10 Kejanggalan Peristiwa G30S PKI – Keanehan Fakta Dan Kebohongan Di Dalamnya

Ada orang berkata “pemenanglah yang membuat sejarah.” Tak peduli tentang kebenaran di balik suatu peristiwa, kejahatan selalu ada untuk mengisi sudut pertempuran sehingga dihasilkanlah kemenangan yang dibungkus dalam manipulasi. Bila manusia sudah punya niat jahat maka orang-orang berkonspirasi untuk menutupi jejak kelaliman. Berupaya agar hal yang salah itu tidak sampai terbongkar karena menyangkut nama baik orang-orang penting. Lantas bata merah penyebab masalah dibuang kepada perkumpulan orang-orang yang mencurigakan. Sehingga orang-orang tersebutlah yang menanggung akibatnya. Mereka ditimpakan kesalahan yang bahkan tidak berani mereka sentuh.

Di era awal kemerdekaan negara ini, tangan pemimpin dan sebagian masyarakat Indonesia masih hangat dan ingin terus memegang senjata. Seolah terbawa-bawa oleh peristiwa pasca perang yang mereka perjuangkan dahulu di masa-masa perebutan dan awal kemerdekaan. Deru perang yang membara itu masih membakar semangat hidup segelintir kalangan. Slogannya yang menghujam dada masih terngiang di telinga. Salah satu yang cukup tersohor adalah, “perjuangan sampai titik darah penghabisan.” Sayang, orang-orang tersebut mencampur adukkan kehidupannya tanpa mengetahui batas-batasnya. Hasrat terhadap musuh yang dulu diperangi habis-habisan sampai titik darah penghabisan, melebar dan berbalik arah dengan berani menyerang saudara sendiri bahkan sampai tega menghilangkan nyawa.

 Manusia kalau diberi kekuasaan menjadi sombong, apalagi kalau hal tersebut sifatnya seumur hidup. Arogansinya semakin tinggi saja, sampai-sampai memandang orang lain sebelah mata. Tanpa pikir panjang, menyimpulkan gosip yang beredar secara terburu-buru. Saking tingginya keangkuhan itu, hukum negara tidak lagi diperhatikan. Kalau pemimpinnya saja melanggar hukum, terlebih lagi rakyatnya. Nafsu terhadap kekuasaan yang besar melenyapkan akal sehat yang selama ini dipuja-puji seluruh rakyat. Rekan seperjuangan tidak lagi dipandang, ada orang-orang yang rela mengundurkan diri. Namun keserakahan memberangus persaudaraan yang berujung pada sifat tega memutuskan kematian beberapa orang demi melenyapkan musuh yang bahkan tidak ada.

Kejanggalan peristiwa G30S PKI

Dalam suatu pertempuran, untuk tampil sebagai pemenang yang dibutuhkan adalah persenjataan yang lebih canggih atau setidak-tidaknya sama dengan senjata lawan. Jika persenjataan tidak seimbang, memang masih ada kemungkinan untuk menang bila seluruh rakyat/ semua orang memasuki arena. Tentulah bila bagian terakhir ini yang terjadi, akan lebih banyak korban jiwa di antara orang-orang yang tidak bersenjata (masyarakat biasa) dibandingkan dengan mereka yang dipersenjatai (tentara). Tetapi yang terjadi dalam peristiwa tiga puluh september tidak menyebabkan jatuhnya korban di kedua belah pihak. Ini menunjukkan bahwa peperangan atau pembantaian yang sedang terjadi bukan perang terbuka. Melainkan pembantaian yang sedang terjadi adalah perang tertutup yang bersifat intern di dalam tubuh TNI. Berikut ini kami akan menjelaskan sebisanya tentang keanehan fakta serta kebohongan yang melingkupi peristiwa naas tersebut.

  1. Mental rakyat menghadapi tentara.

    Kami tidak menyangka bahwa rakyat biasa yang hanya bermodalkan belati atau celurit atau pisau silet berani melukai sederet jendral berbintang. Sekalipun mereka berani, pasti tentara-tentara tersebut telah ditaklukkan lebih dahulu oleh prajurit lainnya. Tetapi sekalipun demikian, tidak ada prajurit yang rela/ tega menyerahkan atasannya untuk dipermain-mainkan oleh rakyat biasa seperti yang dahulu pernah di tayangkan di film yang menceritakan kisah ini.

