Pengertian Terbiasa Dengan Rasa Sakit: Bukan Kebal!

Pengertian Terbiasa Dengan Rasa Sakit Bukan Kebal

Apa yang sakit, ya tetap sakit! Demikianlah hidup kita di dunia ini yang kerap diselingi dengan berbagai penyakit yang membuat badan menderita atau membuat hati merana (bisa juga dua-duanya). Tidak ada yang dapat menghilangkan rasa ini, sama sekali. Justru kalau hal tersebut tidak kita rasakan: jangan-jangan kita adalah android/ robot hasil ciptaan ilmuan cerdas. Jadi, bersyukurlah dalam segala rasa yang sampai ke hadapan kita sampai saat ini. Sebab semuanya itu, memiliki manfaat positif bagi kehidupan sendiri maupun bagi. Setidaknya ini menunjukkan bahwa kita kuat: walau otot dan tulang tidak begitu kuat, tetapi mental otak lebih kekar dari urat baja sekalipun.

Kepahitan adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan kita (manusiawi).

Saat kita masih kanak-kanak, kemungkinan kepribadian ini masih statis. Sekalipun ada perkembangan, bawaannya sedikit saja. Akan tetapi, perkembangan kecerdasan dan perubahan lingkungan pergaulan telah memampukan kita untuk melampaui batas-batas yang dapat kita pahami. Sebab gejolak yang terjadi dalam lingkungan yang beragam (lingkungan pergaulan, sekolah, pekerjaan dan lain-lain) membuat kita mampu memahami hal-hal yang mungkin awalnya tidak dimengerti tetapi lama-kelamaan menjadi sangat ahli. Pada akhirnya, waktulah yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih dewasa. Jadi, hiduplah lebih lama kawanku dan bertahanlah terus di tengah kerasnya persoalan. Karena semakin lama kita di bumi ini maka semakin bijak hati memahami dan melakukan segala yang dianggap penting.

Pertama-tama saat diperhadapkan dengan rasa sakit, pasti bawaannya menangis tersedu-sedu dan teruslah demikian. Akan tetapi, semakin lama disakiti, semakin kering air mata ini sehingga kita sudah hampir lupa, “kapan terakhir kali menghabiskan waktu sambil menangis?” Lantas, kepadihan hati yang dulu pernah kita rasakan bisa terkikis hampir habis tetapi digantikan oleh pikiran kacau balau yang kadang diselingi dengan penyesalan. Jadi, berhati-hatilah menghadapi kepedihan hidup, sebab pikiran yang berubah tidak stabil, semeraut dan dipenuhi penyesalan bisa menjadi salah satu asimilasi dari sakit hati. Bersiap-siaplah merefresh pikiran bila kondisinya mulai kacau, sebab hal tersebut adalah bentuk lain dari sakit hati.

Seperti yang kami katakan pada bagian sebelumnya bahwa penyakit hati selalu ada. Bisa saja, kepahitan yang timbul karena suatu peristiwa tidak lagi terasa tetapi penyesalan yang mulai bangkit dari dalam ulu hati merupakan asimilasi dari kepahitan hidup. Masih banyak lagi contoh dari instabilitas pikiran yang pada hakekatnya mendorong kita pada jurang stres tanpa kendali. Artinya, apapun bentuk-bentuknya, jika suatu peristiwa bisa membuat sisi emosional terguncang, amarah dalam hati menggebu-gebu dan mulai berpikir (berencana) untuk bersikap di luar jalan yang benar: ini adalah tanda-tanda stres. Keadaannya menunjukkan bahwa kita mulai kehilangan pegangan hidup dan kehilangan harapan.

Suatu masalah mungkin tidak lagi membuat sakit hati tetapi berubah bentuk (asimilasi) yang membuat pikiran menjadi penat, pusing, kacau, stres sampai sikappun menyimpang dari kebenaran.

Kepedihan hati yang mengacaukan pikiran, membuat seseorang stres, yang pada akhirnya mendorongnya untuk melakukan perbuatan menyimpang. Biasanya, sikap yang menyalahi aturan ini akan merugikan dirinya sendiri dan/ atau merugikan orang lain dan/ atau merugikan sistem dan/ atau merugikan lingkungan alamiah di sekitarnya. Dampak dari perbuatannya bisa bersifar lokal tetapi bisa juga meluas berdasarkan power (kekuasaan atau jumlah uang) yang dimiliki oleh masing-masing keluarga. Oleh karena itu, sebelum sakit hatimu berubah menjadi perilaku tercela. Atasilah kekuatan negatif tersebut dengan membiasakan diri sambil mengarahkan fokus kepada hal-hal positif yang ada di sekitar kita.

Bagi yang muda-muda, mungkin akan sedikit susah untuk membiasakan diri sebab kepahitan hidup yang dialaminya masih terbatas jumlahnya. Akan tetapi, bagi mereka yang sudah dewasa bahkan menua bersama rasa sakit, saking seringnya hal tersebut dicicipi. Akan dipermudah untuk memahami apa yang kami maksudkan dengan terbiasa terhadap rasa sakit. Pada dasarnya, sikap yang terbiasa ditandai dengan tidak adanya gejolak yang dialami/ yang diekspresikan seseorang. Seolah-olah ketika kepahitan hidup menghampiri, suasana hatinya tidak berubah dan sikapnya tidak memburuk. Seolah yang terjadi tersebut adalah kejadian biasa sama seperti kebanyakan kisah lainnya.

