Antara Cuek Dan Peduli: Pilih Yang Mana? (Dualisme Kehidupan)

Antara Cuek Dan Peduli - Pilih Yang Mana (Dualisme Kehidupan)

Hidup tidak selamanya seperti matematika. Dalam beberapa kondisi kita bisa membuat kepastian dan ketentuan tentang sesuatu. Akan tetapi, dalam hal-hal lain, kita tidak mampu menentukan dengan pasti, bagaimana harus bersikap? Melainkan ada hal-hal yang kita lakukan sehari-hari yang sifatnya adaptif. Itulah sebabnya, mengapa peraturan di dalam masyarakat hanya menyangkut hal-hal yang umum saja. Sesungguhnya masih sangat banyak hal-hal kecil yang belum di atur dan sebaiknya tetap demikian. Sebab hal-hal kecil tersebut dapat dieskpresikan sesuai dengan momen yang sedang dihadapi. Bila momennya tidak tepat, bisa berasa canggung: di sinilah kita senantiasa diuji.

Ada banyak pilihan yang bisa kita tempuh dalam hidup ini. Seandainya hal tersebut merupakan sebuah ketetapan yang pasti dijalani karena jelas memberi manfaat positif. Akan lebih dini memilih hal-hal tersebut karena semuanya sudah pasti, tidak perlu lagi dipertimbangkan sebab hasilnya pun sudah jelas. Lagi pula ada banyak orang di sekitar kita yang melakukannya. Contoh hal-hal yang pasti bermanfaat adalah makan, minum, istirahat, tidur, kerja dan lain sebagainya. Ini seperti melakukan sesuatu yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab kita. Tentulah tidak ada orang yang mau mangkir dari kewajibannya agar kelak dirinya tidak menderita kelainan alias penyakit ini-itu.

Kasus-kasus

 “Saat kita cuek, eh malah ada yang peduli… Waktu kita peduli, kok malah pada cuek?” Inilah yang kami sebut dengan momen canggung yang pasti pernah di alami oleh tiap-tiap orang. Tetapi tidak perlu terlalu khawatir berlebihan saat menghadapi momen semacam ini, sebab tidak ada yang akan menghukum anda karena kekhilafan tersebut. Budaya ramah tamah merupakan kebiasaan yang paling banyak menempatkan kita dalam situasi yang gantung. Suatu sikon yang membuat kita lambat memutuskan hendak berbuat apa sehingga ujung-ujungnya terlupakan sama sekali. Keputusan yang ditanggungkan apakah kita akan ramah atau tidak malah jadi tidak ramah sama sekali karena lambat menentukan pilihan hingga momennya sedang berlalu.

Alangkah baiknya jikalau keramahan kita sifatnya spontanitas. Seperti layaknya seorang veteran yang sudah terbiasa melakukan suatu aktivitas positif. Tanpa disuruh pun, dia pasti akan melakukannya juga. Artinya, sikap yang sudah terbiasa timbulnya secara otomatis tanpa pikir panjang. Bila waktu kita habis hanya karena memikirkan “ramah nggak ya… ramah nggak ya…?” Ini adalah salah satu akibatnya jika kita terlalu peduli dengan hasil perbuatan baik kita. Menimbulkan banyak pikiran rancu “nanti nggak… nanti dia acuh saja… nanti dia menghindarinya, nanti dan nanti.” Bila kita fokus pada hasil saat berbuat baik niscaya kebaikan kita akan semakin kendur sebab ada begitu banyak hal baik yang kita lakukan dan tidak mendapat balasan apa-apa. Oleh karena itu, pedulilah untuk berbuat baik pada momen yang tepat tetapi cuekin aja hasilnya, terserah mau dijawab/ dibalas atau tidak…

Kejadian-kejadian

Lain halnya saat kita menghadapi sebuah situasi yang cukup aneh walau akrab. Orang lain menyebutnya sebagai distorsi semu (masalah yang ada tetapi sesungguhnya tidak ada). Suatu kasus populer yang cukup tersohor karena dibicarakan dimana-mana. Di satu sisi hati berkata, “sebaiknya kita peduli karena kejadian naas itu.” Akan tetapi, di sisi lain kita berucap, “sebaiknya diabaikan saja karena itu hanyalah sandiwara kehidupan.” Situasi semacam ini sering sekali membuat kita bingung mau berbuat apa? Ujung-ujungnya, keadaan tersebut justru memicu kegelisahan dalam diri sendiri karena terlalu ikut campur urusan orang lain. Artinya, pada berbagai sandiwara yang berlangsung di sekitar, sebaiknya kita tidak perlu berkomentar lebih. Tunjukkan simpati sederhana tidak usah bertele-tele karena hal tersebut bukan urusan kita (bukan tugas/ tupoksi kita). Bahkan diabaikan sama sekali pun tidak masalah.

