Kapitalisme, Diktatorisme Dan Hak Hidup Manusia Serta Pendekatannya

Kapitalisme, Diktatorisme Dan Hak Hidup Manusia Serta Pendekatannya

Manusia terus berjuang mencari hal-hal besar di dalam kehidupannya. Ini sudah terpolakan sejak kita masih bayi, anak-anak, muda, dewasa hingga menua. Lagipula pola mencari yang besar-besar tersebut sebagai salah satu bentuk dan tanda dari perkembangan hidup manusia. Misalnya saja, saat seorang anak sudah besar: ia butuh baju, celana, sepatu dan perlengkapan yang dipakaikan lainnya dalam ukuran yang lebih besar. Bukan sampai di situ saja, porsi makanannya juga semakin membesar, bila perlu semua disedotnya. 😀 Jadi, pola pencarian yang besar-besar ini sudah mendarah daging dan melekat dalam pikiran tiap-tiap insan. Sayang, hasrat ini jugalah yang mengarahkan kita pada hal-hal yang menyimpang seperti halnya keinginan yang serakah..

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada akhirnya setiap insan yang tidak bijaksana akan digiring dalam hasrat iri hatinya yang mendorong untuk bernafsu menjadi yang terdepan. Kekuatan yang menempatkan hati pada tekanan maksimal sehingga badan dan otak bekerja lebih keras demi mencapai tujuan-tuajuan tersebut. Seandainya ada kesempatan untuk memacu tingkat kelayakannya untuk menjadi lebih berharga dan lebih terhormat dari orang lain, jalur itu pasti ditempuh. Kekuatannya akan difokuskan demi meraih posisi tertinggi sehingga layaklah ia memiliki nama besar yang berharga lagi mulia. Inilah yang ada dalam hati setiap manusia dibalik setiap jerih lelah yang ditanggungnya.

Mereka yang terjebak dalam hasrat pencarian terbesar, tidak memiliki banyak pilihan untuk menggapai semuanya itu. Satu-satunya cara untuk menggenggamnya adalah dengan menjadi lebih kaya raya dan lebih disegani dibandingkan semua orang di sekitarnya. Jalan kapitalistis akan ditempuh juga untuk mewujudkan cita-cita besar. Sumber daya alam yang tersedia akan diretas sebanyak-banyaknya untuk menemukan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih berharga, yang lebih dikenal dengan nama uang. Memanfaatkan segala potensi yang mungkin bisa ditungganginya untuk membuat dirinya berkesan lebih hebat dari sesamanya. Mungkin pada akhirnya mereka mencapai puncak tertinggi dalam karirnya walau sebagian besar manusia lainnya tidak mampu.

Beralih dari satu kehebatan kepada kehebatan lainnya, selalu berupaya untuk menempat dirinya sebagai yang teratas lalu berpikir bahwa itu bisa memuaskan hatinya. Sayangnya, semua itu sudah terasa hambar sebelum dinikmati hati sehingga dirinya lebih berusaha lagi untuk mencapai yang terbesar. Selalu merasa bahwa hasratnya tidak pernah salah menganggap diri paling benar sedang semua orang harus mendengar dan menurutinya. Menjadi seorang diktaktor tidak hanya di tempat kerja tetapi di dalam keluarga juga. Semuanya ini demi memuaskan hati yang tak kunjung menjadi penuh. Kediktatorannya memaksa semua orang agar segalanya sempurna seperti yang diinginkannya.  Namun sesungguhnya dia sedang membangun kerajaan penuh muslihat yang sangat rapuh diterjang badai.

Kepuasan yang dicari-cari manusia dengan menjadi kapitalis yang sangat berkuasa atas sesamanya, malah menimbulkan kelelahan yang luar biasa. Habis energi dan konsentrasi untuk menggapai semuanya itu tetapi kehidupan orang-orang terdekat malah tidak diperhatikan. Memiliki keluarga tetapi seperti tak punya siapa-siapa karena selama ini fokus perhatikan hanya ditujukan untuk menggapai apa yang tinggi dan besar. Saat dirinya berpikir bahwa kepuasan yang dicari sangat erat kaitannya dengan terwujudnya, “apa yang diinginkan?” Lantas ia berpikir dan memerintahkan semua orang untuk menuruti apa yang diinginkannya. Sekalipun ada yang namanya dengar-dengaran pendapat orang lain tetap saja apa yang diputuskannya itulah yang harus terjadi atau menjadi nyata.

