Pribadi TUHAN Allah Semesta Alam, Ada Berapa Allah Di Sorga?

Pribadi TUHAN Allah Semesta Alam, Ada Berapa Allah Di Sorga

Dalam sebuah kebaktian kami pernah bertanya kepada diri sendiri: ada berapa Allah di sorga? Secara konsep tritunggal, dari bumi ini dan dari mata-pikiran yang fana ini, kita mengenal Tuhan dalam tiga pribadi namun sesungguhnya mereka hanya satu. Kita mampu memahami Tuhan bukan karena kita hebat dan bukan pula karena kita pintar juga bukan karena kita pernah melihat Allah dengan mata kepala sendiri. Melainkan semuanya ini terjadi hanya karena Ia berkenan untuk dipahami lewat firman-Nya. Sebab Ia tidak mau bagian diri-Nya dalam hidup kita hancur sia-sia ditelan zaman yang bobrok/ rusak/ jahat. Kita perlu bersyukur atas kemurahan hati-Nya sehingga kita selamat sampai saat ini. Bukan sekedar itu saja, kita juga telah dianugerahkan keamanan, kemakmuran dan damai dimanapun berada.

Allah adalah segalanya” atau bisa dikatakan “segala sesuatu berasal dari Allah

Pada bagian ini, kami mencoba untuk memahami “seperti apa Allah kita?” Agar diri sendiri tidak bingung dengan konsep tritunggal yang sangat kompleks maka kami akan menjelaskan semampunya. Sebelumnya kami ingin mengingatkan kita tentang konsep “Allah adalah segalanya.” Konsep ini bermula saat masa penciptaan dimana Allah menciptakan alam semesta dengan firman yang keluar dari mulut-Nya. Bersamaan dengan firman yang terucap itu, keluarlah nafas kehidupan yang membentuk-aktifkan segala sesuatu dalam aneka ciptaan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Sekali pun apa yang diciptakan itu berbeda bentuk dan fungsinya tetapi pada dasarnya masing-masing mengambil peran bersama-sama demi menjalankan suatu sistem yang berputar seimbang, yakni alam semesta.

Ada bagian diri Tuhan dalam tanaman hijau-hijauan dan ada nafas Tuhan dalam hidup binatang di hutan belantara. Demikian juga dalam diri manusia ada sebagian dari diri Allah. Masing-masing makhluk tersebut mengambil peran untuk menjalankan fungsinya sehingga terciptalah ekosistem bumi yang memelihara setiap kehidupan di dalamnya. Kita membunuh binatang bukan berarti melukai Allah melainkan kita memanfaatkan pemberian Yang Maha Kuasa untuk memenuhi kebutuhan. Kita bersalah saat membunuh binatang kalau tidak memakan dagingnya. Apalagi kalau matinya karena dipermain-mainkan atau diajak adu tanding dengan hewan lain: kita jelas bersalah karena memanfaatkan sebagian dari diri Allah untuk memuaskan nafsu sesat yang berlebihan.

Kemampuan Bapa menciptakan kehidupan hanya lewat perkataan-Nya/ nafas-Nya merupakan bukti kedahsyatan diri-Nya. Mungkin kita awalnya berpikir bahwa YHWH membentuk segala sesuatu dengan tangan-Nya, tetapi nyatanya Dia bahkan tidak memakai tangan-Nya melainkan hanya dengan sepatah kata yang keluar dari dalam mulut-Nya saja, segala sesuatu ada. Satu-satunya makhluk yang diciptakan menggunakan tangan-Nya adalah manusia. Sekali pun demikian, tetap saja Tuhan menggunakan nafas-Nya untuk menyalurkan kehidupan kepada manusia pertama. Manusia diciptakan menurut gambar-Nya sehingga bisa dikatakan bahwa ada kemiripan yang kentara antara kita dan Sang Pencipta. Selain itu, manusia dianugerahkan kecerdasan dan kehendak bebas oleh Sang Khalik sejak dari awal mula kehidupan.

Sadar atau tidak, seluruh alam semesta dihidupkan oleh nafas Allah. Sudah sepantasnya kita memanfaatkan segala potensi alamiah secara terukur agar tidak terkesan berlebihan. Menggunakan segala sesuatu dipimpin oleh Roh kebenaran yang penuh syukur di hadapan Allah. Sebab pada waktunya kelak, Tuhan akan meminta pertanggung jawaban dari kita. Ini seperti perumpamaan tentang talenta yang Tuhan titipkan kepada hamba yang berbeda (Matius 25:14-30). Pada akhirnya, ketika tuannya pulang, ia menanyakan tindak lanjut hamba-hambanya terhadap talenta yang diberikan. Orang yang tidak mengembangkan talentanya saja dihukum Tuhan. Terlebih lagi kalau sampai ada hamba yang merusak sama sekali potensi alamiah lingkungan yang dianugerahkan Allah. Bukankah itu hukumannya sangat berat?

