7 Alasan Hukuman Mati Ilegal Di Indonesia

Faktor Penyebab Hukuman Mati Ilegal Di Indonesia

Manusia sudah mencapai babak baru kehidupan yang melebihi generasi sebelumnya. Suatu kesempatan dimana mata pikiran terbuka tentang betapa kayanya bumi tempat tinggal kita. Tidak ada yang benar-benar akan hancur di telan bencana karena semuanya itu terhubung dalam sistem semesta yang seimbang. Asalkan koorporasi mampu mengelola sumber daya yang tersedia dengan baik. Semuanya ini menunjukkan betapa baiknya alam terhadap semua makhluk di dalamnya. Sudah seharusnya kebaikan yang kita terima dari lingkungan kita salurkan kepada sesama manusia lewat sikap yang baik pula. Termasuk mengembalikannya kepada Tuhan dalam rasa syukur yang utuh. Juga tidak lupa untuk mengembalikan kebaikan alam lewat pemeliharaan lingkungan yang berkesinambungan menurut potensi, kapasitas dan kewenangan masing-masing orang.

Terlebih ketika keadilan sosial di adopsi oleh sistem bermasyarakat. Tidak ada lagi perbedaan kekuatan yang terlalu besar antara manusia. Sebab power yaitu “pengetahuan, kekuasaan dan pendapatan” telah disejajarkan. Tidak ada lagi profesi yang lebih hebat dari profesi lainnya karena masing-masing orang bekerja menurut kemampuannya untuk membuat sistem dapat berjalan dengan baik. Gerakan kerja bersama yang adil ini mendatangkan keuntungan bagi semua orang yang disalurkan melalui keluarga sebagai organisasi terkecil di dalam masyarakat. Memang masih banyak perbedaan recehan yang menjadi ujian di antara manusia. Perbedaan kecil ini tidak akan memecah-belah tetap justru semakin membangun kepribadian manusia menjadi lebih tangguh dan bijak menjalani hidup.

Saat kebaikan berkembang di tengah masyarakat, siapa lagi yang tega berbuat jahat? Bahkan orang tidak akan berani berkata kotor: memaki atau menyerapahi sesamanya sebab masing-masing berlaku sopan satu dengan yang lain. Semuanya berusaha untuk menjadi orang benar, sebab tujuan mereka jelas, yaitu sorga. Memang ada juga tujuan duniawi seputar materi tetapi hal tersebut dikendalikan oleh sistem yang berkeadilan. Sehingga tidak ada lagi orang yang memaksakan dirinya untuk berjuang di luar batas-batas kemanusiaan demi mencari uang. Sebab semua orang beroleh kemakmuran yang pantas dari negara menurut bakat alami yang dimilikinya. Tidak ada yang menipu sesamanya untuk memperoleh keuntungan sebab masing-masing manusia bekerja untuk negara dan diupah oleh negara.

Manipulasi seharusnya hanya terjadi dalam internal profesi semata-mata untuk menjalankan ekonomi sandiwara. Ini jelas diperlukan untuk membuat manusia tetap sibuk sehingga tingkat kecerdasannya terjaga dan kualitas hidupnya tetap baik. Jelaslah bahwa ini berhubungan erat dengan kesehatan tiap-tiap orang yang berimbas pada umur manusia di bumi. Semakin panjang umur manusia, makin banyak keuntungan yang diperolehnya, makin makmur keberadaannya sehingga makin berkualitaslah kehidupannya. Akan tetapi, jika kehidupan kebanyakan orang tidak berkualitas (umur terlalu pendek), bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh karena manipulasi kotor yang berkembang pesat secara diam-diam di dalam masyarakat. Bukankah ini lebih jahat dari kejahatan itu sendiri? Sebab kejahatan tersebut dilakukan secara terkoordinasi oleh lembaga tertentu sehingga memangkas kehidupan orang tertentu (membunuh secara tidak langsung).

Faktor penyebab hukuman mati ilegal di Indonesia

Jadi, zaman sekarang bukanlah manusia yang jahat. Melainkan sistem yang ada di dalam masyarakatlah yang jahatnya kebangetan. Dengan sumber daya yang dikuasainya, koorporasi bisa mengkoordinasikan manusia agar menjadi jahat. Apabila pribadi yang kurang dewasa dan kurang pengalaman menghadapi kekejaman halus dari sistem, besar kemungkinan mereka akan melawan dan membalas dengan berlaku buruk pula. Bila kelakuan buruk ini tidak dapat dikendalikan oleh orang tersebut, ada kemungkinan skalanya akan semakin menjadi-jadi. Situasi yang semakin tidak terkendali (sengaja dipicu oleh sistem yang buruk) bisa saja mendorong seseorang melakukan kejahatan besar. Misalnya mega korupsi, pembunuhan, pemusnahan berencana, pemberontakan dan lain-lain.

Berikut ini akan kami jelaskan sedikit tentang faktor penyebab hukuman mati tidaklah sah di Indonesia.

