+7 Sikap Saat Sial, Apa Yang Anda Lakukan Di Waktu Terburuk?

Sikap Manusia Saat Sial, Waktu Terburuk Mengiringi Langkah Kaki Kita

Saat pikiran memimpin kita, logika ada di depan sehingga setiap tindakan cenderung terpimpin dan terarah pada hal-hal positif. Kita hidup seperti manusia biasa pada umumnya. Walau memiliki kelebihan sana-sini, mampu menyesuaikan diri dan tidak terlalu menonjol karena tidak ada niat hati untuk “show power” di hadapan orang lain. Pada dasarnya, mudah sekali menjadi orang baik saat sikon-nya (situasi dan kondisi) biasa-biasa saja. Secara otomatis, keadaan di luar diri kita yang tenang turut pula mempengaruhi suasana hati yang turut menjadi tenang. Terkecuali bila kita sedang mengalami serta belum terbiasa (1) menghadapi gagalnya pencapaian hasrat (kecewa), (2) tertekan mental karena persoalan hidup dan (3) rasa bersalah terhadap seseorang/ sesuatu hal.

Situasi dan kondisi yang akan kita hadapi di masa depan, sungguh penuh dengan rahasia. Tidak ada satupun teknologi mutakhir yang bisa membaca atau memprediksi apa yang akan menantang kita kelak. Terkecuali bila kita telah diberitahu tentang beberapa jadwal ujian dari instansi tertentu, misalnya ujian tengah semester/ kenaikan kelas yang akan dihadapi oleh anak-anak sekoleh dan ujian praktek yang akan dihadapi oleh anak kuliahan. Intinya, sesuatu yang sudah direncanakan oleh seseorang atau lembaga tertentu, mungkin akan kita ketahui. Akan tetapi, siapakah yang tahu tentang rencana Tuhan di dalam kehidupan kita? Memang rencana-Nya selalu mendatangkan kebaikan. Tetapi, kita yang belum terbiasa terkadang merasakannya buruk.

Tindakan kita saat menyadari betapa sial dan buruknya suatu hari

Kadang-kadang aneh lagu-lagu kehidupan manusia selama hidup di bumi. Mungkin dalam keadaan normal terlihat biasa saja. Akan tetapi, bagaimana jadinya sikap kita saat hari-hari berada di bawah titik nadir kehidupan? Mampukah kita mempertahankan sikap-sikap positif yang sejak dari awal diadopsi? Atau jangan-jangan jalur baiknya telah kita lupakan karena terlalu fokus terhadap masalah yang ada di depan mata. Amnesia di saat-saat genting semacam ini mungkin saja terjadi bila kita terlena terhadap nyaman dan mudahnya hari-hari yang dijalani. Oleh karena itu, kami mengajak semua pembaca untuk mengingat lagi ke belakang saat hari terburuk terjadi, apa yang anda lakukan? Berikut selengkapnya.

  1. Marah-marah tidak jelas.

    Saat hari sial melanda kita. Kulit hati kita yang terbiasa menikmati hal-hal yang manis, jadi terkejut. Akibatnya, kita menjadi bom yang telah dipicu ledakannya sehingga membakar orang-orang yang ada di sekitar kita. Amarah yang meluap membuat kata-kata kasar membakar hebat orang ini dan itu. Keadaan akan semakin memburuk ketika lawan bicara tidak mau kalah dan membalas setiap ejekan yang keluar dari mulut ini.

  2. Lempar sana-sini.

    Kita sudah berusaha menjadi orang yang baik dimana pun berada. Tetapi keburukan tiba-tiba menyambar dari dalam sudut aplikasi yang menggantung di sudut smartphone yang disayangi. Singkatnya aplikasi tersebut seolah-olah berjalan tersendak-sendak dan susah menampilkan konten yang biasanya ada. Naasnya hal tersebut tidak hanya terjadi di satu aplikasi, melainkan aplikasi lainnya juga turut mandek. Sontak saja, kita yang baru pertama kali mengalami hal tersebut, jengkel abis! Sampai-sampai melempar smarphone di tangan sambil berkata “hape sialan, rusaknya kok bareng-bareng!”

