7 Alasan Penipu Lebih Dipercayai Dibanding Orang Jujur

Zaman sekarang, apa yang kamu cari kawan?  Pertanyaan ini sangat sederhana, cecunguk kecilpun pasti akan menjawabnya tanpa ragu, yaitu materi dan kenikmatan duniawi. Apa ini jawaban yang terlintas di kepala anda? Sama seperti orang-orang pada umumnya, tidak ada hal yang lebih penting dalam hidupnya selain materi dan nikmat dunia ini. Sedangkan segelintir orang yang mungkin saja tidak sebanding jumlahnya dengan pencari materi, mendedikasikan dirinya untuk mencari kebenaran dan keadilan. Sesuatu yang mungkin tidak dipikirkan oleh orang lain sebab tantangan yang menyertainya cukup merepotkan hidup yang beresiko menghilangkan nikmat yang dicicipi selama ini.

Kebenaran dan keadilan seperti menghilang di tengah informasi yang penuh sesak dengan rumor, lawakan dan peristiwa yang dibuat-buat. Seandainya konten dunia maya bisa ditimbang maka besarnya konten yang membahas tentang kebenaran dan keadilan hanyalah 0,001 % saja. Lebih dari itu, semua membahas-bahas tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini. Lantas bagaimana dengan kita? Masihkah aktivitas kita dilakukan dalam kebenaran dan ditegakkan oleh keadilan? Atau jangan-jangan segala omong kosong dunia ini malah menjadikan kita hambar karena terbawa-bawa oleh hal-hal jahat yang terus-menerus dikupas dalam setiap informasi yang berputar hangat di sekitar.

Faktor Penyebab penipu lebih dipercaya dibanding orang jujur

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “pembohong lebih dituruti perkataannya dibanding mereka yang benar adanya?” Maksud kami di sini adalah sekedar mengungkapkan beberapa pola-pola yang selalu terjadi di dalam masyarakat. Suatu kebiasaan yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang namun terus-menerus berlangsung dari waktu ke waktu. Seakan-akan yang berlangsung di sekitar kita sudah benar adanya sehingga kebanyakan orang diam saja. Padahal, ada hal-hal yang belum tepat menurt aturan yang sudah ada. Namun lagi-lagi, tidak ada komentar kuat yang menyoroti hal-hal tersebut. sedang semua terasa adem dan tenang saja menyaksikannya. Mengapa saat kebenaran dan keadilan yang pincang malah dibiarkan saja. Seolah-olah para penipu yang jelas-jelas membohongi banyak orang dibiarkan meraja-lela.

  1. Keluarga amatlah penting.

    Seorang kepala keluarga dipercayai oleh istrinya tentang banyak hal. Apa yang dikatakan suami selalu di iyakan saja sama istri. Toh sebagian hal-hal tersebut mungkin tidak berhubungan dengan aktivitasnya sebagai Ibu Rumah Tangga. Akan tetapi, bila informasi yang di dapat berkaitan langsung dengan kehidupannya, pasti langsung dikomentari atau sedikit diberi saran ini dan itu.

    Demikian juga kedekatan antara orang tua dan anak. Saat orang tua menginformasikan sesuatu yang menurut si anak kurang tepat, tidak langsung dilawan dan tidak langsung ditentang. Melainkan anak yang baik pasti akan mengiyakannya saja. Lagipula apa yang dibicarakan orang tua tidak ada hubungannya dengan aktivitas sehari-hari. Lain halnya ketika nasehat Ayah-Ibu berhubungan dengan kegiatan di sekolah atau pekerjaan di rumah. Kalau ada yang kurang tepat, pasti akan dikasih kesempatan untuk memberikan masukan. Selama orang tua tidak mengurangi hak-hak anak di dalam keluarga, selama itulah kita ikut saja dengan mereka.

    Hierarki di dalam keluarga sangatlah kental. Anak dan Istri mengalah saja sama perkataan Ayah sebab apa yang dibicarakan tidak berhubungan dengan kedekatan di dalam rumah tangga (misalnya masalah politik, ekonomi, hukum dan lain-lain). Akan tetapi, lain halnya ketika yang dibicakan diketahui seluk-beluknya dengan jelas karena berhubungan langsung dengan maju mundurnya kebersamaan: pasti akan diberi masukan bahkan kritik.

  2. Tetangga yang dekat lebih baik dari saudara yang jauh.

    Kita tahu bahwa tetangga suka menipu orang kompleks sebelah. Akan tetapi, kita tetap saja menjalin hubungan baik dengannya. Agak percaya dengan yang dikatakannya seputar keadaannya atau seputar masalahnya. Ini semua kita lakukan agar hubungan dengan tetangga tersebut selalu baik. Sebab siapa tahu di waktu-waktu selanjutnya, kita membutuhkan bantuannya. Bukankah lebih mudah dan cepat minta bantu ke dia daripada ke saudarah yang berkilometer jauhnya dari rumah sendiri.

  3. Seorang pemimpin yang sedang berbicara.

    Sebagai bawahan yang loyal, biasanya percaya saja dengan pemimpin organisasi. Terutama saat sedang berkata-kata tentang sesuatu dan lain hal: besar kemungkinan diiyakan saja. Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang kita sendiri tidak paham dengan apa yang sedang dikatakannya. Mungkin itu suatu hal yang terlalu jauh dari kehidupan kita sehingga berada di luar jangkauan. Namun tetap saja kita percaya bahwa apa yang dikatakannya adalah hal-hal baik. Selama tidak ada hubungannya dengan tanggung jawab kerja, terserahnya sajalah mau bilang apa. Akan tetapi, bila pembicaraan dengan pemimpin, seputar tupoksi yang mulai miring ke sana-ke mari. Saatnya sibuk membantu memaparkan kendala dan kebenarannya!