  2. Siapa yang mempersenjatai rakyat?

    Bila persenjataan hanya ada di tangan tentara, lalu siapa yang mempersenjatai masyarakat PKI? Aneh juga rasanya bila masyarakat tiba-tiba punya senjata api, tidak mungkin itu diperoleh lewat belanja online sebab dulu belum ada smartphone. Mustahil juga itu di dapat dari luar negeri sebab pihak beacukai dan keamanan pelabuhan pasti dapat melacaknya. Tetapi bisa jadi, senjata-senjata itu adalah milik tentara yang sengaja diambil secara diam-diam di gudang senjata oleh oknum prajurit yang tidak bertanggung jawab.

  3. Mengapa paspampres atau ajudan presiden?

    Ini salah satu fakta G30S PKI yang paling aneh sedunia. Ada apa dengan prajurit pengawal presiden sampai berubah status menjadi pengikut PKI? Dikatakan bahwa dia adalah eksekutor lapangan yang langsung bertindak kejam terhadap orang-orang yang mungkin saja adalah atasannya (dari segi pangkat). Rakyat jelata jadi PKI, itu sudah otomatis nggak digajipun pasti mau dukung. Akan tetapi, saat seorang yang hidupnya mapan karena digaji negara (mantan tentara) menikung jadi komunis: rasanya ada yang salah. Dibayar berapa atau dijanjikan apa dia sampai mau repot jadi komunis menghajar orang-orang penting dalam lembaga yang pernah mendidik dan menopangnya?

  4. Indonesia adalah anggota gerakan nonblok.

    Kami sendiri belajar sejarah dan menemukan bahwa Indonesia kita merupakan salah satu pendukung gerakan non blok. Lalu mengapa tiba-tiba saja para pemimpin kita saat itu menghilangkan PKI dari garis sejarah pollitik kepartaian? Ini adalah kejanggalan yang sangat jelas menunjukkan bahwa Indonesia melanggar janjinya sendiri dengan mendukung blok barat dan hendak melenyapkan gaungan blok timur di negeri. Sikap yang tidak adil ini menunjukkan bahwa ada usaha-usaha sempit dari para pemimpin negeri untuk memotong sayap dan kaki sosialis/ komunis di Indonesia.

  5. Mengapa Indonesia diusir dari PBB.

    Coba cari tahu lagi, apa alasannya Indonesia sempat diusir dengan ditangguhkan keanggotaannya dari PBB? Bisa jadi keadaan ini disebabkan oleh karena penipuan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah terendus oleh lembaga yang loyal memperjuangkan hak azasi manusia. Bisa jadi ini adalah jejak sejarah yang menunjukkan terjadinya distorsi bersar di dalam negeri. Kami hanya menebak tetapi agaknya meragukan bila orang pemerintah membuat laporan/ pengakuan jujur tentang alasan tersebut jika berhubungan dengan kesalahannya.

    Jika dilihat dari pemberitaan media, katanya “Indonesia keluar dari PBB.” Seolah-olah kita yang berinisiatif untuk keluar dari sana. Padahal, kenyataannya Pemerintah Indonesia dilepaskan keanggotaannya dari PBB akibat kebohongan besar-besaran yang dilakukannya terhadap publik. Ini adalah bukti kongkrit bahwa dunia internasional tahu persis hoax yang dilancarkan oleh pemerintah kala itu.

  6. Bagaimana mungkin anggota PKI dikejar-kejar sampai ke daerah.

    Kami sendiri heran mendengar rumor yang sampai ke telinga ini. Bukannya kami tidak percaya, hanya saja “bagaimana mungkin pendukung komunis yang jumlahnya jutaan dapat ditangkap oleh aparat yang jumlahnya puluhan/ ratusan/ ribuan orang saja.” Lagipula kalau seluruh pendukung sosio-komunis kala itu dipenjarakan maka tidak bakalan muat di penjara manapun di seluruh Indonesia yang kapasitasnya sangat kecil.

  7. Mungkinkah PKI menyerang pesantren?

    Terus rumor berikutnya yang janggal nyeleneh minta ampun soal komunis adalah simpatisannya yang menyerang pesantren ini dan itu. Rumor yang satu ini juga sangatlah rapuh sebab banyak masyarakat Indonesia kala itu yang beragama Islam. Mustahil simpatisan komunis berani menyentuh pesantren yang penganutnya berani berjuang sampai mati syahid demi mempertahankan agamanya. Terlebih lagi kalau di sekitar situ banyak/ mayoritas Muslim.

