Menyingkirkan Hewan Dari Kehidupan Kita – Tidak Ketergantungan Dengan Perilaku Aneh Binatang

Menyingkirkan Hewan Dari Kehidupan Kita

Kita sama dengan manusia lainnya. Tidak ada yang lebih baik, sebab Tuhan yang menciptakan kita mengarahkan kita untuk bersikap adil. Akan tetapi, manusia pada mulanya lebih menyukai sifat-sifat yang khas dengan sifat binatang. Bukankah ini sudah ada dalam daging kita sejak dalam kandungan? Perbuatan daging tidak lebih dari sifat-sifat binatang yang membuat kita menjadi makhluk rendahan yang lebih banyak bersikap amoral, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Ini tersurat jelas pada zaman raja-raja masa lampau dimana mereka menjadikan dirinya supermen yang jauh lebih makmur dan lebih mewah kehidupannya dibandingkan banyak orang. Memiliki segala-galanya yang diinginkan karena kehebatannya dipuja-puji dan dinyanyikan orang.

Mereka berpikir bahwa kehidupan mereka yang duduk manis di atas tahta kerajaan adalah kebanggaan. Padahal dengan berlaku demikian, mereka bunuh diri secara perlahan-lahan lewat penyakit metabolisme yang dapat menyerang sewaktu-waktu. Apa yang mereka sombongkan ternyata menjadi kelemahan terbesar dalam hidupnya. Melakukan jampi dan menggunakan ilmu sihir untuk menyembuhkan diri sehingga moralnya semakin amburadul, sekalipun hal tersebut disembunyikan dari hadapan rakyat (melakukan kejahatan secara diam-diam). Mereka menjadikan amarah, keganasan dan ketegasannya sebagai mahkota. Sekaligus alat untuk menakut-nakuti siapapun agar tunduk di bawah pemerintahannya yang semakin jauh dari kebenaran dan jauh dari keadilan.

Sifat-sifat kebinatangan membuat manusia lebih dekat dengan kejahatan. Perbuatan ini tidaklah tersembunyi sama sekali, melainkan ada di sekitar, misalnya dapat disaksikan lewat televisi dan dapat pula kita amati langsung dari hewan peliharaan yang dimiliki. Televisi selalu menampilkan kekerasan sebab tanpanya tidak ada masalah untuk diselesaikan dan acara yang diadakan terasa hambar. Akan tetapi, kebinatangan menghasilkan kejahatan yang menimbulkan banyak soal-soal kehidupan yang tidak habis-habisnya untuk dibahas. Jadi, para pembaca yang bijaksana, maklumlah dengan televisi agar selalu mengedepankan sikap selektif dan kritis menanggapi setiap acara. Sebab di satu sisi, ini bermanfaat juga untuk memantapkan kepribadian kita agar tidak mudah takut dan bimbang menghadapi masa depan.

Perilaku binatang memang sulit diprediksi. Sadar atau tidak, keberadaan mereka di sekitar kita bisa mencontohkan hal-hal yang salah. Masalahnya sekarang adalah, apakah kita terpengaruh dengan hal-hal yang ditimbulkannya? Bila anda dapat berpikir jernih maka jelaslah bahwa binatang tidak akan mempengaruhi sikap kita. Tetapi, ada juga orang seperti Hawa yang terlalu ketergantungan dengan sikap hewan tertentu sehingga saat mereka bertingkah aneh, membuatnya khawatir dan cemas tentang sesuatu. Hanya sikap hewan yang aneh saja, sudah bisa membuat bimbang. Terlebih-lebih ketika menghadapi ujian dengan kapasitas yang lebih besar di luar sana. Bagaimana kita bisa siap menghadapi ujian dari sesama manusia sedangkan ujian dari makhluk yang kita kuasai saja: bisa membuat prinsip/ nilai hidup yang diyakini goyang.

Kami sendiri memilih untuk tidak memelihara binatang manapun. Sebab tugas-tugas yang perlu dirawat, padat merapat sehingga tidak sempat untuk merawat yang lain. Lagipula kami tidak ingin terlalu disusahkan dengan perilakunya yang kadang tidak bisa ditebak. Apa yang mereka inginkan tidak pula kita ketahui secara spesifik sehingga banyak hal yang tidak masuk dalam cakupan perlakuan yang layak. Sedangkan keliaran mereka ke tempat lain dan ke rumah-rumah warga beresiko tinggi mengonsumsi sesuatu yang tidak untuk dimakan. Akibatnya, tak ada angin – tak ada hujan, tiba-tibab keadaannya memburuk namun kita tidak paham apa yang dialaminya. Bila keadaan semakin buruk bisa-bisa tewas dalam sekejab. Padahal sudah terlanjur sayang: jadi sangat kasihan. Oleh karena itu, lebih baik tidak usah punya peliharaan.