  3. Hancurkan ini-itu.

    Kita sedang mengerjakan suatu tugas yang melibatkan praktek langsu. Merangkai ini-itu sedemikian rupa sehingga jadilah sebuah karya dengan corak yang lumayan. Akan tetapi entah bagaimana, ada satu titik noda kotor yang membuat hasilnya terkesan jelek. Kita yang amatiran, berusaha mati-matian untuk menghilangkan noda tersebut. Akan tetapi, yang terjadi malah gangguannya semakin melebar sampai-sampai telodor tangan ini merusak total karya tersebut dengan penuh emosional.

  4. Hapus ini itu.

    Ada seorang teman yang sudah dianggap sebagai sahabat dan cukup dekat dalam keseharian seorang pria. Teman yang lebih dari teman karena tidak sedikit momen spesial yang dilalui bersama. Suatu saat pria ini ingin meningkatkan status pertemanan menjadi lebih intim tetapi yang bersangkutan malah lari tak mau bicara lagi. Diri sendiri (pria itu) tidak bisa melakukan apa-apa; yang tinggal hanyalah penyesalan karena tinggi pengorbanan yang tercurah saat bersama gadis tersebut (utamanya korban materi). Dia stres sekaligus malu selama berhari-hari hingga pada akhirnya memutuskan untuk menghapus jejak gadis itu dalam kehidupannya dengan pindah ke kota lain.

  5. Makan ini-itu.

    Itulah manusia, saat satu sisi dalam hidupnya sedang memburuk maka ia akan mencari yang baik di sisi lain. Buat sebagian orang, melampiaskan kekesalan hati dengan mengonsumsi ini-itu bisa meredam amarahnya. Ada juga orang yang mencari kenikmatan lain saat satu jalur kehidupannya sedang dalam keadaan menyakitkan. Makan dan minum adalah satu jalur lain dalam hidup ini yang dapat diraih dengan mudah asalkan anda punya modal yang mencukupi (uang). Bila hati tidak kenyang dengan kebahagiaan maka bisa jadi perutlah yang dikenyangkan untuk merasakan kesenangan. Sayang, semua acara makan-makan ini hanya sesaat saja. Justru kalau makan terus-menerus beresiko menjadi penyakit.

  6. Bersungut-sungut.

    Kita merasa bahwa telah menjadi orang yang terbaik dimana pun. Berpikir bahwa kita telah melakukan yang terbaik dalam banyak kesempatan yang ada. Akan tetapi, saat tiba hari penilaian, kita malah menjadi salah satu kandidat dengan nilai terburuk. Ini tidak bisa diterima, padahal kita sudah berusaha semaksimal mungkin lebih dari orang lain tetapi hasilnya benar-benar tidak memuaskan. Akhirnya, di luar kegiatan saat curhat dengan teman, kita mencurahkan segala isi hati dan kekecewaan terhadap ini serta itu. Menilai sikap para juri yang berat sebelah alias tebang pilih dan merasa bahwa kita adalah korban dari buruknya sistem dalam masyarakat.

  7. Mendendam (menjadi musuh bebuyutan tersembunyi yang suka digangguin).

    Kita menjalani hari-hari biasa dengan normal. Berupaya untuk membuat segalanya asyik lewat sikap yang santai hadapi hari. Sayang, datangnya masalah bisa menyambar dan mendorong jatuh mental kita sejauh beberapa meter di bawah permukaan tanah. Kita yang biasanya suka menganggarkan diri sendiri malah dijatuhkan dengan cara yang sangat menyakitkan oleh sahabat sendiri. Seperti teman makan teman: orang yang dipercayai malah berkhianat. Kisah menyakitkan ini tidak pernah hilang dari dalam hati dan banyak dibahas-bahas saat suasana sunyi-sepi. Setiap kali bertemu dengan orang tersebut, rasa dendam di hati berdenyut membesar sehingga membuat kita tidak bisa fokus mengerjakan yang baik. Bahkan kerap kali menjadi pribadi pengganggu demi menggelisahkan lawan.

  8. Fitnah sana-sini.

    Prasangka pada waktu-waktu tertentu baik adanya. Sebab ini bisa digunakan untuk lebih hati-hati menjalani hari. Akan tetapi, prasangka buruk yang dibeberkan benar-benar berdampak destruktif dalam kehidupan kita. Karena kita terlalu berhasrat melihat kawan yang sekaligus lawan terjatuh, membuat kita kehilangan kendali atas realita kehidupan. Apa yang berupa prasangka sesungguhnya baru terjadi di dalam pikiran kita. Ini adalah dugaan yang mungkin terjadi atau tidak di dunia nyata. Apabila kita membuka informasi tentang dugaan tak jelas itu kepada sesama, yang notabene belum Ini bisa menjadi fitnah terhadap orang lain. Membeberkan kecurigaan kita kepada sesama justru beresiko menambah beban hidup karena tingginya rasa bersalah.

