya tidak lagi dari jam delapan sampai jam lima. Biar orang-orang lebih banyak santai di rumah, sehingga rumah sakit dan praktek dokter kembali kenyang dengan pasien. Juga ada cara lain untuk profesi lain yang singkat jam kerjanya diupayakan terorganisir (ada organisasinya/ ada komunitasnya) agar mereka memiliki jam kerja dan tugas yang jelas.

  8. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Kami tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya hidup dalam kebohongan yang jelas-jelas merugikan ratusan juta penduduk. Dengan semua kesalahan itu, apa mereka bisa tidur dengan tenang? Tidak adakah sedikitpun rasa gelisah yang mulai bergejolak di dalam hati? Sebab hanya ketakutanlah yang menjadi saksi bisu terhadap segala dosa yang kita lakukan. Saking takutnya, seperti lima orang yang mengikuti rapat tetapi yang datang lima puluh orang. Empat puluh lima orang lainnya adalah pengawal/ bodyguard. Inilah yang terjadi ketika seseorang menyadari kesalahannya dan ingin menyangkal ketakutan yang meraung-raung dalam hatinya. Bagaimana kita bisa merasa sebagai warga kerajaan Sorga jika di bumi saja kita tidak bisa hidup dengan tenang?

Salam, Negara “Y” ya pemerintah “Y”
Sekalipun itu di tempat yang jauh
baiklah kita memetik
pelajaran dari sana!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.