Pura-Pura Bodoh Bukan Berbohong

Pura-Pura Bodoh Bukan Berbohong

Kecerdasan bukanlah segalanya. Memang masing-masing dari kita ingin selalu mencapai puncak pengetahuan maksimal akan kehidupan. Namun sadarilah bahwa beberapa pengetahuan hanya bagus untuk ditulis/ dibahas-bahas saja. Sebab tidak memberikan hasil yang baik bila kita mewujudkan hal-hal tersebut di dunia nyata. Banyak contoh di sekitar kita yang tidak bagus bila diwujudkan di dunia nyata, misalnya apa yang terdapat dalam game dan televisi. Memang ada banyak hal yang wah di sana tetapi bagus-indahnya di sana saja. Tidak perlu membawa-bawakannya dalam hidup sehari-hari karena beresiko mengarahkan manusia pada kejahatan dan kehancuran.

Sadar atau tidak, kepintaran selangkah lagi menempatkan kita dalam kesombongan. Bila saat ini, Anda merasa diri sebagai salah satu orang pintar, berhati-harilah dan jangan lupa merendahkan diri. Kecongkakan yang tinggi lebih banyak memaksa kita untuk selalu menang saat menghadapi suatu perkara. Ini akan semakin jelas ketika keadaannya didorong oleh rasa jengkel sehingga nafsu untuk diakui membuat sikap semakin kasar di depan orang lain. Oleh karena itu, jangan tempatkan diri untuk terus merasa smart lebih dari orang lain. Sebab biar bagaimana pun semua manusia adalah sama dimana masing-masing cerdas dalam bidang yang dikuasai olehnya (menurut talenta tiap-tiap orang.)

Tidak bisa dipungkiri bahwa akan sangat banyak masalah yang timbul karena kita memelihara tinggi hati. Rasa ini menjadi idola manusia bukan karena itu menyakitkan melainkan menyenangkan saat dilakukan. Salah satu sensasi yang sangat menyenangkan dari sifat tersebut adalah kebanggaan terhadap diri sendiri. Menjadi bangga itu menyenangkan bagi yang melakukannya tetapi akibatnya dapat berimbas menyulitkan bahkan mendukakan orang lain. Contoh kecilnya saja adalah saat kita terlalu spesifik menyudutkan kekurangan seseorang lalu membandingkannya dengan diri  sendiri yang tentunya jauh lebih baik. Timbullah rasa senang setelahnya karena kita memang jauh lebih cerdas dari orang tersebut. Jika ini diungkapkan secara langsung maupun tidak langsung, mungkin dapat membuat orang dimaksud merasa getir di dalam lubuk hatinya.

Seperti kata pepatah klasik, “masih ada burung di atas monyet, masih ada yang terpintar di atas orang pintar.” Biar bagaimanapun keunggulan kita pada bidang tertentu, suatu saat kita menyadari bahwa “kita bukanlah siapa-siapa.” Entah bagaimana caranya kita menyadarinya, entah dari sudut pandang mana kita memahaminya, entah dari siapa kita mendengarnya. Intinya, saat kesadaran itu tiba, hati ini hancur tak bertepi sehingga sakitnya menusuk perih selama berhari-hari. Suasana hati yang sedang tidak baik, cenderung membuat perkataan dan perilaku menjadi amburadul. Keadaan akan semakin memburuk jika kita tidak segera insaf. Semakin banyak orang yang dimusuhi  dan hubungan dengan Tuhanpun mulai meregang.

Sebelum hal-hal buruk ini-itu terjadi dalam kehidupan kita. Alangkah lebih baik bila kita menyangkal teriakan yang sok-sok pintar itu dari dalam hati. Dalam hal ini, pura-pura bodoh adalah upaya penyangkalan terhadap kemampuan mumpuni yang dimiliki. Ini adalah bentuk kerendahan hati yang aplikatif yang bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun juga. Sebab biar bagaimana pun, potensi yang dimiliki pasti ada batasnya lalu kemudian yang kita lakukan adalah berputar-putar dalam rutinitas yang selalu sama pada periode waktu tertentu. Putaran inilah yang meyakinkan bahwa kita bukanlah siapa-siapa. Bila kita tidak bisa berpuas diri terhadap hidup semacam itu maka pelampiasannya adalah mencari lebih banyak harta benda dan kehormatan duniawi yang semakin menjerumuskan kita dalam dosa.

