Antara Kebenaran dan Kenyamanan

Perlu anda pahami bahwa terdapat dua kenyamanan dalam hidup ini: pertama kenyamanan materi dan kedua kenyamanan hati. Kita tidak bisa hanya memenuhi satu saja lalu mengabaikan sama sekali yang lainnya. Melainkan kita perlu menyeimbangkan kedua hal tersebut. Saat kita berusaha nyaman dengan diri sendiri berarti ada niat yang tulus untuk menerima apa adanya besar-kecilnya uang yang dimiliki. Sebab di sisi lain, kita tahu betul bahwa harta benda yang ada pada kita merupakan hasil jerih-lelah sehari-hari yang dicari dengan cara yang benar. Dua kenyamanan ini, jika sudah kita seimbangkan mampu mendatangkan sukacita alami walau kebanyakan hari-hari kita terpapar oleh stagnasi kehidupan.

Segala sesuatu telah terhampar dihadapan kita secara serentak, walau ada juga waktunya yang datang hanya sepihak dan pihak berikutnya datang kemudian. Kita memiliki panca indra untuk mulai mengumpulkan informasi seputar hal-hal yang diamati. Lalu pikiran mulai membuat sebuah kesimpulan, dikategorikan kemanakah hal-hal yang kita saksikan itu? Ada yang bisa kita golongkan dengan mudah dan cepat. Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa yang memiliki struktur yang cukup rumit. Akibatnya, beberapa orang memilih menunda untuk menyimpulkan peristiwa tersebut. Tidak ingin terburu-buru dan salah kaprah, ada yang lebih memilih untuk menunggu datangnya hari baik saat cuaca cerah.

Seperti halnya saat kita diperhadapkan dengan pilihan-pilihan penuh kontroversi. Kita sebaiknya tidak menanggapinya secara terburu-buru agar menemukan dasar teori yang bagus dengan sudut pandang yang tepat. Sama halnya seperti saat kita diarahkan untuk memilih apa yang terutama. Sebab dalam hidup ini, ada banyak hal-hal baik yang terpapar lembut di hadapan kita. Hal-hal itu sangat menarik dipandang-pandang dan sangat menggoda saat didengarkan juga sangat lembut saat diraba-raba. Sudah sepantasnya semua orang menyukai pesonanya, bahkan orang awam berkata “hanya orang bodoh yang tidak menyukai hal-hal semacam itu.” Lalu, bagaimana jadinya keputusan kita saat diperhadapkan dalam pilihan yang syarat dilematis?

Ada orang-orang tertentu yang menawarkan kepada kita sebuah konsep lama yang seharusnya ditinggalkan sejak awal. Tetapi, bersamaan dengan itu diapun menawarkan imbalan yang wow bila mau mengikutinya. Kita dipaksa-paksa untuk tidak berpikiran maju sambil menerima sejumlah imbalan yang memukau. Ini jelas tawaran yang tidak masuk di akal, hati nurani kita sangat paham akan hal tersebut. Namun hadiah yang ditawarkan begitu menggoda. Adakah kita mampu menolak hal negatif dan mengabaikan kenyamanan yang menyertainya? Atau jangan-jangan hati yang tergiur materi lebih memilih jalan yang salah demi memuaskan panca indra yang liar? Semua tergantung dari keputusan masing-masing orang, inilah misi kita dan harap untuk mempertimbangkannya baik-baik.

Dalam banyak pilihan hidup yang kita jalani: kita suka dengan jawaban yang mendatangkan keuntungan. Pilihan yang menguntungkan itu bisa jadi sudah kita tahu dari awal atau bisa juga belum tau sama sekali. Lantas bagaimana jadinya bila pilihan yang mendekati kebenaran malah tidak mendatangkan untung? Bisakah kita tetap konsisten dijalan yang benar padahal tidak dapat apa-apa dari sikap tersebut? Lantas di sisi lain ada tawaran yang nilainya tidak benar-benar amat, tetapi telah diikutkan dengan keuntungan materi yang luar biasa besar. Bagaimana keputusan kita dan apa yang akan kita pilih, itu tergantung dari seberapa paham kita terhadap nilai yang kurang benar tersebut.