Sifat semacam ini lebih dikenal sebagai diktatorisme, dimana seorang yang disebut sebagai pemimpin memutuskan segala sesuatu seorang diri dengan atau tanpa terlebih dahulu mendengar masukan dari pihak lain. Kepemimpinan semacam ini memang sangat kuat di zaman sebelum kita hidup. Namun tampaknya hal tersebut tidak terasa di zaman sekarang. Hanya saja, hal tersebut beralih menjadi merasa memiliki sesuatu yang sudah bukan miliknya lagi. Entah dari mana logika berpikir itu, mereka merasa bahwa seseorang yang sudah dipelihara dan dijaganya selama ini adalah miliknya sendiri. Ini tidak masalah jika diperlakukan di antara binatang dan tumbuhan, sebab manusia memang ditakdirkan berkuasa terhadap makhluk hidup lainnya.

Sayang, tidak demikian bagi mereka yang masih berjiwa kapitalis yang didukung oleh keberadaan materi yang melimpah. Menurutnya, segala sesuatu yang diasuh dan dirawat oleh kekayaannya merupakan hak miliknya, baik hewan, tumbuhan maupun manusia. Pemahaman ini membuatnya menjadi otoriter kepada siapa saja. Hanya karena desakan kebebasan individu yang berputar nyaring disekelilingnya yang membuatnya tidak menunjukkan kediktatoran yang nyata-nyata. Di balik dunianya yang ramai dan glamour, ternyata rencana otoriter yang menunjukkan bahwa dirinya berkuasa atas segala sesuatu yang ada di bawahnya. Mereka memetakan nasib orang layaknya dirinya memiliki peternakan manusia yang bisa dipanen sewaktu-waktu.

Saat melihat nasib orang-orang kecil, berkatalah hatinya: “bebaslah berkeliaran kesana-kemari, sebab waktumu sudah dekat.” Ternyata konglomerat kelas atas ini telah mengadakan persepakatan (konspirasi) untuk membiarkan pergi beberapa rakyat kecil. Dia beralasan bahwa semuanya ini demi kebaikan bersama, sebab rakyat yang terlalu banyak membuat sesak dan mempercepat kerusakan lingkungan. Padahal yang mengambil andil besar dalam kerusakan lingkungan adalah penggunaan sumber daya secara berlebihan. Siapa lagi yang memakai sumber daya sangat besar kalau bukan orang banyak hepeng dimana dirinya merupakan salah satu di antaranya. Mereka berpikir untuk melenyapkan rakyat tertentu demi menutupi kegagalannya dalam mengendalikan bencana lingkungan.

Orang-orang yang sifat diktatornya ke dalam, menganggap orang yang terpelihara olehnya sebagai budak. Padahal, zaman perbudakan sudah lama berlalu tetapi orang-orang yang kayanya selangit menganggap karena andil merekalah rakyat kecil masih bisa hidup makmur dan bahagia di bumi. Sehingga pihaknya merasa berhak untuk menentukan seperti apa nasib orang-orang tersebut. Lagi pula orang-orang ini beranggapan bahwa segala sesuatu yang digunakan oleh rakyat tersebut adalah miliknya yang diberikan secara cuma-cuma. Rakyat kecil tidak perlu membayar lebih sebab semua harga telah di diskon dengan sangat terjangkau. Itu semua milik kapitalis dan itu juga yang dijadikan dasar sehingga kapitalis berhak menentukan nasib rakyat kecil.

Lagipula sebagian dari rakyat itu, mau-mau saja disuruh-suruh untuk melakukan segala yang dikehendaki pemodal, entah itu baik atau buruk. Kalau uang ada seolah-olah segala sesuatu lancar. Sekalipun lajur yang diikuti salah tetap akan ditempuh karena duit yang sangat gede sudah menunggu di depan. Semua faktor-faktor yang ada membuat konglomerat menjadi kepedean untuk mengambil tindakan yang lebih jauh merusak demi kebaikan yang lainnya. Selalu saja alasannya adalah demi kepentingan semua orang. Walau semua alasan itu rekayasa dan sebagian rakyatpun menyadarinya serta menolak hal tersebut, tetap saja rencana buruk itu dijalankan.

