Pemanasan Global Bukan Tanda Kerusakan Lingkungan

Pemanasan Global Bukan Tanda Kerusakan Lingkungan

Semakin panjang umur anda di bumi ini maka semakin berkembanglah ilmu pengetahuan dan wawasan yang dimiliki. Ini terutama bidang pengetahuan yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Sesuatu yang berhubungan dan sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada yang tidak bisa dipelajari. Asalkan tiap-tiap orang selalu fokus kepada Tuhan maka jalan pengetahuan tersebut akan ditunjukkan kepadanya. Sebab aktivitas fokus kepada Sang Pencipta membuat pikiran semakin cerdas sehingga dimampukan untuk mempelajari berbagai hal, terutama yang berhubungan dengan aktivitas yang dilakukan. Biasanya apa yang didapat bisa mengurangi pengetahuan sebelumnya (ada yang salah/ koreksi) dan bisa pula menambahnya.

Global warming adalah isu yang santer diperbincangkan orang dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak pakar yang menganggap bahwa pemanasan global akan mengawali penderitaan lingkungan yang secara langsung atau tidak langsung ditimbulkan oleh egoisme, arogansi dan keserakahan manusia. Manusia menjadi semakin banyak ketergantungan dengan mesin dan penggunaan bahan bakar fosil. Akibatnya, mesin-mesin kesayangan tersebut menghasilkan emisi sampingan yang memenuhi atmosfer. Gas pengotor yang semakin lama semakin tebal di atmosfer inilah yang dianggap bertanggung jawab atas teriknya matahari dan segala kondisi iklim yang tidak menentu.

Sekalipun keadaan ini agak masuk akal, karena memang di setiap wilayah yang lingkungannya rusak parah, teriknya sinar matahari terasa menusuk-nusuk sampai beresiko membuat siapa saja dehidrasi bahkan pingsan. Keadaan semacam ini sama halnya seperi di padang gurun yang suhunya sangat panas sepanjang hari. Kondisinya benar-benar ekstrim sebab tidak ada komponen permukaan yang menyerap intensitas panas. Di tambah lagi, lingkungan yang kering membuat panasnya menusuk-nusuk. Tidak ada orang yang dapat bertahan lama di bawah sengatannya terkecuali bila didukung dengan air garam manis. Cara lainnya yang dapat dicoba untuk membendung dampak dehidrasi di wilayah yang kering berpasir dengan menelan ludah sendiri.

Masalahnya adalah sinar mentari yang terik tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di padang tandus berpasir. Keadaan ini juga bisa dialami oleh mereka yang ada di tempat lain di seluruh dunia. Sebab atmosfer bumi adalah bagian yang paling mudah dicemari oleh aktivitas manusia. Keadaan ini dipicu oleh karena kecepatan aliran dan penyebaran udara lebih tinggi dibandingkan dengan komponen lingkungan lainnya (air dan tanah). Aktivitas manusia yang biasanya melibatkan mesin diesel (atau yang lainnya) pasti menghasilkan gas buangan berupa emisi gas karbon dioksida. Gas yang satu inilah yang digembar-gemborkan menahan lebih lama sinar matahari di permukaan bumi sehingga teriknya semakin membara.

Mudahnya pencemaran udara menyebabkan tempat-tempat lain pun yang keadaan lingkungannya masih terjaga (hutan lebat), suhu udaranya bisa menjadi sangat panas. Pada umumnya, keadaan ini disebabkan oleh penggunaan mesin yang sangat tinggi di wilayah tersebut. kendaraan bermotor yang lalu-lalang sangat banyak dijalanan. Terlebih ketika kendaraan tersebut diperkuat oleh energi dari bahan bakar fosil. Kemanapun orang membawanya pergi, mesin tersebut memuntahkan polutan yang kerap di beri sebutan sebagai emisi gas rumah kaca. Semakin tinggi polutan maka semakin banyak panas matahari yang terjebak di bawah atmosfer. Akumulasi dari gas pengotor inilah yang membuat teriknya mentari sangat panas.

