Dimanakah Letak Taman Eden?

Dimanakah Letak Taman Eden

Apa yang kita yakini sangat menentukan seperti apa kehidupan kita. Atau bisa dikatakan bahwa “kita tidak akan lebih baik dari apa yang kita yakini.” Atau bisa dikatakan “sebaik atau seburuk apapun hari-hari yang kita jalani, sangat ditentukan oleh apa yang kita imani.” Kita ambil saja contoh, si A seorang ateis, saat dia didera pengganggu akan melawan balik karena tidak mau kalah dengan musuh-musuhnya. Sedangkan si B punya keyakinan teguh, saat dibayang-bayangi pengganggu, membiarkannya begitu saja, dibiarkannya mereka menang karena hatinya ingin tenang dengan tidak mau bermusuhan kepada siapa pun.

Kira-kira, bagaimana sikap anda saat menghadapi gangguan sosial? Menantangnya secara gentleman? Mungkin bisa juga “mengadukannya kepada pihak yang berwajib” atau “turut mengusiknya agar kapok sehingga segera berhenti” atau “sekonyong-konyong menakuti dan mengancamnya agar berhenti melakukan hal yang memuakkan itu.” Mampukah anda tetap tabah karena meyakin bahwa “itu tidak apa-apa.” Atau mengimani bahwa “itu adalah latihan mental” atau “itu adalah pelajaran hidup” atau “itu adalah lumrah, makanan hari-hari.” Bukankah semua keputusan yang akan anda ambil sangat tergantung dari ajaran-ajaran yang selama ini diimani?

Mari sedikit membahas keyakinan kita tentang bumi di awal masa setelah penciptaan. Timbul pertanyaan, “seperti apa bumi ini di awal masa setelah penciptaan?” Tentulah bumi ini didominasi oleh tumbuhan hijau. Semua dataran di bumi memiliki yang hijau-hijau tanpa terkecuali. Sebab di masa itu, belum terjadi penggurunan di wilayah manapun. Melainkan semuanya masih hutan rimba yang tak terjamah. Lalu di bagian tertentu pada permukaan bumi Tuhan menciptakan secara khsusus, Taman yang disebut Eden untuk menempatkan manusia di dalamnya. Taman ini seolah seperti lembah yang dikelilingi gunung atau perbukitan sebab di sana ada empat sungai yang mengalirinya. Taman ini mungkin terletak di tepi danau atau bisa juga berada di tepi pantai. Dalam hal ini danau atau pantai adalah muara dari keempat sungai di dalam Taman.

Tempat yang sangat menawan berada di Taman Eden. Kita katakan saja bahwa di sana terdapat danau sebagai muara dari keempat sungai yang mengairinya. Di sekitar danau/ pantai itulah terdapat kediaman Adam dan Hawa, yakni nenek moyang kita yang pertama-tama. Tentulah segala macam pohon yang baik dan berbuah terdapat di sepanjang sungai dan di sekeliling danau tersebut. Tetapi, ada satu pohon yang disebut-sebut spesial karena manusia tidak boleh memakan buahnya. Kemungkinan besar saat Tuhan menyampaikan larangan tersebut, pohon itu masih belum berbuah. Ini ditunjukkan oleh ketertarikan hawa terhadap buahnya saat bergumul dengan ular. Sedang Adam sendiri memakan buah tersebut tanpa merasa bersalah karena awalnya tidak tahu berasal dari mana buah itu. Seperti ada tertulis….

(Kejadian 2:6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

Saat Tuhan mengetahui bahwa keduanya telah melanggar perintah, Ia menghukum mereka dengan kutukan nyata. Kutukan yang diberikan Tuhan bukanlah kutukan negatif melainkan suatu petunjuk yang mengarahkan Adam, Hawa dan Ular pada kodrat masing-masing. Memang awalnya hal tersebut kurang enak didengar tetapi lama-kelamaan kita bisa menerimanya karena memahami artinya. Pada dasarnya apa yang dikatakan-Nya adalah jalan hidup manusia itu sendiri. Setiap laki-laki (khususnya suami) akan berlelah untuk mencari nafkah di bumi yang keras. Demikian juga perempuan (khususnya istri) akan berlelah mengurus anak-anak dalam keluarga. Sedang ular sendiri kodratnya adalah menjalar di atas tanah dengan perutnya (bukan melilit di badan manusia).

