Kapitalis Selalu Hedonis Pasti Materialis

Kapitalis Selalu Hedonis Pasti Materialis

Manusia tidak dapat dipisahkan dengan materi sebab kita diperanakkan oleh bumi ini sama seperti materi lainnya. Manusia terlindungi olehnya dalam berbagai bentuk: terlindungi dari cuaca yang tidak bersahabat (rumah), terlindungi dari jalanan yang terjal (sepatu), terlindungi dari debu kotoran (pakaian) dan berbagai rupa-rupa perlindungan lainnya. Kita hidup di dalamnya tanpa ada satu pun yang dapat disangkal bahwa kebutuhan kita tidak jauh-jauh dari barang ini dan itu. Jadi sudah pasti bahwa apa yang kita inginkan tidak jauh-jauh dari hal-hal yang ada di dunia ini. Lalu semua keinginan tersebut mengerucut menjadi tujuan hidup yang selalu dicari hari lepas hari. Jadi, mencari uang sama sekali tidak salah asalkan cara-cara yang kita tempuh untuk memilikinya juga tidak salah.

Berbicara tentang cara-cara yang salah atau benar, seberapa pahamkah anda tentang hal tersebut? Apakah cara tersebut berkaitan dengan hal-hal yang selama ini kita tekuni? Atau lebih tepatnya adalah, “sudahkah teknik yang kita gunakan untuk mencarinya sesuai dengan kebenaran?” Mungkin beberapa orang bisa mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar karena tidak ada orang yang protes soal hal tersebut. Yang lainnya juga meyakini bahwa jalan yang ditempuhnya sudah benar karena sesuai dengan peraturan yang berlaku di dalam masyarakat. Tetapi, bagaimana kalau kami mengatakan bahwa apa yang kita tempuh selama ini masih kurang tepat karena sistem belum benar-benar adil.

Kita hidup di tempat dimana materi dan kemuliaan duniawi dijadikan umpan oleh sistem untuk memacu kehidupan masyarakat. Seolah-olah sistem ini berkata, “berjuang dan bekerja keraslah semaksimal mungkin agar sedapat-dapatnya memperoleh hasil yang jauh lebih baik bahkan sangat baik.” Di tengah-tengah masyarakat seperti telah diletakkan beberapa trophi super mewah, dimana hanya orang-orang spesial yang dapat meraihnya. Hanya mereka yang memiliki otak yang benar-benar encer yang dapat menempati posisi tersebut. Orang-orang yang akan dianugerahi pendapatan yang lebih baik dibandingkan dengan mayoritas masyarakat. Mereka yang pantas dihormati dan dihargai dengan sambutan bak dewa-dewi yang turun dari kayangan.

Inilah cara-cara kapitalis dalam menemukan dan mengangkat kehidupan segelintir orang. Mereka tidak tidak begitu ambil pusing soal kemaslahatan orang banyak. Yang terpenting baginya adalah kelompoknya, keluarganya dan saudaranya adalah orang-orang istimewa yang pantas diagungkan orang banyak. Sekalipun mereka peduli dengan kehidupan masyarakat luas, itu hanyalah jatah sisa-sisa yang tak terpakai. Sebab bagian terbaiknya telah diambilnya secara elegan lewat gaji super gede dan tunjangan super edan. Bagaimana tidak: gaji sebesar itu bisa membiayai puluhan bahkan ratusan rakyat yang ekonominya sederhana. Lantas, dirinya begitu bangga dengan ketidakadilan tersebut. Hatinya rasa bersenang-senang karena kehidupannya adalah “the only one” yang takkan pernah bisa dicapai oleh semua orang.

Sadar atau tidak, sistem yang kapitalistis cenderung menciptakan orang-orang yang tujuan hidupnya adalah demi kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Memancing orang-orang agar berusaha lebih baik dari sesamanya agar dirinya menempati posisi “best of the best” yang terlalu jauh di atas kebanyakan warga masyarakat. Mereka yang selalu berusaha agar masyarakat melihat kelompoknya hebat sehingga layak untuk memiliki pendapatan mega, tunjangan super dan fasilitas mewah. Padahal segala yang mereka paparkan hanyalah 90% kepura-puraan, 9% khayalan dan hanya 1% saja fakta yang sebenar-benarnya. Sebab mereka memiliki kapasitas dan jangkauan yang sangat besar sehingga bisa membayar siapa saja demi mendukung kebohongan yang mereka siarkan.

Sistem yang diciptakan oleh kapitalis hanya mengarahkan manusia pada pencapaian materi dan kemuliaan yang jauh di atas rata-rata penduduk. Hampir semua orang berusaha mati-matian untuk mencapai slot-slot pekerjaan istimewa yang menjanjikan jatah gemerlapan duniawi yang lebih besar. Ini akan menjadi tujuan hidup kebanyakan orang yang sangat ditunggu-tunggu. Mereka akan bersaing dengan sungguh-sungguh agar memenangkan kompetisi. Yang menang hanya sedikit saja sedangkan yang mengalami kekalahan mencapai ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Mereka yang menang akan hidup dalam kemewahan dan kebanggaan hidup. Sedangkan kumpulan orang banyak yang kalah ditakut-takuti lewat berita-berita bohong tentang betapa spektakulernya pekerjaan koorporasi.

Kekayaan dan kehormatan duniawi menjadi tujuan utama sekumpulan orang yang merasa dirinya cerdas. Sesuatu yang membuat kehidupan mereka lebih istimewa dari mayoritas penduduk di negeri. Padahal dengan berlaku demikian mereka telah menentang kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Seandainya jenjang pendapatan mereka, dapat dicapai oleh profesi lain pada umur yang matang, peraturannya sudah adil adanya. Tetapi realitanya: kebanyakan masyarakat hanya beroleh sebagian kecil saja dari jumlah yang seharusnya di dapatkannya. Yang lebih parahnya lagi adalah gaji para petinggi koorporasi yang tidak habis dibelanjakan bisa mencapai 100% karena berbagai tunjangan yang melimpah ruah di sekitarnya.

