Aku Benci Kota Ini – Ingin Jalan-Jalan Ke Luar Kota Bahkan Pindah Ke Kota Lain

Ada begitu banyak film yang menampilkan kisah kehidupan manusia yang sangat tidak senang dengan tempat tinggalnya. Mereka seolah depresi berada disitu karena berbagai alasan. Ada yang cita-citanya ada di kota lain, ada yang memiliki kenangan buruk, ada yang memiliki musuh bebuyutan, ada yang ingin melepas penat ke kota yang lebih besar dan lain sebagainya. Semua keadaan itu membuatnya ingin ke luar kota tetapi sayang hal tersebut masih belum terwujud sehingga muncullah statmen “Aku benci kota ini.” Tentu saja secara tidak langsung film-film tersebut mengajak kita juga yang menontonnya untuk membenci tempat dimana kita berasal.

Ini adalah saat-saat yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang yang mengalami tekanan berat dalam hidupnya. Bisa jadi, ini dinantikan oleh subjek utama (korban) dan bisa juga turut dinantikan oleh subjek sekunder (pelaku onar). Lantas bagaimanakah kelanjutannya? Siapa yang benar-benar keluar/ pindah? Orang yang berada di sisi jahat atau mereka yang berada di sisi baik? Mana kami tahu! Biarlah waktu yang membuktikan semuanya itu. Jadi, sebagai kenang-kenangan dan bahan pertimbangan bagi Bapak-Ibu dan saudara yang mengalami statement/ kondisi yang sama. Kami akan memberi beberapa pencerahan agar kita tidak lagi benci melainkan betah tinggal tetap hidup bahagia di kota sendiri.

Kita hidup cuma sementara saja di dunia yang fana ini. Tujuan akhir kita adalah sorga yang sungguh jauh lebih baik dari bumi tersayang. Namun ada beban besar yang perlu kita tanggung, baik secara pribadi maupun kelompok demi menuju hidup dalam kekekalan. Masalah yang kita hadapi inilah yang bisa-bisanya menimbulkan rasa sakit dalam setiap langkah kaki. Seorang pemula yang pernah didera persoalan hidup dapat merasakan yang namanya sakit bahkan setelah persoalan tersebut selesai berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian. Kepahitan hidup yang tak kunjung hilang inilah yang sering menyebabkan pikiran kacau hingga timbul stres dan niat untuk meninggalkan tempat kaki kita berpijak saat itu juga. Akan tetapi mereka yang mampu bertahan dan didera cobaan sejuta kali: niscaya terbiasa dan sakitnya pun tereduksi bahkan tidak ada sama sekali.

Soal-soal kehidupan yang kita hadapi bersama di dalam kelompok (organisasi) memang kapasitasnya sangat besar. Tetapi karena dikerjakan bersama-sama, akhirnya selesai juga. Lain halnya dengan masalah yang kita hadapi secara personal, biasanya kapasitasnya kecil-kecil akan tetapi lebih sering terjadi. Menurut anda dimana yang lebih mudah, menyelesaikan persoalan organisasi atau persoalan pribadi? Biasanya persoalan pribadi adalah recehan yang selalu ada setiap hari, namun persoalan organisasi datangnya sesekali saja. Lagi pula ada SOP untuk mengatasi masalah kelompok, sedangkan pergumulan pribadi diselesaikan berdasarkan pengalaman hidup seseorang. Pengalaman tersebut bisa berupa jumlah masalah serupa yang dihadapi dan informasi yang diperoleh (misalnya dari internet, radio dan lain-lain).

Manusia tidak meninggalkan kotanya karena persoalan yang dihadapi oleh organisasi tempatnya bekerja. Sebab biasanya, soal-soal semacam ini sudah bisa dihadapi bersama-sama. Terlebih ketika di tempat kita ada senior yang sudah pengalaman tinggi dan belajar sampai ke luar daerah (pelatihan), gejolak itu bisa diatasi dengan mengedepankan gotong royong. Selain itu, persoalan yang datangnya berulang-ulang kali, pasti akan dimungkinkan untuk diatasi sedini mungkin. Memang tindakan pencegahan sebelum kesalahan terjadi lebih baik daripada tindakan rehabilitasi setelah kesalahan itu terjadi. Akan tetapi, perlu kita sadari dan maklumi juga ketika suatu kesalahan dibiarkan terjadi, bisa jadi itu adalah bagian dari sandiwara organisasi untuk membuat anggota-anggotanya tetap sibuk positif.

Sekalipun masalah-masalah kecil saja yang datang menghampiri kehidupan kita: jangan sepele! Justru tantangan personal inilah yang akan lebih memberatkan hidup jika kita tidak mampu menanganinya dengan baik. Umumnya gejolak itu berupa gangguan sosial, permainan komunikasi dan kebohongan yang menyesatkan pikiran. Dalam hal-hal recehan inilah manusia kerap kali terjebak dan tidak mampu bertahan. Mereka sangat tidak tahan menghadapi buruknya kenyataan; padahal sudah ada ikhlas sebagai obatnya. Ada yang justru memusuhi orang-orang terdekatnya; padahal Tuhan sangat merekomendasikan agar kita mengasihi musuh. Orang tertentu terjebak dalam pelampiasan yang menyimpang sehingga semakin disikut oleh masyarakat. Yang lain-lain malah melukai dirinya sendiri dan beberapa di antaranya melarikan diri ke luar kota untuk menjauh dari masalah.

