Allah Adalah Segalanya, Segala Sesuatu Asalnya Dari Allah

Allah Adalah Segalanya

Mungkin pernah ada zamannya dimana manusia merasa dirinyalah yang terhebat di bumi ini. Akibatnya, kita merasa bahwa segala sesuatu yang bukan manusia perlu disingkirkan seperti tumbuhan dan hewan perlu dibasmi dari sekeliling kehidupan kita. Semuanya ini dilakukan demi tujuan untuk membuat dirinya sebagai penguasa di bumi. Nafsu yang berlebihan semacam ini jelas-jelas mendatangkan kerusakan yang merugikan sesama, lingkungan alamiah dan termasuk di dalamnya adalah dirinya sendiri. Sikap sentimen terhadap makhluk hidup tertentu menjadi sangat merusak ketika ditindaklanjuti dengan pembumihangusan dengan melegalkan segala cara. Padahal ada bagian diri Allah dalam segala sesuatu yang ada tampak tertangkap panca indra manusia.

Seperti yang kami katakan pada judul tulisan ini, timbullah pertanyaan, “mengapa Allah adalah segalanya?” Konsep ini bermula saat masa penciptaan dimana Allah Bapa menciptakan alam semesta dengan firman yang keluar dari mulut-Nya. Bersamaan dengan firman yang terucap itu, keluarlah nafas kehidupan yang membentuk-aktifkan segala sesuatu dalam aneka ciptaan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Sekali pun apa yang diciptakan itu berbeda bentuk dan fungsinya tetapi pada dasarnya masing-masing mengambil peran untuk menjalankan suatu sistem yang berputar seimbang, yakni alam semesta. Semua komponen di seluruh jagad raya saling bersinergi untuk memberi dan menerima sesuai kehendak-Nya.

Ada bagian diri Tuhan dalam tanaman hijau-hijauan dan ada nafas Tuhan dalam hidup binatang di hutan belantara. Demikian juga dalam diri manusia ada sebagian dari diri Allah. Satu-satunya keunggulan manusia adalah memiliki Roh Kudus sehingga kita mampu berpikir dan mengambil keputusan sendiri. Masing-masing makhluk tersebut mengambil peran untuk menjalankan fungsinya sehingga terciptalah ekosistem bumi yang memelihara setiap makhluk di dalamnya. Kita membunuh binatang bukan berarti melukai Allah melainkan kita memanfaatkan pemberian Yang Maha Kuasa untuk memenuhi kebutuhan. Kita bersalah saat membunuh binatang kalau tidak memakan dagingnya. Apalagi kalau matinya karena dipermain-mainkan atau diajak adu tanding dengan hewan lain: kita jelas bersalah karena memanfaatkan sebagian dari diri Allah untuk memuaskan nafsu sesat yang berlebihan.

Ada bagian diri Allah dalam segala jenis tumbuh-tumbuhan yang hidup di seantero negeri. Bukan berarti kita tidak boleh menebang pohon sebab biar bagaimana pun, Bapa telah membiarkan manusia untuk berkuasa atas bumi ini (termasuk atas hewan dan tumbuhan). Melainkan yang kita perlukan adalah memperbaiki manajemen perlindungan hutan agar pemanfaatan tanaman tidak terkesan berlebihan melainkan terarah sesuai tujuan yang positif. Satu-satunya cara untuk menghargai yang hijau-hijau itu adalah menjaga keberadaannya, tidak dengan menyembahnya seperti yang dilakukan bangsa-bangsa fasik di masa lampau. Mereka menganggap bahwa pohon-pohon besar adalah pohon keramat tempat para leluhur bersemayam dan tempat meminta berkat.

