10 Penyebab Penggurunan Suatu Wilayah (Proses Terbentuknya Gurun)

Penyebab Penggurunan Suatu Wilayah (Proses Terbentuknya Gurun)

Manusia adalah perusak utama sekaligus pemelihara tercerdas di muka bumi. Kita bisa memelihara apa saja yang diinginakan hati ini. Mulai dari berbagai jenis tumbuhan keras maupun tanaman palawija. Demikian juga hewan bisa terpelihara hidupnya karena menternakkannya secara langsung maupun dengan membiarkannya hidup bebas di hutannya sendiri. Akan tetapi, semua usaha positif ini akan terlupakan karena tidak ada bayarannya. Tetapi para kapitalis di negeri yang menguasai banyak uang dapat membayar lebih banyak masyarakat untuk merusak sekaligus memanen sumber daya hutan alamiah. Semata-mata demi  mewujudkan arogansinya yang egois. Tidak ada yang bisa melarangnya bahkan negara pun tidak bisa membatasinya karena uang adalah segalanya. Lembaga negara apa pun akan klepek-klepek tak berdaya hanya karena para petingginya cinta uang atau korupsi.

Banyak manusia menjadi tak berdaya dimana otak kritisnya melemah karena mencium bau-bau rupiah yang jumlahnya sampai satu koper. Kekuasaan akan menjadi pedang tumpul yang bengkok karena diserbu gelontoran dana yang tak terhitung jumlahnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada pun, siap untuk disalahgunakan asalkan tokoh-tokoh intelektualnya disuap kenyang miliaran rupiah. Pertanyaannya sekarang adalah siapakah dia yang memiliki sangat banyak uang dalam perbendaharaannya? Bukankah semuanya itu tergantung dari pembagian sumber daya yang dilakukan oleh pemerintah sebagai kapitalis puncak dalam suatu wilayah? Tanpa keadilan sosial, oknum tertentu akan beroleh lebih banyak materi yang membuatnya lebih kuat bahkan sangat kuat sampai tak teratasi oleh negaranya sendiri.

Pengertian penggurunan

Penggurunan adalah perubahan suatu wilayah hijau yang syarat dengan fauna dan flora menjadi wilayah tandus yang hanya dipenuhi oleh padang pasir tanpa kehidupan. Penyebab utama proses ini adalah manusia yang menghancurkan tatanan alam sekitarnya menjadi seperti yang disukainya. Orang-orang tidak suka dengan karya yang diciptakan oleh Tuhan atas dunia ini. Mereka lebih menyukai bumi versi pemahamannya sendiri, menata ulang lingkungan alamiah sesuaka hati sesuai dengan imajinasi sesat. Mudah sekali bagi konglomerat bermodal tebal untuk mengkoordinasikan segala sesuatu agar apa yang alami dan sederhana menjadi mewah berkelas dan bernilai tinggi. Manusia menyingkirkan pepohonan dan membunuh semua binatang liar untuk membangun gemerlapan materi yang indah-indah di tempatnya. Dia yakin seribu persen bahwa itu adalah rumah padahal dipenuhi dengan benda-benda mati tak bernyawa yang katanya menakjubkan.

Penggurunan adalah suatu proses yang memakan waktu bertahun-tahun, melibatkan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, kerusakan lingkungan, bencana alam hingga bencana kemanusiaan yang menyebabkan musnahnya kehidupan dalam suatu wilayah.

Alasan mengapa suatu dataran yang hijau menjadi gurun tandus

Penyebab utama dari proses ini adalah aktivitas manusia yang berlebihan. Memang benar bahwa tanpa aktivitas, kita bukanlah makhluk hidup. Akan tetapi, aktivitas eksplorasi sumber daya yang tidak terkendali, tidak terkoordinir dan terkesan berlebihan cenderung menyebabkan kerusakan berat di bumi yang merugikan siapa saja. Manusia yang dikuasai oleh hasrat yang dihasilkan dari kejenuhan hidup, memiliki keinginan yang semakin besar saja dari waktu ke waktu. Rasa bosan pada apa yang sudah ada semakin menjadi-jadi saat manusia tersebut memiliki lebih banyak harta untuk dibelanjakan. Mereka akan seperti manusia yang tidak akan pernah kenyang, sesamanya pun dilahap dan lingkungan juga turut dilalap tetapi tidak puas juga. Berikut ini akan kami jelaskan sedikit faktor yang menyebabkan wilayah gurun semakin meluas di bumi tercinta.

