Kecintaan Terhadap Materi Dan Kemuliaan Sejak Zaman Adam Dan Hawa

Mencintai Tuhan seutuhnya - Kecintaan Terhadap Materi Dan Kemuliaan Sejak Zaman Adam Dan Hawa

Banyak orang yang mengaku mencintai Tuhan, tapi apakah itu sudah sesuai dengan sikapnya sehari-hari? Siapa saja bisa mengungkapkan kata-kata sayangnya kepada seseorang dengan mudahnya. Namun siapa yang sangka, bila orang tersebut ternyata bisa mendua hati? Sebab dalam satu waktu dia bersikap menyenangkan hati manusia dan di kesempatan lainnya dia terlihat hadir menyenangkan hati Pencipta-Nya. Terlebih ketika yang diagungkannya, sesuatu yang dianggapnya lebih besar dan lebih berarti di dalam hidup ini adalah materi. Seolah-olah mengaku menyembah Allah Yang Hidup, sayang yang disukainya dan dikejarnya dengan sungguh-sungguh adalah harta kekayaan dan kemuliaan duniawi.

Tahukah anda bahwa kejadian semacam ini telah berlangsung selama ribuan tahun bahkan sejak dari awal zaman setelah penciptaan? Kecintaan manusia akan keduniawian telah berulang kali terjadi, dari masa ke masa, dari keturunan yang satu kepada keturunan yang lain, dari zaman ke zaman dan seterusnya. Inilah juga yang menjadi perintang bagi kita sehingga hubungan dengan Tuhan terputus dan keakraban dengan sesama berakhir. Demi pencapaian yang megah, mewah dan hebat dalam hal kekayaan, segelintir orang mengabaikan Tuhan dan berlaku tidak adil terhadap orang lain. Jangan katakan, “saya cinta Tuhan,” sedang pilihan hidup kita jauh dari kehendak-Nya. Tolong jangan berkata “Saya mengasihi sesama,” sedang pencapaian kita tidak mungkin dicapai oleh semua orang.

Manusia yang buta hatinya karena kecintaan akan hal-hal duniawi telah dialami oleh nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Sungguh tak terduga, apa yang mereka lakukan kepada Allah di Taman Eden adalah perselingkuhan dan penghianatan pertama di bumi. Mereka jelas-jelas melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri dan memahami bahwa Dialah Pencipta yang membuat mereka ada. Dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang tidak berfaedah (debu) lahirlah kehidupan hanya karena nafas Allah mengalir dalam dirinya. Kemanakah kekaguman mereka terhadap Pencipta ketika melanggar titah-Nya? Mengapa Hawa sedikitpun tidak gemetaran ketika hendak menyangkal firman-Nya? Semuanya ini terjadi karena mereka lebih jatuh cinta kepada materi dan kemuliaan duniawi sehingga tidak masalah bagi mereka untuk menentang perintah Tuhan.

Apa yang dilakukan oleh manusia pertama sungguh keterlaluan. Hidupnya terpelihara dan bebas mau berbuat apa: pokoknya semuanya ada karena tinggal ambil saja. Sayangnya, kemurahan hati Tuhan tidak dianggap sama sekali oleh karena manusia lebih candu pada berkat yang diterimanya. Bukankah kenyamanan yang mereka rasakan berasal dari Allah? Lantas, bagaimana bisa mereka lupa terhadap si Pemberi yang pengasih dan penyayang tersebut? Semuanya ini terjadi karena hati mereka tidak tertuju kepada Allah. Melainkan, mereka terlalu fokus kepada kenikmatan materi dan kemuliaan duniawi sehingga hal-hal tersebut mampu mengendalikan hidupnya. Hawa lebih tertarik bahkan lebih cinta pada kenikmatan dan kemuliaan yang dipancarkan oleh Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat sehingga mengabaikan titah Allah.

Apa yang dialami oleh hawa sangat kompleks dan mendukung terjadinya dosa tersebut. Sebab di satu sisi dia ingin agar ular yang membuatnya nyaman kembali ke pangkuannya. Sedang di sisi lain dia tergiur dengan keindahan dan kemuliaan yang terlintas dalam benaknya saat memandang Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat. Besar kemungkinan terbayang olehnya untuk menjadi sama seperti Allah. Pada titik inilah keputusannya untuk melanggar perintah Tuhan mengerucut. Padahal dengan berbuat demikian ia berkhianat dan berlaku serong dari kehendak Tuhan, semata-mata demi kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Seolah-olah, rasa kagum dan rasa cintanya kepada Sang Pencipta telah tertutupi oleh nafsunya yang sangat besar terhadap gemerlapan duniawi yang ada dihadapannya. Seperti ada tertulis:

(Kejadian 3:6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

Kecintaan Terhadap Materi Dan Kemuliaan Sejak Zaman Adam Dan Hawa

Si Iblis pintarnya licik: dia akan memberikan kepada kita kenyamanan sampai kita ketergantungan terhadap hal tersebut. Orang yang sudah kecanduan dengan hal yang nyaman-nyaman, mudah disetir si jahat. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam segala kenyamanan yang saat ini anda rasakan. Apakah kita sudah ketergantungan dengan hal-hal tersebut? Biasanya orang yang tidak candu terhadap sesuatu, saat hal itu tidak ada, hidupnya tetap jalan seperti biasa. Akan tetapi, ciri khas kecanduan adalah, saat hal tersebut tidak ada, hati menjadi gelisah dan hidup cenderung berantakan. Semuanya ini terjadi karena manusia tidak fokus kepada Tuhan melainkan lebih fokus mencintai gemerlapan duniawi yang ada di sekitarnya.

