Harga Diri, Apakah Ada Artinya?

Harga Diri, Apakah Ada Artinya

Manusia itu terkadang lebay dalam bersikap. Hal-hal kecil dibesar-besarkan seolah-olah itu adalah sesuatu yang penting, padahal tidak ada artinya. Kita malah terus terjerembab dalam pemahaman yang salah karena menganggap sesuatu ada, padahal sesuatu tersebut sama sekali tidak ada pengaruhnya. Parahnya lagi kesalahan itu adalah terbawa-bawa dari generasi ke generasi. Ada hal-hal yang kurang tepat dan kita tidak tahu sejak kapan budaya semacam itu dimulai. Oleh sebab itu, koreksi kembali berbagai budaya yang ada dilingkungan kita agar hal-hal tersebut membawa kemajuan dalam hidup bermasyarakat dan bukannya kesesatan logika berpikir.

Selama kita hidup, perlu membentuk prinsip sendiri. Jangan lagi membawa-bawa masuk budaya primitif yang diyakini oleh nenek moyang kita. Memang tidak semua budaya tersebut buruk tetapi lebih banyak buruknya. Ada baiknya, hal-hal tersebut cukup dicatatkan dalam sejarah leluhur saja lalu di museumkan dalam satu buku klasik tentang sejarah masa-masa yang telah berlalu. Sebab pengetahuan dan wawasan masyarakat masih sangat sempit di masa lampau. Mereka bagaikan katak dalam tempurung yang selalu berpikir bahwa dirinyalah yang terhebat. Padahal, jauh di luar sana: ada orang-orang yang sudah mengetahui/ menggali isi bumi, ada yang sudah menjelajahi tujuh samudra, ada pula yang sudah mencoba untuk menembus langit dan lain sebagainya.

Harga diri merupakan salah satu nilai hidup yang tidak ada artinya. Kami kadang berpikir, “sesungguhnya apa arti dari kemelut hidup yang muncul karena tidak dihargai oleh orang lain?” Seolah-olah sikap kawan yang demikian telah melukai hati kita, padahal sesungguhnya dia tidak berbuat apa-apa. Mungkin kita sajalah yang terlalu merasa terpukul karena sesungguhnya tidak ada orang yang sedang mengganggu kita. Ketakutan kita tentang penghargaan yang diberikan orang lain merupakan kekuatan semu yang lebih banyak dampak negatifnya. Malah anggapan ini bisa menjauhkan kita dari berbagai aktivitas baik yang sepantasnya kita tekuni. Oleh karena itu, Tinggalkan spekulasi yang tidak jelas agar mampu memandang dan menjalani hidup ini sepositif mungkin.

Apakah manusia ada harganya? Berapa hargamu kawan? Mungkin masalah harga ini akan laku keras di masa pemungutan suara. Sebab masing-masing petarung politik licik rela membeli suara, katanya: “sebutkan hargamu maka tim sukses akan mengusahakannya!” Tindakan sewenang-wenang ini memang terjadi karena hadiah memenangi pesta demokrasi bukan main legitnya berceceran hingga tak terhitung. Apakah anda pernah menerima sejumlah uang di masa kampanye? Seberapa yang anda terima dan setujui money politics demikianlah harga prinsip hidupmu. Sekarang lebih mahal mana harga binatang atau harga dirimu? Jika binatang saja lebih tinggi harganya daripada pendirian kita, betapa hinanya kehidupan ini!

Dugaan terdekat kami adalah penyebutan harga diri beredar di dalam masyarakat sehubungan dengan aktivitas perdagangan. Mungkin pembeli atau pedagang di zaman dulu yang menyadari perbedaan harga di antara barang-barang yang diperjual-belikan. Lantas, mereka menghubung-hubungkan antara barang dan kehidupan manusia itu sendiri. Seolah-olah seperti barang, demikianlah manusia ada yang murah dan ada pula yang berharga selangit. Masalahnya sekarangan adalah apakah opini tentang menghubung-hubungkan ini sudah benar adanya? Manalah mungkin manusia bisa dibandingkan dengan barang yang memberikan nikmat sesaat saja. Sadar atau tidak, manusia tidaklah bisa terbeli oleh apa pun, karena masing-masing orang telah diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya yang wajar. Orang yang telah dibeli (budak) masa depannya berada di tangan tuannya.

Bila kita membahas-bahas lebih dalam tentang penghargaan apakah ada standar untuk nilai tersebut? Adakah tolak ukur akurat yang mencakup nilai tersebut? Apakah ini termasuk dalam daftar nilai-nilai yang dibutuhkan oleh masyarakat? Atau jangan-jangan ini hanyalah rumor tanpa makna melainkan hanya sebuah kesalah-pahaman dari generasi sebelumnya. Artinya, kita hanya terbawa-bawa oleh hasutan dari orang yang hidup lebih dulu, yakni generasi sebelumnya (setara Ayah-Ibu dan Kakek-Nenek). Saat mereka menyebut-nyebutnya, kita pun ikut menirukannya dan ikut membicarakan hal tersebut dalam ranah pergaulan sehari-hari. Secara berangsur-angsur kita pun mulai menerimanya tanpa memahami dan tanpa mencari tahu apakah sebenarnya standar dan indikator dari  penghargaan tersebut.

Kesimpulan

Menurut KBBI harga diri adalah kesadaran akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri.

Menghargai Tuhan = lebih enak didengar jika dikatakan “melakukan apa yang benar”
Menghargai sesama = lebih bagus disebut “melakukan apa yang baik”
Menghargai diri sendiri = lebih jelas jika dikatanan “menjaga kesehatan fisik dan jiwa”

Kami sendiri kurang mengadopsi istilah tentang menghargai ini-itu, mungkin karena kami tidak ingin menyamakan hidup ini dengan perdagangan barang dan jasa dimana segala sesuatu bisa dibeli dengan uang. Daripada terjebak dalam opini tanpa makna, kami lebih memilih menyandingkan penghargaan itu dengan hidup dalam kebenaran dan keadilan. Daripada repot mencari penghargaan terhadap diri sendiri, lebih baik sibuklah melakukan apa yang benar dan adil sepanjang nafas masih di badan. Kasihilah Allah seutuhnya dan kasihilah sesama manusia seadil-adilnya, itulah bentuk terbaik dari menghargai Allah dan sesama. Sedangkan cara kita menghargai diri sendiri yaitu dengan senantiasa menjaga kesehatan fisik dan jiwa. Terlalu rumit hidup ini bila kita hanya menuntut orang lain agar segera bertindak. Melainkan marilah mulai dari diri sendiri untuk menekuni apa yang baik dan benar.

Salam, Berapa hargamu?
Manusia tidak terbeli!
Hanya barang & jasa
yang diperjual-belikan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.