  1. Tidak ada lagi manusia yang melakukan kejahatan besar yang tidak dapat dimaafkan.

    Tiap-tiap orang mengejar kebutuhannya, haruskah dia merugikan orang lain demi memperoleh sepeser uang? Tentu saja hal ini tidak akan terjadi jika tiap-tiap orang bekerja untuk negaranya dan digaji oleh negara setara dengan profesi lainnya. Pendapatan yang diberikan sesuai umur akan terus membaik seiring bertambahnya usia manusia.

    Penyertaan negara untuk menghidupi semua orang adalah jaminan bahwa tidak ada satupun manusia yang kekurangan sebab semua kebutuhannya telah tercukupi. Tidak ada kejahatan yang terlalu berat untuk dimaafkan sebab yang terjadi di antara manusia hanyalah distorsi kecil alias kekhilafan recehan. Jadi, jelaslah bahwa manusia zaman sekarang tidak lagi butuh hukuman mati.

  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

    Pencasila dengan jelas menyebutkan bahwa manusia harus diperlakukan setara dengan manusia lainnya sesuai adabnya. Menurut KBBI Offline, “beradab adalah (a) mempunyai adab; mempunyai budi bahasa yg baik; berlaku sopan; (b) telah maju tingkat kehidupan lahir batinnya.

    Apakah menurut anda menghukum mati seseorang mencerminkan sebuah kebaikan? Atau apakah tindakan yang sangat tegas ini mencerminkan kesopanan terhadap sesama manusia? Padahal, negara-negara lain yang perekonomiannya lebih maju telah meninggalkan budaya ini. Bahkan Belanda sebagai referensi awal hukum di Indonesia telah menghapus hukuman mati dari konstitusinya. Jadi, kita hendak bagaimana? Terus maju atau masih mundur dengan terus memberlakukan konstitusi yang telah usang dimakan waktu.

  3. Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.

    Kasih adalah inti dari firman Tuhan. Mengasihi sesama hanya mampu kita lakukan jika telah lebih dahulu mengasihi Allah seutuhnya. Artinya, kasih kepada sesama terinspirasi dari kasih Tuhan yang telah kita rasakan selama ini. Inilah yang mendorong kita untuk berkata: “saya rindu mengasihi orang lain seolah dia adalah diri saya sendiri.”

    Apakah anda menginginkan kematian? Kalau anda sendiri tidak menginginkan kematian, mengapa berani mengakhiri hidup orang lain? Seberdosa apa pun seseorang, tidak sepantasnya kita menghakiminya secara pribadi. Biarlah Tuhan yang menghakiminya dan biarlah konstitusi yang menawan kebebasannya sepanjang waktu.

  4. Itu hukuman menakuti penjahat atau menakut-nakuti masyarakat?

    Jika pemerintah membunuh orang secara langsung, apa bedanya mereka dari penjahat sungguhan? Mempertontonkan kekejaman ini bahkan sampai viral di media-media adalah bentuk kesuperioran pemerintah. Ini bisa dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menakut-nakuti masyarakat. Besar kemungkinan akan menjadi informasi untuk menekan sisi emosional manusia. Memanfaatkannya untuk menekan perlawanan terhadap lawan-lawan politiknya. Semata-mata agar tidak berani membangkang terhadap koorporasi sekalipun mereka menginstruksikan hal-hal yang jahat.

    Kebiasaan pemerintah membunuh orang bisa saja diarahkan untuk mengorbankan sekelompok orang agar kelompok lainnya dapat hidup yang lebih layak. Mereka tidak merasa bersalah karena menganggap dirinya sebagai hakim yang menentukan nasib manusia. Jadi, suka-sukanya: apakah ini yang akan dibiarkan hidup dan itu yang akan dikorbankan.

  5. Pemerintah tidak berhak mencabut nyawa sekalipun orang tersebut hidup-sejahteranya oleh uang negara.

    Memang sangat jelas pengaruh negara dalam kehidupan kita, memberi segala yang kita perlukan untuk hidup. Itulah manfaat sistem yang berkesinambungan sejak kita lahir di dunia ini sampai tutup usia: masing-masing orang ditopang oleh kekuatan organisasi! Tetapi, bukan berarti hidup kita seluruhnya untuk negara sebab masih banyak kebutuhan lainnya yang harus kita cari dan temukan selain hal-hal materi.

    Apabila negara bisa membuat kita makmur secara materi, itu tidak berarti bahwa kita hanya perlu mendedikasikan hidup untuk negara. Sebab materi sebesar apapun itu belum tentu membuat kita berbahagia. Materi hanya menyangkut kebutuhan fisik yang tidak mencakup kebutuhan hati. Fisik biskosong kapan saat waktu senggang tiba. Akan tetapi, hati tidak pernah bisa diam! Selalu ada hal-hal yang timbul dari dalam sana. Inilah salah satu alasan utama mengapa manusia tidak bisa diam dan terus aktif berkarya (fokus, belajar, bekerja atau menghasilkan karya seni).

