Harta Kekayaan Kita Adalah Milik Negara – Kepunyaan Anda Adalah Kepunyaan Negara Adalah Kepunyaan Tuhan

Harta Kekayaan Kita Adalah Milik Negara - Kepunyaan Anda Adalah Kepunyaan Negara Adalah Kepunyaan Tuhan

Kadang-kadang manusia merasa diri berada jauh di atas orang lain semata-mata agar hatinya bergirang menghadapi hari-hari yang membosankan. Bukannya mencari kesenangan dengan melakukan apa yang benar dan apa yang adil tetapi memberi dirinya pada keinginan-keinginan duniawi yang fana. Padahal mencari kepuasan lewat kenikmatan dan keinginan duniawi bagaikan meminum air laut: semakin diminum, semakin haus. Mau sebanyak apa pun tidak akan pernah puas, malah yang terjadi adalah semakin rusak bumi hanya demi memuaskan manusia yang egois penuh arogansi. Oleh karena itu, belajarlah hidup sederhana, nikmati apa yang bisa dijangkau oleh masyarakat awam dan oleh diri sendiri. Sebab ada kepuasan tersendiri yang tercipta di dalam hati saat kita mampu bersikap adil.

Mencari kepuasan akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi bagaikan meminum air laut: semakin banyak diminum, semakin haus.

Orang bijak meminum air laut sedikit-sedikit agar dapat manfaatnya. Demikian juga dengan gemerlapan duniawi: jangan dikonsumsi sekaligus banyak tetapi sederhana, kecil-kecil dan variatif agar terus ada dan tetap berasa asik walau sejujurnya gitu-gitu aja.

Kesombongan yang melebih-lebihkan diri sendiri seperti kekuatan yang labil karena apa pun yang kita banggakan tidak ada dasarnya. Jika saat ini anda merasa bahwa apa yang dimiliki adalah kepunyaan pribadi, sadarilah bahwa itu hanya sebatas persepsi belaka. Sebab masih ada yang lebih berkuasa di atas kita dan masih ada lagi yang lebih di atas segala-galanya. Bila kita menyadari bahwa apa yang dimiliki hanyalah pinjaman belaka, mungkin rasa angkuh tersebut akan mereda secara perlahan-lahan. Terlebih lagi kalau kita menyadari bahwa ada yang salah dengan aturan yang berlaku di dalam masyarakat. Sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Sang Empunya Segala-galanya. Suatu ketidakadilan yang telah mengakar dari zaman dahulu kala.

Dalam mencari harta benda, tidak ada yang namanya kekuatan pribadi. Sebab segala sesuatu yang kita miliki asalnya dari sistem atau dari orang-orang baik di sekitar kita. Begitu anda masuk dalam ranah pemerintah atau dalam wilayah swasta maka segala  yang menjadi milik pribadi adalah murni dianugerahkan oleh organisasi yang memangku anda. Tanpa organisasi tidak ada yang namanya penghasilan. Demikian juga halnya dengan orang yang hidupnya masih di bawah kekuasaan orang dewasa (orang tua). Semuanya bersumber dari orang tua, mengapa harus bangga? Sama halnya saat anda bekerja di perusahaan pemerintah maupun swasta. Semuanya bersumber dari organisasi: bagaimana bisa dibanggakan?

Manusia hanyalah komponen kecil dari sistem yang sangat besar yang ada di atas kita dan yang menaungi kita. Adalah mustahil anda bisa memperoleh harta kekayaan sebanyak itu, bila bukan organisasi yang merestuinya. Tidak mungkin juga suatu organisasi bisa berjalan dengan baik bila tidak ada peran manusia yang sangat banyak di dalamnya. Kejayaan satu-dua orang saja, bukankah itu dikarenakan oleh sistem yang tidak adil. Bila hanya dua-tiga orang saja yang kaya raya luar biasa maka secara otomatis yang lainnya hanya mendapat bagian kecil saja. Sebab bila semua orang mendapat kesejahteraan yang sama maka tidak ada yang kaya luar biasa sebab masing-masing dapat jatah yang mencukupi. Kadar mencukupi ini tentulah di sesuaikan dengan kapasitas lingkungan dalam menahan tekanan akibat kemakmuran semua orang.

Seandainya sistem yang dibangun dalam kebersamaan ini dapat mewujudkan keadilan  (kekuatan) mungkin ada kepuasan di dalam hati. Namun bahagianya serba tanggung karena kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa sistem hanya baik kepada kelompok tertentu saja. Jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan mayoritas yang terpisah dari pembiayaan organisasi. Kebanyakan masyarakat dibiarkan berusaha sendiri dan berharap kepada pihak swasta yang rata-rata pelit. Jelas swasta tidak sekaya pemerintah, mereka juga mencari untuk membuat kantongnya menggemuk dahulu. Harga yang dibeli atau dijualnya kepada masyarakat pasti lebih banyak menguntungkan kantong pribadinya. Pantas saja masyarakat tidak pernah makmur karena secara tidak langsung dijajar oleh pihak swasta dan pemerintahnya sendiri.