  1. Manusia yang cinta materi.

    Manusia mencintai materi mati nan mewah tetapi bumi ini membutuhkan materi dalam keadaan hidup sehingga tetap asri dari waktu ke waktu. Misalnya saja, buaya dibutuhkan alam untuk menjaga keseimbangan jumlah hewan darat maupun perairan. Akan tetapi, manusia lebih menyukai buaya itu dalam keadaan mati agar bisa menghiasi pinggang, jari, leher, pakaian dan rumahnya.

    Semakin besar cinta kita terhadap materi, semakin tinggi resiko mengalami kebosanan. Inilah yang menyebabkan kita mau lebih dan lebih lagi. Kita suka menuntut perkembangan dan kemajuan kepada orang-orang dengan membayar lebih. Pihak lain pun memanfaatkan dana yang begitu besar dengan mengeksplorasi sumber daya yang tersedia sehingga dihasilkanlah barang-barang mewah yang tinggi nilainya dan tinggi juga kerusakan bumi akibat pengambilannya. Bila ini terus berlangsung maka degradasi lingkungan beresiko menimbulkan bencana bertubi-tubi yang diiringi dengan musnahnya vegetasi di suatu wilayah.

  2. Ketidakadilan sistem.

    Bukti konkrit dari ketidakadilan sistem adalah adanya orang-orang yang memiliki dana dalam jumlah luar biasa sedangkan yang lainnya hanya diberi pas-pasan bahkan jauh dari kata layak. Padahal senyatanya keadilan adalah hak seluruh masyarakat. Semua manusia sama, bukankah hukum telah menjamin kesetaraan itu? Suatu negara yang disusun oleh sekumpulan perangkat hukum wajib menerapkan rasa adil tersebut untuk semua penduduknya.

    Bila tidak ada keadilan, manusia akan fokus untuk mencari harta benda sebanyak-banyaknya. Menganggap bahwa harta benda yang dimilikinya adalah suatu kebanggaan yang harus terus dicari dan dicari sebanyak-banyaknya tanpa ada yang dapat membatasinya. Keadaan ini turut mendorong dan melegalkan siapa pun untuk menjadi serakah. Semakin pintar dan kuat mencari, makin banyak kekayaan yang dikumpulkan tetapi lingkungan juga semakin rusak. Hampir tidak ada lagi tumbuhan dan hewan disekitarnya karena semua wilayah telah diisi gedung bertembok tebal.

    Orang yang pintar-pintar semakin kaya raya sehingga mereka mampu membangun kemegahannya sendiri. Menumbangkan sangat banyak pohon, membunuh hewan-hewan, menggali tanah, memecahkan batu dan masih banyak lagi. Semuanya ini dilakukan hanya untuk memuaskan kebosanan hidupnya.

  3. Persaingan dengan hadiah besar dalam berbagai lini.

    Tanpa keadilan, persaingan akan timbul dimana-mana. Tetapi sistem yang adil dapat mempertipis angka persaingan. Tidak ada lagi pencarian terhadap hal-hal spesial sebab semua manusia istimewa adanya. Keadaan ini membuat manusia cepat sekali bergejolak sehingga ada pertarungan yang memperebutkan mega hadian yang tersohor dimana-mana. Keadaan ini hanya membuat masyarakat semakin resah karena kerap kali terancam oleh aksi teror.

    Hampir semua orang berusaha untuk tampil lebih kaya dan glamour dari sesamanya. Berbagai-bagai cara ditempuh untuk membuktikan kehebatannya termasuk dengan memanfaatkan sumber daya lingkungan sebanyak-banyaknya. Keadaan inilah yang ikut mendorong lingkungan ke dalam kerusakan yang terjadi secara terus-menerus hingga tandus dan tidak ada lagi kehidupan di wilayah tersebut.

  4. Peperangan berkepanjangan.

    Perang adalah bencana terburuk yang pernah ada di muka bumi. Segala pohon akan diubah menjadi kayu bakar dan alat perang. Semua tanah yang akan dicemari oleh minyak, darah dan kotoran manusia. Hewan-hewan akan menjadi panggangan yang lezat di atas tungku dan kendaraan perang. Dimana terjadi peperangan, di situlah tanah-tanah menjadi gundul dan tandus. Tidak ada kehidupan di lembah itu, melainkan yang ada hanyalah kematian. Semakin banyak jumlah orang yang berperang, makin luas kerusakan lingkungan yang terjadi. Juga semakin lama peperangan berlangsung, makin meluas degradasi lingkungan yang terjadi.

