Manusia Menciptakan Iblisnya Sendiri

Manusia Menciptakan Iblisnya Sendiri

Mungkin selama ini ada orang yang bertanya-tanya dalam hidupnya, dimanakah iblis itu? Seperti apakah dia? Sehebat apakah dia? Kami juga dahulu sempat bertanya-tanya tentang hal tersebut. Lantas kami melihat televisi yang menyimbolkannya sebagai manusia berkulit merah yang bertanduk kerbau. Seolah kehadirannya sangat mencolok dan dapat dibedakan dari manusia biasa. Akan tetapi, setelah melalui banyak pergumulan dan pencerahan, akhirnya kami menyadari hal yang sangat penting tentang makhluk neraka yang satu ini. Bahwa iblis adalah manusia itu sendiri, sama seperti manusia yang menjadi malaikat karena kebaikan dan kebenaran yang dilakukannya selama hidup di bumi.

Pemahaman yang sangat singkat ini menyadarkan kepada kita bahwa siapa pun dia, bisa saja menjadi setan. Bukankah semuanya itu tergantung dari tujuan dan niat hati tiap-tiap orang, pribadi lepas pribadi? Bila kita memandang sorga sebagai dasar saat melakukan segala sesuatu, kita akan menjadi orang benar. Akan tetapi bila kita memandang pencapaian terhadap hal-hal duniawi sebagai landasan saat melakukan segala sesuatu maka besar kecenderungan menjadi pribadi yang jahat. Siapakah penjahat yang ilmunya berasal dari sorga? Tentulah seorang penjahat bergurunya dari iblis bapa segala penipu dalam dunia yang fana ini. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan tujuan anda selama mengisi hari-hari yang tidak selalu menarik untuk diperbincangkan.

Setan yang lahir dari sistem yang tidak adil

Orang yang tujuannya sorga, pastilah pikirannya baik, demikian juga sikap-sikapnya tidak akan pernah jauh dari kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, manusia dengan pemikiran duniawi yang semata-mata demi mencapai kekayaan dan penghormatan yang tinggi-tinggi, beresiko menjadi jahat. Keadilan berlaku secara nyata dalam kehidupan semua orang hanya hal tersebut tidak mereka disadari. Misalnya saja, saat kita mencari keuntungan dengan menjual ini-itu; sadar atau tidak, telah secara diam-diam merugikan orang tersebut sehingga kitalah yang beroleh keuntungan. Semakin banyak barang yang kita jual, semakin banyak pula orang yang kita rugikan dan tentu saja semakin tinggilah keuntungan yang kita peroleh. Inilah yang kami maksudkan dengan “semakin banyak kekayaan kita, secara tidak langsung, banyak pula orang yang kita rugikan.”

Orang yang mengalami banyak kerugian tersebut, pastilah hidupnya miskin atau setidaknya pas-pasan. Sedang sistem terus-menerus menawarkan barang-barang yang bagus untuk dimiliki. Timbullah keinginan yang lebih besar dari kemampuan untuk membeli. Keadaan ini, bisa saja mendorongnya untuk melakukan tindakan kejahatan yang menyasar mereka yang hidupnya mapan berkelimpahan. Sehingga muncullah suatu pemahaman bahwa “kemakmuran yang kita curi lewat ketidakadilan akan kembali dicuri dari kita dengan cara dan dalam bentuk lain.” Cara lainnya adalah lewat sakit-penyakit yang diderita, lewat anak-anak yang suka boros (foya-foya) dan bisa juga lewat peristiwa sehari-hari yang membuat uang kita habis-habisan tak ada artinya. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa sistem yang tidak adil secara diam-diam menghasilkan iblis yang menggerogoti kehidupan kita.

Kesetanan yang muncul dari dalam diri sendiri

Manusia dipengaruhi oleh dua kekuatan besar seumur hidupnya: ada pengaruh sorga dan ada pengaruh neraka. Awalnya, tidak ada manusia yang bisa membedakan kedua hal ini. Namun seiring waktu berlalu, kita semakin banyak belajar tentang perbedaannya. Biasanya sikap kita menjadi dekat dengan neraka karena keinginan yang tidak terkendali. Bila kita tidak mampu mengontrol hawa nafsu yang timbul di dalam hati, besar kemungkinan menjadi pribadi yang cenderung memaksakan kehendak sendiri dalam berbagai hal. Hasrat kita yang jahat secara secara tidak langsung membuat kita menjadi iblis yang merugikan orang lain, sesama manusia lainnya dan lingkungan alamiah di sekitar. Akan tetapi, orang yang mau belajar melatih pengendalian dirinya lewat pahitnya kekecewaan akan dimampukan untuk mengendalikan hawa nafsunya.