Adalah lebih baik bila kita terlebih dahulu pura-pura bodoh dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Daripada kita menyadari keadaan tersebut setelah direndahkan teman sekitar. Lebih baik kita terlebih dahulu menghina diri sendiri daripada diingatkan lewat sindiran orang lain. Artinya, dengan menginjak diri sendiri dihadapan Tuhan, kita belajar untuk tabah menghadapi penghinaan dari sesama. Sehingga saat di luar diri kita terjadi gejolak yang sama atau lebih besar, hati siap menghadapinya tanpa menyisakan distorsi sikap negatif di luar kendali akibat amarah yang meledak. Sikap merendah tersebut melatih kita untuk terbiasa dengan ejekan, buli dan hinaan. Semua tekanan itu tidak dapat lagi menggelisahkan kita tetapi justru melatih kita agar lebih kuat menjalani hidup.

Di tengah serunya perbantahan, orang umumnya ingin memenangkan suatu perdebatan. Berupaya secardas mungkin menjawab argumen lawan dengan kata-kata sendiri. Akan tetapi, semakin lama, arah pembicaraan semakin tidak menunjukkan perkembangan ke hal-hal baik. Justru nada suara makin tinggi dan mulai muncul kata-kata kotor bahkan kutuk. Besarnya hasrat untuk memenangkan adu mulut, tidak lagi mendatangkan kebaikan bagi yang mendengarnya dari dekat maupun dari jauh. Perdebatan antara orang-orang yang merasa dirinya cerdas ini semakin tidak masuk akal karena yang satu bertanya ini namun yang lain menjawab itu. Ambiguitas argumen antara tokoh membuat ketidaksepahaman yang sangat tidak menarik untuk disaksikan oleh siapa saja.

Kita perlu juga untuk berpura-pura bodoh saat berhadapan dengan orang-orang yang sengaja cari-cari soal. Berupaya untuk mendebat kita dari berbagai aspek kehidupan. Tidak perlu meladeni pernyataan atau pertanyaannya yang terkesan memanas-manasi keadaan. Bila dia meyakini hal itu, silahkan saja. Sedang diri sendiri meyakini yang lain. Oranya yang berupaya untuk mengadu keyakinan kita dengan keyakinannya adalah pencari masalah yang membuat waktu habis dalam pembicaraan yang sia-sia. Tidak perlu merasa tertantang oleh soal-soal yang ditimbulkan orang lain karena jalan hidupnya dan jalan hidup yang kita tempuh berbeda satu sama lain. Jadi, biarkan saja dia membanggakan diri di jalannya. Pura-pura bodoh dengan tidak menganalisis urusan orang lain karena banyak hal yang lebih penting untuk diselesaikan dibandingkan sekedar mendengar celotehan yang tidak berbobot.

Tahukah anda bahwa bully, ejekan dan penghinaan sangat berdampak terhadap orang-orang yang baru pertama mengalaminya? Kemungkinan besar ini terjadi karena terkejut mendadak yang diikuti dengan kegelisahan hati. Keadaan ini didorong juga karena kita terlalu pintar dan daya ingat sangatlah kuat membahas-bahas hal tersebut di dalam hati. Coba saja kita berpura-pura bodoh dengan tidak mengingat hal-hal buruk itu lagi. Niscaya suasananya menjadi lebih adem dan kitapun bisa melanjutkan aktivitas positif seperti biasanya. Pada bagian ini, kita perlu belajar untuk mengarahkan kebodohan pada hal-hal yang tepat. Sebab justru sikap yang terlalu pintar beresiko membuat kita berlelah pada sesuatu yang bukan urusan kita dan mengarahkan kita untuk bermasalah dengan orang lain. Mungkin ada masanya dimana kita diperkenankan untuk ikut campur urusan orang lain tetapi hal tersebut tidak terlalu dalam dan tidak terlalu sering dilakukan.