Ada tiga pribadi Allah yang kita pahami lewat pekerjaan-Nya di bumi

Kembali lagi pada tujuan awal kita, yaitu menggambarkan “seperti apa pribadi Allah di sorga? Adakah Tuhan yang kita kenal terdiri dari tiga orang sebagaimana kita memahaminya lewat fiman?” Sebelum lanjut kepada model penggambaran Allah, kita perlu memahami terlebih dahulu, “mengapa harus ada tiga pribadi Allah? Bukankah satu saja sudah cukup? Kenapa bukan Allah Bapa saja yang bertindak langsung sehingga mata kepala kita menyaksikan kedahsyatan-Nya?= sehingga langsung percaya kepada-Nya yang melakukan hal-hal yang ajaib itu?” Allah Bapa itu suci dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya suci. Manusia berdosa tidak akan tahan dekat-dekat dengan-Nya. Seperti halnya ketika Ia hadir di gunung Horeb sehingga seluruh Israel bergetar ketakutan dihadapn-Nya.

(1) Bapa berkenan menolong kita tetapi kita tidak tahan dekat-dekat dengan-Nya sebab kedahsyatan-Nya tinggi luhur dan suci tak ada bandingannya dengan manusia fana yang penuh dosa. Oleh karena itu, cara Tuhan untuk menyadarkan manusia adalah dengan menyatakan diri hanya kepada orang tertentu saja. Agar sedapat-dapatnya orang tersebut menyadarkan orang-orang sebangsanya untuk meninggalkan jalan kejahatan. Namun manusia yang adalah hamba Tuhan tersebut memiliki kelemahan dan melakukan dosa juga sehingga pelayanannya kurang maksimal dan kurang menjangkau seluruh jiwa-jiwa.

(2) Manusia yang menjadi hamba Tuhan memiliki kelemahan dan melakukan dosa juga. Sikapnya pada aspek tertentu jelas bertentangan dengan pesan firman yang dibawakannya. Sehingga pelayanannya sempat terkotori oleh kejahatannya. Keadaan ini membuat pesan-pesan firman yang disampaikan belum seutuhnya  mencerminkan kehendak Tuhan. Dua keadaan inilah yang mendorong Allah langsung turun tangan menyadarkan manusia dari dosa. Hanya saja dalam hal ini Allah berusaha memanusiawikan diri-Nya dengan tampil sangat sederhana dalam pribadi Yesus Kristus. Pribadi Yesus inilah yang pada akhirnya menjelaskan lewat berbagai perumpamaan tentang “bagaimana menjadi anak Allah, seorang kristen sejati?”

Setelah pekerjaan Yesus Kristus sukses menyampaikan maksud Allah dalam kehidupan manusia, Allah hendak berlaku adil kepada semua orang. Ia hendak memberi  pengertian secara langsung tentang kebenaran dan keadilan kepada tiap-tiap orang tanpa terkecuali. Itulah sebabnya, pribadi Allah yang awalnya terkonsentrasi pada Yesus Kristus di bumi, kembali ke sorga. Tuhan menarik diri kembali ke sorga bukan untuk meninggalkan manusia sama sekali. Melainkan hendak mempersiapkan diri-Nya untuk hadir dalam diri setiap manusia secara adil dalam wujud Roh Kudus. Sehingga setiap pribadi yang percaya kepada-Nya mendapatkan satu bagian Roh Kudus sama seperti orang percaya lainnya.

Ada berapa pribadi Allah di sorga?

Tahukah anda bahwa Tuhan adalah Esa adanya? Saat masa penciptaan, hanya ada Allah saja tetapi satu kali Ia mendeskripsikan dirinya sebagai “Kita” (Kejadian 1:26). Bentuk kata “Kita” mengekspresikan pribadi Allah menurut pekerjaan yang akan dilakukannya. Ada juga yang mengatakan bahwa bentuk kata “Kita” adalah simbol dari keluarga dimana tidak ada satu orang pun manusia yang dapat hidup sendiri (manusia sebagai makhluk sosial). Allah itu Esa adanya tetapi manusia memahami-Nya dalam tiga pribadi. Lewat tiga pribadi yang pekerjaannya berbeda itulah kita mengerti tentang karya Allah dalam kehidupan kita masing-masing.

Kemampuan Allah membagi-bagi dirinya sangatlah kompleks untuk dipahami oleh manusia fana. Kami akan mencoba menguraikannya sedikit saja berdasarkan penalaran dan beberapa catatan dalam Alkitab. Ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia adalah orang yang duduk disebelah kanan Allah Bapa, ini tidak seperti duduknya raja-raja dunia. Dimana ada orang yang berada di sebelah kirinya dan ada orang yang berada di sebelah kanannya. Melainkan “duduk di sebelah kanan” dalam hal ini bisa diartikan bahwa “Yesus Kristus berada di dalam Allah Bapa.” Artinya, tidak ada pribadi lain di sebelah-Nya melainkan di dalam-Nya.