  5. Peternakan tanpa batas.

    Menggembalakan hewan dalam jumlah besar, sepertinya tidak ada beban, karena tidak usah berlelah membawakan makanannya. Melainkan penggembala yang akan menuntunnya untuk menemukan makanan bagi dirinya sendiri. Jumlah yang mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu dapat merusak vegetasi di wilayah yang luas. Bila ini terus menerus terjadi maka seluruh daratan akan menjadi gundul karena rumput-rumputnya yang hijau habis dilalap hewan.

  6. Pertanian luas tak terbats.

    Perkebunan tanaman besar bisa turut menjaga ekosistem hutan di wilayah tersebut. Akan tetapi, warga lainnya yang menanam palawija menggundulkan hutan miliknya dan menanam sebanyak-banyaknya makanan pokok juga sayuran di atasnya. Kapasitas penyimpanan air tanah sangat menurun karena akar tanaman palawija tidak sedalam dan sebesar pohon. Bila ini terus dilakukan, akibatnya wilayah tersebut rentan terhadap banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Jika wilayahnya bergunung-gunung maka potensi terjadinya longsor semakin besar karena tidak ada akar pohon yang menahan pergeseran tanan.

    Kekeringan yang meluas dapat menyebabkan fuso setiap kali musim panen hampir tiba. Musim kemarau yang panjang membuat tanahnya mengering dan melekang retak-retak. Keadaan ini membuat petani jadi malas bercocok tanam di sana dan memilih untuk membuka hutan baru. Akibatnya, lahan-lahan yang ditinggalkan tidak terurus tersebut akan mengalami ketandusan selama beberapa musim.

  7. Pengagungan akan kemewahan dan kenyamanan hidup.

    Manusia yang tidak memiliki Tuhan, terlalu fokus kepada materi di sekitarnya. Berusaha membuat harta bendanya sebagai penghiburan di tengah hari-hari yang menjemukan. Membangun budaya mewah konglomerat yang syarat dengan foya-foya dan pesta pora tanpa henti. Kenyamanan yang diagungkannya sekaligus menjadi batu sandungan yang justru melemahkan diri sendiri.

    Bukan main sumber daya yang digelontorkan untuk membangun fasilitas nan mewah menawan indra. Tidak terhitung banyaknya tanaman dan hewan yang dibunuh untuk mendirikannya. Serta tidak terhitung sebanyak apa, seluas apa dan sedalam apa tanah digali untuk menemukan barang-barang mewahnya yang sangat berharga.

    Kenyamanan hidup berkaitan dengan kebebasan yang super luas. Konglomerat kelas atas menginginkan hunian yang super besar dengan halaman super luas agar sedapat-dapatnya mereka tidak terganggu oleh keributan aktivitas orang lain di sekelilingnya. Tentu saja ada banyak hewan apalagi tumbuhan yang dikorbankan untuk mencapai nilai pembangunan yang sangat besar itu.

  8. Dampak keserakahan dan arogansi manusia terhadap bumi.

    Bumi merasakan perlakuan kasar dari manusia yang dipeliharanya. Seolah manusia tidak lagi peduli dengan Ibu Pertiwi sebab yang ada dalam hatinya hanyalah pencarian akan kepuasan indra yang semakin besar dan lebih besar lagi dari waktu ke waktu. Keadaan ini membuat Ibu Pertiwi benar-benar merana karena manusia hanya ingin dirinya yang hidup sedang segala yang menurutnya tidak penting dihancurkan dan dimusnahkannya. Berikut ini berbagai perlakuan manusia terhadap bumi yang menyebabkan terbentuknya gurun.

    • Penebangan pohon besar.

      Dampak cepat penebangan pohon secara besar-besaran adalah berkurangnya komponen bumi yang mampu menyerap sinar matahari langsung. Akibatnya, suhu udara di sekitar itu bisa meningkat tajam di siang hari karena paparan sinar matahari langsung.

      Dampak berikutnya adalah berkurangnya komponen lingkungan yang mampu menyaring udara karena pembersihannya melambat sehingga polutan tertimbun di udara. Gundulnya tanah juga menyebabkan semakin cepat dan derasnya aliran air hujan yang menuju kanal dan sungai-sungai. Keadaan ini menyebabkan volume kanal atau sungai melampaui ambang batas normal/ aman yang menyebabkan timbulnya banjir.

      Dampak menahun dari penebangan pohon secara besar-besaran adalah mati-membusuknya akar-akar pohon yang tertinggal di dalam tanah. Akibatnya, tanah yang awalnya padat, mulai memiliki rongga-rongga kosong yang membuat wilayah tersebut sangat rentan dengan banjir bandang dan tanah longsor.

    • Pembakaran hutan.