Kutukan yang diberikan Tuhan menandakan keberdosaan manusia yang tidak lagi layak berada di hadapan-Nya. Taman Eden adalah wilayah yang secara khusus diciptakan Allah hanya untuk orang-orang suci. Adam dan Hawa awalnya masih suci tetapi satu kesalahan saja sudah bisa merusakkan kesucian itu sekaligus memutuskan hubungan kita dengan Sang Pencipta. Bila awalnya, nenek moyang kita dapat secara langsung menyaksikan kebesaran dan kemuliaan Allah Bapa; dosa menjadi jurang pemisah yang kentara antara Allah dan manusia. Ketakutan yang mereka rasakan saat mendengar derap langkah kaki Tuhan menandakan permulaan dari ketakutan yang dialami oleh bangsa Israel saat bertemu Allah di gunung Horeb.

Rasa bersalah adalah ketakutan terbesar di alam semesta. Karena Adam dan Hawa menyadari kesalahannya, itulah yang membuat mereka cemas sehingga enggan untuk menemui Tuhan. Mereka tidak menemui Tuhan karena menyadari dirinya telanjang terkesan mengada-ngada atau cari-cari alasan. Sesungguhnya, keengganan itu timbul karena mereka telah berdosa dengan melanggar larangan-Nya. Mereka sepertinya tahu bahwa setiap pelanggaran ada sanksinya namun enggan menerimanya. Sehingga muncullah niat untuk melarikan diri dari hadapan Allah yang ditandai dengan tindakan bersembunyi. Tetapi manusia tidak mungkin berada di luar jangkauan pengamatan Allah. Di sinilah terbukti bahwa, Allah selalu mengamat-amati manusia, tidak butuh waktu lama bagi-Nya untuk menemukan tempat persembunyian Adam & Hawa di tengah luasnya Taman Eden.

Pada akhirnya, manusia dipisahkan dari kenyamanan hidup yang serba ada di Eden. Selanjutnya mereka harus mengusahakan tanahnya sendiri dengan  bekerja keras sampai berpeluh. Ini seperti memulai hidup dengan awal yang baru. Bila sebelumnya kebutuhan ini dan itu sudah tersedia di sekelilingnya, saat memulai hidup di dunia luar, mereka perlu mengelola tanah menurut keperluan sehari-hari. Tentulah ini bukan perkara yang mudah, biar bagaimanapun mereka harus menemukan jalan hidupnya sendiri berdasarkan petunjuk hamba Tuhan. Manusia yang masih lugu tidak tau apa-apa tentang semuanya itu. Makanya Tuhan mengutus hamba-hamba-Nya untuk mengajarkan mereka segala sesuatu tentang “bagaimana cara hidup di bumi yang keras?”

Kembali ke pertanyaan awal kita, “lantas dimanakah Taman Eden?” Suatu tempat yang pertama-tama dipersiapkan Tuhan untuk menopang kehidupan manusia. Bisa dikatakan bahwa sesungguhnya taman tersebut adalah gambaran dari bumi yang secara khusus dipersiapkan Tuhan untuk menopang kehidupan umat manusia. Tetapi tentulah ada keunggulan khusus di taman tersebut, yaitu merupakan tempat tinggal sekaligus sebagai lahan kebun buah-buahan yang beraneka macam. Semuanya itu telah diatur dan ditempatkan Tuhan di dalamnya sehingga Adam dan Hawa bisa bebas tanpa beban menjalani hidup. Tingkat kenyamanannya sangat mewah yang di dukung oleh keindahan lembah yang membuat suasana selalu sejuk.

Versi Adam dan Hawa di Taman Eden adalah manusia suci, bahkan Allah sendiri menginjakkan kaki di tanah itu. Saat dosa merasuki kehidupan mereka, secara otomatis mereka tidak layaka lagi menginjakkan kaki di tanah suci tersebut. Artinya, taman tersebut secara khusus terlokalisir dari yang lain. Saat mereka diusir dari sana, tidak mungkin hanya pindah tempat saja. Agak tidak mungkin bila pindahnya seperti orang yang pindah rumah beberapa kilometer ke utara/ selatan/ barat/ timur. Sebab mau berapa kilometerpun ke sana atau ke sini, tanah tersebut tetap tanah suci. Artinya, saat Tuhan membuang manusia dari Eden, mereka dipindahkan ke luar pulau/ benua tersebut. Jadi, yang dimaksud dengan Taman Eden adalah satu pulau atau satu benua yang dihuni oleh orang-orang suci.