Saat Tuhan menyadari bahwa manusia lebih fokus dan lebih cinta terhadap berkat yang dianugerahkan-Nya daripada terhadap Sang Pemberi nikmat itu sendiri. Manusia perlu belajar lebih mencintai-Nya daripada mencintai dunia yang dianugerahkan-Nya. Manusia harus paham bahwa mencintai-Nya lebih indah dibandingkan dengan mencintai materi fana. Itulah sebabnya Tuhan menghukum Adam dan Hawa dengan mengeluarkan mereka dari taman yang indah dan permai yang disebut Eden. Ini semata-mata dilakukan-Nya agar manusia bisa merasakan sisi buruk akibat lebih mencintai keduniawian. Sehingga suatu saat nanti, manusia insaf lalu bertobat dari kedegilan hatinya sehingga dapat kembali ke jalan yang benar.

Adam dan Hawa lebih mencintai Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat daripada Allah. Seandainya mereka mencintai Sang Pencipta maka firman-Nya akan selalu ada dalam hati dan akan selalu dipegang teguh sampai akhir hayat. Tetapi, nyatanya daya tarik Buah Pengetahuan telah membius mata dan telinga Hawa sehingga perintah Tuhan diabaikan. Keadaan ini sama persis dengan para petinggi negeri yang mengabaikan kasih yang adil. Saking cintanya terhadap materi, jatahnya harus besar dan lebih dari yang lain. Tujuan hidupnya agar pencapaian kekayaan nan luar biasa melampaui siapa pun. Padahal dengan berlaku demikian, tidak ada kasih yang adil untuk semua orang.

Bukankah semuanya itu kita alami selama hidup di bumi ini? Manusia telah ketergantungan dengan kenyamanan yang diberikan oleh materi. Demi kenyamanan materi, manusia saling menipu agar sedapat-dapatnya keberadaannya semakin awet jaya terus-menerus. Padahal kehendak Tuhan sudah jelas, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Tetapi kalangan atas enggan mengubah aturan mainnya. Mereka ingin tetap menjadi superman dan supergirl bergaji tinggi yang besarannya tidak dapat dicapai oleh seluruh masyarakat, cepat atau lambat.Jika mereka memahami firman maka apa yang dapat mereka capai semestinya dapat pula dicapai oleh siapapun di dalam mayarakat.

Orang-orang berjuang untuk memperbanyak dan mempertahankan gemerlapan duniawi yang dimiliki. Mereka enggan mengasihi sesama seperti diri sendiri karena cintanya terhadap materi sangat besar. Tidak sadar diri bahwa sesungguhnya pengejaran terhadap hal-hal duniawi telah menggiring mereka untuk mengabaikan kasih yang diajarkan-Nya. Tuhan membiarkan manusia jauh dan semakin jatuh dalam keinginan-keinginan duniawi yang semakin memperbanyak manipulasi. Agar sedapat-dapatnya kita merasakan betapa pahitnya hidup dalam kefanaan dan betapa hampanya hati ketika tujuan kita hanyalah materi duniawi belaka. Pada akhirnya, kecanduan manusia kepada hal-hal duniawi, itulah yang menghancurkannya

Kesimpulan

Cintailah Tuhan sepenuhnya tetapi cintai materi apa adanya: jangan malah sebaliknya! Ada dua inti hukum taurat dan seluruh firman Tuhan: kasihilah Allah seutuhnya dan kasihilah sesama manusia dengan adil. Bila kita tidak memperjuangkan kedua hal tersebut berarti kita “melakukan firman apa adanya saja, tidak dengan sepenuh hati, tidak dengan sepenuh jiwa dan tidak dengan segenap kekuatan kita.” Bukankah ini kurang tepat? Oleh karena itu, usahakanlah/ perjuangkanlah perwujudan dari perintah tersebut menurut potensi, sesuai talenta, berdasarkan kapasitas dan wewenang yang ada pada kita.

Apa yang terjadi dulu, terjadi pula sekarang. Ada pola-pola sama yang terus berulang-ulang dari zaman ke zaman. Itu adalah, “manusia lebih mencintai gemerlapan duniawi dibandingkan dengan kecintaan terhausahdap Allah.” Buktinya, mereka enggan menaati firman Tuhan melainkan lebih memilih untuk mengikuti kedegilan hatinya. Yang mereka inginkan adalah keunggulan dan kelebihan layaknya binatang yang merajai hutan, alfa yang semua keinginannya diikuti oleh semua hewan. Tanpa keadilan, sistem dimana kita hidup layaknya kerajaan binatang yang hanya mengunggulkan, mengenyangkan dan memakmurkan satu-dua pihak saja. Padahal firman yang dibawa dan ditegaskan oleh Tuhan Yesus Kristus adalah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Tetapi kenyataannya, manusia lebih mencintai materi dengan memperbesar jatah pendapatannya. Naasnya lagi, bagian yang besar tersebut hanya dia atau beberapa orang saja yang bisa mencapainya. Sedangkan kebanyakan yang lainnya, mau kerja selama apa pun tidak akan mampu mencapai nilai pendapatan setinggi itu. Bukankah dengan berlaku demikian, kita telah mengabaikan kehendak Tuhan?

Salam, Sejak zaman purba kala
manusia lebih mencintai keduniawian.
Haruskah kita melanjutkan adat
nenek moyang kita yang salah
?
Atau mencintai Tuhan dengan
melakukan firman sepenuhnya,
berlaku adil terhadap semua orang
?

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.