Terbiasa Terhadap Rasa Sakit (Penderitaan)

Terbiasa Terhadap Rasa Sakit (Penderitaan)

Tidak ada yang benar-benar jahat di dunia ini. Tidak ada sesuatu yang benar-benar berbahaya dalam kehidupan kita. Melainkan sistem yang mencakup kehidupan kitalah yang membuat hal-hal ini dan itu terkesan sangat berbahaya. Suatu sistem yang memelihara ketidakadilan menjadikan pekerjaan tertentu sebagai alat konspirasi menyebarkan desas-desus yang tidak benar. Seolah-olah orang ini dan itu hebat, pejabat ini dan itu luar biasa, pekerjaan ini dan itu jauh lebih baik. Semua ini demi membuat kalangan tertentu serasa didewakan. Padahal kenyataannya, semua itu tidak ada alias hanya kebohongan belaka. Bagi mereka ini adalah jaminan sehingga pendapatan dan fasilitas yang mereka kuasai lebih dari orang-orang di sekitarnya. Lantas gejolak yang ditimbulkan oleh kebohongan tersebut membuat orang-orang yang dapat memahaminya saling bersaing demi menjadi yang terbaik dan tentu saja terbanyak dalam menguasai sumber daya.

Jadi, yang membuat sesuatu menjadi sangat berbahaya adalah ketidakadilan dalam sebuah sistem. Orang-orang yang merasa dirinya besar akan berusaha mempertahankan kedudukannya dengan bersandiwara. Lewat sandiwara inilah disebar ketakutan dan intimidasi kepada kelompok masyarakat. Padahal semuanya itu belum terjadi, semuanya itu hanyalah omong kosong yang dibesar-besarkan. Oleh karena itu, jangan terlalu takut dengan pemberitaan yang anda dengar tentang penculikan, pencurian, pembunuhan dan lain sebagainya. Melainkan santai saja menghadapi semuanya itu, anggap informasi bombastis tersebut sebagai gula-gula kehidupan penikmat indra yang bersenandung sebentar namun pasti akan terlupakan, cepat atau lambat.

Penderitaan juga bukan sesuatu yang berbahaya asalkan kita dapat mengelolanya dengan benar. Sesungguhnya bukan orang yang membuat kita menderita yang perlu kita bina atau tegur melainkan diri kita sendiri. Sebab sebesar apapun derita tersebut pasti bisa kita tanggung, bukankah semuanya itu tidak melanggar peraturan dan perundang-undangan yang berlaku? Yang menjadi masalah utama bagi kita adalah sikap diri saat menghadapi derita tersebut. Seseorang bisa melakukan kejahatan untuk membalaskan rasa sakitnya, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dendam yang menggebu-gebu di tengah persoalan menjadikan seseorang pemarah yang bisa membahayakan orang-orang disekelilingnya. Sedang orang yang putus asa dalam derita cenderung melukai diri sendiri. Di lain pihak pelampiasan rasa sakit juga bisa dilakukan dengan merusak lingkungan sekitarnya (misalnya merusak, memecahkan dan membuang; baik barang pribadi maupun fasilitas umum).

 “Hidup ini penuh dengan rasa,” Apakah anda bisa merasakannya? Seberapa terasakah itu? Seperti menjalani hidup yang penuh dengan ketidakpastian, demikianlah rasanya hidup ini tidak salalu bisa dipastikan, “selanjutnya akan seperti apa?” Terkadang kita menantang diri untuk memahami keadaan di luar diri sendiri. Mencoba menganalisis apa yang dialami oleh seseorang saat menghadapi situasi ini-itu. Untuk sekedar menemukan kunci suatu perkara agar semua senang dan semua bahagia. Kita membanding-bandingkan sesuatu dengan baik sehingga dapat menemukan makna di balik keadaan yang menyakitkan. Inilah awal mula persahabatan kita dengan gejolak kehidupan, saat memahami manfaatnya.

Memang tidak semua peristiwa di dalam hidup, ada maknanya. Beberapa kejadian yang sedang berlangsung, bagusnya dilupakan saja. Tidak perlu mengingat-ingat hal negatif yang kadang menggeliat di sekitar kita. Hal-hal yang meningkatkan prasangka buruk dan memicu rasa dendam, sebaiknya tidak lagi diingat-ingat. Tetapi ambillah makna dari setiap peristiwa untuk memotivasi diri agar lebih positif. Makna-makna tersebut biasanya seperti kesabaran, perjuangan, rela berkorban, mau menunggu, tulus, ikhlas dan lain sebagainya. Koleksilah makna semacam ini dalam setiap persoalan yang dihadapi sehingga menjadi pengalaman agar kedepannya lebih hati-hati saat menghadapi masalah yang serupa/ senada.

Sadarilah bahwa rasa sakit yang menyertai pergumulan hidup kita merupakan makanan wajib yang perlu kita nikmati. Ikhlaskan saja itu dan tidak perlu mendebatnya di dalam pikiran sendiri agar derita tidak semakin panjang. Lantas jangan biarkan otak diam melainkan teruslah beraktivitas melakukan hal-hal seperti fokus memuliakan Tuhan, melakukan kebaikan kepada orang sekitar, mempelajari sesuatu yang positif dan menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan. Hindari fokus pada distorsi yang mencemaskan hati melainkan sibukkanlah diri melakukan apa-apa saja yang mungkin membaikkan kehidupan sendiri, orang-orang di sekitar anda dan termasuk lingkungan sekeliling anda. Tidak ada kesempatan untuk merasakan kesakitan karena kita selalu sibuk positif.

