Perjuangan Dan Rasa Sakit Membuat Anda Berhak Atas Hidup Ini, Itulah Pekerjaan Sejati

Rasa Sakit & Perjuangan Membuat Kita Berhak Atas Hidup Ini, Itulah Pekerjaan Sejati

Di zaman kapitalis tidak ada keadilan sebab orang-orang yang lebih berkuasa memiliki teknik khusus untuk menyiksa orang-orang di bawahnya. Karena mereka memiliki harta yang berlebih maka setiap kelebihan itulah yang digunakannya untuk mengendalikan orang lain tetap tunduk di bawahnya. Mereka bisa membayar seseorang untuk melakukan apa saja yang diinginkannya, dimulai dari pekerjaan halus sampai pekerjaan Kasar. Orang-orang yang memiliki pengaruh tersebut memiliki kekayaan yang luar biasa sehingga harta yang berlebihan itulah yang digunakan untuk membayar oknum kecil untuk disuruh-suruh pekerjaan kotor. Sedang kondisi rakyat kecil dan menengah ke bawah berada dalam  ekonomi pas-pasan sehingga uang menjadi setir tajam yang mengontrol setiap keputusan dan pilihannya.

Orang-orang yang memiliki pengaruh bisa membayarkan sejumlah uang untuk melakukan sesuatu. Tentu saja, keadaan ini sama halnya seperti seseorang yang hendak naik ojek online, kemanapun pasti diantar. Hanya kebetulan saja yang naik adalah orang kaya. Pengemudi ojol ini pasti rela melakukan apa saja kepada si kaya raya itu. Terkecuali jika pengemudi tersebut memiliki prinsip hidup sendiri yang selalu diyakini dan dipegang dengan teguh. Prinsip untuk menolak uang bila pekerjaan yang ditawarkan menyimpang dari kebenaran. Siapa yang tidak maukah, “duit gede gratis gitu lho…?” Hal semacam ini tidak dapat ditolak oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah yang hampir tidak punya apa-apa. Seandainya pemerintah bisa adil membagikan sumber daya, pasti tiap-tiap orang bebas dari ikatan dan kendali orang lain yang justru lebih banyak memicu keributan sosial yang tidak penting.

Ada lagi keanehan yang kita temukan di tengah derasnya kapitalisme yang sekonyong-konyong membuat aturannya sendiri. Mereka ini merasa lebih hebat dari orang lain sehingga peraturan yang berlaku di dalam masyarakat tidak dihiraukannya. Mereka sendirilah yang membuat ataran-aturan tersebut yang disusun sedemikian rupa. Namun entah bagaimana mereka bisa lolos dari jeratnya. Seolah sudah membentengi dirinya dengan aturan lain yang katanya lebih tinggi. Padahal dengan berlaku demikian timbullah kesimpang-siuran yang justru membuat hukum tidak lagi berwibawa. Kesewenang-wenangan hanya akan membawa pemahaman masyarakat untuk tidak lagi mempercayai aturan yang ada, terlebih lagi para penegak hukumnya tidak bisa dipegang kata-katanya.

Salah satu bentuk nyata kapitalisme liar tanpa batasan adalah rusaknya tatanan lingkungan sehingga kedahsyatannya berbalik arah melawan kemanusiaan itu sendiri. Kekuatan alam tidak lagi ada untuk melindungi melainkan menjadi jerat yang mendatangkan kerugian bahkan kehancuran masyarakat dalam tiap-tiap wilayah bencana. Mereka merasa bahwa saat memiliki uang dan harta benda yang sangat banyak maka otomatis menjadikannya sebagai penguasa yang tidak hanya berkuasa atas hewan dan tumbuhan, tetapi berkuasa juuga atas sesama manusia. Padahal Tuhan tidak pernah mendiidik kita untuk menguasai orang lain melainkan berkuasa atas hewan dan tumbuhan yang lebih rendah martabatnya dari kita.