Pura-Pura Bodoh Bukan Berbohong
Pura-pura bodoh adalah mendiamkan sesuatu atau memilih untuk tidak menanggapi topik tertentu tanpa mengabaikan orang yang di sekitar kita.

Hati-hatilah dengan analisis yang kita lakukan. Pastikan saja anda sedang tidak menganalisis kehidupan orang lain padahal kita bukanlah psikiaternya. Kalau berhadapan dengan orang lain, pura-pura bodoh saja dan tidak perlu terlalu memperhatikan kekurangannya. Berupayalah untuk tidak menghakimi orang dari penampilannya. Bahkan ketika dia berbuat jahat pun, kita tidak berhak menghakiminya. Sebab ada orang-orang tertentu yang bekerja melakukan hal-hal tersebut (misalnya aparat hukum). Sekalipun anda seorang penulis seperti kami, tidak perlu terlalu spesifik menyudutkan oknum tertentu. Melainkan buatlah tulisan yang sifatnya general (umum) yang tidak menerangkan nama atau identitas yang spesifik. Kecuali anda memang ditugaskan untuk menilai orang-orang tersebut lalu menuangkannya lewat tulisan yang berbobot.

Hidup ini soal menyesuaikan diri. Demikian juga soal pikiran perlu beradaptasi. Tidak semua hal yang ada dihadapan kita harus kita masukkan di dalam hati. Misalnya saja tentang sandiwara yang berlangsung di televisi, tidak perlu menganalisis semua hal yang ditampilkan oleh berita dan infotainmen. Melainkan ambillah apa yang diperlukan saja, lebih dari itu, lupakan saja informasi tersebut agar tidak menambah penat di hati. Sebab melupakan sesuatu sama artinya dengan tidak memanfaatkan potensi daya ingat otak pada hal-hal negatif di luar kewenangan kita. Ini sama saja artinya dengan pura-pura bodoh karena dasarnya kita sanggup memikirkannya tetapi oleh beberapa pertimbangan memilih untuk tidak melakukannya. Lebih baik isilah pikiran dengan senantiasa memfokuskannya untuk memuliakan Tuhan sambil berbuat baik, belajar dan bekerja sepositif mungkin.

Kesimpulan

Defenisi – Pura-pura bodoh adalah sesuatu yang mampu dilakukan tetapi tidak dilakukan karena tidak berhubungan dengan tanggung jawab kita sebagai individu. Ini juga bisa diartikan sebagai aksi mendiamkan sesuatu dengan tidak menggunakan kecerdasan untuk menilai keadaan karena situasinya terasa penuh muslihat yang menjebak. Pura-pura dalam hal ini bukan berarti kita berbohong sama sekali dengan membelokkan fakta. Akan tetapi, yang kita lakukan adalah tidak memanfaatkan kepintaran yang dimiliki untuk hal-hal tertentu yang tidak disukai dan tidak dibutuhkan.

Pada dasarnya ada banyak dan beragam situasi yang kita hadapi setiap hari. Sikap kita menjalaninya tidak selalu sama melainkan tiap-tiap keadaan membutuhkan penanganan yang berbeda. Yang perlu kita lakukan adalah menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Ada baiknya bila kita membatasi ruang berpikir sebatas apa yang kita pahami saja. Tidak perlu terlalu sibuk menganalisis jalan lain yang dilalui oleh orang lain tetapi sibukkanlah diri untuk memahami jalan yang kita lalui sendiri. Memang ada masanya dimana kita perlu mengurus beberapa perkara umum karena berkaitan erat dengan maju-mundurnya kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk. Kepintaran bukanlah segalanya sebab ada masanya dimana kita perlu pura-pura bodoh seolah tidak tahu apa-apa saat menanggapi hal-hal yang ada di luar kewajiban kita. Akan tetapi, ketika kita diperhadapkan dengan sesuatu yang sudah menjadi tugas sehari-hari, gunakanlah kepintaran ini untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggungjawab kita!

Salam, Pintarlah
mengurus hal-hal baik.
Tetapi bodohlah
menghadapi hal-hal buruk
!

Salah satu contoh tindakan pura-pura bodah
Salah satu contoh tindakan pura-pura bodah

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.