Berharap;, Seberapa Sering Kita Berharap Sesuatu Menjadi Nyata?

Berharap; Seberapa Sering Kita Berharap Sesuatu Menjadi Nyata

Harapan adalah tebakan di masa depan. Apakah anda atau kami bisa memastikan bahwa hal tersebut pasti terwujud kelak? Tidak ada satupun manusia yang mengetahui apa yang akan terjadi di hari esok dan hari esoknya lagi dan seterusnya. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah mulai aktif mengusahakan apa yang terbaik yang bisa kita perbuat, segeralah realisasikan hal-hal positif itu. Teruslah jalani hidup walau penuh dilema, menyikapi berbagai peristiwa dengan logika positif. Tetapi menjauhkan diri dari penelaahan situasi penuh sandiwara yang kerap kali dilakukan orang tertentu untuk menyesatkan pandangan kita tentang kebenaran. Tidak ada bisa kita lakukan selain tetap hidup dan memberanikan diri menghadapi apa yang akan terjadi, entah itu menguntungkan atau merugikan kita.

Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk selalu berharap dari waktu ke waktu. Orang tua telah menarik angan-angan kita untuk mempercayai bahwa suatu saat ini-itu akan terjadi di masa depan. Asalkan kita berusaha melakukan yang terbaik dan mendengar nasihat mereka, pasti tujuan tersebut menjadi milik kita. Tetapi nyatanya apa yang terjadi? Seberapa banyak di antara teman-teman dewasa sekalian yang pekerjaannya saat ini sesuai dengan apa yang dicita-citakannya di masa kecil? Kami sendiri telah menyimpang dari apa yang pernah kami cita-citakan dan rasanya itu tidak masalah. Lagi pula kami sendiri tidak tahu persis apa yang kami impikan saat kecil dulu.

Tepat atau melenceng harapan di masa lalu dengan kenyataan di masa kini, jelas bukan masalah; buktinya sampai sekarang kita masih hidup. Sehingga kita bertanya-tanya, “apakah ada arti harapan?” Atau bahasa yang lebih jelasnya adalah, “apakah ada manfaat berharap?” Bila kita sendiri menanyakan hal tersebut dari dalam lubuk hati yang paling dalam, akan menemukan bahwa “itu omong kosong.” Ada juga yang berkata bahwa “itu hanyalan isapan jempol mainan anak kecil.” Di satu sisi ada yang berkata “itu adalah seperti gombal yang terlupakan.” Di sisi lain ada yang meyakini bahwa “itu hanyalah pembicaraan dalam mimpi yang terbawa-bawa di dunia nyata.” Sebagian lain mengatakan bahwa “itu adalah masa depanmu atau masa depan keturunannmu yang berikutnya.”

Menurut kami, ini bisa jadi penyemangat dalam banyak situasi dan kekuatan yang menimbulkan sukacita. Dua manfaat inilah yang membuat banyak orang sering sekali menyebutnya selama menjalani hari agar bisa menjalani hidup dengan semangat. Mereka mengulang-ulangnya di dalam hati sehingga membuat dirinya sendiri sangat meyakini hal tersebut. Mungkin dia pernah merasa dihiburkan oleh pengharapan tersebut dikala keterpurukan menimpa hari-harinya. Kesenangan di tengah duka ini pastinya sangat memukau. Hanya saja rasa senang tersebut bisa berujung luka karena kecewa, yang diharapkannya tidak kunjung terwujud, menyimpang dari target bahkan gagal.

Memang kegilaan masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang menjadikan pengharapan sebagai penyemangat kebaikannya. Misalnya, kata hatinya akan bertutur: “saya baik agar saya masuk sorga.” Ada alasan lainnya, “saya baik agar besok bisa menang.” Ada yang berkata, “saya buat baik banyak-banyak agar hari-hari ke depan hoki terus bahkan jakpot.” Sadarilah bahwa menjadikan harapan sebagai landasan untuk berbuat baik adalah suatu tindakan yang beresiko melemahkan bahkan menghilangkan kebaikan hati. Mengapa ini bisa terjadi? Sebab harapan kita akan mendapatkan untung setelah berbuat baik tetapi terbukti di waktu selanjutnya malah tidak dapat apa-apa (nihil). Jika luka kacewa semacam ini terulang-ulang, suatu saat dirinya enggan berbuat baik.

Ada lagi harapan yang digunakan dengan cara yang salah, “mengikut Tuhan karena berharap mendapatkan barang ini-itu.” Awalnya ini bisa menjadi penyemangat sehingga kita semakin giat untuk pergi beribadah mendahului waktu. Melakukan amal sebanyak-banyaknya kepada siapa pun agar Tuhan mendengar doa permohonan kita. Membantu orang-orang yang kesusahan di sekitar kita sambil mengiming-imingi diri sendiri, “keinginanmu pasti didengar Tuhan!” Lama setelah semuanya itu berlalu, apa yang dinanti-nantikannya malah tidak terwujud. Melakukan usaha-usaha luar biasa untuk mewujudkannya tetapi tidak juga tercapai. Ujung-ujungnya kecewa berat kepada Tuhan sehingga kerajinannya kendur. Bahkan kebaikan hampir tidak lagi mengiringi langkah kakinya seperti sebelumnya di hari-hari semangat.

Berusahalah untuk menghentikan praktek berharap yang kurang tepat. Sebab pemikiran penuh harap memang kesannya cukup menggairahkan di awal-awal. Mungkin di pertengahan pun masih agak seru. Akan tetapi, akhirnya bisa tragis tatkala apa yang kita iming-imingi menjadi asap hilang tanpa jejak. Salah satu jalan aman lainnya saat memiliki harapan kepada hal-hal spesifik/ khusus adalah tidak mengumbarnya kepada orang lain. Memang mengungkapkan keinginan besar kita di masa depan kepada orang lain, cukup membanggakan lagi menyenangkan. Akan tetapi, sadarilah bahwa semuanya itu berpotensi menjadi rasa malu karena terbukti tidak jadi-jadi. Sebaiknya, pegang sendiri harapanmu, simpan di dalam hati sendiri dan tidak perlu terlalu membahas-bahasnya melainkan sibuklah positif.

Kesimpulan

Pada akhirnya, kita sampai pada pertanyaan besar seperti yang tertulis pada judul kepala tulisan ini, “seberapa seringkah kita berharap?” Sebaiknya, jangan terlalu sering, cukup lakukan itu saat komunikasi dengan Tuhan saja (saat berdoa). Jangan jadikan harapan sebagai penyemangat kebaikan, tetapi berbuat baiklah karena Tuhan telah lebih dahulu baik kepada anda. Hindari mengasihi Tuhan agar beroleh keuntungan ini-itu, tetapi kasihilah Tuhan karena Dialah kebutuhan utama, tumpuan jiwa kita. Tidak perlu senang-senang menyombongkan diri dengan mengumbar kesuksesan kita di masa depan. Melainkan jadikanlah kebenaran dan keadilan sebagai sumber sukacita yang selalu dapat diraih dari waktu ke waktu. Milikilah pengharapan yang sifatnya general/ umum agar terwujud setiap hari = puas setiap hari. Anda bisa mengharapkan apa saja di dunia ini tetapi jangan fokus dengan pengharapan tersebut. Sebab fokus sejati hanya ada di dalam Tuhan, termasuk saat belajar dan saat bekerja melakukan yang positif.

Salam, Berharap itu mudah,
mewujudkannya yang susah.
Berharaplah kepada Tuhan,
bukan kepada manusia,
tetapi bekerja samalah
dengan baik
bersama orang lain
untuk mewujudkan
tujuan-tujuan itu
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.