Mereka menganggap uang sebagai segala-galanya sehingga saat memberikannya cuma-cuma kepada seseorang maka otomatis berhak memiliki kehidupan orang tersebut. Mengatur-ngatur dengan keras: apa yang harus dan tidak harus dilakukan orang tersebut. Mengendalikan kehidupan sesama dengan menyogok mereka yang istilah pemberiannya dipercantik/ diperhalus menjadi bantuan/ santunan. Mereka berpikir bahwa jasa-jasanya terhadap kehidupan orang tersebut sangatlah besar, padahal belum tentu yang bersangkutan sudah menikmati semuanya itu. Lagi pula untuk hidup di bumi ini tidak hanya butuh uang. Melainkan masing-masing orang harus berjuang meredam tekanan dari dalam dirinya sendiri. Juga harus siap menanggung rasa sakit dengan ikhlas menghadapi gejolak yang datangnya dari luar.

Perlu kita ingat kembali, walau hidup kelimpahan materi, bukan berarti dengan semua kegemilangan tersebut, kita bisa hidup bebas dari masalah. Sadarilah selalu bahwa uang bukanlah solusi tunggal semua masalah dalam kehidupan ini. Walau harus kita akui bersama bahwa uang dibutuhkan dalam segala hal yang kita beli di pasar-pasar kota. Ketika seorang manusia mendewakan uangnya lalu menganggap bahwa kertas inilah yang menjadi jawaban dari semua pertanyaan selama hidup di dunia ini. Padahal untuk menjalani hari, ada beberapa orang yang bisa melaluinya tanpa membelanjakan sesuatu. Lagi pula tidak ada toko yang menyediakan barang yang dapat menyelesaikan segala masalah pikiran.

Sadarilah bahwa di luar sana, pernah ada orang kaya yang mengakhiri hidupnya, entah karena apa. Pernah juga ada artis yang bunuh diri , karena suatu alasan yang tidak diketahui. Dua contoh ini adalah beberapa hal yang menunjukkan bahwa tidak semua persoalan hidup dapat diselesaikan dengan harta benda atau ketenaran hidup. Sebab, ditinjau dari manapun, hari-hari yang kita jalani sangatlah kompleks. Bahkan kadang kala dalam beberapa persoalan, sangat susah diurai, sampai-sampai jawabannya tidak ditemukan selama berbulan-bulan dan ada pula kasus yang tidak terpecahkan seumur hidup. Semua contoh-contoh ini menunjukkan betapa persoalan yang kita hadapi tidak sesederhana membelanjakan uang.

Hanya mengandalkan uang saja, mustahil bisa hidup di dunia ini. Selain kemampuan materi, kita juga memerlukan kemampuan lainnya agar bisa tetap bertahan di tengah badai pergumulan hidup. Kemampuan tersebut di antaranya adalah kemampuan memanajemen emosi, kemampuan interaksi sosial, kemampuan menganalisis masalah, kemampuan mengendalikan hasrat dan lain sebagainya. Kemampuan ekonomi biasanya hanya dibutuhkan di waktu-waktu tertentu saja, namun kemampuan yang lain-lainnya yang berhubungan dengan pengendalian diri justru selalu dibutuhkan sepanjang waktu. Uang memang berpengaruh terhadap kehidupan kita tetapi besar kecilnya itu sangat relatif.

Siapapun dia di dunia ini, perlu selalu sigap mengendalikan diri agar bisa menghindari masalah yang berasal dari godaan yang akan terus bermunculan di sepanjang umur kita. Kemampuan ini tidak dimiliki secara otomatis melainkan lewat masalah yang dihadapi sehari-hari membuat kita semakin mantap memanfaatkan sesuatu di waktu yang tepat. Rasa sakit turut memberi kontribusi agar kita lebih mampu mengenali apa yang benar-benar kita butuhkan. Kepahitan demi kepahitan yang diderita juga membuat kita mengingat, mana jalan yang baik dan mana jalan yang buruk. Lantas mengambil keputusan yang tepat benar untuk dihidupi hari demi hari.