  9. Melukai diri sendiri.

    Waktu sial memang datangnya tak disangka-sangka. Kita sangat mengharapkan bahwa hari ini akan menjadi baik. Sayangnya hal tersebut tidak kunjung terwujud sebab ada-ada saja masalah yang kita temui di jalan. Karena hilang pengharapan, kita putus asa menghadapi soal-soal yang datang bertubi-tubi. Seolah tidak ada pegangan hidup, orang yang putus asa bisa saja melukai diri sendiri karena muak dengan hidupnya yang penuh kemelut di sana-sini. Keburukan yang datang silih berganti tidak mampu dipandang dari sudut positif sehingga menyesali kehidupan dan berakhir dengan melukai diri sendiri.

  10. Melakukan kejahatan.

    Ada orang yang waktu sialnya malah dilampiaskan dengan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Seolah mencari pelarian dengan melakukan keburukan lalu menganggap bahwa hal tersebut menyenangkan. Padahal, lambat laun dia sedang dalam proses menghancurkan diri sendiri. Kesenangan sesaat yang berpotensi menghancurkan anda adalah menggunakan narkoba, melakukan seks bebas, mengisap rokok dan mengonsumsi minuman keras. Kenikmatan semacam ini, resikonya tidak dirasakan saat itu juga melainkan akan tertimbun dan menggunung hingga menyebabkan petaka bagi diri sendiri.

  11. Berdiam diri.

    Waktu buruk bisa terjadi di masa-masa kita sedang rapuh. Ini membutuhkan banyak energi demi menyelesaikannya. Sekalipun sudah banyak waktu yang terkuras karena menghadapi arus pencobaan yang tidak kunjung berhenti. Namun ada masanya dimana semuanya itu kembali terulang. Orang muda yang tertimpa hal-hal buruk tersebut, memilih untuk mengambil waktu sendiri. Berdiam diri dan bersekutu dengan Tuhan sambil merenungkan segala peristiwa yang kurang menguntungkan itu. Semuanya ini semata-mata dilakukan untuk menunggu datangnya inspirasi dari Tuhan sehingga masalah-masalah kita bisa terselesaikan tepat pada waktunya.

  12. Sibuk sana-sini.

    Bagi mereka yang sudah terbiasa mengenyam hari buruk dan hari baik silih berganti akan beroleh pengalaman memadai untuk mengatasi hal tersebut. Mereka tidak lagi fokus pada soal-soal yang terus bergulir di kanan dan kirinya. Melainkan mereka lebih memilih untuk tetap sibuk dengan aktivitas positif. Hari sialnya akan ditanggapi biasa saja karena hal tersebut telah terjadi berulang-ulang kali. Ia telah mengenyam banyak rasa sakit sehingga keadaan buruk tersebut tidak sampai melemahkan hati dan tidak juga membuat emosinya sampai meledak-ledak. Dia yakin bahwa di sela-sela aktivitasnya yang positif itulah, Tuhan berkenan memberi inspirasi untuk menjawab persoalan hidupnya yang rumit.

  13. Dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Betapa senangnya hati saat hari-hari dimana keberuntungan datang, seolah indahnya sinar pagi yang cemerlang hanya untuk kita. Ini adalah masa-masa keemasan yang telah kita dokumentasikan dengan baik di dalam pikiran. Lantas, apa jadinya hari-hari kita saat cahaya mulai meredup dan gelap-gulita memenuhi sekitar? Saat hari sial telah tiba, sanggupkah kita untuk menanggung tekanan penderitaan yang menyertainya? Atau jangan-jangan sikap kita mulai amburadur, emosi meledak-ledak, prasangka buruk menghantui hari, penyesalan berlarut-larut, kesedihan  berhari-hari dan berbagai respon negatif lainnya. Berilah kesempatan kepada diri sendiri untuk menyelami semua yang terjadi sambil membawanya di hadapan Tuhan. Moga-moga di tengah kesibukan kita yang positif, Bapa Yang Kekal berkenan memberi insipirasi.

Salam, Sial atau untung,
baik atau buruk,
sesungguhnya sama saja.
Terbiasalah
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.