Beberapa bukti yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus di sorga posisinya berada di dalam diri Allah yaitu seperti firman yang berbunyi:

(Yoh 14:11) Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.

Salah satu petunjuk kontroversial yang membuktikan hal ini adalah perkataan Yesus sendiri yang menyatakan bahwa diri-Nya benar-benar makanan dan darah-Nya benar-benar minuman. Sebab di sorga seolah-olah Allah memakan Yesus Kristus sehingga Ia berada di dalam YHWH alias bertahta di sebelah kanan Allah Bapa.

(Yohanes 6:55)  Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Perlu kita pahami bahwa bahwa Allah Bapa memakan Yesus Kristus bukan karena lapar seperti layaknya manusia makan-minum lalu besoknya dibuang. Allah tidak seperti manusia melainkan ini menunjukkan ke-Eesaan Tuhan. Dimana Kristus tidak terpisahkan melainkan bertahta bersama-sama dengan Allah di sorga. Sedang kita tahu juga bahwa Yesus Kristus adalah firman dan kebiasaan memakan firman telah dinubuatkan oleh rasul Yohanes dalam penglihatannya,seperti ada tertulis.

(Wahyu 10:9)  Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: “Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu.”

.

Inilah salah satu alasan mengapa Yesus Kristus lebih besar dibandingkan dengan para malaikat di sorga, karena Dia berasal dari dalam diri YHWH sendiri. Sedangkan malaikat, sama seperti makhluk lainnya yang berasal dari hembusan nafas YHWH.

Sampai sekarang pun kebiasaan memakan Yesus Kristus masih kita praktekkan, yaitu lewat kebaktian Perjamuan Kudus. Roti dan anggur yang kita konsumsi seolah-olah menunjukkan ke-Esaan Allah yakni Bapa memakan Yesus Kristus sehingga Dia tinggal di dalam Bapa. Ini juga menunjukkan bahwa saat kita bertemu Allah kelak di sorga, tidak ada lagi Bapa, Anak dan Roh Kudus melainkan yang kita lihat langsung adalah Tuhan seorang (hanya satu).

(Yohanes 6:54-56)  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Kemampuan Tuhan membagi-bagi dirinya sudah terbukti sejak dari masa penciptaan. Seluruh alam semesta yang ada, seperti yang dapat kita lihat dengan mata kepala sendiri merupakan bagian dari nafas-Nya. Yesus Kristus yang adalah firman seolah-olah seperti makanan dan minuman yang tahta-Nya berada dalam perut Allah. Sedangkan Roh Kudus ada di kepala Tuhan. Ini seperti peristiwa turunnya Roh Kudus di atas murid-murid Yesus dalam wujud lidah api yang menyala-nyala. Seperti ada tertulis.

(Kisah Para Rasul 2:1-3) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;  dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.  Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Perjamuan Kudus adalah salah satu rahasia dari simbol ke-Esaan Tuhan. Sampai sekarang pun kita mempraktekkannya untuk mengingatkan kita agar selalu memakan dan meminum firman dari hari ke hari. Yesus Kristus adalah firman Allah yang hidup, inilah makanan rohani kita setiap hari. Tentu saja orang yang memakan firman akan tumbuh menjadi manusia yang mulai bisa melepaskan perbuatan daging dari kehidupannya. Demikianlah setiap orang yang percaya dan dewasa dihadapan Tuhan tidak lagi menunjukkan sifat-sifat yang syarat dengan kebinatangan. Melainkan mengedepankan cinta yang utuh kepada Allah dan kasih yang adil terhadap sesama manusia dari waktu ke waktu.

Kesimpulan

TUHAN Allah semesta alam maha besar, maha mulia, maha dahsyat, maha hebat dan maha segala-galanya. Seandainya Dia diumpamakan sebagai sel  tunggal maka Yesus Kristus adalah inti selnya, Bapa adalah sitoplasmanya sedangkan Roh Kudus adalah dinding selnya.

Kami belum pernah melihat Allah tetapi kami menyadari betapa besar dan nyata hadirat-Nya lewat ciptaan-Nya dan pengalaman pribadi yang kami rasakan langsung hari demi hari. Pembahasan kami tentang pribadi Allah di sorga hanyalah analisis sederhana yang masih butuh dikembangkan. Oleh karena itu, baiklah mulai sekarang kita jangan lagi menganggap bahwa ada tiga pribadi Allah di sorga melainkan hanya ada satu (Esa). Manusia memahami-Nya dalam tiga pribadi karena pekerjaan-Nya yang berbeda-beda yang dapat dikategorikan sebagai Bapa, Yesus Kristus (Anak) dan Roh Kudus.

Salam, Dari bumi
sebagai manusia fana
kita melihat tiga Allah.
Tidak banyak Allah di sorga.
Melainkah hanya ada satu saja,
yaitu TUHAN Allah semesta alam
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.