Ada banyak kerumitan yang kita temui saat menghadapi berbagai sandiwara kehidupan. Menangani hal ini akan menimbulkan kerepotan tersendiri terlebih ketika situasinya berpotensi menyesatkan kita. Ingin rasanya menunjukkan kepedulian tentang peristiwa yang berlangsung itu tetapi enggan melakukannya karena hal-hal tersebut bukanlah pekerjaan kita. Sekali pun kita berkata-kata tetapi tidak ada yang mendengarkan, jadi untuk apa memerhatikannya terlalu dalam? Biarkanlah itu terjadi begitu saja lalu tunjukkan kepedulian cukup dengan mendoakan hal tersebut di dalam hati masing-masing. Agar sedapat-dapatnya setiap yang terlibat beroleh manfaat baik sehingga dapat bersikap positif dalam peristiwa tersebut. Kepedulian kita tidak harus diucapkan dengan kata-kata, mendoakan kebaikan orang lain juga merupakan kepedulian sejati karena bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.

Peristiwa-peristiwa

Berbeda pula penggunaan sikap yang berlawanan ini saat kita sedang menghadapi seseorang yang kurang sepaham dengan kita. Ironisnya menghadapi orang yang menjadi rival kita adalah pengendalian sikapnya. Lawan yang dapat mengendalikan diri dan tidak suka membawa-bawa masalahnya dalam aktivitas kesehariannya adalah rival yang dewasa. Akan tetapi, lawan yang kurang mampu mengendalikan diri dan suka membawa-bawa masalahnya dengan kita dimana pun berjumpa, cenderung menjadi pribadi pengganggu. Saat pertama kali menghadapi musuh macam ini, kita cenderung menjadi jengkel. Oleh karena itu belajarlah mengabaikan gangguan yang ditimbulkannya tetapi jangan mengabaikan orangnya. Artinya, peduli-ramahlah terhadap kehadiran orangnya tetapi jangan pedulikan perilakunya yang kurang enak dipandang/ didengar.

Dalam hidup ini, siapa yang tidak pernah bermasalah? Kita pasti pernah mengalami problem dengan seorang teman. Saat kita terlalu memerhatikan teman yang membuat kita bermasalah akan semakin banyak pendapat negatif yang timbul dari dalam hati tentangnya. Akibat nyata dari kesukaan menjelek-jelekkan orang lain di dalam hati adalah terus berprasangka buruk tentangnya. Akibatnya, persoalan yang timbul bukannya makin kecil melainkan tambah rumit saja. Oleh karena itu, cobalah untuk cuek kepada siapa-siapa saja (identitas) orangnya yang suka membuat gaduh hidup anda. Tetapi peduli-ramahlah kepada siapa saja tanpa terkecuali.

Kesimpulan – Gunakan sikap pada momen yang tepat

Jangan terikat pada pemahaman, “apakah peduli atau cuek itu salah?” melainkan gunakanlah rasa peduli anda pada hal-hal yang baik dan pakailah rasa cuek saat menghadapi hal-hal buruk. Anda bisa mengabaikan kejahatan seseorang tetapi anda harus peduli dengan kehadirannya di sekitar.

Hidup ini syarat dengan dualisme: ada kalanya kita perlu memedulikan, namun ada juga masanya dimana kita sebaiknya lebih banyak mengabaikan. Perbedaan penggunaan keduanya memiliki aspek yang sifatnya sangat adaptif. Sakalipun kami mengatakan begini dan begitu, belum tentu itu berlaku dalam hidup anda sebab besar kemungkinan sikon (situasi-kondisi) yang kita hadapi berbeda. Orang yang terlalu takut khilaf saat berbuat baik cenderung terlalu banyak menimbang-nimbang. Sehingga habis waktu hanya untuk berpikir sedang momen berbuat yang baik itu pun berlalu begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Sadarilah bahwa didikan paling bermakna seumur hidup adalah belajar dari kesalahan. Jadi jangan terlalu cemas saat melakukan kekhilafan receh tetapi pelajarilah sesuatu dari hal-hal tersebut. [Kekhilafan receh bukanlah kesalahan karena melanggar firman Tuhan.]

Salam, Pedulilah
pada saat yang tepat.
Abaikanlah
pada waktu yang pas.
Agar sikap kita
tidak sia-sia belaka
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.