7 Alasan Orang Kaya Miskin Kikir Dihadapan Allah, Hanya Kasih Karunia Allah Yang Melayakkan Mereka

Alasan Orang Kaya Miskin Kikir Dihadapan Allah, Hanya Kasih Karunia Allah Yang Melayakkan Mereka

Para pembesar negeri menciptakan peraturan yang tidak adil sehingga kaya-rayalah mereka bersama semua pendukungnya. Ini tidak dapat dipungkiri sebab merekalah yang membuat aturannnya sehingga membuatnya sedemikian rupa, menguntungkan bagi dirinya sendiri, keluarganya dan koleganya. Suatu hukum yang berlaku, hanya menguntungkan segelintir pihak saja, membuat mereka berkali-kali lipat lebih tajir selangit dari masyarakat awam. Padahal dasar dari segala aturan di negeri menyebutkan bahwa “keadilan adalah hak semua orang.” Mereka mengerti maksud dari peraturan tersebut tetapi enggan untuk mengusahakannya. Lantas berpikir bahwa mereka bisa bebas dari hukuman atas kelalaian tersebut.

Orang-orang ini merasa dirinya memegang kunci sebagai akses untuk kemana saja. Apa yang mereka buka tetap terbuka dan apa yang mereka tutup tetap tertutup. Padahal dengan demikian, mereka menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas segala instabilitas yang terjadi dalam negeri. Mereka tidak menyadari hal tersebut lalu berpikir bahwa dirinya akan masuk sorga karena telah banyak kebaikan yang mereka perbuat. Padahal semua kebaikan yang mereka lakukan adalah pemenuhan dari tanggung-jawab yang diberikan sistem: tentu saja orang-orang tersebut digaji sangat tinggi untuk melakukannya. Bagaimana mungkin mereka merasa dirinya masuk sorga padahal Yesus Kristus sendiri telah mengecam hal tersebut? Seperti ada tertulis.

Mat 19:24  Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Orang berduit penghiburan utamanya adalah hartanya, tanpanya mereka stres

Unta saja mustahil masuk lubang jarum tetapi tetap bisa masuk oleh karena mukzizat yang daripada Allah. Akan tetapi, orang kaya tidak mungkin masuk sorga karena kepuasan mereka adalah hartanya. Bukan sorga yang ada dipikirannya sebab penghiburannya adalah hartanya. Gemerlapan hartanya yang sangat banyaklah yang membuat hatinya senang. Semua yang mereka inginkan sudah ada di dunia ini, mereka tidak lagi butuh sorga sebab tempat dimana dia hidup sudah penuh dengan gemerlap sorga kemewahan duniawi di sana-sini. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka tidak bersandar seutuhnya kepada Sang Pencipta. Sebab saat ada masalah, semuanya bisa diselesaikan dengan uang, sandarannya adalah kekayaannya. Ketika hari-hari buruk menimpanya, bukan Tuhan yang menjadi penghiburannya. Sebab ia beersenang-senang menghibur diri dalam foya-foya materi.

(Lukas 6:24) Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Jadi, bagaimana mungkin orang kaya masuk sorga kalau semua yang dibutuhkannya ada di dunia ini? Dia mau ini-itu, tinggal beli, Suka yang begini atau begitu tinggal pesan doang! Perlu dibeginikan atau perlu dibegitukan tinggal telpon maka semuanya tersedia. Jadi, untuk apa lagi orang-orang ini ke sorga bila seluruh hal yang merka perlukan suah ada di bumi? Justru orang-orang semacam ini akan membebani sorga sebab hanya ada Tuhan dan bala tentara sorga dan tidak ada lagi yang namanya kepunyaan pribadi dan berbagai gemerlapan fana lainnya. Jadi, sebaiknya mereka yang harta bendanya sangat banyak di bumi saja, jadi calon penghuni neraka. Bukankah bumi ini adalah neraka kesukaan mereka? Dimana dirinya bebas melakukan apa saja?

Sedekah dan persembahan orang kaya terlalu kecil

Tuhan menilai persembahan dari total harta

Menurut anda, apakah Tuhan butuh uang? Tentu tidak, semua orang pasti sangat menyadari fakta tersebut, bahwa “Tuhan tidak menilai orang dari uangnya.” Itulah sebabnya, baik orang kaya maupun miskin sama dihadapan Tuhan. Sekalipun demikian, Yesus Kristus datang untuk menegaskan sudut pandang Allah terhadap segala persembahan dan sedekah yang dilakukannya. Uang tidaklah berarti dimata-Nya, tetapi yang dipandang-Nya adalah “apakah kita sudah memberi segala yang kita miliki untuk kemuliaan nama-Nya?” Atau jangan-jangan, kita hanya memberi secuil saja dari apa yang kita miliki. Istilah kata orang matematika, itu hanya 0,000000… sekian. Seperti ada tertulis.