Kekuatan kapitalis yang hanya dikuasai oleh segelintir orang membuat mereka layaknya dewa-dewi. Sebab para petingginya memiliki pendapatan sangat jauh di atas seluruh karyawannya. Sekalipun demikian para karyawan/ pegawainya tidak protes, baik yang bekerja kepada pemerintah maupun kepada swasta. Karena mereka sadar betul bahwa pendapatan mereka pun sungguh jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat biasa pada umumnya. Jadi, karyawan pemerintah/ swasta merasa bangga dengan hidupnya karena masih ada orang yang lebih miskin di bawahnya. Sedangkan para petinggi pemerintah/ swasta merasa bangga karena hidupnya bagaikan raja dan ratu yang saat kemana-mana dianugerahi karangan bunga plus hal-hal khusus lainnya yang hanya dinikmati kaum elit.

Lingkaran keangkuhan yang mengikat koorporasi dan swasta membuat mereka bagaikan superman dan supergirls yang mampu melakukan segala sesuatu. Uangnya digerakkan sedikit maka rakyat jelata ramai-ramai jadi budaknya; uangnya digoyang sedikit maka penegak hukum bisa dibelinya. Lagi uangnya dikipas-kipas sedikit maka rakyat siap jadi anjing penggarongnya yang menyesakkan kehidupan orang-orang yang tidak mereka sukai. Uangnya dihambur-hamburkan maka rakyat jelata rela disuruh apa saja, “asal bapak senang.” Keangkuhan semacam ini jelas sudah hampir mengarahkan manusia untuk melakukan kejahatan yang nyata-nyata. Semuanya ini karena orang-orang pemerintah dan swasta merasa bangga dengan miliknya, solah itu dicari dengan usaha sendiri. Padahal segala kemewahan yang dinikmatinya diperoleh dengan mengorbankan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.

Sistem adalah pemerintah dan organisasi lainnya yang mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan untuk semua orang. Bila kekuasaan yang mereka miliki diselewengkan demi tujuan-tujuan sempit maka dapat dipastikan bahwa masyarakatlah yang akan menjadi korbannya sedang mereka semakin bertambah-tambah makmur yang jahatnya merajalela tak tersentuh hukum. Sebab hukum, mereka yang buat sedangkan aparat juga digaji sama mereka.

Bila koorporat dan swasta yang hidupnya gilang-gemilang segala bisa melebihi rata-rata keluarga di dalam negeri menyadari bahwa semua kekayaan yang mereka miliki adalah anugerah sistem/ organisasi, maka tidak ada yang menyombongkan diri. Sebab tanpa adanya sistem/ organisasi, keberadaannya tidak diakui di dalam negeri maupun di luar negeri. Lagi pula jika mereka menyadari tuntutan kebenaran dan keadilan dari Yang Empunya Segala-Galanya, pastilah ada rasa malu-malu sendiri dan bukannya menyombongkan diri. Sebab sistem yang mereka buat, aturan-aturan yang mereka susun dan yang disusun oleh para leluhurnya dahulu masih salah, jauh dari kehendak Allah. Sekali lagi, sekalipun harta milikmu saat ini melimpah ruah, itu bukan hasil usahamu, itu anugerah sistem, sistem yang sekalipun masih kurang adil.

Kesimpulan

Silahkan periksa harta benda yang anda miliki, pasti ada lambang dan nama koorporasi sah negara di sana. Coba saja negara hancur karena sesuatu dan lain hal, apakah tajirmu masih berlaku/ berharga/ bernilai tinggi? Inilah bukti bahwa kekayaan anda adalah anugerah yang diberikan oleh sistem. Di atas semuanya, itu adalah anugerah Tuhan, itu bukan hasil usahamu sebab begitu keluar dari organisasi pemerintah/ swasta: anda bukan apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Lagi pula, masih banyak kekurangan sistem yang jauh dari kata adil, terutama dalam hal pendapatan. Masih banyak peraturan yang kurang tepat dibuat oleh para leluhur terdahulu. Tidak ada yang bisa dibanggakan dengan semua keunggulan di atas rata-rata yang anda miliki. Justru kalau tau diri, sedikit terbesit rasa malu karena sistem tempat anda berkuasa masih jauh dari kehendak Yang Empunya Segala-Galanya. Masih banyak masyarakat di luar sana yang kehidupannya sangat sederhana bahkan melarat terkatung-katung.

Salam, Kepunyaan kita
adalah kepunyaan negara,
adalah kepunyaan Tuhan.
Apapun itu, sama sekali
tidak bisa kita banggakan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.