Bukan hanya itu saja. Udara dalam suatu wilayah bisa juga dicemari oleh aliran angin yang membawa udara kotor dari wilayah lain. Biasanya keadaan ini terjadi di tempat dimana angin tertuju, yaitu ke arah timur. Sekalipun demikian, bukan berarti pencemaran yang terbawa tersebut sama dengan daerah asalnya. Sebab dalam perjalanan jumlahnya pasti telah berkurang banyak karena gerakan angin yang berhembus sambil menekan zat-zat pencemar tersebut untuk menyentuh permukaan bumi (permukaan tanah). Artinya, semakin jauh perjalanan yang ditempuh oleh gas emisi tersebut, semakin sedikit pula jumlahnya di atmosfer. Jadi, polutan yang berterbangan tersebut hanya akan mampu mempengaruhi keadaan udara di wilayah yang terdekat.

Di atas semuanya itu, perlu juga kita sadari bahwa suhu udara yang panas bisa saja dipicu oleh seseorang yang kaya-raya. Membakar atmosfer dengan gas karbon yang sangat banyak semata-mata hanya untuk menggertak seseorang atau sekelompok orang. Bagian yang terakhir ini terdengar seperti kabar buruk yang dihasilkan oleh kesewenang-wenangan manusia yang merasa bahwa dirinya sangat berkuasa, tuhan di atas segala tuan. Kepemilikan uang yang sangat banyak membuat manusia kepedean sehingga merasa bahwa dirinya lebih kuat dari hukum yang berlaku di dalam masyarakat. Gelombang panas buatan mungkin hanya berdampak pada wilayah kecil saja karena butuh pesawat pengangkut dan personil yang handal untuk melepaskannya di udara.

Lagi pula, panas dan dingin adalah gejala alam yang sudah terjadi selama ribuan tahun bahkan sebelum manusia diciptakan, siang dan malam sudah bergonta-ganti. Jadi, rasa-rasanya aneh saja bila kita menuduh sesuatu sebagai pertanda bencana. Padahal itu sudah biasa terjadi dari tahun ke tahun. Respon yang negatif terhadap gejolak lingkungan, mungkin saja dipicu oleh karena selama ini terbiasa menekuni aktivitas berbau negatif. Alangkah lebih baik jika kita belajar mengabaikan keadaan lingkungan yang penuh gejolak. Sebab yang namanya suhu udara senantiasa fluktuatif. Bukankah ini juga dirasakan oleh semua orang, tetapi mereka santai saja menjalaninya. Jadi, di tengah fluktuasi tetaplah positif mengasihi Allah seutuhnya serta mengasihi sesama seadil-adilnya. Kesibukan positif adalah kekuatan untuk mengarahkan kehidupan agar menjauhi pandangan yang buruk dan malah lebih condong mengonsumsi sudut pandang yang baik.

Kesimpulan

Global warming merupakan indikator lingkungan yang sangat umum (general) karena senantiasa berubah menurut musim dan oleh aktivitas manusia dalam suatu wilayah.

Menjadikan pemanasan global sebagai indikator kerusakan lingkungan terlalu goyang. Artinya, pendangan semacam ini sangat umum karena ada faktor alamiah yang membuat cuaca tiba-tiba panas (misalnya musim). Sedang di sisi lain ada juga faktor intervensi manusia di dalamnya. Semuanya ini tidak bisa dipastikan secara akurat karena wilayah udara sangat luas dan sangat mudah dikotori oleh zat-zat pencemar. Bahkan sekalipun di daerah anda sangat hijau, pihak lain bisa saja secara diam-diam membakar atmosfer dengan karbon sehingga sengatan matahari menusuk tajam hampir membakar kulit. Akan tetapi, salah satu hal yang bisa memastikan kerusakan lingkungan adalah saat terjadi bencana banjir. Bukankah banjir ini yang dahulu pernah menenggelamkan seluruh isi bumi hingga tak bersisa kecuali satu keluarga di dalam perahu raksasa? Artinya, panasnya matahari tidak menjadi petunjuk rusaknya lingkungan tetapi banjirlah yang menjadi petunjuk sah kerusakan lingkungan.

Salam, Panas saja tidak cukup!
Tetapi air harus menggenangi
apa-apa yang di sekitar kita:
adalah sinyal kuat
lingkungan parah
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.