7 Potensi Musuh Dalam Hidup Kita – Hal-Hal Yang Beresiko Menjadi Iblis Dalam Hari-Hari Yang Dijalani

Potensi Musuh Dalam Hidup Kita – Hal-Hal Yang Beresiko Menjadi Iblis Dalam Hari-Hari Yang Dijalani

Ada pertanyaan tentang, “Apakah anda memiliki musuh atau tidak?” itu sangat tergantung dari persepsi masing-masing orang dan caranya menanggapi ketelodoran sesama. Sebab status ini sangatlah subjektif menurut pikiran dan pemahaman masing-masing orang. Cukup jarang orang yang mengungkapkan kepada sesamanya bahwa “Si ini dan si itu adalah musuh saya!” Besar kemungkinan hal tersebut hanya diketahui oleh diri sendiri. Bisa juga diketahui antara orang yang saling dekat dalam lingkaran persahabatan atau lingkaran kekeluargaan.

Zaman sekarang, tidak ada orang yang mau memusuhi sesamanya. Mungkin karena mereka lelah bersaing dengan orang lain tetapi pada dasarnya ini disebabkan oleh karena keadilan yang berlaku di dalam masyarakat. Bila pengetahuan, kekuasaan dan pendapatan telah disetarakan menurut proporsi, kapasitas dan usia masing-masing keluarga maka tidak ada lagi yang diperebutkan. Tiga hal ini adalah kekuatan yang terbesar di dalam masyarakat, bila tidak disejajarkan menurut ukuran tertentu akan sangat mudah menimbulkan ketidakseimbangan hidup. Jelas, perbedaan besar ini, lambat-laun beresiko menyebabkan kehancuran sistem, kerusakan lingkungan dan hancurnya kemanusiaan itu sendiri.

Sekalipun kita tidak mau memiliki lawan, sebab ingin hidup damai dengan orang lain sehingga hati tenang menjalani hari. Tetap saja, kuda liar dalam diri kita menunjuk-nunjuk orang dan menyatakan bahwa “inilah musuhmu dan itulah musuhmu!” Selama kita mampu mengabaikan teriakan dari kedagingan tersebut, selama itulah ada ketenangan hati, sekalipun ombak kadang mengguncang hari-hari. Akan tetapi, bila kita terjebak di dalam pembahasan tak berujung tentang hal-hal kecil dengan diri sendiri maka besar kemungkinan tenangnya hati berlalu. Kekuatan kita terletak lebih banyak dalam kemampuan mengalihkan konsentrasi ke hal-hal positif. Tanpa ini maka kita akan tenggelam dalam pemikiran-pemikiran kedagingan yang semakin menyesakkan jiwa.

Musuh utama dalam hidup anda

Kita perlu mendefenisikan siapa yang sesungguhnya dilawan agar dapat berkonsentrasi pada hal tersebut. Lantas, bila lawan utamanya anda ketahui maka persepsi terhadap lawan lainnya akan berguguran karena anda tahu bahwa sesungguhnya mereka adalah orang baik. Oleh karena itu, perbaikilah sikap anda, buatlah kata-katamu baik dan buatlah perbuatanmu baik sehingga tidak ada alasan bagi orang-orang baik itu untuk memusuhimu. Bila kita tidak mampu bersikap baik dan benar maka besar kecenderung kita merasa bahwa semua orang sedang melawan kita. Sebab kita hidup dalam masyarakat yang setiap waktu berinteraksi dengan mereka, sehingga perilaku kita mereka kenal.