    Kita tetap percaya kepada pemimpin sekallipun di luar dia diisukan telah melakukan korupsi. Sebab kita tidak ingin menghakimi sesama manusia lewat sikap yang buruk, melainkan biarlah aparat penegak hukum yang mengurusnya. Lagipula Tuhan tidak tinggal diam membiarkan para pendosa terus merajalela, Ia akan memberikan sanksi cepat atau lambat. Karena Ialah yang membalas dengan adil setiap dosa kita.

  4. Apa yang disampaikannya masuk akal.

    Seorang yang suka menipu melangkah bebas ke sana – ke mari. Dia memang tersohor sebagai seorang yang suka berbohong. Ada cukup banyak orang yang tidak percaya lagi kepadanya. Akan tetapi, kita bukanlah orang yang suka mengeneralisasi manusia berdasarkan masa lalunya. Kita mencoba untuk berpikiran positif terhadapnya. Mungkin saja dia sudah berubah, berikan dia kesempatan dan dengarkan apa yang disampaikannya. Siapa tahu: “apa yang disampaikannya memang masuk akal.” Atau siapa tahu analisa yang diutarakannya adalah suatu kebenaran. Sekali lagi kami tegaskan: “berilah dia kesempatan untuk kesekian kalinya.” Bukankah kita juga diutus ke dunia ini untuk mengasihi musuh?

  5. Hidup kita bergantung kepada orang tersebut.

    Bagaimana bisa hidup kita bergantung kepada penipu? Sungguh tragis kehidupan yang demikian, “bagaikan buah simalakama!” Kita hendak menentang apa yang dilakukannya tetapi kita juga tidak bisa memungkiri bahwa kita bersukaria dengan segala harta yang diberikannya. Bagaimana ini? Bisakah kita mengangkat suara untuk berbicara lantang agar mereka berhenti?

    Biar bagaimana pun, kita punya tanggung jawab moral untuk mengingatkan mereka. Hanya saja, sampaikan hal tersebut dalam momen yang tepat dengan lemah lembut. Namun jangan memaksakan kehendak dan hindari berbicara kasar. Kalau anda tidak didengarkan, ikhlaslah memaafkannya.

    Jangan terlalu terbeban karena hidup anda ditanggung pembiayaannya oleh orang lain. Sadarilah bahwa uang yang diberikannya bukan berarti bahwa dia berkuasa penuh otoriter atas kita. Sebab sadar atau tidak, untuk hidup di dunia ini tidak hanya butuh uang saja. Di luar sana juga banyak orang kaya raya tapi mati juga. Simak teman, Kapitalis diktator dan hak manusia.

  6. Mereka memang sedang bercanda.

    Bisakah anda membaca situasi yang sedang berlangsung? Terkadang orang-orang suka membual soal banyak hal namun kita mengiyakan saja sambil sesekali tertawa terbahak-bahak. Jika bisa membaca situasinya, maka kita pasti mampu menyesuaikan diri dengan informasi miring yang menggemaskan tersebut. Percaya tidak percaya, nikmati sajalah candaannya kawan!

  7. Media yang sedang bersandiwara.

    Mereka yang bersandiwara, tahukah kita siapa-siapa saja itu? Yups…. Semua media yang ada di sekitar kita menyajikan beragam kisah dengan sudut pandang yang unik. Bukankah mereka menyusunnya dengan ketelitian tinggi sehingga kita hampir-hampir tertipu karena menganggapnya sebagai realita. Senyata-nyatanya suatu cerita dalam televisi pasti sudah dipoles dengan momen wow sehingga berdaya tarik tinggi.

    Hampir mustahil ada penonton yang rela berjam-jam di depan televisi hanya untuk menyaksikan kisah-kisah biasa. Kami sendiri pun menonton sesuatu karena sesuatu itu luar biasa, namun nilai-nilai yang diterapkan film masih ada hubungannya dengan kehidupan di dunia nyata. Percaya atau tidak percaya segala informasi yang ada di televisi: menontonnya berarti mempercayai informasi tersebut! Apalagi kalau sampai ditonton lebih dari satu jam secara berulang-ulang (mengikuti acara yang sama setiap hari).

Kesimpulan

Hiduplah seperti Yesus Kristus yang berdamai dengan orang-orang jahat sekalipun dia selalu mengingatkan mereka tentang kebenaran. Dia teguh tegak pendirian tak pernah goyah sekalipun banyak pihak yang mencobai dan berusaha menghentikan perjuangan-Nya. Kalau saat ini, anda merasa hidup di tengah-tengah dosa. Mohonkanlah pertobatan dan hidayah dari Tuhan, untuk dirimu dan untuk orang-orang di sekitarmu. Teruslah berkembang dan hidup bersama para pembohohong itu. Iyakan saja apa yang mereka katakan asalkan hal tersebut tidak mengurangi bahkan menghilangkan hak-hak anda. Akan tetapi, untuk argumen yang langsung mengomentari aktivitas anda: nyatakan kebenarannya! Namun janganlah dipaksakan…. Selama mereka berkuasa, ikuti saja dulu! Terkecuali jika mereka jelas-jelas melanggar hukum yang nyata: anda bisa melaporkannya kepada pihak berwajib. Di atas semuanya itu, pastikan juga diri sendiri berjalan di jalur yang benar dan hidup dalam koridor aturan yang berlaku.

Salam, Penipu bisa bertobat
berilah dia kesempatan.
Sukar keluar dari tipuan
dimana kita hidup.
Kita berutang untuk
mengingatkan mereka
apa yang benar itu
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.