Bergantung Kepada Tuhan Tetapi Jangan Ketergantungan Terhadap Dunia Ini

Bergantunglah Kepada Tuhan Tetapi Jangan Ketergantungan Terhadap Dunia Ini

Kita tidak dapat membayangkan seberapa rusaknya kehidupan ini tanpa Tuhan. Karena kedagingan di dalam diri manusia lebih cenderung mengarah ke hal-hal negatif. Seolah sifat bawaan ini membuat manusia terkesan menghancurkan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Mengandalkan kekuatan sendiri malah meningkatkan sifat egois yang arogan membuatnya merasa bahwa orang lain tidak penting namun diri sendirilah yang paling penting. Padahal di dunia ini kita perlu bersikap bijak agar tidak selalu egois tetapi tidak juga selalu bersama-sama. Semua yang kita butuhkan adalah mengekspresikan sikap sesuai dengan waktu dan tempat yang tepat.

Saat keadaan lagi baik-baiknya, manusia lebih banyak bergantung kepada dunia ini. Keuangan sedang baik, hubungan dengan orang lain lagi baik, pekerjaan meningkat membaik, lingkungan hidup sangat ramah dan lain sebagainya. Seolah-olah kita merasa bahwa seluruh dunia adalah kawan kita. Kita yakin akan hal tersebut karena keadaannya memang dirasakan demikian. Kita tidak butuh yang lain sebab lingkungan sudah membuat diri ini sangat nyaman. Di sisi lain, kenyamanan terus-menerus membuat mental ini tidak setegar dahulu. Tingkat kewaspadaan pun cenderung menurun sehingga masalah-masalah sepele saja sudah dapat mengacaukan pikiran. Ini menunjukkan bahwa kenyamanan yang kita nikmati kadarnya berlebihan sehingga cenderung meracuni kehidupan membuat kepribadian menjadi rapuh.

Sadar atau tidak kenyamanan yang kita rasakan cenderung membuat diri ini ketergantungan kepada dunia. Dengan demikian, kita butuh lebih banyak uang untuk membayar berbagai kesepakatan agar kenyamanan itu bisa segera terwujud. Misalnya kita membutuhkan sejumlah dana untuk membeli kenikmatan yang membuat lidah bergetar (makanan-minuman). Membutuhkan lokasi tempat tinggal yang strategis namun jauh dari keramaian dan kebisingan. Memerlukan tembok-pagar yang tebal berkelas agar kekacauan di luar tidak penetrasi ke dalam rumah. Lebih sering berbelanja agar hati selalu senang menjalani hidup. Semuanya ini, pada akhirnya menuntut lebih banyak uang untuk dicari lagi dan lagi.

Kebutuhan yang tinggi akan uang yang banyak merupakan suatu pertanda bahwa kita terlalu ketergantungan dengan hal-hal yang ditawarkan oleh dunia ini. Mungkin hal tersebut memang bukan masalah saat kita memiliki usaha logis sebagai sumber pendanaan yang memadai. Akan tetapi, bila sumbernya tidak jelas, bagaimana caranya kita membiayai semuanya itu? Jangan-jangan ada niat untuk menghalalkan segala cara agar keinginan menyamankan diri terpenuhi. Dengan demikian kita menyadari bahwa pada masanya sifat ketergantungan kepada hal-hal duniawi, akhirnya membawa manusia pada perilaku yang menyimpang. Belum lagi masalah keinginan yang cenderung semakin meningkat nilainya (cost) dari waktu ke waktu. Bila tidak mampu mengikuti peningkatan nilai nafsu maka kita akan mudah sekali jenuh menjalani hidup ini (bosan hidup).

Kita butuh dunia ini tetapi terlalu bergantung kepada dunia membuat kita dengan mudahnya ditarik dalam pengaruh materialisme yang dibawa oleh orang-orang yang ada di sekitar kita. Seolah ini menunjukkan bahwa kedekatan kita kepada siapa pun dapat mengarahkan kita untuk ikut-ikutan dengan kebiasaan mereka, entah yang baik atau buruk. Terlebih ketika kita tidak punya tempat bersandar lain, besar kemungkinan segala sesuatu tentang orang tersebut dikopi-paste secara otomatis. Padahal keadaan ini justru berpotensi dapat menghancurkan kepribadian baik yang kita miliki. Oleh karena itu, batasi kebiasaan bergantung terus-menerus kepada orang-orang duniawi agar kita bisa berpikir selektif dan mengambil apa yang perlu saja. Sedangkan sikap yang kurang baik disisihkan dan dilupakan.

Sikap yang terlalu candu terhadap dunia ini menunjukkan bahwa kita hanya manusia konsumtif yang menerima apa saja yang dibagikan oleh sistem. Tidak ada kreativitas untuk mengembangkan potensi di dalam diri sendiri karena terlena oleh hal-hal duniawi yang gemerlapan. Saat orang-orang di sekitar berlaku baik, kita pun menjadi orang baik. Akan tetapi, ketika orang-orang di dekat kita mulai melakukan hal yang aneh-aneh, kita pun ikut-ikutan melakukan hal aneh tersebut. Padahal tanpa sadar, aktivitas tersebut beresiko merusak diri sendiri atau merusak lingkungan atau membahayakan orang-orang tertentu dalam masyarakat. Oleh karena itu, dalam hidup ini kita harus memilih yang terbaik di antara yang baik agar sikap tidak salah kaprah merembes kemana-mana. Agar sedapat-dapatnya kita tidak merugikan orang lain, lingkungan sekitar dan juga diri sendiri.

Kesimpulan

Candu terhadap dunia mematikan otak tetapi bergantung kepada Tuhan menghidupkan pikiran sehingga lebih selektif dan kritis menjalani hidup.

Selama hidup di dunia ini, kita perlu kritis dan selektif menanggapi rupa-rupa sandiwara yang berlangsung di sekitar. Untuk membangun sikap yang terbiasa menyaring segala sesuatu, yang dibutuhkan adalah otak yang selalu aktif. Saat kita belajar dan sewaktu sedang bekerja, pikiran menjadi aktif. Agar pikiran dapat selalu aktif dan waspada, yang kita butuhkan adalah aktif fokus kepada Tuhan, bekerja dan belajar. Saat kita bergantung hanya kepada Tuhan saja, itu artinya bersandar kepada firman-Nya. Saat pikiran tetap fokus memuliakan Allah, kecerdasan pikiran akan meningkat. Kemampuan otak untuk menyaring informasi dapat memilah-milah mana bagian yang dapat diambil dan mana pula bagian yang bagusnya diabaikan saja.

Salam, Candu kepada Tuhan
otomatis positif.
Candu kepada dunia
otomatis konsumtif.
Silahkan tentukan
maunya anda secara selektif
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.