      Dimana-mana yang namanya pembakaran tidak menyisakan kehidupan di wilayah tersebut. Sedang secara alami bekas tanah yang terbakar tidak dapat langsung ditumbuhi oleh benih tanaman yang terbawa air, angin atau hewan. Sebab membutuhkan waktu beberapa bulan sampai tanah tersebut benar-benar dingin kecuali manusia melakukan upaya intervensi untuk mempercepatnya.

      Pembakaran hutan tidak hanya terjadi karena ulah manusia yang hendak membuka lahan pertanian yang baru. Melainkan bencana ini juga turut berkecamuk dalam masa-masa peperangan. Tidak ada kehidupan yang tertinggal selama berbulan-bulan di area setelah perang usai.

    • Penggalian bumi/ pertambangan.

      Manusia menggali lebih dalam untuk menemukan mineral yang lebih keras dari batu dan lebih berharga dari kayu. Orang-orang mulai membutuhkan bahan-bahan kokoh yang digali dari dalam bumi. Kebutuhan tersebut semakin meningkat di tengah penemuan mesin-mesin berteknologi canggih. Semakin banyak mesin yang dibuat maka semakin banyak pula bijih logam yang harus didapatkan dari tambang penggalian bumi. Semakin banyak bahan logam kuat dan logam mulia yang dibutuhkan maka semakin luas areal pertambangan. Wilayah yang telah dieksplorasi biasanya miskin vegetasi. Keadaan ini diiringi dengan hilangnya air tanah dan musnahnya hewan-hewan dipermukaannya. Belum lagi masalah penggunaan berbagai bahan-bahan kimia untuk memurnikan hasil: zat-zat kimiawi tersebut bisa menjadi limbah yang merusak areal sekitar pertambangan karena tidak dikelola dengan baik.

    • Pendataran tanah.

      Kontur bumi yang memiliki gunung dan lembah merupakan salah satu cara alam untuk menjaga vegetasi berdasarkan fungsi tertentu. Membantu menjaga aliran air dan aliran udara tetap berputar dan selalu terbarukan. Gunung dan lembah yang saling berhubungan dalam siklus hidrosfer menjaga ketersediaan air di wilayah tersebut selalu ada tanpa terkecuali.

      Usaha mendatarkan lahan demi pemukiman atau pertanian adalah suatu kesalahan yang beresiko mengurangi/ menguras kapasitas penyimpanan air di wilayah tersebut. Akibatnya, tanah-tanah datar tersebut tidak dimungkinkan untuk ditumbuhi banyak tanaman. Sekali pun ada pepohonan, jaraknya cukup berjauhan. Oleh karena itu, hindari mendatarkan tanah, kecuali untuk pemukiman.

  9. Pemukiman manusia yang menjadi-jadi.

    Di era tanpa keadilan sosial, manusia bebas membangun apa saja dan dimana saja. Keadaan ini membuat perumahan di kota dan pinggiran kota tersebar secara acak tak menentu dan tak berbatas. Keadaan ini beresiko mengancam wilayah hijau karena semakin tinggi tahunnya semakin banyak bangunan yang didirikan sehingga mempersempit tempat bagi tumbuhnya tanaman. Keadaan ini akan semakin menjadi-jadi ketika di pinggiran kanal atau sungai didirikan banyak bangunan liar. Berkurangnya wilayah terbuka yang bebas dari tembok dan jalan akan mengurangi area resapan air. Ini bisa menyebabkan banjir di musim hujan kecuali digali ruang bawah tanah yang luas untuk pembangunan gorong-gorong / sodetan besar.

    Keserakahan kaum tajiristik terhadap hunian membuat mereka memiliki banyak. Bisa jadi satu kepala keluarga memiliki lima sampai sepuluh rumah. Bila semua orang kaya melakukan ini karena iming-iming meraup untung dari nilai properti yang semakin lama semakin tinggi, bisa berpotensi menganggu keseimbangan alam? Keserakahan semacam ini jelas beresiko menimbulkan banyak bencana kelak.

  10. Pemakaian mesin yang berlebihan.

    Kapitalis yang pintar mengumpulkan harta orang lain membuat dirinya sendiri kaya raya. Dengan uang sebanyak itu, mudah sekali baginya untuk membeli mesin segala mesin, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Kendaraannya tidak hanya satu melainkan tiap anggota keluarga memilikinya dan ada segudang lainnya yang dipakai berbeda-beda berdasarkan tema dan tujuan tertentu. Tidak sampai di situ saja, tiap-tiap tahun kendaraannya pasti ganti baru/ model baru. Akibatnya, permintaan terhadap barang tambang sangat tinggi yang membuat areal pertambangan semakin meluas. Belum lagi masalah polusi yang ditimbulkannya dan berbagai produk sampingan lainnya yang cenderung mencemari lingkungan.

