Pendewasaan Manusia Dan Kisah Adam Dan Hawa Di Taman Eden

Pendewasaan Manusia Dan Kisah Adam Dan Hawa Di Taman Eden

Banyak hal di dunia ini yang terhubung satu sama lain. Namun waspadalah, karena ada juga hubung-hubungan negatif yang justru mengarahkan kita pada pikiran kotor yang panas sampai kejam. Kekuatan menghubung-hubungkan pada dasarnya bisa berujung baik tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut dapat menjadi buruk. Semuanya itu sangat tergantung dari sudut pandang yang digunakan saat mengambil kesimpulan. Jika pembawaan pikiran kita negatif maka tujuan analisis akan mengarah kepada sesuatu yang kurang sedap di hati. Namun pikiran positif menciptakan pemahaman yang mungkin bisa saja memekakkan panca indra (tidak enak didengar) tetapi membawa kelegaan dalam hati.

Sampai kehidupan kita menjadi baik, tidak cukup hanya sebentar saja membuat itu. Sebab kebaikan dan kebenaran merupakan kekuatan yang dibentuk dalam pembaharuan hidup. Ini bukan sesuatu yang sudah ada secara otomatis melainkan kita perlu mempelajarinya dari waktu ke waktu. Seperti yang diyakini oleh banyak orang, yang namanya belajar tidak hanya satu-dua tahun. Bukan hanya saat duduk manis di bangku sekolah dan perkuliahan (pendidikan formal). Tidak cukup dengan mengikuti les tambahan dan kursus-kursus yang berjibun banyaknya. Melainkan, belajar menjadi baik dan benar adalah aktivitas seumur hidup.

Nenek moyang kita dahulu belajar dari nol tentang kehidupan. Mereka bisa saja diciptakan Tuhan dalam keadaan dewasa dalam hal ukuran fisik tetapi tidak demikian halnya dalam hal kekuatan otak. Bukti lainnya yang menunjukkan bahwa mereka belum dewasa pikiran adalah ketelanjangan bahkan saking nggak sadarnya, mereka bertemu dengan Tuhan dalam keadaan telanjang. Bukti lainnya adalah ketidakmampuan mengendalikan diri dengan melanggar satu firman saja. Coba bandingkan zaman sekarang, banyaknya peraturan dalam kekristenan, tebalnya sampai beberapa centimeter (Alkitab). Ini belum termasuk aturan-aturan lainnya dalam masyarakat dan dalam bernegara.

Bukti lainnya yang menunjukkan bahwa Adam dan Hawa belum dewasa berpikir adalah pemeliharaan Tuhan yang sangat besar seperti orang tua sendiri. Pernahkah anda bertanya bagaimana Ayah dan Ibu merawat anda sewaktu keecil? Yang namanya anak kecil, tidak pernah dibiarkan sendiri. Sekalipun dibiarkan jalan ke sana – ke mari di dalam rumah: tetaplah ada yang mengawasi dari dekat maupn dari jauh. Semua kebutuhan disediakan ortu, mulai dari makan, minum, pakaian dan lain sebagainya. Demikianlah juga Tuhan terhadap nenek moyang kita: makanan mereka disedikan Tuhan dalam bentuk buah-buahan. Tidak hanya itu saja, Bapa juga menyediakan air yang banyak (sampai empat sungai) untuk memenuhi keperluan mereka.

Tuhan sama sekali tidak menyuruh mereka bekerja di Taman Eden. Sama halnya seperti orang tua pada umumnya, tidak ada yang tega melihat balitanya mengurus diri sendiri tetapi semuanya pasti dibantu sama Mama-Papa. Para bayi ini memang sangat dimanjakan, sampai-sampai abang-kakaknya cemburu terhadap mereka. Bisa jadi, ada beberapa orang tua yang memanjakan momongannya dengan mengikuti semua yang diinginkan anaknya. Saat buah hatingnya ngomel, semua yang mungkin diinginnanya akan diberikannya. Bila tangisannya semakin keras, malah digendongi sambil jalan ke sana – ke mari. Dan masih sangat banyak hal yang mungkin dilakukan oleh orang tua duniawi kepada anak-anaknya, terlebih lagi Tuhan terhadap Adam dan Hawa.

Pada awal zaman, besar kemungkinan, nenek moyang kita tidak dibiarkan sendiri di bumi ini. Melainkan ada makhluk sorgawi (malaikat) yang hidup bersama-sama mereka untuk memberi petunjuk tentang segala sesuatu yang mereka butuhkan. Tuhan adalah orang tua pertama yang merawat bayi besar Adam dan Hawa secara terus-menerus di Taman Eden. Di kala itu, manusia masih suci, layaknya bayi yang imut dan menggemaskan saat digendong. Tidak ada dosa yang memisahkan kedekatan manusia dengan Allah karena kedua belah pihak sama-sama suci. Tuhan melihat bahwa manusia sudah siap menerima perintah dan larangannya. Dalam satu kesempatan lain, Dia memberi perintah sekaligus larangan kepada manusia.