Apakah menurut anda, kemampuan finansial kapital yang telah membiayai kebutuhan hidup seseorang atau sekelompok orang dapat dijadikan alasan untuk menguasai hidup orang lain? Seharusnya ini tidak terjadi sebab Tuhan saja yang pemilik bumi dan seluruh alam semsta tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada kita. Melainkan, pastilah tiap-tiap orang bebas memilih jalan hidupnya, “mau seperti apa dirinya kelak?” Selama hal tersebut masih berada dalam batas-batas kewajaran, dia berhak menjalani pilihannya. Terserah yang penting dia bahagia melewatinya. Tidak ada orang yang berhak untuk mengendalikan kehidupannya, orang tua atau pemimpin sekali pun. Manusia hanya patuh kepada kebenaran dan peraturan yang berlaku luas di dalam masyarakat.

Bila kita patuh kepada perkataan orang tua dan pemimpin di tempat kerja: itu bukan karena mereka berkuasa atas kita. Melainkan kepatuhan ini semata-mata karena mereka mengarahkan kita kepada kebenaran dan kepada peraturan yang seharusnya kita ketahui. Memang kita memperoleh banyak manfaat dari orang-orang yang lebih tinggi daripada kita: perlu berterima kasih untuk semua kebaikan tersebut. Bukankah itu adalah tanggung jawab mereka yang telah diikat oleh kebenaran? Lagipula manfaat yang telah mereka cicipi jauh lebih besar daripada yang pernah kita nikmati. Sebab, mereka lebih berpengaruh dan sangat terorganisir dengan pekerjaan tetap yang menjamin ketersediaan sumber daya.

Kesimpulan

Kapitalisme sudah ada sejak tahun-tahun pertama manusia diciptakan. Dimana ada orang kecil, di situ ada orang besar yang telah mengelola sumber daya dengan baik. Para pembesar ini mudah sekali menyimpang pemahamannya karena hati yang congkak sehingga merasa bahwa segala sesuatu adalah miliknya. Bukan hanya hewan, tumbuhan dan tanah yang dikuasai, maunya manusia-manusia di dalamnya pun dikuasainya. Padahal, jelas sekali pesan Tuhan kepada moyang kita bahwa “manusia hanya berkuasa atas makhluk hidup lainnya dan bukan antar sesamanya.”

Kapitalis cenderung diktator yang merasa bahwa segala sesuatu ada di bawah kuasa dan kendalinya. Mereka cenderung berpikir berhak merebut hak-hak orang lain karena orang tersebut dalam naungan kekuasaan dan pemeliharaannya. Padahal, Tuhan saja yang berkuasa atas kita tidak membiarkan biji mata-Nya menjadi tumbal (dikorbankaan) demi keuntungan pihak lain.

Penguasa yang sehat pikir mengetahui batas-batas kewenangannya, tidak lebih dari apa yang termuat dalam peraturan yang berlaku. Akan tetapi, kapitalis yang sewenang-wenang merasa memiliki segalanya sampai manusia di bawahnya pun menjadi budaknya. Sebab hanya dialah suara terbaik dan yang paling benar sehingga yang lain mau tidak mau harus ikutan. Bahkan sifat diktator yang dipeliharanya secara diam-diam, membuatnya merasa berhak mengendalikan kehidupan orang lain bahkan nasib manusiapun seolah berada dalam genggamannya. Tidak hanya sampai di situ saja, ia rela mengorbankan kepentingan orang lain demi tujuan kelompoknya yang sempit.

Pemimpin yang ditaktor adalah orang yang merasa bahwa kekuasaannya tak terbatas yang menjadikan jabatannya sebagai pemuas nafsu belaka. Bukannya tulus saat membantu sesama melainkan setiap kebaikan yang diberi pasti telah atau akan diambil dengan cara lain. Mereka berpikir bahwa dirinya mampu mengontrol manusia dengan konspirasi picik yang licik dilakukan dengan komplotannya. Kenyataannya semua yang mereka lakukan hanya merampas hak-hak orang lain secara diam-diam yang lambat laun akan berimbas pada kesehatan lingkungan. Sebab di mana ada kejahatan dan keserakahan, di situlah terjadi destruksi dalam berbagai bidang. Pada akhirnya, sifat otoriter tersebut akan menemui ajalnya dalam bencana kemanusiaan dan bencana alam yang berada di luar kekuatan manusia (tidak bisa dikendalikan lagi). Simak juga, Meniru Kapitalismenya Tuhan.

Salam, Pemilik modal
tidak berkuasa atas segalanya:
perhatikan aturannya
apa sudah sesuai?
Jangan sewenang-wenang
Layaknya di hutan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.