Sudah sepantasnya makhluk yang memiliki akal budi dalam tuntunan Roh Kudus, perlu mengusahakan bagaimana agar semua yang diciptakan Tuhan terus ada dan tetap ada sampai hari penghakiman tiba. Sebab apa yang berada di bawah kekuasaan kita pasti akan dipertanggung jawabkan pada waktunya. Apakah kita sudah membawahi dan mengelola semuanya itu secara tepat guna? Atau jangan-jangan kita hanya mempermain-mainkan, memberangus dan memusnahkannya untuk tujuan-tujuan pribadi/ kelompok nan sempit. Selama kita memanfaatkannya untuk diri sendiri maka selama itulah sumber daya yang tersedia cenderung digunakan secara bias. Akan tetapi pemanfaatan yang dilakukan untuk kepentingan bersama pasti akan berujung baik.

Mengapa rasa kebersamaan mengarahkan manusia untuk memanfaatkan alam sekitarnya secara terukur? Sebab di dalam kebersamaan ada yang namanya keadilan! Ketika suatu sumber daya tidak cukup untuk dibagikan sama rata kepada semua orang, timbullah tindakan penghematan, memanfaatan kapasitas alam secukupnya saja agar semua dapat. Akan tetapi, sifat egoisme manusia menggiring kehidupan dalam kebanggaan pribadi (arogansi) yang inginnya menguasai segala yang ada (baik hewan dan tumbuhan termasuk manusia). Dengan dibantu ilmu pengetahuan, besarnya kekuasaan tersebut akan bertransformasi menjadi kepemilikan benda-benda nan mewah-megah. Jelaslah bahwa bukan main sumber daya yang dikorbankan demi penyajian kemewahan yang fana. Inilah awal pemicu bencana!

Kesimpulan – Segala sesuatu berasal dari Allah, bertanggung jawablah!

Bapa yang kita kenal, maha hebat! Hanya dengan nafas-Nya saja, kehidupan tercipta dimana-mana dan alam semesta menjadi teguh kuat tak tergoyahkan. Kehebatan ini jelas-jelas berada di luar pemahaman logika manusia. Tentu saja dia bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya untuk menyatakan diri kepada kita: bukankah semua penyataan itu sudah tertulis jelas di dalam Alkitab?

Bila kita menyadari bahwa alam semesta dibentuk dan diaktifkan oleh nafas Yang Maha Kuasa, bukankah ada rasa kagum sekaligus hormat terhadap segala sesuatu yang ada di hadapan kita? Bahkan kita bisa mengatakan bahwa makhluk-makhluk lainnya itu merupakan penyempurna kehidupan manusia: apa yang bisa kita lakukan tanpa mereka? Apa yang bisa kita lakukan tanpa penyokong/ penopang kehidupan kita? Percayalah bahwa saat aset penopang hidup mulai terancam, manusia cenderung mengalami demoralisasi. Sebab persaingan untuk memperebutkan sumber daya yang tersisa akan berlangsung secara habis-habisan tanpa mempedulikan kemanusiaan itu sendiri. Yang unggul akan bertahan dan yang lemah akan terseleksi secara nyata maupun secara diam-diam.

Alam semesta adalah Allah kita” tetapi bukan untuk disembah melainkan untuk menyokong kehidupan umat manusia. Rasa kagum dan hormat terhadap alam diiringi dengan kemauan yang tulus untuk memanfaatkannya secara terpimpin dan bertanggung jawab. Rasa ini bukan berarti bahwa kita perlu menyembah makhluk lainnya, seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di zaman kegelapan. Melainkan rasa tersebut mengarahkan kita untuk lebih bertanggung jawab memanfaatkan alam. Kita berhak menggunakannya tetapi kita pun wajib untuk menjamin keberadaannya dari generasi ke generasi. Selama manusia memanfaatkan sumber daya secara terkoordinir, terukur dan adil maka selama itulah ciptaan lainnya akan terus ada dan tetap ada untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dari waktu ke waktu.

Salam, Allah adalah segalanya.
Dimana-mana ada Allah.
Ada bagian diri Allah
dalam segala sesuatu yang ada.
Tetapi bukan untuk disembah,
melainkan sembahlah Tuhan
dalam roh dan kebenaran
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.