Bila kita menjadi orang baik, tidak ada rasa bersalah saat berpapasan dengan mereka sehingga hubungan yang kita jalin terasa luwes. Jika mereka bersikap buruk terhadap kita, maafkanlah dan biarkan saja. Ada kemungkinan mereka merasa kurang enakan/ kurang luwes/ kurang nyaman saat berinteraksi dengan kita akibat tekanan dari dosanya sendiri atau karena belum terbiasa. Inilah salah satu contoh efek domino dari dosa! Sedangkan kita dapat menghadapinya biasa saja karena hati bersih dari kesalahan (sejauh yang kita tahu). Sekalipun mereka menjadi musuh kita, berupayalah untuk tetap baik kepada orangnya dengan menunjukkan sikap yang ramah. Akan tetapi, abaikanlah semua gangguan dan kejahatan recehan yang dilakukannya terkecuali pelanggaran yang masuk ranah hukum, bisa dilaporkan!

Berikut ini akan kami tampilkan siapa-siapa sajakah yang berpotensi memusuhi anda selama hidup di dunia ini.

  1. Diri sendiri.

    Ada apa dengan diri sendiri? mengapa melawan dirimu sendiri? Pertentangan pertama kita terhadap diri sendiri adalah “melawan prinsip hidup yang telah kita tetapkan.” Peganglah prinsip hidupmu baik-baik agar hati tidak mempersalahkan kita karena sikap yang menyimpang itu. Sedangkan pertentangan kedua terhadap diri sendiri adalah “melanggar janji sendiri.” Waspadailah, agar tidak sampai menentang kedua hal tersebut. Sebab bila kita berlaku di luar prinsip hidup yang telah ditetapkan sendiri atau melanggar janji yang kita buat. Besar kemungkinan kedagingan kita yang cerewet dibangkitkan untuk melawan dan mempersalahkan kita sehingga tidak ada lagi ketenangan hati dimanapun berada.

  2. Pasangan hidup.

    Repot juga jika pasangan hidup sendiri menjadi lawan kita. Malah tampaknya lebih senang rasanya hidup saat sedang sendiri daripada berdua karena malah musuh-musuhan seperti waktu kecil dulu. Bila terlalu memerhatikan berbagai kekhilafan kecil yang dilakukan pasangan maka tiap-tiap hari ada pertengkaran. Sebab semakin dekat dengan seseorang maka semakin banyak kekurangan dan kesalahannya yang dibukakan. Oleh karena itu, perlu ada rasa saling memaklumi dan memahami antar pasangan.

  3. Keluarga sendiri.

    Keluarga adalah tempat terbanyak dimana kesalahan kecil terjadi. Semakin lama tinggal dengan orang lain maka semakin jelaslah hal-hal yang menyakitkan yang pernah anda rasakan dalam keluarga. Terkecuali bila anda mampu memaafkan semuanya itu sesegera mungkin. Dan termasuk dalam hal ini adalah melupakannya. Kekhilafan kecil yang kerap terjadi di tengah padatnya kegiatan sesungguhnya bisa terlupakan dengan cepat. Sebab kita tidak fokus terhadap kesalahan tersebut. Melainkan masing-masing orang disibukkan oleh asyiknya kegiatan yang dilakukannya dari waktu ke waktu. Artinya, aktivitas yang kita lakukan sehari-hari membantu kita untuk melupakan pengalaman buruk di dalam keluarga.

  4. Orang/ masyarakat di lingkungan sekitar.

    Namanya juga makhluk sosial, sudah pasti butuh berinteraksi dengan banyak orang di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Dalam usaha menjalin keakraban tersebut terkadang terjadi distorsi yang bisa saja memicu permusuhan sesaat atau sepanjang waktu. Mungkinkah itu tanggapan yang kurang tepat atau sikap tetangga yang terlalu dingin atau tetangga yang terlalu heboh dan lain-lain. Kita perlu siap dan membiasakan diri dengan kehidupan mereka. Belajarlah menyesuaikan diri sambil memberi toleransi terhadap aktivitas mereka yang kadang bersinggungan dengan apa yang kita lakukan. Persinggungan ini bisa dianggap sebagai suatu gangguan dan bisa juga dianggap sebagai sesuatu yang lumrah . Bukankah semuanya ini tergantung dari persepsi dan pandangan hidup tiap-tiap manusia?