Milikilah ketakutan yang standar dan terkendali. Berupayalah untuk takut pada hal-hal yang benar, artinya “mengapa mesti takut jika anda sudah melakukan yang sebenarnya?” ketakutan terhadap kepahitan hidup sebenarnya bisa dihindari dengan cara ikhlas menghadapinya. Bukan cuma satu kali tetapi berulang kali sampai kita sendiri merasa bosan menghadapinya tetapi tetap dijalani sampai selesai. Berulang kali kepahitan hidup datang, berulang kali pula kita menghadapinya. Serta berusaha untuk mengabaikan sakitnya sambil berkonsentrasi melakukan pengabdian agar kehiduopan yang dijalani bermanfaat untuk kemuliaan nama Tuhan dan terhadap sesama manusia lainnya.

Pikiran yang tidak sibuk positif saat penderitaan menjelma dalam hari-harinya cendrung banyak merasakan sakitnya derita. Ditambah lagi gejolak di dalam hati yang turut mencuat tanpa henti. Seolah ada dua pihak dalam diri kita yang saling berdebat memperebutkan sesuatu yang tidak jelas. Dua hal ini saja akan membuat kita repot sampai pusing-pusing sendiri. Oleh karena itu, penting sekali yang namanya memiliki aktivitas yang mengarah pada hal-hal positif. Sesuatu yang membuat waktu kita bermanfaat bagi diri sendiri dan bila perlu bermanfaat juga bagi orang-orang di sekitar termasuk terhadap lingkungan alamiah. Kapan pun derita itu muncul, bersiaplah mengphadapinya. Semakin sering mengalaminya maka lama-kelamaan kita menjadi terbiasa.

Sayangnya, sekalipun pengalaman kita tinggi mengalami hal-hal buruk, istilahnya seperti kata orang “sudah terbiasa bahkan membudaya pula.” Ini tidak menjadi jaminan bahwa rasa sakit tersebut akan selalu terlompati. Satu-satunya yang membantu kita untuk melompati rasa tersebut adalah aktivitas yang dilakukan. Semakin asyik kegiatan yang dilakukan maka semakin mudah bagi kita untuk mengabaikan kepahitan yang bergejolak. Tentu saja ini tidak dilalui tanpa usaha, melainkan kita perlu belajar mengedepankan kerendahan hati, keikhlasan, kesabaran, dan kebaikan menjalani masalah apapun yang datang. Tidak lupa juga untuk tetap berupaya mengasihi orang-orang yang berseberangan paham dengan kita (mengasihi musuh).

Kiranya penderitaan yang kita alami tidak dilampiaskan dengan menekan orang lain dengan derita seperti yang kita alami. Melainkan berupayalah untuk tetap menjadi orang baik dalam berbagai situasi yang dijalani. Menunjukkan sikap yang baik adalah cara kita mengalahkan orang-orang yang kurang suka. Justru ketika kita berbuat jahat, orang yang tidak menyukai kita akan senang bukan kepayang. Sebab, itulah dari awal tujuan musuh mengganggu dan mengerjai diri ini, yaitu agar pikiran kita jadi kacau dan hidup berakhir amburadul. Semakin cepat menyadari kemauan lawan maka semakin cepat langkah antisipasi yang dapat kita lakukan agar jangan sampai kemauannya yang salah terwujud dalam hidup ini. Artinya, arahkan kekuatan lawan untuk membuat hidup anda semakin positif dari waktu ke waktu.

Kesimpulan

Banyaknya pengalaman mengalami sesuatu membuat manusia terbiasa menyikapinya dengan cara-cara yang bijak: tetap baik dan benar.

Terbiasa dengan sakitnya hidup adalah saat lingkungan dan orang di sekitar berusaha menyakiti tetapi perihnya tidak meresap ke dalam hati dan tidak memperburuk sikap: sebab gejolak tersebut sudah dibiasakan. Sekalipun pahitnya, mungkin masih sedikit menggetarkan badan tetapi hati tetap nyaman menghadapi kegentaran tersebut: buktinya pikiran tidak lari-lari, melainkan fokus positif dan sikap pun tetap positif.

Ada masalah yang bisa diselesaikan tetapi ada juga masalah yang tidak bisa diselesaikan melainkan dibiarkan saja alias hadapi dengan ikhlas. Pergumulan hidup yang tidak terselesaikan inilah yang banyak kali menimbulkan rasa sakit dalam hidup kita, misalnya saja pengabaian, ejekan, penghinaan, bully dan lain-lain. Sadari betul bahwa tujuan musuh melakukan keusilan tersebut untuk membuat hidup kita kacau. Oleh karena itu, jangan lampiaskan sakitnya situasi dengan melakukan apa yang jahat melainkan hadapi dengan rendah hati, ikhlas, sabar dan tetaplah baik. Kecewakan lawan-lawanmu dengan melakukan kebalikan dari kemauannya, yakni tetap baik dan benar di tengah kesesakan yang menghimpit jiwa. Lama-kelamaan, anda pasti bisa terbiasa dengan sakitnya hidup asalkan selalu menyibukkan diri dengan aktivitas positif. Menjadi terbiasa membuat hati tetap nyaman sekalipun masalah mengubrak-abrik hari-hari anda!

Salam, Terbiasalah dengan
pahit – manisnya hidup.
Sekalipun ada yang pahit
di awal-awal.
Lama-kelamaan
membuat nyaman di hati
karena tau manfaatnya
dan sudah terbiasa
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.