Perintah dan larangan-Nya agar manusia pertama tidak memakan buah yang berada di tengah taman merupakan ujian untuk mengetahui kemampuan fokus dan kepatuhan. Ini adalah perintah yang sangat sederhana, buktinya bisa di ikuti oleh nenek moyang kita di awal-awal. Akan tetapi, semuanya menjadi lebih runyam ketika Hawa diperhadapkan dengan ketergantungannya dengan kenyamanan yang diberikan ular. Pada posisi inilah Iblis mulai bekerja mempermain-mainkan manusia dengan menggoncang sisi nyamannya lewat binatang yang dipelihara oleh manusia itu sendiri. Ibu bangsa-bangsa telah berada di bawah pengaruh hasutan Iblis sehingga membuatnya nekad untuk memakan Buah Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat. Bahkan Adam sendiri pun bisa dikibuli di bawah pengaruh Hawa sehingga memakan-Nya juga.

Pelanggaran terhadap titah Allah yang sederhana menunjukkan sifat manusia pertama yang masih kekanak-kanakan. Mereka belum mampu memegang prinsip hidupnya dan malah lebih terlena godaan kenikmatan dan kemuliaan duniawi di sekitar. Bila Tuhan membiarkan sikap ini maka manusia tidak lagi menganggap ada Tuhan sebab titah-Nya saja diabaikan. Padahal mereka tinggal dekat dalam pantauan dan pengawasan-Nya. Terlebih lagi ketika perintah Tuhan tentang kehidupan bertambah, besar kemungkinan pelanggaran mereka akan semakin bertambah juga. Kenyamanan hidup beresiko tinggi membuat moralitas manusia semakin memburuk. Oleh karena itu, Allah mengusir mereka dari zona nyaman kehidupan agar dapat belajar dewasa dengan bekerja keras dan menanggung sakitnya hidup di bumi ini. Seperti ada tertulis:

(Kejadian 3:6-7)  Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:

Kisah di Taman Eden seperti saat kita menegur anak kecil agar tidak ribut dan uring-uringan tetapi dia tidak peduli dengan pesan yang kita sampaikan. Malah dia melakukan hal tersebut terus-menerus. Seakan-akan saat kita menegurnya, perilakunya semakin menjadi-jadi dan semakin tidak karuan. Ini mungkin terjadi karena anak tersebut tidak memahami perkataan kita atau kita menyampaikannya dengan bahasa yang terlalu kompleks. Sikap kekanak-kanakan tersebut bisa juga terjadi karena kurang fokus menjalani hari. Cara terbaik untuk melatih si kecil agar bisa fokus dan belajar dewasa adalah dengan memberinya tanggung jawab untuk dikerjakan.

Banyak yang meyakini bahwa sifat kekanak-kanakan manusia timbul dari hidup yang bermanja-manja. Ini adalah lumrah bagi seorang balita. Semuanya sudah ada dan sudah lengkap. Apa-apa yang dibutuhkan, tinggal disampaikan lewat kata-kata atau bahasa isyarat saja maka pasti dibelikan. Di satu sisi, anak-anak membutuhkan kenyamanan tersebut di awal-awal hidupnya. Akan tetapi, setelah seorang anak tumbuh menjadi besar, sudah waktunya untuk membatasi kenyamanan tersebut lalu mulai memberinya tanggung jawab recehan (yang sanggup diselesaikannya, sesuai umur) untuk dikerjakan. Bekerja keras dan merasakan sakitnya penderitaan akan mengarahkan seseorang untuk lebih fokus dan bersikap dewasa menjalani hari.

Kesimpulan

Kejadian di Taman Eden bisa juga dihubung-hubungkan dengan keimanan seorang kristen pemula. Di awal-awal percaya kepada Tuhan, iman kita masih kekanak-kanakan. Hasrat terhadap hal-hal duniawi pun sangat besar bahkan bisa dikatakan bahwa kita lebih fokus mencintai dunia ini ketimbang fokus kepada Tuhan. Akan tetapi, iman yang masih kekanak-kanakan itu akan diuji dan diasah saat kita terjun ke dunia luar (di luar diri kita). Disanalah kita diwajibkan untuk bekerja keras dan menanggung pahitnya penderitaan hidup. Semua keadaan ini, semata-mata bukan untuk menghancurkan kita. Melainkan melatih iman kita agar lebih dewasa dengan mengesampingkan kecintaan terhadap materi dan kemulian duniawi. Sehingga bisa lebih fokus kepada Tuhan : melakukan apa yang benar dan adil dari waktu ke waktu.

Melanggar satu titah Tuhan membuktikan bahwa Adam dan Hawa masih berjiwa kanak-kanak. Di awal-awal kehidupan, mereka membutuhkan kenyamanan dan pemeliharaan Tuhan agar siap secara fisik menjalani hidup di bumi yang keras. Setelah tubuhnya berkembang maka Adam dan Hawa perlu mulai belajar menjadi dewasa dengan hidup mandiri di luar pemeliharaan Taman Eden. Demikianlah tiap-tiap manusia, saat masih kecil, kita di Taman Eden keluarga: diawasi dan dipelihara hidupnya oleh orang tua. Akan tetapi, saat kita sudah mulai besar, satu per satu kenyamanan hidup dari orang tua mulai direnggut lewat pekerjaan dan penderitaan yang dialami hari lepas hari. Semua ini, semata-mata agar tiap-tiap manusia bisa belajar menjadi lebih dewasa, baik dalam hal perkataan maupun perbuatan.

Salam, Hanya kenyamanan saja
untuk kanak-kanak.
Yang mau belajar dewasa
bekerja keras
dan menderitalah
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.