Untuk menjadi terbiasa, anda harus merasakan gelapnya sesuatu sebanyak ribuan kali bahkan jutaan kali.

Biar bagaimana pun, kita tak bisa memungkiri bahwa selama hidup di dunia ini, manusia selalu diperhadapkan dalam dua sisi rasa kehidupan. Ada yang disebut dengan kesenangan dan ada yang dinamakan kesedihan. Saat kita masih kecil, mungkin mudah sekali bagi kita untuk menghindari kesedihan dengan cara berlindung di balik kebaikan orang tua. Akan tetapi, saat sudah besar, kita diharuskan untuk menghadapi masalah sendiri bahkan kerab kali, orang yang di dekat kitapun turut menyakiti. Bila kita mengeluh di tengah kepiluan hati maka makin besarlah sakitnya, hingga ke ulu hati. Akan tetapi, orang yang rendah hati, ikhlas dan sabar dengan semuanya itu akan beroleh kelegaan.

Bila anda mampu mengecap betapa menyenangkannya hidup maka rasa-rasanya tidak normal bila kita tidak turut merasakan sakitnya pula. Ikhlaslah menerima pahitnya hari ini agar kepahitan di hari esok berasa lebih ringan. Artinya, sakit hati di masa lalu yang sudah direlakan akan membuat sakit hati yang dialami sekarang tidak separah dulu. Sehingga, semakin banyak hari-hari yang dilalui dalam kepahitan, semakin terbiasa menghadapi situasi yang menyakitkan. Artinya, sekalipun pihak lain berusaha menyakiti, rasa itu tidak akan merembes ke dalam hati. Sebab kita berupaya untuk tidak fokus pada sikap kawan yang menyakiti melainkan kepada hal-hal positif di sekitar.

TRS adalah kemampuan untuk mengalihkan konsentrasi kepada hal-hal positif saat hati sedang mengalami kedukaan yang mendalam. Atau kemampuan untuk tidak fokus pada situasi yang menyakitkan melainkan fokus pada hal-hal yang baik dan benar.

Keseringan disakiti memang awalnya membuat kita terpuruk. Sebab belum habis satu masalah sudah muncul masalah lain. Akan tetapi, orang yang bijak tidak fokus kepada sakitnya perlakuan orang lain tetapi fokus kepada kesibukan positif yang dapat dikerjakannya. Semakin sering bermasalah maka semakin tumbuhlah sikap terbiasa. Keseringan inilah yang membuat kita lebih fasih menghadapi soal-soal kehidupan sehingga semuanya terasa lancar, aman dan terkendali. Seolah hal tersebut seperti aktivitas biasa (misalnya saat duduk santai, bekerja, makan, minum) yang tidak menunjukkan tanda-tanda stres. Tidak ada lagi pikiran yang kacau dan sikap pun tetap berada di sisi yang benar. Tentu saja, untuk mencapai titik tersebut, dibutuhkan waktu bertahun-tahun mengenyam pahitnya hidup di bumi.

Orang yang kebal tidak lagi merasakan apa-apa saat sesuatu yang buruk terjadi tetapi mereka yang terbiasa dengan rasa sakit mungkin masih merasakan angin sepoi-sepoi kesakitan tetapi hal tersebut tidak mengacaukan pikiran, perkataan dan perbuatannya sedikitpun.

TRS adalah kemampuan untuk menikmati pahitnya derita. Seolah-olah kita senang menjalaninya karena ada makna positif di balik semua peristiwa. Pikiran tidak lagi terbeban dengan kejadian tersebut.

TRS adalah kemampuan untuk menghadapi dan menanggung masalah yang datang secara berubi-tubi tanpa mengekspresikan sikap buruk.

TRS adalah pelajaran hidup yang diperoleh dari berbagai masalah yang melibatkan kaum keluarga, saudara, tetangga, teman dan orang-orang terdekat lainnya.

TRS adalah kemampuan untuk bertahan: tetap hidup, tetap aktif dan tetap benar sekalipun peristiwa tersebut menyakiti hati ini.

TRS = adalah singkatan dari “terbiasa dengan rasa sakit.”

Kesimpulan

Hidup ini, bukan kita yang atur. Ada Tuhan yang telah menetapkan segala sesuatu agar manusia beroleh kedewasaan bahkan kebijaksanaan yang seturut dengan kebenaran firman. Apa yang akan kita alami, sudah tergambarkan secara implisit dari carut-marut yang terjadi terhadap lingkungan sejak awal masa. Bila kita mengenal ada siang dan malam maka demikianlah juga dengan rasa di hati: ada senang dan susah. Jangan hanya menikmati senangnya saja lalu lupa memaknai susahnya kehidupan. Perlu juga melatih diri agar terbiasa dengan pahitnya situasi seperti layaknya beraktivitas dalam hari yang gelap. Memang jalan yang ditempuh tidaklah mudah tetapi mereka yang mau belajar rendah hati, ikhlas dan sabar menderita akan ditunjukkan jalannya dan dibukakan pintunya.

Salam, Orang-orang bisa saja menyakitimu.
Tetapi sakitnya itu tidak terbenam di hatimu.
Sebab kamu sudah terbiasa mengabaikannya
tanpa mengabaikan hal-hal penting lainnya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.