Kita perlu perjuangan yang nilainya lebih dari uang. Berjuang dari rasa bosan hidup yang kadang mengiang di dalam dada. Berupaya untuk tidak putus asa di tengah persoalan hidup yang datang bertubi-tubi. Berusaha untuk tetap tenang saat situasi mendekati kacau balau. Selalu sabar menahan emosi di saat pancingan amarah menarik ke luar. Tetap berhati-hati dalam segala sesuatu agar tidak terpeleset oleh jerat godaan iblis. Berusaha menjalin hubungan baik dengan siapa saja di tengah perbedaan pandangan hidup tiap-tiap manusia. Selalu menjadi kawan yang baik bagi para pembenci, pengejek dan pemfitnah. Serta masih banyak lagi bentuk perjuangan lainnya yang dibutuhkan.

Kita berhak menentukan nasib sendiri karena kita berjuang menjalani hidup ini. Kita berhak memilih apa yang layak untuk diri sendiri asalkan hal itu berada dalam batas-batas aturan yang berlaku di masyarakat. Masing-masing orang berhak menentukan nasibnya sendiri sekalipun seumur hidup ditopang oleh kantong subur kapitalis. Uang saja tidak menjamin bahwa kita bisa bertahan hidup di bumi ini. Sebab di luar sana ada konglomrat yang hidupnya mewah dan berkelimpahan tetapi berakhir ditangannya sendiri. Ada pula orang populer yang sangat ternama tetapi malah memilih untuk mengakhiri hidupnya. Semuanya ini adalah bukti bahwa sekalipun hidup penuh uang, bukan berarti semua masalah selesai.

Kesimpulan

Orang yang selalu memberimu uang bukanlah tuhan yang harus selalu dituruti kemauannya. Mari belajar berpikir logis dan selektif: turuti yang baik-baiknya dan tolak yang jahatnya. Kita memang butuh uang dari kapitalis tetapi bukan berarti dia bisa sewenang-wenang terhadap sesama manusia. Lagi pula masih banyak kebutuhan lain yang tidak bisa dibeli dengan duit. Sebab dalam banyak momen kita perlu perjuangan nyata untuk tetap hidup dan ada hal-hal menyakitkan yang perlu kita tanggung sendiri. Kita sibuk bekerja keras dengan cara positif dimana terkadang ada rasa sakit yang mengiringi: kesibukan semacam inilah yang menjadi pekerjaan sejati seumur hidup.

Siapa pun kapitalis yang berada di atasmu, dia tidak lebih hebat darimu dan tidak lebih berhak untuk menentukan nasibmu. Harta benda yang diperoleh darinya, sudah terbayarkan dari setiap kerja keras dan rasa sakit yang diperoleh saat bekerja sama dengan mereka? Jadi, tidak ada orang yang berhak menentukan masa depan kita, selain Tuhan dan diri kita sendiri. Orang-orang besar berpangkat tinggi bukanlah diktator yang semua keinginannya harus mampu kita penuhi, melainkan mereka setara seperti kita. Masih ada kebenaran (kasih pada Allah & sesama) serta hukum yang berlaku dalam masyarakat yang harus kita junjung tinggi. Suami tidak bisa sewenang-wenang terhadap Istri; orang tua tidak bisa sewenang-wenang terhadap anak-anaknya; pemimpin tidak boleh sewenang-wenang terhadap bawahannya. Hanya porsi kerja masing-masing oranglah yang berbeda-beda menurut aturan yang berlaku dan telah disepakati bersama.

Salam, Memang hampir semua hal butuh uang
Tetapi uang bukanlah segalanya
bukan pula solusi dari semua persoalan.
Kita perlu berterimakasih
kepada yang memberikannya.
Dan tetap bekerja keras
serta siap menderita
di segala jalan
yang dilalui
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.