Manusia Harus Jatuh Karena Keinginannya – Kita Perlu Merasakan Akibat Hawa Nafsu Sehingga Paham Bahwa Itu Salah

Manusia Harus Jatuh Karena Keinginannya – Kita Perlu Merasakan Akibat Hawa Nafsu Sehingga Paham Bahwa Itu Salah

Keinginan adalah kekuatan yang bisa membangun dan bisa pula menghancurkan. Bukankah semuanya itu tergantung dari orang  yang menginginkannya? Kemana arahnya, tidak jauh-jauh dari apa yang ada di dalam hatinya. Apa yang dipikirkannya sesaat sebelum atau sesudah hal tersebut terjadi? Juga, apa dasarnya ketika meniatkan hal tersebut? Atau singkatnya, semua itu bergantung dari tujuan seseorang melakukan ini dan itu. Kita bisa salah karena memiliki tujuan yang tidak benar walaupun kelihatannya hal tersebut benar. Misalnya, kita berbuat baik kepada seseorang agar dia memercayai kita dan menjadikan kita sebagai teman bahkan sahabatnya. Lalu setelah dipercayai menjadi sobat karibnya, menyakitinya dari belakang secara diam-diam. Jika semuanya ini sudah direncanakan maka sejak dari awal apa yang kita lakukan adalah salah.

Apapun yang kita kehendaki, lakukanlah itu dengan tujuan yang benar. Kami sendiri bisa saja menulis hal-hal yang seolah-olah baik adanya namun tujuannya adalah demi menjatuhkan si ini atau si itu. Mungkin tujuan semacam ini tidak disadari oleh orang lain tetapi hanya sebagian saja yang mengerti. Di atas semuanya itu, Tuhan paham tujuan kami dan menganggap apa yang kami tulis jahat adanya. Sedangkan kami sendiri pastilah menemui lebih banyak hambatan yang tidak dapat ditanggung atau berujung celaka. Di antara semuanya itu, yang lebih dominan adalah ketidaktenangan hati yang menghantui hampir setiap langkah kaki. Suatu rasa yang membuat jiwa kita jauh dari kata damai. Walaupun secara harafiah, semua yang kita inginkan sudah ada.

Suatu hasrat bisa salah karena hal tersebut (1) memang jahat, (2) belum sesuai syaratnya (status, umur, jenis kelamin dan lain-lain) dan tujuan-tujuannyalah yang salah. Rasa-rasanya ketiga hal tersebut sudah cukup mewakili, seperti apa nafsu yang kurang tepat itu. Lantas apa yang terjadi saat kita menghasratkan sesuatu yang kurang benar? Tentu saja, bila ada sebab, pasti ada akibatnya yang berupa kerugian yang dialami oleh diri sendiri, orang lain dan sistem bermasyarkat serta lingkungan sekitar. Ini bisa dialami oleh diri sendiri saja atau dampaknya bisa meluas sehingga merugikan banyak orang termasuk sistem bermasyarakat. Semakin besar nafsu kita maka semakin besar dan luas juga dampak buruknya, jika itu salah. Sebaliknya, makin besar keinginan yang dimiliki maka semakin besar pula dampak baiknya, jika itu benar.

Mari ambil beberapa contoh tentang keinginan yang kurang tepat, (1) jahat adanya: misalnya mencuri, memfitnah, mengejek, membunuh dan lain-lain. (2) Keinginan yang tujuannya salah, misalnya berbuat baik kepada orang lain agar dipuji, baik kepada orang tertentu untuk menyakitinya dari belakang. Menyanjung orang lain agar dia jatuh karena sombongnya memuncak, berbagi kepada sesama agar dia kelak baik-baik ke kita. (3) keinginan yang belum sesuai syaratnya, misalnya mau pacaran tetapi pekerjaan tidak jelas, mau berhubungan seks tetapi belum menikah. Laki-laki yang menggunakan pakaian wanita atau sebaliknya, mau ini atau itu tetapi tidak bersedia/ tidak mampu memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Hasrat yang salah di dalam diri kita, seharusnya bisa dikenali dengan baik sejak dini. Saat kita mampu membedakan mana nafsu yang baik dan mana yang salah maka ada niat untuk menjauhi yang jahat tersebut. Lain halnya dengan niat kita yang bernafaskan kebaikan: tetap dekat dan mewujudkannya sampai kapanpun. Sayangnya, sebagai manusia yang belum berpengalaman dan lemah hatinya: kita sering sekali bimbang dan sedikit keras kepala karena mengabaikan beberapa nasehat. Ada yang memilih jalannya sendiri dan melampiaskan hawa nafsunya tanpa kendali. Mereka terlalu percaya diri dan yakin sekali bahwa hal tersebut tidak apa-apa. Akan tetapi, begitu mereka merasakan akibatnya, barulah timbul penyesalan dan pertobatan.

