7 Alasan Harga Diri Tidak Ada Artinya, Lebih Baik Lakukan Apa Yang Benar & Adil

Alasan Harga Diri Tidak Ada Artinya, Lebih Baik Lakukan Apa Yang Benar & Adil

“Manusia lebih banyak menikmati daripada memberi. Lebih banyak orang yang konsumtif daripada orang yang produktif.” Benarkah kedua pernyataan ini? Jika benar maka itu artinya seseorang menjalani hidup dengan tidak seimbang karena terlalu konsumtif. Namun jika salah, itu artinya keseimbangan telah memenuhi kehidupan anda, teruskanlah kawan. Pe nilaian kita terhadap sesuatu dapat memengaruhi tindakan selanjutnya. Oleh karena itu, adalah bagus bagi kita untuk menilai segala sesuatu dari sudut pandang positif logis. Artinya, seburuk apapun keadaan yang kita hadapi, pasti ada satu sisi dimana itu bisa membawa manfaat baik dalam kehidupan pribadi lepas pribadi. Terkecuali dalam beberapa keadaan, kita lebih baik tidak melakukannya untuk sesuatu yang konyol.

Sama halnya seperti saat seseorang membahas kepada kita tentang harga diri. Sesungguhnya, frasa yang satu ini memiliki dasar pemikiran yang kurang logis karena kata-kata “harga” hanya digunakan untuk menilai barang dan jasa yang biasanya diperdagangkan. Sedangkan manusia jelas tidak bisa disamakan dengan barang dagangan yang hanya dapat memuaskan nafsu sesaat saja. Seharusnya kekuatan kita baik otot maupun otak tidak diperuntukkan mencari harga diri. Tujuan semacam ini adalah terlalu murahan bagi seorang manusia yang sesungguhnya mampu melakukan hal-hal yang lebih berarti seumur hidupnya. Apa lagi yang bisa membawa arti dalam hidup ini selain melakukan apa yang dikehendaki oleh Sang Kreator Sejati, Bapa Yang Kekal?

Faktor yang menyebabkan berharga-tidaknya diri ini tidak ada artinya

Defenisi – Harga diri sama artinya dengan gengsi atau nafsu yang arogan yang merupakan kemewahan, kenyamanan, kemudahan dan kehormatan tertinggi yang dimiliki oleh seseorang. Frasa ini tidak sama dengan menghargai hidup/ menghargai sesuatu. Sebab orang yang menghargai sesuatu melakukan yang terbaik terhadap sesuatu tersebut. Sedangkan harga diri berkisah tentang cara kita dan/ atau orang lain menyanjung keberadaan diri sendiri.

Apa yang dimaksud dengan harga diri? Bahkan defenisinya kadang membuat kita bingung. Kalau ini dihubung-hubungkan dengan gengsi, berarti sangat identik dengan nafsu yang arogan. Jalas bahwa tidak ada suatu standar pasti soal gengsi tetapi biasanya dihubungkan dengan kemewahan, kenyamanan dan kehormatan tertinggi yang dirasakan tiap-tiap orang. Ini adalah salah satu nilai yang tertular dari zaman raja-raja yang memiliki gengsi tinggi dibandingkan kebanyakan orang di wilayahnya. Inilah lebihnya seorang raja, ratu dan kaum bangsawan lainnya dibandingkan dengan rakyat jelata. Kami akan menjelaskan sebisanya tentang, “alasan mengapa gengsi tinggi ala konglomerat ini tidak ada faedah positifnya, berikut selengkapnya.

  1. Harga diri berubah-ubah (tidak terstandar).

    Sama halnya saat kita ke pasar. Bertanya tentang harga satu barang ke satu toko ke toko lainnya, kadang-kadang ada perbedaan nilai. Demikian juga dengan gengsi, selalu berbeda untuk porsi masing-masing orang. Kalau menurut orang ini tingginya pas tetapi bisa saja menurut orang lain terlalu rendah. Biasanya tinggi-rendahnya dipengaruhi oleh kemapanan hidup seseorang. Bisa seseorang semakin makmur kehidupannya, sudah pasti harga dirinyapun turut meningkat tinggi. Biaya yang dikeluarkan untuk memperolehnya pun turut naik tergantung kemampuan finansial masing-masing pribadi.

    Keadaan semacam ini jelas menimbulkan kesimpang-siuran. Bisa-bisa menimbulkan sakit kepala tanpa alsan. Tetapi, coba lakukan apa yang baik dihadapan Tuhan dan di antara sesama manusia, mungkin keberadaan anda akan dirindukan oleh orang lain.

  2. Bukan sebuah kewajiban.

    Tiada orang yang datang menuntut anda untuk memilikinya sebab tiada standar pasti yang ditetapkan. Ini bukanlah suatu kewajiban yang harus dipenuhi melainkan hanya suatu hasrat lokal yang bisa timbul pada orang ini tetapi tidak pada orang itu. Sehingga jelas bahwa tidak ada yang menghukum anda karena tidak mampu memenuhi harga diri sendiri.

    Tidak demikian dengan kebenaran. Ini adalah suatu nilai yang wajib dimiliki oleh tiap-tiap orang. Sebab segala sesuatu tentang kedekatan intim yang utuh kepada Tuhan dan kasih yang adil terhadap sesama manusia sudah ada aturannya.

  3. Merupakan nilai yang dituntut oleh diri sendiri atau kelompok lokal.

    Tidak adanya standar terhadap nilai ini membuatnya berlaku secara pribadi atau sebatas dalam kelompok kecil. Seseorang bisa saja merasa berharga setelah memakai ini atau itu. Merasa dirinya cukup anggun setelah melakukan ini atau itu. Tentu hal-hal tersebut hanya berlaku untuk dirinya seorang. Misalnya lagi adalah, apa yang berharga dari kelompok Pramuka selain mengikuti setiap acara yang diadakan organisasi dan memenuhi setiap tuntutan yang ditetapkan bersama. Tentu saja harga diri untuk kelompok ini berbeda dengan untuk kelompok itu.