    Jadi, kebutuhan hati lebih utama dan lebih besar dari kebutuhan materi. Buktinya, pernah ada orang yang makmur secara materi tetapi malah melukai diri sendiri bahkan sampai mengakhiri hidupnya karena pikirannya kerdil. Materi yang digunakan hanya sebagian dari sekelumit/ segudang kebutuhan yang diperlukan jiwa. Jadi, tidak ada seorang pun yang berhak melukai sesamanya sebab tiap-tiap manusia memiliki hak azasi manusia pribadi lepas pribadi.

    Peran organisasi membuat manusia hidup lebih kecil dibandingkan dengan perjuangan manusia itu sendiri agar tetap hidup. Sebab ada banyak masalah yang dihadapi oleh tiap-tiap orang yang jika diperhitungkan jumlahnya melebihi jumlah materi yang dikonsumsinya hari demi hari.

  6. Pendidikan yang buruk bagi generasi berikutnya.

    Sudah jelas bahwa agama kepercayaan manapun pasti memerintahkan umatnya untuk “Jangan membunuh!” Tidak ada agama yang menyuruh umatnya untuk saling tikam. Sama pula halnya berdasarkan hukum yang berlaku di dalam masyarakat: tidak ada peraturan yang mengizinkan masyarakat untuk membunuh sesamanya.

    Peraturan itu sendiri dibuat oleh pemerintah berdasarkan kesepakatan bersama. Lantas mengapa pemerintah seolah-olah kebal hukum: aparatnya malah dipakai dan diperintahkan langsung untuk membunuh manusia. Ini mencerminkan seolah-olah pemerintah adalah lembaga super power, alfa di atas segalanya, junjungan yang terhormat dan kebal hukum. Karena mereka pemerintah, mereka berhak melakukan apa saja sesuka hatinya.

    Ketidakadilan ini menjadi contoh yang buruk bagi generasi muda. Anak muda akan berlomba-lomba untuk menjadi pegawai pemerintah sebab merekalah yang paling makmur dan mereka bisa melakukan apa saja, sesuka hatinya. Orang0orang akan berjuang mati-matian agar dapat menduduki kursi spesial dengan gaji fantastis yang melebih banyak profesi lainnya di dalam masyarakat.

  7. Lebih baik hukuman seumur hidup agar deritanya panjang.

    Saat anda menghukum mati seseorang, ada kemungkinan orang tersebut masuk sorga sedangkan para penghukumnya jeblos ke neraka. Memang tersangka telah melakukan dosa besar di hadapan manusia sehingga hakim menjatuhkan hukuman mati. Akan tetapi, tepat saat eksekusi dilakukan dengan demikian tahun-tahun umurnya yang lama di dunia direbut/ direnggut secara paksa oleh hakim dan algojonya. Bisa saja Tuhan memandang bahwa kejahatan yang dilakukannya sudah terbayarkan oleh karena hak hidupnya atau tahun-tahun umurnya telah direnggut oleh penguasa/ pemerintah.

    Jadi, hukuman matinya membersihkan dosa tersangka tetapi menambah dosa pemerintah karena telah berani merampas “hak azasi manusia (HAM)” seseorang. Oleh karena itu, untuk menghindari pelanggaran masif semacam ini, hukuman maksimal sebaiknya sampai “kurungan seumur hidup” saja. Hukuman seumur hidup mengekang seseorang karena kesalahannya agar sedapat-dapatnya menyadari hal tersebut. Diharapkan dia bisa bertobat secara sukarela (tanpa paksaan) dan pemerintah bebas dari dosa pembunuhan yang telah dikecam Tuhan sejak Kain membunuh Habel (bnd. Kejadian).

Kesimpulan

Zaman sekarang, tidak ada lagi manusia yang melakukan mega pelanggaran yang membuatnya layak dilenyapkan. Sebab apa yang selama ini menjadi bahan rebutan (power/ kekuatan) telah disetarakan. Lagipula, manusia tidak perlu membohongi orang lain hanya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya sebab sudah ada ekonomi sandiwara yang membuat semua orang bekerja menurut bakatnya masing-masing. Menghukum mati seseorang karena banyaknya pelanggarannya hanya mempersingkat penderitaannya. Ada kemungkinan, tahun-tahun umurnya yang dirampas setara/ impas dengan kejahatan yang telah dilakukannya sehingga sorga menyambutnya. Akan tetapi, pemerintah yang bertindak sebagai eksekutor bagaikan lembaga super body/ super power yang dengan sombongnya menghilangkan hak hidup manusia. Nafas hidup yang datangnya berasal dari anugerah Allah tetapi diambil secara paksa oleh aparat. Apa menurut anda pemerintah tidak berdosa lewat semua kesombongan ini?

Salam, Hidup-matinya manusia
ada di tangan Tuhan
!
Kalau pemerintah
ikut-ikutan menentukan
siapa yang boleh hidup
dan siapa yang boleh mati,
bukankah dengan demikian
mereka menyamakan dirinya
dengan Tuhan
?

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.