Terkadang manusia banyak tidak percaya bahwa sesuatu itu salah. Ini mungkin disebabkan karena belum dewasa, lemah pengetahuan, kurang wawasan, kurang pengalaman, pengaruh dari lingkungan sekitar, pengaruh trend dan lain sebagainya. Saat orang lain memberi teguran tentang hal tersebut, mungkin kurang diperhatikan apalagi didengarkan juga tidak. Tekad yang keras namun dasarnya lemah ini hanya akan menghanyutkan seseorang ke dalam lumpur kesengsaraan. Dia menanggung akibat dari kejahatannya sendiri, mencicipi betapa sakit dan susahnya hati karena hal tersebut. Kejadian pahit ini akan menambah pengalaman hidupnya agar di masa depan tidak lagi jatuh dalam kesalahan yang sama. Kini hasratnya terhadap hal-hal yang kurang benar tidak sekuat dulu, melainkan hampir semuanya sudah berada dalam kendali diri yang utuh. Demikianlah rasa sakit membuat manusia semakin bijaksana.

Di sisi lain, harap dipahami bahwa tidak semua niat baik kita dapat berjalan dengan mulus. Sebab sadar atau tidak, ada tantangan yang cukup menggoda saat kita hendak melakukan apa yang benar dan apa yang adil. Rintangan itu bisa datang dari dalam diri sendiri, misalnya rasa cemas, takut, kuatir dan ragu. Ada juga perintang yang datangnya dari sesama, misalnya yang berasal dari sesama adalah gangguan sosial, perilaku buruk, cuek, kata-kata kotor, fitnah, ejekan dan lain-lain. Pada bagian inilah ketulusan hati kita diuji, “apakah kita melakukan kebenaran itu untuk mendapatkan sesuatu?” Atau kita ingin bersikap adil karena “Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita dengan keadilan-Nya. Jadi, seharusnya perintang yang menantang saat melakukan apa yang baik dan benar: tidak melemahkan semangat kita! Malahan yang terjadi adalah hasrat kita untuk melakukannya malah semakin kuat saja. Ada semangat juang pantang mundur karena kita tahu, yang kita bela adalah kebenaran dan keadilan Tuhan.

Kesimpulan

Selalu ada rintangan dalam setiap keinginan kita. Masalahnya adalah, “bagaimana kita bisa membedakan mana keinginan yang benar dan mana yang salah jika dua-duanya menemui halangan saat dilaksanakan? Disinilah ketajaman pikiran anda dibutuhkan. Pertimbangkanlah baik-baik mana yang pantas diusahakan dan mana pula yang tidak. Gunakanlah standar kehidupan yang anda miliki sebagai pembandingnya (Kitab Suci dan hukum yang berlaku di dalam masyarakat). Pakailah logika positif untuk mencari tahu hubungan sebab akibat saat anda melakukan ini atau itu. Jika bisa memahami sebab-akibatnya, mudah-mudahan menemukan jalan tengah yang harus ditempuh. Atau bila anda masih belum menemukan jawabannya atau masih meragukannya: tunggulah inspirasi dari Roh Kudus yang akan menjawabmu indah pada waktu-Nya.

Salam, Hawa nafsu kita
ada efek sampingnya.
Anda akan semakin
mengundurkan diri darinya.
Atau semakin
bersemangat melakukannya.
Pertimbangkanlah baik-baik
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.