Sadar atau tidak, yang namanya pergumulan hidup tidak akan pernah ada ujungnya. Baik kecil – besar, muda – dewasa – tua, perempuan – laki-laki dan segala jenis manusia di muka bumi pasti mengalaminya dan akan terus menjalaninya. Pada dasarnya persoalan pribadi yang kita hadapi tidak mematikan tetapi kita sendirilah yang sering mematikan semangat motivasi untuk menghadapinya secara positif. Saat persoalan itu datang bertubi-tubi, beberapa kehilangan akal sehatnya sehingga cenderung mencari pelarian untuk melampiaskan amarah atau demi menghilangkan deritanya. Yang lebih tragisnya lagi adalah saat tidak ada satu pun orang terdekat di sekitar yang tidak menyakiti kita. Entah bagaimana seolah-olah semua orang berupaya menjatuhkan kita sehingga hati pun semakin susah membahas-bahas derita tersebut.

Sadarilah kawan, saat kita tidak mampu bersahabat dengan siapa saja dan dengan apa saja, mereka cenderung menjadi musuh kita. Perasaan buruk ini otomatis ada tanpa disadari. Dalam hidup ini, sehebat apa pun keadaan kita, hindari bersikap pasif terhadap orang di sekitar. Biar bagaimana pun, kita perlu berbagi dengan mereka untuk menjalin kedekatan personal. Tidak perlu sampai berbagi uang karena mereka mungkin lebih beruang (kaya) dari kita. Melainkan mulailah dengan berbagi keramahan kepada siapa saja. Sopan-santun terhadap sesama merupakan salah satu usaha nyata yang kita lakukan untuk bersahabat dengan siapa saja. Selain itu, kita bisa membangun persahabatan tersebut dengan tidak membiarkan pikiran menjelek-jelekkan siapapun dan mendoakan kebaikan orang lain.

Apa kendala terbesar saat mengasihi musuh? Merasa tidak dihargai dan tidak dihormati orang lain. Sebab namanya juga musuh, besar kemungkinan mereka tidak menanggapi kebaikan kita. Bila sikap acuh tak acuh lawan difokuskan pada perasaan kurang dihargai orang lain: besar kemungkinan pikiran menjadi stres. Saat diabaikan jangan sibuk merasa tidak dihormati melainkan sibukkan pikiran dengan memuliakan Tuhan, belajar dan bekerja positif. Jika hati menyesal dan menyalahkan anda: katakakan pada diri sendiri, “saya ramah kepada Tuhan dengan menyalurkannya lewat sikap ramah kepada orang lain. Saya tidak butuh balasan dari manusia sebab saya tahu bahwa saya akan menuainya di akhir zaman kelak!” Atau dengan mengatakan “Saya ramah kepada sesama karena Tuhan telah terlebih dahulu ramah mencukupi kebutuhan saya dari waktu ke waktu.” Bisa juga dengan, “Harga diri dan kehormatan adalah sampah, yang terpenting adalah saya sudah berbuat baik sesuai perintah Tuhan, terserah responnya bagaimana.” Silahkan cari yang lain kawan… Ada banyak sugesti positif lainnya untuk mengatasi pahitnya penyesalan karena diabaikan.

Kesimpulan

Keadaan kita akan semakin terpuruk saat tidak mau mendengarkan rekomendasi tertinggi Tuhan Yesus Kristus: “kasihilah musuhmu!” Sadar atau tidak, ada faktor iblis (kedagingan) di hati manusia yang membuat orang ini-itu terbanting satu sama lain. Faktor pembanting inilah yang cenderung membuat kita memusuhi orang lain. Oleh karena itu, kita perlu mengimbangi kedagingan tersebut dengan cara berupaya bersahabat dengan siapa saja. Sikap ini dimulai dari dalam hati yang tidak menjelek-jelekkan siapa pun, mendoakan kebaikan sesama dan bersikap ramah kepada semua orang. Tentu bukanlah perkara mudah untuk bersahabat dengan semua orang, dibutuhkan latihan jutaan kali sampai kita mahir melakukannya. Salah satu resiko tersohor dari ketidakmampuan bersahabat dengan siapa saja adalah pernyataan: “aku benci kota ini, ingin rasanya jalan-jalan keluar bahkan pindah ke kota lain!”

Salam, Puncak sikap
enggan mengasihi musuh:
“saya benci kota ini!”
Sebelum itu terjadi,
bersahabatlah dengan siapa saja
sekalipun sikap mereka
kurang bersahabat kepada anda
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.