Tidak peduli, suatu nilai benar atau tidak, yang menentukan setiap keputasan kita adalah “apa yang selama ini kita inginkan.” Mungkin kalau kita bertanya sama anak-anak: pilih bon-bon atau bekerja merapikan rumah? Dia pasti lebih memilih permen ketimbang bersusah-susah kerja. Atau bisa juga saat mengajak anak untuk melakukan sesuatu, pasti dia sukanya melakukan sesuatu yang ada hadiahnya. Artinya, anak kecil wajar bila tidak bisa membedakan antara materi atau kebenaran. Tetapi, bagi yang sudah dewasa, hindarilah membuat pilihan seperti seorang anak kecil yang hanya fokus menginginkan dan mengejar hal-hal materi saja layaknya anak di bawah umut. Melainkan buktikanlah bahwa pemikiran dan pertimbangan kita lebih condong ke arah yang benar.

 Bisa dikatakan bahwa keinginan kita hampir 90% sangat erat kaitannya dengan segala tindakan yang ditempuh. Orang yang hanya menginginkan hal-hal duniawi akan cenderung memilih dunia ini. Sebab dia merasa bahwa untuk itulah manusia hidup, berlelah mencari materi lalu menikmatinya pula. Ketika berbagai keuntungan hidup terpapar di hadapannya, hatinya sudah senang dan merasa lega dengan semuanya itu. Namun bagi mereka yang punya prinsip hidup dan selalu berada dalam jalur yang benar, tidak serta-merta menerima segala-sesuatu. Mereka bukannya tidak menginginkannya: mereka sama seperti kebanyakan orang “menginginkan materi sebanyak-banyaknya.”  Akan tetapi, mempertimbangkan baik-baik, “apakah semuanya itu sudah diraih dengan cara-cara yang benar?

Saat kita pernah menikmati indahnya jejualan yang diperoleh dengan cara yang tepat benar: kita pasti menginginkan itu terulang lagi di hari-hari berikutnya. Di lain sisi kehidupan, mungkin kita juga pernah menikmati materi yang diperoleh dengan cara-cara yang salah. Memang hal-hal itu membuat kita kenyang dan nikmatnya terasa asyik di indra. Akan tetapi, setelah itu ada suara-suara muncul dari dalam lubuk hati yang mempersalahkan sikap kita. Suara-suara rasa bersalah yang mencuat dari dalam hati inilah yang membuat hari-hari kita semakin tidak tenang. Bahkan saking kerasnya suara itu, kita sendiri tidak mampu lagi memfokuskan pikiran pada hal-hal positif.

Inilah yang kami maksudkan dengan keseimbangan. Dalam hidup ini jangan hanya berpedoman pada satu nilai saja, tetapi perhatikan juga nilai-nilai yang lain. Jangan karena kita ditawarkan gemerlapan duniawi yang wow: diterima saja apa adanya. Tanpa berpikir panjang soal sumber barang tersebut dan apa tuntutan setelah kita memilikinya? Pertimbangan yang baik diawali dengan tidak mengambil keputusan secara terburu-buru melainkan semuanya butuh waktu yang cukup untuk finalisasi keputusan yang seimbang/ adil. Untuk apa materi banyak-banyak tetapi hati tidak tenang dalam banyak situasi karena dihantui rasa bersalah? Lebih baik harta yang ada saja/ yang mampu saja namun dikonsumsi dengan tenang hati karena pengadaannya jelas dan benar. Daripada harta berlimpah tetapi tidak ada ketenangan, kedamaian dan sukacita saat mengonsumsinya.

Kesimpulan

Perlu anda pahami bahwa terdapat dua kenyamanan dalam hidup ini: pertama kenyamanan materi dan kedua kenyamanan hati. Kita tidak bisa hanya memenuhi satu saja lalu mengabaikan sama sekali yang lainnya. Melainkan kita perlu menyeimbangkan kedua hal tersebut. Saat kita berusaha nyaman dengan diri sendiri berarti ada niat yang tulus untuk menerima apa adanya besar-kecilnya uang yang dimiliki. Sebab di sisi lain, kita tahu betul bahwa harta benda yang ada pada kita merupakan hasil jerih-lelah sehari-hari yang dicari dengan cara yang benar. Dua kenyamanan ini, jika sudah kita seimbangkan mampu mendatangkan sukacita alami walau kebanyakan hari-hari kita terpapar oleh stagnasi kehidupan.

Salam, Bagusnya kehidupan
adalah menjaga keseimbangan.
Hindari berat sebelah!
Nyamankan hari lewat materi
tetapi perlebar dan perdalam
sukacita atas semuanya itu
dengan menjamin jalurnya
sudah benar adanya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.