Ada Waktu Sial Ada Waktu Beruntung, Terbiasalah Dengan Semuanya Itu

Ada Waktu Sial Ada Waktu Beruntung, Terbiasalah Dengan Semuanya Itu

Saat menelisik dalam hati masing-masing, adakah anda pernah bertanya-tanya, “apakah yang aku inginkan?” Mungkin dalam satu atau dua masa yang berbeda, kita pernah menginginkan sesuatu dan  mendapatkannya. Tetapi dalam masa-masa lainnya, kita tidak memperoleh apapun yang diinginkan hati ini. Seperti apapun kita, sehebat apapun kita, seberkuasa apapun kita: kita tidak mungkin mampu memenuhi segala yang diinginkan hati. Biasanya hanya keinginan yang sesuai kemampuan dan sesuai kebutuhan kita sajalah yang diperoleh hari lepas hari. Lantas, pantaskah kita menyebutkan hari tanpa keinginan yang terpenuhi sebagai hari sial yang dibenci seumur hidup?

Saat hari sedang baik-baiknya, keberuntungan kita meningkat tajam, bahkan bisa sampai memperoleh rejeki nomplok berlipat ganda. Pada masa-masa ini, biasanya tidak ada satu detikpun yang dilalui tanpa kesukaan hati. Sebab memang alam semesta lagi berpihak kepada kita. Namun bila terlalu menikmatinya sehingga lupa Tuhan dan lupa merendahkan diri: berhati-hatilah, kesombongan mulai mengeriap dari dasar alam bawah sadar kita. Bila tinggi hati mengembangkan sayap banyak hal yang dianggap kecil diabaikan. Kebanggaan hati hanya membuat kita tega melakukan kejahatan dengan melanggar janji sendiri dan menyangkal tekat baik yang digaungkan sebelumnya. Bisa jadi waktu beruntung berubah menjadi waktu sial karena pelanggaran yang kita lakukan.

Di atas semuanya itu, sadarilah bahwa hari baik atau hari buruk adalah sama-sama anugerah Tuhan. Seperti layaknya siang dan malam yang selalu bergonta-ganti pada waktunya. Mengapa kami berkata demikian? Karena Tuhan itu adil; Dia menciptakan dua sisi kehidupan yang seolah-olah saling berlawanan tetapi sesungguhnya saling mendukung satu sama lain untuk memantapkan kepribadian manusia dari waktu ke waktu. Masalahnya sekarang tergantung dari tiap-tiap pribadi, mau menerima kenyataan tersebut atau tidak. Bila hendak menerimanya berarti kita menyambut dengan sukacita setiap masalah yang datang sama seperti datangnya kesuksesan. Tidak ada lagi keluh kesah, permusuhan dan sentimen sebab kita bersahabat atau bersaudara dengan persoalan tersebut.

Tentu saja untuk menerima hari-hari buruk sama seperti hari baik tidak semudah mengatakannya. Kita perlu langsung mengalami momen-momen dimana kita kesulitan menghadapinya. Sebab masalah yang terlalu mudah tidak akan membantu mengembangkan kemampuan dan kepribadian kita. Persoalannya sekarang adalah siapa yang akan menyakiti anda dan bagaimana cara orang lain menyakiti anda? Pada dasarnya semua cobaan ini terjadi apabila kita mau membuka diri dan berbuat baik kepada orang lain. Inilah tantangan hidup yang paling banyak kita hadapi sehari-hari, yaitu “sanggupkah kita tetap baik saat kita diabaikan? Mampukah kita tetap berbuat baik saat orang lain berbuat jahat? Bisakah kita tetap tenang saat orang lain mengacau? Hal-hal semacam inilah yang perlu kita pelajari mulai dari sekarang!

Pada dasarnya, ujian kehidupan selalu terjadi dalam hidup sehari-hari. Keadaan ini menjadi sangat mencolok karena kita selalu ramah kepada siapa pun. Sebab dimana ada kebaikan disitulah ada potensi untuk diabaikan bahkan dijahatin. Mulailah belajar untuk menerima pahitnya hidup ketika kebaikan yang kita bagikan dengan tulus, justru diabaikan sama sekali, bahkan kadang kala disambut dengan ejekan sinis. Mulailah belajar menerima pahitnya rasa sakit dari titik ini. Rajin-rajinlah berbagi keramahan dimana pun anda berada, terutama di dalam keluarga maupun kepada masyarakat sekitar. Jika kita bisa tetap konsisten bersikap positif saat terpapar dengan rasa sakit: niscaya lama-kelamaan kita menjadi terbiasa.

Perilaku yang diulang-ulang secara terus-menerus, lama-lama akan beralih menjadi kebiasaan. Saat diabaikan, otak senormalnya mengalirkan rangsangan tersebut ke bagian rasa sakit sehingga kita merasakan perih yang mendalam. Namun saat pengabaian kita responi dengan tetap baik dan tetap aktif positif, otak tidak lagi mengalirkan rangsangan tersebut ke bagian rasa sakit. Melainkan otak mengabaikannya dan menyibukkan diri untuk mengalirkan rangsangan ke organ tertentu agar tetap aktif melakukan hal positif. Jadi saat suatu distorsi terjadi, kita tidak lagi memasukkan hal tersebut di dalam hati melainkan kita menyibukkan diri untuk tetap baik dan tetap melakukan aktivitas positif lainnya (fokus Tuhan, belajar, bekerja).

Ini bukan hanya tentang bagaimana menerima kenyataan apa adanya lalu semua selesai. Melainkan yang sangat diperlukan juga adalah bagaimana kita tetap baik saat situasi berubah memburuk. Sebab kalau kita menghadapi segala sesuatu lewat sikap cuek: ini jelas tidak lagi baik! Di masa-masa sukar, kita jangan sampai kehilangan kebijaksanaan. Pribadi yang bersikap abai terhadap semua hal akan lebih banyak melewatkan moment penting dalam hidup ini. Momen itu bisa saja sebuah kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama namun tidak kita lakukan karena pikiran terlalu fokus pada beratnya beban hidup sehingga mengabaikan segala sesuatu. Oleh karena itu, hindari terlalu fokus pada masalah pelik itu agar kita bisa merespon hal-hal positif yang berputar di sekitar dengan baik.

Kesimpulan

Tentu semuanya ini bukanlah pekerjaan yang bisa selesai dalam satu-dua tahun saja. Melainkan kita butuh mengalami masa-masa sukar itu berulang-ulang selama bertahun-tahun sehingga menjadi terbiasa. Saat kesukaran yang kita hadapi sangatlah berat, ada kemungkinan kita melawannya atau melampiaskan kemarahan pada benda dan orang di sekitar. Itu adalah wajar bagi seorang pemula tetapi jangan dibiasakan! Bila kepribadian kita sudah berkembang maka semuanya bisa dihadapi dengan “tenang sibuk positif” tanpa ribut sana-sini. Itulah tandanya bahwa kita sudah terbiasa. Kita sudah mengenyam persoalan yang menyesakkan hidup itu sebelum-sebelumnya sehingga berpengalaman. Kumpulan pengalaman inilah yang membawa kenang-kenangan positif di masa sukar sehingga di waktu berikutnya kita bisa melangkahi rasa sakit yang sama atau yang sepola.

Salam, Waktu sial jangan sakit hati.
Waktu beruntung jangan sombong hati.
Itulah tandanya bahwa pengalaman anda tinggi
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.