Ada banyak pulau di bumi ini, kira-kira dimanakah letak taman tersebut? Tentu tempat tersebut tidak terjamah oleh umat manusia. Sebuah tempat di bumi yang terlindungi dan tetap suci sampai sekarang. Satu-satunya tempat yang belum terjamah karena memiliki perisai di muka bumi adalah Kutub Selatan. Tempatnya yang terlokalisir dari benua lain membuatnya sangat cocok menjadi tanah suci di awal penciptaan. Memang ada orang yang mengaku pernah pergi ke sana tetapi mereka tidak bisa melihat bagian dalamnya. Bukankah ini sangat sesuai dengan firman Tuhan yang menyebutkan bahwa Allah menempatkan beberapa Kerub untuk melindungi tempat tersebut (Kejadian 3:24). Seolah balok es raksasa tersebut bagaikan Kerub yang menghalau siapa saja sehingga tidak dapat memasuki daerah tersebut.

Perlu dipahami bahwa pada zaman dahulu kala, bagian-bagian bumi sama dan seiras yang dipadati oleh tanaman yang hijau-hijau. Ada pegunungan dan ada lembah yang kaya dengan air. Tanaman itu sendiri mengandung banyak air, demikian halnya juga hewan menyimpan air dalam tubuhnya. Sedang di dalam tanah, dipermukaan dan di atas udara kaya dengan air. Bumi ini secara merata dipenuhi oleh air yang hadir dalam berbagai bentuk, misalnya mata air, sungai, tanaman, hewan, uap air, awan, hujan dan lain sebagainya. Saat egoisme, arogansi dan keserakahan menguasai manusia, hutan-hutan dieksploitasi secara besar-besaran. Akibatnya, lingkungan tercemar dan rusak yang diiringi dengan musnahnya vegetasi. Saat hal ini terus-menerus berlanjut, mulailah timbul penggurunan berbagai wilayah di bumi.

Coba bayangkan saat gurun sahara dan yang lainnya kaya dengan flora dan fauna. Bukankah tempat itu dahulu kaya dengan kandungan air, baik di atas maupun di bawahnya? Lalu ketika terjadi proses penggurunan, kemana semua air tersebut? Bisa dikatakan bahwa jutaan kubik air yang diperas dalam proses penggurunan suatu wilayah akan menuju ke lautan. Inilah penyebab utama, mengapa banjir super besar sampai melampaui gunung-gunung tinggi dunia, terjadi di zaman Nuh. Artinya, penyebab utama kejadian ini adalah kerusakan lingkungan dan proses penggurunan yang terjadi di berbagai benua.

Awalnya bumi ini berubah panas dimana pemanasan global terjadi hampir di setiap tempat akibat ulah manusia. Akan tetapi, setelah banjir bandang raksasa melanda, segala tempat mengalami pendinginan. Sedang air yang sangat banyak itu terdorong oleh rotasi bumi ke daerah kutub. Kutub selatan alias Taman Eden yang memiliki kemagnetan tinggi menarik lebih banyak air dalam bentuk butiran salju. Bumi tanpa vegetasi membuat terik matahari sangat panas di siang hari sehingga uap air memenuhi atmosfer. Sedangkan di malam hari uap air berubah menjadi salju yang dibawa lari oleh angin yang mengarah ke daerah kutub. Jutaan kubik salju yang dibawa angin kutub, ditimbun terus, yang lama-kelamaan mengeras membentuk balok es raksasa seperti sekarang ini. Balok es yang terbentuk itu seperti tebing yang menjulang tinggi dimana dasarnya menyimpan rahasia besar.

Kesimpulan

Seperti biasanya, kami hanya menebak berdasarkan analisis sederhana saja. Jika anda percaya dengan tulisan ini silahkan saja, tetapi bagi yang meragukannya, silahkan cari sendiri tempat lain yang menurut anda cocok. Hanya saja letaknya yang jauh dari wilayah lain membuat wilayah Kutub Selatan terkesan spesial dibandingkan dengan wilayah bumi lainnya yang saling dekat-dekatan. Lagipula bukankah ini sesuai dengan firman yang disampaikan nabi Musa, dimana wilayah tersebut masih terletak di bumi namun tidak tersentuh oleh manusia manapun. Menurut kami, balok es raksasa itu akan selalu ada kecuali semua daerah di bumi menjadi hijau agar mampu menarik dan menyimpan air di wilayahnya masing-masing. Sehingga suatu saat di masa depan, es di kutub akan mencair untuk mengisi air laut yang berkurang secara bertahap.

Salam, Taman Eden
adalah tempat
orang-orang suci.
Wilayah yang
tidak terbuka
karena manusia
masih hidup
dalam arogansi
dan selalu serakah
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.