(Lukas 21:3-4)  Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Dapatkah anda memahami sudut pandang yang dipakai Tuhan saat menilai aktivitas memberi persembahan? Dia jelas tidak menilai berdasarkan besaran nilai uang yang di berikan manusia. Sebab Allah kita tidak bisa disetarakan dengan uang yang fana: semua itu hanyalah debu di hadapan-Nya. Melainkan Tuhan melihat manusia secara keseluruhan, membacanya sebagai pribadi yang utuh dan tidak bisa dipisahkan dari apa yang dapat diberikannya. Tuhan lebih suka membandingkan jumlah persembahan yang dimiliki seseorang dengan total harta yang dimilikinya. Inilah persepsi keadilan Tuhan yang membuat orang-orang super kaya kehilangan muka dihadapan-nya.

Logikanya adalah kata  “seluruh nafkahnya” bisa diartikan sebagai seluruh penghasilannya atau seluruh apa yang ada padanya diberikan kepada Tuhan. Misalnya saja, seluruh yang ada pada kita ditotalkan sebagai 1 bagian. Jadi, janda miskin yang memberi dari kekurangannya meletakkan seluruh nafkahnya atau seluruh hartanya sebagai persembahan sehingga totalnya adalah 1 bagian (100%). Akan tetapi orang kaya raya memberi dari kelimpahannya sebab seluruh nafkahnya/ semua uangnya/ segalah hartanya masih sangat banyak di rumah. Jadi, orang kaya tidak memberikan 1 bagian (100%) kepunyaanya di kotak persembahan tetapi hanya sebagian kecil saja. Mari amati hitung-hitungannya.

Orang kaya, total hartanya 1.000.000.000 (1 M), datang ke gereja dengan kolekte 5.000. Berapa bagiankah persembahannya itu (berapa persenkah persembahan tersebut dari jumlah keseluruhan nafkahnya? Seandainya dia memberikan seluruh hartanya maka jumlah persembahannya adalah 1M (1 bagian atau 100%). Akan tetapi, orang tajir itu pelitnya minta ampun, persembahannya saja hanya lima ribu rupiah atau sebanyak 0.000005 (0,0005%). Bukankah ini membuktikan bahwa orang kaya itu sangatlah pelit? Dari sekian banyak kepunyaannya, hanya nol koma sekian saja yang dikembalikan kepada Tuhan, sedang sebagian besar yang lainnya ditimbun di rumah dan di bank-bank terkenal.

Jangan bangga (sombong) memberi persembahan bernilai besar

Kekayaan pribadi tidak sah berdasarkan aturan dasar bernegara

Mari lihat kembali aturan-aturan yang terdapat di negeri ini. Apakah semua aturan tersebut sudah sesuai dengan standarnya? Bukankah kita punya standar aturan fundamental yang perlu diresapi dan diteruskan dalam semua peraturan yang ada? Harus ada “keadilan sosial bagi seluruh masyarakat” namun segala aturan yang tidak mengandung hal tersebut sifatnya inkonstitusional. Parahnya lagi adalah, bukan orang lain yang melanggar aturan tersebut tetapi orang yang membuatnya, orang itu juga yang melanggarnya. Jadi “Kunci Petrus” yang ada di tangan orang-orang yang berkuasa telah sesat dan menyimpang dari standar kenegaraan dan terlebih lagi menyimpang dari standar Tuhan.

Kesimpulan

Faktor penyebab mereka yang kepunyaannya melimpah ruah susah masuk sorga

  1. Sedekahnya sangat kecil (kikir) di hadapan Tuhan.
  2. Penghiburan utamanya adalah hartanya.
  3. Melakukan tipu-muslihat dan korup agar bertambah-tambah hartanya.
  4. Menentang aturan fundamental yang dipakai sebagai standar Kenegaraan.
  5. Melawan standar kasih Tuhan.
  6. Merugikan sesama lewat tindak tanduknya yang arogan (ankuh).
  7. Melakukan pemborosan yang merusak lingkungan.
  8. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri. Coba baca, Mengapa orang tajir susah masuk sorga.

Adalah mustahil orang yang kikirnya minta ampun ini masuk dalam kerajaan sorga. Sebab pemberiannya terhadap Tuhan dan sesama hanyalah sejumlah nol koma nol nol nol sekian saja. Semakin tajir seseorang, semakin pelit pemberiannya di hadapan Tuhan. Belum lagi kalau cara-cara yang dipakainya untuk memperoleh harta tersebut jahat/ menipu/ korup.  Belum lagi masalah pelanggaran aturan fundamental tentang keadilan dalam berorganisasi dan bermasyarakat. Sehingga makin besarlah dosa yang harus ditanggungnya kelak di akhir zaman. Bukankah semuanya itu menunjukkan betapa mustahilnya orang kaya masuk sorga? Oleh karena itu, berhenti mengejar kekayaan, sebab semakin banyak harta, makin kikir kita di hadapan Tuhan dan dihadapan sesama manusia. Satu-satunya yang dapat melayakkan mereka adalah kasih karunia Allah. Adakah anda adalah orang berduit yang tekun mencari kasih karunia Allah dengan mengasihi-Nya secara utuh dan mengasihi sesama dengan adil (seperti menyayangi diri sendiri)?

Salam, Orang berduit
sorganya adalah hartanya.
Buat apa lagi mereka
mau ke sorga
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.