  5. Seseorang dalam lingkungan pendidikan atau dalam lingkungan pekerjaan yang digeluti.

    Setiap manusia butuh pendidikan yang baik. Sekolah formal merupakan dasar dari pendidikan yang bisa mengembangkan pengetahuan seseorang menjadi lebih cerdas menjalani hari. Kekuatan ilmu pengetahuan adalah indikator utama yang membawa manusia dalam perubahan hidup yang lebih manusiawi. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pendidikan sekalipun musuh bisa merong-rong kehidupan pelajar. Ada musuh bebuyutan dalam hal penampilan, kekayaan, penilaian dan lain sebagainya.

    Sama juga halnya saat sudah terjun di dunia kerja, ada berbagai aspek kehidupan yang membuat kita secara langsung maupun tidak langsung menjadi rival orang lain. Terlebih ketika posisi tertentu didewakan yang mengundang reaksi banyak pihak untuk memperebutkannya. Semakin besar gaji dan fasilitas yang ditawarkan dalam suatu jabatan maka semakin banyak pengorbanan yang dilakukan manusia untuk memilikinya. Dalam kebersamaan di dunia kerja, kesalahan kecil bisa saja membuatnya retak. Terlebih ketika masing-masing pihak ingin memenangkan suatu kompetisi resmi maupun yang non resmi.

    Mudah sekali mendapatkan musuh selama berada dalam pendidikan. Sebab ada banyak orang yang belum dewasa, manja dan cengeng. Bisa jadi, soal-soal recehan saja sudah bisa membuat orang lain memusuhi anda. Saat di dunia kerja, semakin banyak hal yang besar yang ditawarkan organisasi maka semakin tinggi tingkat persaingan antar para pekerja. Tetapi merek berpuas diri dan membiarkan perkembangan karirnya di atur oleh sistem atau secara bawaan (default) oleh organisasi. Tentu saja hal ini akan diikuti oleh banyak orang kalau sistem benar-benar menerapkakn keadilan sosial.

  6. Lingkungan hidup/ lingkungan alamiah.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan sekitar juga beresiko menjadi musuh yang menginginkan kematian kita. Sebab bencana alam yang melibatkan lingkungan dapat menyeret kita sampai ngesot di dalamnya. Misalnya saja, saat terjadi banjir, tanah longsor, banjir bandang, angin topan/ tornado dan lain sebagainya. Jadi, bisa kami katakan bahwa bencana alam adalah pertanda buruk yang menunjukkan bahwa manusia tidak ramah terhadap lingkungan sekitarnya. Kita membiarkan pembalakan liar yang terjadi secara besar-besaran tanpa melaporkannya, menggunakan sumber daya untuk pesta pora demi kebanggaan diri. Contoh lainnya adalah tidak menggunakan kendaraan umum saat hendak berpergian. Semua bentuk pengrusakan lingkungan ini, bila terjadi selama bertahun-tahun akan menimbulkan bencana alam di masa mendatang. Jadi, rawatlah lingkunganmu seperti rumah sendiri sebelum hal-hal alamiah itu berbalik menendang sebagai bencana yang menelan korban materi maupun korban jiwa.

  7. Mesin dan teknologi modern.

    Bagi seorang pemula, pasti akan berpikiran bahwa teknologi sangat membantu dan mendukung pekerjaan yang dilakukannya dari waktu ke waktu. Akan tetapi, bagi yang sudah berpengalaman menggunakan teknologi akan menyadari bahwa mesin-mesin tersebut juga berpotensi memanjakan kita sehingga mental dan fisik mengalami cidera yang semakin lama, semakin besar. Sampai membuat kita terbunuh oleh karena penyakit metabolisme maupun terbunuh oleh kejahatan yang membuat kita banyak berurusan dengan penegak hukum.