Memang kalau ditanyakan secara pribadi, “apa yang menjadi tujuan utama hidup anda?” maka jawabannya adalah “sorga.” Akan tetapi kenyataannya membuktikan bahwa “mereka tega mengabaikan firman Tuhan agar memperoleh kekayaan harta dan kemuliaan jabatan yang lebih baik dari mayoritas masyarakat di wilayah tersebut.” Bukankah dengan berlaku demikian, mereka menganggap keduniawiannya lebih penting/ lebih utama daripada titah Allah? Dengan berlaku demikian, secara pasti, mereka menegaskan posisinya sebagai hedonis yang rela melakukan apa saja demi pencapaian duniawi yang melebihi manusia biasa pada umumnya. Bukankah penyangkalan firman sudah terjadi sejak awal masa setelah penciptaan? Seperti ini jugalah nenek moyang kita menentang Tuhan karena lebih tunduk kepada nafsu duniawinya dengan bersikap tidak setia kepada titah yang diberikan Allah.

Sistem ekonomi kapitalisme menempatkan manusia dalam kelas-kelas sosial semu. Ini dapat dilihat dari sistem penggajian yang diberikan kepada para karyawannya. Perbedaan gaji sebenarnya biasa saja, tetapi tingkatan gaji yang tidak dapat dicapai oleh masyarakat umum mengindikasikan keistimewaan. Secara tidak langsung, diam-diam di bawah tangan orang-orang khusus menjadi seperti superman dan supergirl. Kekuatan mereka tidak terletak pada otot dan tulang yang besar melainkan power-nya adalah “pendapatan yang tak terlampaui oleh siapapun.” Hanya segelintir orang saja yang memperoleh dana lebih sehingga semua keinginannya hampir tercapai. Tetapi, kebanyakan masyarakat lainnya, hanya dapat membeli serba terbatas, sedikit-sedikit. Akibatnya, pergerakan ekonomi hanya mengalir di sekitar orang-orang istimewa dengan power lebih.

Akibat dari perlakuan istimewa tersebut adalah lahirnya manusia-manusia super yang bisa hidup terlalu mandiri. Orang-orang istimewa tersebut mulai mengisolasi dirinya dalam petak-petak kekayaan yang dapat dibelinya. Tidak ada lagi yang namanya menggunakan fasilitas umum sebab orang-orang tersebut bisa membeli segala sesuatu. Padahal jika mereka mau menggunakan fasilitas umum, ada niat untuk berbaur dengan masyarakat luas. Akan tetapi, kekayaan yang kebangetan tersebut secara tidak langsung memisahkan mereka dari manusia lainnya. Keadaan ini semakin menegaskan bahwa elit koorporat adalah pribadi tipe istimewa. Semua ini pangkalnya disebabkan oleh karena kepemilikan power yang luar biasa banyaknya.

Orang-orang sekitar yang menyaksikan kemakmurannya yang berada di atas rata-rata menjadi heran dan sangat tertarik menyaksikannya. Secara berangsur-angsur, mereka yang menyaksikan hal tersebut turut pula terbakar hawa nafsu sehingga menginginkan hal yang sama terjadi dalam hidupnya. Keadaan ini secara tidak langsung melipatgandakan orang-orang bermental hedonis di negeri. Lama-kelamaan hampir semua orang menjadi hedonis karena para pemimpinnya telah memberikan contoh yang disaksikan dan diikuti oleh mayoritas masyarakat. Mereka sangat termotivasi setelah melihat kegemilangan hidup para elit koorporasi sehingga berusaha sekeras mungkin bahkan sampai mati-matian demi meraih derajat pendapatan tertinggi. Kebenaran firman tidak ada lagi dalam hatinya karena turut melegalkan cara-cara yang tidak halal untuk mencapai tujuan sempitnya.

Kesimpulan

Hedonisme adalah pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup (KBBI Offline).

Sistem ekonomi kapitalistis hanya mengistimewakan beberapa orang dalam masyarakat. Akibatnya, slot pekerjaan tertentu menjadi bahan rebutan yang diperjuangkan mati-matian oleh mereka yang merasa dirinya cerdas (termasuk secara ilegal, misalnya dengan memeberi suap). Suatu pekerjaan unggulan yang mudah dilakukan namun memberikan pendapatan di atas rata-rata manusia. Padahal dengan berlaku demikian mereka menentang firman Tuhan tentang kasih yang adil kepada sesama manusia. Tanpa mereka sadari, dirinya menjadi hedonis yang berusaha keras menggapai mimpi-mimpinya dengan mengesampingkan nilai penting dalam firman. Sedang di sisi lain, orang yang menyaksikan betapa hebatnya kekayaan itu, akan tertarik hatinya untuk mencari-cari cara agar dapat memiliki kekayaan yang sama sekalipun dengan menghalalkan segalanya. Jadi, lama-kelamaan hampir semua orang menjadi hedonis yang otomatis mengangungkan hal-hal duniawi (materialistis). Keadaan ini membuat manusia meninggalkan Tuhan, kasih kepada sesama jadi hambar, kehidupan orang-orang kecil tidak dipedulikan dan lingkungan pun turut porak-poranda.

Salam, Kapitalisme
hanya diidolakan
oleh anak kecli.
Saat manusia
sudah dewasa
lebih cenderung
menjadi sosialis
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.