  11. [BONUS] Alur bencana (proses) yang menyebabkan penggurunan.

    Urutan bencana yang menyebabkan penggurunan = Banjir, longsor, banjir bandang, kekeringan dan angin keras (topan, puting beliung) yang terjadi silih berganti dan kadang serentak selama bertahun-tahun. Tentu saja proses yang pertama terjadi adalah pembasmian tanaman besar (pohon besar) yang dilakukan oleh manusia. Kemudian akan disusul dengan terjadinya banjir secara berulang-ulang setiap musim penghujan. Pada tahun-tahun berikutnya, banjir terus terjadi yang disusul dengan timbulnya longsoran kecil sehingga menjadi banjir bandang. Sedang di wilayah lain longsor besar terjadi melenyapkan banyak kehidupan. Bencana banjir dan longsor yang terjadi secara berulang-ulang telah mendorong tanaman besar yang tersisa mengalami kematian mendadak karena tercabut akar-akarnya.

    Manusia melakukan pendataran tanah di berbagai wilayah sedangkan alam mendorong keluar banjir bandang dan longsoran. Lambat laun, semua peristiwa ini membuat gunung dan lembah hampir tidak bisa dibedakan sehingga wilayah tersebut menjadi dataran yang sangat luas. Akibatnya, kapasitas penyimpanan air di wilayah tersebut sangatlah tipis. Hanya pohon-pohon tertentu yang bisa hidup dan itupun sangat jarang. Satu-satunya yang sangat subur diwilayah tersebut adalah rumput-rumputan hijau dimana-mana.

    Manusia menebang pepohonan yang tersisa untuk dijadikan bahan bangunan dan kayu api. Sedang ternaknya mulai banyak dan menjadi sangat banyak di tahun-tahun berikutnya. Ini membuat rerumputan dan tanaman kecil yang tersisa di lingkungan tersebut digasak habis oleh mamalia pemakan rumput sampai tidak ada lagi yang tersisa. Saat musim kemarau tiba, tidak ada lagi rumput dan tanaman pertanian palawija mengalami gagal panen.

    Kendisi tanah di wilayah tersebut semakin kering setelah musim kemarau. Hampir tidak ada lagi kehidupan bahkan rumput pun menjadi sangat jarang. Musim panas yang kering semakin panjang di tahun-tahun berikutnya yang teriknya mematikan apa saja. Kehidupan yang tersisa akan dihancurkan dalam angin keras (topan, putting beliung dan badai lainnya). Sedang tanah di tempat tersebut mulai dikuras airnya. Akan timbul retakan di permukaan tanah sebagai tanda tingginya penguapan. Bila keadaan ini terus berlangsung selama bertahun-tahun niscaya apa yang tersisa hanyalah ketandusan dan padang pasir yang sangat luas atau disebut juga gurun.

Kesimpulan

Uang adalah power. Saat uang tidak dibagikan secara adil maka oknum tertentu akan memilikinya dalam jumlah yang sangat besar. Coba bayangkan, apa yang bisa dibeli dengan materi sebanyak itu? Ini bisa menjadi power yang bisa membangun kehidupan tetapi dapat pula menjadi power untuk merusak kehidupan di lingkungan sekitarnya. Tanpa keadilan sosial maka berbagai wilayah di negeri akan menjadi gurun saat keturunan kita yang ketiga dan keempat mulai berjaya.

Itulah hobi manusia sampai sekarang: menata ulang segala sesuatu menjadi versinya sendiri. Kami juga suka melakukan ini tetapi menuangkan kreativitas tersebut dalam bentuk tulisan. Lain halnya bagi mereka yang bermodal tebal. Banyak hal yang bisa dilakukannya dengan uang sebanyak itu. Saking hebatnya, tatanan kehidupan makhluk di sekitarnya dikremasi dari yang hidup menjadi imitasi dengan warna-warni yang megah-megah. Semuanya ini tidak lain karena kita terlalu cepat bosan dengan apa yang dimiliki. Rasa ini terus-menerus membuat indra kita lapar akan hal-hal baru dalam dunia yang semakin sempit. Perkembangan materi yang kita mau sesungguhnya hanya pelampiasan dari hati yang tidak kunjung bahagia jauh dari kepuasan. Oleh karena itu, puaskanlah hatimu dengan melakukan kebenaran dan keadilan agar hati tenang dan indra melunak menikmati hidup apa adanya. Semoga bahagia menjadi milikmu selamanya!

Salam, Manusia mampu
membangun & menghancurkan.
Semuanya itu tergantung dari
keputusan yang kita pilih hari ini
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.