    Ada banyak distorsi yang ditimbulkan oleh teknologi, anda bisa mengabaikannya sejenak. Sebab biar bagaimanapun, teknologi yang ada sekarang, belum sesempurna yang kita inginkan. Distorsi kecil bisa dimaklumi atau diabaikan. Akan tetapi distorsi besar yang secara nyata merusak pekerjaan, sebaiknya dikonsultasikan kepada ahlinya atau ganti yang baru saja.

    Mereka yang sudah mulai belajar bijak, tidak lagi menerima atau mengadopsi mesin berteknologi tinggi sembarangan. Melainkan mengendepankan pertimbangan yang matang sebelum memilikinya sebagai pendukung pekerjaan. Serta bersikap kritis dan selektif terhadap berbagai sajian informasi yang terkandung di dalamnya (khusus untuk teknologi komunikasi).

Kesimpulan

Kitalah yang menciptakan iblis sendiri lewat sikap yang jauh dari kebenaran dan keadilan. Sebab dengan sikap buruk tersebut maka mudah sekali bagi iblis untuk menghasut orang-orang di sekeliling kita agar melakukan perlawanan nyata yang menentang keberadaan kita. Oleh karena itu, berupayalah untuk menjadi orang yang selalu baik dan benar dimanapun dan kapanpun. Saat kita berlaku suci, luar-dalam maka lebih sedikit siasat iblis untuk mendorong sesama agar memusuhi kita.

Manusia menciptakan iblisnya sendiri lewat sikap dan cara hidup yang tidak ramah terhadap lingkungan. Kebiasaan hidup berfoya-foya, memboroskan sumber daya, merusak hutan, membuang limbah sembarangan, memburu predator dalam dunia binatang dan lain sebagainya. Kesemua perilaku yang tidak mendukung kelestarian alam akan menumpuk sementara dilingkungan. Penjahat lingkungan merasa tidak masalah dengan kerusakan yang ditimbulkannya sebab alam masih bisa menahan baban kerusakan tersebut. Akan tetapi ketika hal-hal ini terjadi selama bertahun-tahun, belasan tahun hingga puluhan tahun maka iblis besar dari lingkungan itu sendiri akan dibangkitkan pada suatu hari sial yang naas. Kemudian akan menggunung lalu bertransformasi menjadi bencana alam yang menggulung segala sesuatu di atasnya, termasuk manusia itu sendiri.

Selama belum melihat dengan mata kepala sendiri siapa musuh yang melakukan kejahatan kepada anda: tuduhlah iblis! Jangan menuduh si ini atau si itu padahal itu hanyalah hasutan dari pikiran yang penuh curiga. Berprasangka buruk agar hati-hati adalah baik tetapi suudzon dengan menuduh si ini dan si itu, jelas tidak aman!

Saat orang-orang bertanya kepada kami, “apakah kamu menuduh saya melakukan kejahatan ini?” Kami menjawabnya, “yang saya salahkan adalah iblis, mengapa anda merasa bahwa saya menuduh anda? Bukankah kata-kata saya sudah sangat jelas dari tadi?” Atau katakan kepadanya, “mengapa anda sewot saat saya menuduh iblis telah berbuat jahat kepada saya? Apakah anda sekutunya iblis sehingga membelanya pula?” Iblis adalah musuh utama manusia tetapi kita tidak menyadari bahwa sikap kita sendirilah yang memicu kehadirannya. Kita juga bisa membuat lingkungan alamiah menjadi setan yang melenyapkan segala sesuatu dalam kuatnya bencana alam lewat sikap yang tidak ramah lingkungan. Bahkan teknologi mesin yang kita miliki akan menjadi setan bila tidak mampu memanajemen penggunaannya secara bijak. Demikian juga halnya dengan teknologi informasi yang akan merusak sikap kita bila tidak mampu mencernanya secara kritis dan selektif.

Salam, Jangan salahkan siapa-siapa,
Sikap kitalah yang membuat
dajjal berkeliaran bahkan
merajalela dalam keseharian kita
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.