Kesetanan yang muncul dari orang lain di sekitar

Orang-orang di sekitar kita sebenarnya merupakan pribadi yang baik-baik. Mereka mau membantu saat kita membutuhkan sesuatu. Setidaknya bisa memberi jawaban dengan kata-kata yang bersahabat walau tidak bisa memenuhi apa yang kita inginkan. Akan tetapi, sikap kita yang buruk bisa memancing timbulnya setan dalam diri sesama. Mungkin kata-kata kita yang negatif dalam keadaan normal tidak dipermasalahkan orang. Akan tetapi, bagaimana jadinya bila perkataan negatif tersebut didengarkan oleh orang yang sedang mengalami banyak kesesakan hidup. Bisa saja, itu membuatnya emosi lalu timbullah kata-kata jorok: makian, hinaan dan fitnah sebagai balasannya. Masih banyak contoh sikap buruk lainnya yang berpotensi menyebabkan orang lain kesetanan. Akan tetapi, di sisi lain, orang bijak tidak akan mudah terhasut oleh perilaku negatif sesamanya. Sebab dia tidak fokus kepada keburukan yang menjalar di sekelilingnya melainkan fokus pada Tuhan saja. Mereka akan dimampukan untuk mengasihi musuh-musuhnya dan bukannya malah balas dendam.

Iblis dalam teknologi yang kita gunakan

Ada dualisme manfaat yang dibawa teknologi di hadapan kita: satu manfaat positif dan kedua manfaat negatif. Orang yang belum berpengalaman akan lebih suka dimanjakan oleh mesin yang dimilikinya. Akan tetapi orang yang bijak akan memanfaatkan mesin sebagai pendukung pekerjaannya sehingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses. Akan tetapi, sikap bodoh saat memiliki mesin adalah ketika segala sesuatu kita percayakan pada teknologi yang serba otomatis. Keadaan ini membuat orang tersebut tidak lagi butuh bersusah-susah kerja sehingga membuatnya hanya perlu duduk manis sambil menonton televisi seharian. Secara tidak langsung keadaan ini membuat mesin seolah-olah sebagai setan yang menyebabkan mental dan fisik seseorang menurun drastis. Sebab orang yang berhenti beraktivitas akan lebih sering mengidap penyakit metabolisme dan situsi emosionalnya juga cenderung tidak stabil atau tidak terkendali.

Ada juga teknologi informasi yang bermanfaat untuk menebar pengetahuan dan wawasan yang baik dalam kehidupan kita. Akan tetapi, karena kontrol diri yang lemah, kita bisa saja memanfaatkan internet untuk berburu hasrat yang menggoda, menebarkan fitnah kepada orang banyak dan melakukan berbagai aksi penipuan lainnya di dunia maya. Cara kita memanfaatkan teknologilah yang membuat kita mengundang Roh Kudus atau malah mendatangkan iblis bagi diri sendiri. Bila kita mampu memelihara sikap kritis dan selektif saat berada di dunia maya maka besar kemungkinan informasi yang kita peroleh tetap berkualitas baik. Akan tetapi, memanfaatkan teknologi tersebut untuk mencari informasi dewasa serba vulgar, beresiko mendorong kita untuk melakukan dosa. Tentulah semuanya ini tergantung dari kesadaran dan pengendalian diri tiap-tiap manusia.

Kesimpulan

Setan adalah penyuka dan simbol kejahatan, bila anda menemukan kejahatan, itu sama saja menemukan setan atau istilah dekatnya “menyaksikan orang yang kesetanan.”

“=”

Manusia menciptakan iblisnya sendiri dengan cara (1) menciptakan sistem yang tidak adil, (2) tidak mampu mengendalikan diri (hawa nafsu), (3) sikap yang buruk terhadap kepada sesama, (4) kurang mampu menyaring informasi yang diperoleh dan (5) menggunakan teknologi mesin secara berlebihan. Kekuatan jahat tersebut bisa muncul dari dalam diri sendiri dan merugikan diri sendiri. Bisa juga muncul dalam diri orang lain yang merugikan diri sendiri. Juga muncul lewat teknologi yang kita gunakan yang merugikan manusia secara pribadi. Dan yang paling besar adalah kejahatan sistem yang akibatnya dapat merugikan banyak manusia di dalam masyarakat.

Segala sesutu dalam kehidupan ini baik adanya, asal kita mampu memperlakukan mereka dengan baik pula. Sama halnya seperti seorang penabur yang baik pasti memperoleh buah yang baik pula. Sekalipun sikap orang lain kadang berubah tetapi tetaplah baik. Sebab kebaikan dan kebenaran kita adalah jaminan ketenangan hati yang meyakinkan, bahwa kitapun akan diperlakukan dengan cara yang sama. Bukankah semuanya itu ada aturannya, kalau ada masalah tinggal laporkan saja. Di atas semuanya itu tidak dapat dipungkiri bahwa selama hidup di dunia ini, bukan sikap kita yang mengundang masuknya kejahatan. Namun ada iblis-iblis kecil yang secara sengaja maupun tidak sengaja mendorong kita dalam masalah, semata-mata untuk menguji diri ini. Oleh sebab itu, hadapilah setan tersebut dengan rendah hati, penuh keikhlasan dan tetap bersabar.

Salam, Kekuatan jahat
bisa datang dari mana saja.
Kenalilah itu dan
berhenti menirukannya!
Juga berhenti membalasnya!
Tetapi kedepankan
kerendahan hati dan
fokus pada perkara
yang benar dan adil agar hidup
tentram dimanapun berada
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.