Dari sejak zaman penciptaan, hewan telah mempengaruhi kita. Pengaruh itu sangat jelas karena daging binatang dan daging manusia sama-sama berasal dari bumi. Kita mudah terhasut karena sama-sama berasal dari satu pabrik. Fakta inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat sifat-sifat alamiah manusia sama dengan binatang (sifat bawaan = kebinatangan). Bahkan ada zamannya, orang yang memiliki sifat-sifat binatang dipuji-puji. Seolah mereka adalah dewa-dewi yang baru saja turun dari kayangan. Akibatnya sifat-sifat buruk itu pun meluas dan menjalar kepada masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu mulai bergerak menjauhi kebiasaan buruk seperti: amarah, iri hati, dendam, kekerasan dan lain sebagainya. Semuanya itu, bukanlah sesuatu yang pantas dibanggakan melainkan sesutu yang memperkeruh suasana hati.

Kesimpulan – Ada binatang di dalam dan di luar diri manusia

Mustahil sama sekali menyingkirkan hewan dari kehidupan kita. Hanya saja, bila kita tidak memilikinya, apapun sikapnya tidak mudah mempengaruhi atau tidak mudah merasa bahwa itu adalah untuk kita, sebab bukan punya kita binatang itu! Mungkin mereka melakukan itu untuk pemiliknya. Bila hati sudah agak mulai terpengaruh apalagi sampai ketergantungan dengan perilaku aneh peliharaan, katakanlah pada diri sendiri: “Sampahlah semua itu! Yang saya butuhkan adalah memuliakan nama Tuhan dan mengasihi sesama seperti diri sendiri!” Ini adalah cara terbaik untuk mengingatkan kepada diri sendiri tentang hal yang terpenting untuk dikejar selama hidup di dunia ini.

1213

Manusia yang ketergantungan dengan hewan adalah kebodohan. Ini beresiko tinggi membuat sifat-sifat kebinatangan di dalam dirinya semakin berkembang besar. Masakan makhluk yang lebih tinggi martabatnya, bergantung pada sikap makhluk yang lebih rendah? Gunakanlah akal sehat anda kawan dan gantungkanlah kehidupan mu kepada Dia, Raja Segala Raja yang lebih tinggi dari segala sesuatu. Bisa dikatakan bahwa makhluk yang lebih rendah sekaligus sebagai penguji, apakah sikap buruk kita keluar karena perilaku mereka yang fluktuatif? Menyingkirkan mereka bukan berarti memusnahkannya sama sekali. Melainkan menyingkirkan mereka yang kami maksudkan di sini adalah “tidak memilikinya secara pribadi.” Biarkan mereka bebas di luar sana atau biarkan dimiliki oleh orang lain. Tetapi kita menghindarkan diri untuk mempunyai salah satunya agar tidak mudah GR terhadap perilaku aneh yang kadang memicu rasa bangga.

1312

Bila yang ada di luar diri kita saja bisa mempengaruhi sikap sehari-hari, terlebih lagi sifat-sifat kebinatang di dalam diri kita bisa semakin besar. Sampai sifat-sifat buruk itu menyebabkan kerugian bagi diri sendiri, orang lain dan terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap pengaruh dualisme binatang. Jangan fokus kepadanya tetapi fokuslah memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama dengan adil dalam pendidikan maupun dalam pekerjaan yang kita tekuni hari demi hari.

Bila peliharaan yang dimiliki berpotensi mempengaruhi aktivitas sehari-hari bahkan prinsip hidup anda. Alangkah lebih baik jika berkenan untuk menjualnya demi kebaikan sendiri maupun demi kebaikan binatang tersebut. Sebab pengaruh yang dibawanya bisa membuat kita ketergantungan bila tidak mampu mengabaikan hal tersebut. Bila kita candu dengan perilaku tertentu peliharaan, pas hal tersebut tidak dilakukannya tetapi kita menginginkannya: bisa emosi. Ini mungkin berujung pada kekesalahan hati terhadap diri sendiri maupun terhadap binatang dimaksud. Rasa benci ini bisa berujung pada kekerasan verbal maupun fisik kepada siapa saja (termasuk ke pada orang di sekitar kita). Sadarilah bahwa kita tidak bisa mengendalikan mereka sekalipun mereka adalah peliharaan yang lebih rendah martabatnya. Oleh karena itu, daripada ternakmu membuat pusing, kata-kata kasar terucap dan perilaku buruk terlepas liar; lebih baik jual atau potong (untuk dimakan) saja peliharaan tersebut. Niscaya masalah anda lebih ringan sehingga bisa bersiap-siap untuk menghadapi soal-soal lain yang lebih kompleks.

Salam, Peliharaan berada
di bawah kekuasaan kita.
Tetapi kita tidak mampu
mengaturnya 100%.
Daripada masalah bertambah,
lebih baik tidak usah
memelihara apapun
!

2 comments

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.