    Sekali pun masing-masing organisasi memiliki aturan internal yang berbeda, lazimnya hal tersebut tidak bertentangan dengan kasih yang utuh kepada Allah dan kasih yang adil kepada sesama. Jadi, mampu melakukan apa yang benar dimanapun berada, membuat keberadaan kita bisa diterima oleh orang lain. Sekalipun ada juga pihak yang kurang menyukainya: itulah tantangan hidup!

  4. Merembes menjadi materialistik.

    Bila kita sudah memulai pembicaraan tentang harga diri, tidak putus-putusnya pembahasan terhadap hal-hal tersebut. Sebab bisa jadi, “apa yang berharga dihubung-hubungkan dengan apa yang bernilai.” Sejumlah orang akan mencari sebanyak-banyaknya hal yang menurutnya cukup berharga. Biasanya penilaian ini berdasarkan nilai materi terhadap sesuatu. Tentu saja semakin tinggi suatu gengsi maka kebiasaan membeli sesuatu pun semakin dekat dengan yang mahal-mahal. Seolah mampu membeli yang mahal-mahal membuat hidupnya senang-senang seru. Padahal barang sama-saja, manfaatnya pun sama tetapi hanya harganya saja yang berbeda.

    Kebenaran tidak menuntut materi. Anda tidak harus memberikan uang banyak kepada Tuhan dan sesama baru dikatakan benar. Melainkan mulailah melakukan hal-hal baik dari yang kecil, misalnya lewat doa, nyanyian pujian kepada Tuhan dan ramah tamah terhadap sesama.
    Kapilalis verssus sosialis

  5. Lebih banyak menuntut.

    Ini sama saja dengan mengharuskan orang lain memperlakukan kita begini dan begitu. Saat berada di sekitar kita, menuntut orang lain untuk berbuat dengan sebaik- baiknya. Bila memungkinkan, memperlakukan kita dengan lembut dan ramah sekalipun diri sendiri kadang cuek-cuek aja. Tetapi, pas giliran orang lain yang cuek, kita dengan mudah mengecapnya sombong karena tidak menghargai keberadaan kita. Keadaan ini mungkin bisa terjadi dalam masyarakat kapitalis yang bertingkat-tingkat yang mana orang-orang atas menuntut agar lebih dihargai oleh masyarakat bawah.

    Lain halnya saat melakukan apa yang benar. Kita cenderung kurang berwenang untuk mengharuskan seseorang berlaku benar, tetapi hanya berwenang sebatas mengingatkannya saja. Lagi pula kebenaran erat hubungannya dengan kepuasan hati sehingga mustahil untuk menjauhinya sama sekali.

  6. Menjadi sombong dan melupakan hal-hal baik.

    Bila menghargai orang lain adalah suatu keharusan maka kaum tua akan lebih banyak mendapatkan penghargaan dari orang-orang yang lebih muda. Jika keadaan ini dibawa-bawa sampai menimbulkan kebanggaan. Semata-mata penghargaan yang dibanggakan ini telah dijadikan sebagai sebuah kesombongan yang tersembunyi. Sifat sombong ini bisa membuat terlena dan berpotensi mengacaukan dan pola pikir manusia. Ada kecenderungan menganggarkan diri dan menganggp diri hebat dari sesama. Akibatnya, kita bisa berlaku sewenang-wenang terhadap orang tertentu karena menganggapnya lebih rendah bahkan lebih hina dari diri sendiri.

  7. Kita jadi rapuh dan mudah stres.

    Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa ini adalah nilai yang bukan kewajiban. Artinya, orang tertentu bisa melakukannya sedangkan orang lain tidak melakukannya. Mungkin karena kita adalah kapitalis, bisa mengontrol orang-orang yang di bawah kita. Mengharuskan mereka untuk menghargai kita sebaik-baiknya dimana pun bertemu. Kita hanya bisa memberi press kepada bawahan kita saja. Padahal, setiap hari ada begitu banyak orang yang bertemu dengan kita. Bisa saja beberapa di antaranya terkesan kurang menghargai diri ini karena memang mereka bukanlah anak buah kita. Akibatnya, kita bisa stres karena menyadari bahwa kita tidak bisa mengendalikan segala sesuatu. Bahkan ini bisa berujung pada perang mulut karena menuntut orang lain secara berlebihan untuk melakukan sesuatu yang bukan kewajibannya.

Kesimpulan

Harga diri adalah nilai hidup yang rancu karena tidak memiliki suatu standar universal sehingga bisa diterjemahkan berbeda-beda oleh masing-masing orang. Kita tidak bisa menggantungkan hidup pada berharga tidaknya sesuatu karena hal tersebut tidak penting. Melainkan yang terpenting dalam hidup ini adalah berusaha untuk melakukan apa yang baik dan benar. Hindari melandaskan sikap demi memperoleh harga diri yang tinggi! Melainkan dasarilah setiap tindak-tanduk anda untuk mengasihi Allah sepenuhnya dan menyayangi sesama layaknya diri sendiri. Lakukanlah apa yang bermanfaat untuk kemuliaan nama Tuhan dan untuk kebaikan orang-orang di sekitar anda: itulah yang membuat hari-hari kita berarti.

Salam, Harga ini-itu bisa berbeda-beda
untuk masing-masing orang.
Kadang membingungkan
karena tidak ada kepastian.
Lebih baik bersandarlah
kepada kebenaran.
Ini adalah nilai
yang jelas dan pasti
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.