  8. Tidak ada jejak atheis atau Rusia di Indonesia.

    Silahkan melihat-lihat Indonesia, apa pernah ada lembaga yang mendukung ateis di negeri ini? Tanyakan kepada rakyat tentang Tuhan, pasti semua meyakini keberadaan-Nya. Perkembangan kepercayaan masyarakat kala itu masih fanatik dengan agamanya. Tidak ada yang rela meninggalkan keyakinannya demi sesuatu yang masih belum jelas adanya. Keadaan ini juga disebabkan karena tokoh-tokoh komunis masih belum banyak di negeri ini. Perkembangan partai dan paham-pahamnya hanya mencakup daerah perkotaan saja dan belum sampai ke pelosok di seluruh tanah air. Keadaan ini turut ditegaskan lewat keberadaan partai tersebut yang masih seumur jagung namun sudah buru-buru dihapus dari tatanan politik Indonesia.

  9. Katanya banyak PKI dibunuh dan dipenjarakan secara masal tanpa proses hukum.

    Bagian ini merupakan salah satu rumor yang juga sangat hangat di telinga. Seolah-olah PKI adalah sumber kejahatan terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Padahal semuanya itu hanyalah alat untuk menyembunyikan siapa penjahat asli tertop dalam peristiwa naas tersebut. Ini juga hoax-nya sangat mudah di baca, sebab sekejam-kejamnya Orde Baru, mereka tidak sampai membunuh: intimididasi mungkin saja tetapi membunuh bukanlah gaya Orba melanggengkan kekuasaannya.

    Sadar atau tidak Presiden Suharto tidak melakukan kudeta saat merebut tampuk kekuasaan tertinggi di Indonesia. Artinya, dari awal pemerintahannya bersih dari pertumpahan darah sehingga selanjutnya pun akan demikian. Kami baru percaya bahwa Suharto berani membunuh orang kalau saja dia merebut tampuk kekuasaan lewat kekerasan atau militerisme. Tetapi nyatanya, kekuasaan itu diberikan kepadanya dengan catatan siap menanggung beban atas peristiwa G30S PKI. Terbukti bahwa sempat ada rumor yang beredar menyebutkan bahwa Suharto adalah dalang peristiwa tersebut. Oleh karena itu, dia pun melakukan antisipasi dengan menyebarkan kabar bohong lewat pemberitaan dan perfilman yang menjelaskan bahwa komunis adalah otak peristiwa tersebut.

    Tentulah rezim Suharto sangat mendalami kisah naas yang menimpa rezim sebelumnya. Dia tahu betul bahwa presiden kala itu telah di daulat sebagai Presiden Seumur Hidup. Sayangnya, pertumpahan darah dalam kepemimpinannya membuat dia mundur secara tragis dengan sedikit cerita Supersemar yang agak aneh. Ingat-ingatan akan sejarah kelam tersebut, tidak mungkin dilupakan oleh rezim Suharto. Jadi, sudah pasti Orde Baru enggan membunuh manusia karena tidak mau lengser dengan cara pahit yang sama.

    Kesan sejarah lainnya yang menunjukkan bahwa Presiden Suharto tidak berani membunuh orang adalah kedekatannya dengan Amerika. Ini adalah negara yang secara nyata memperjuangkan hak-hak azasi manusia sampai sekarang. Mustahil Amerika bersama IMF sampai membantu pemerintah yang suka merampas hak-hak masyarakat. Sekali lagi kami tegaskan, rezim Suharto mungkin mengintimidasi dan membohongi masyarakat tetapi tidak sampai merampas hak-hak manusia apalagi membunuh orang.

  10. Hukuman terhadap PKI terlalu bombastis.

    Kami tidak tahu, kemana para cendikiawan kala itu, saat ada pemberitaan tentang “Pemusnahan antek PKI sampai ke akar-akarnya.” Logikanya mudah saja, korban dipihak militer berapa orang, lalu korban di pihak komunis berapa orang? Masakan nyawa beberapa orang saja harus ditebus dengan menggunting dan membunuh hak-hak ribuan orang? Keadilan macam apa ini? Informasi tersebut jelas sebuah kamuflase kebohongan yang dibesar-besarkan untuk menutupi kejadian yang sebenarnya. Artinya, sesungguhnya tidak ada yang namanya menggunting hak-hak ribuan orang simpatisan PKI, itu hanyalah beberapa orang saja. Tetapi, sengaja dibesar-besarkan agar fokus publik teralihkan sekaligus menakut-nakuti calon-calon sosialis di seluruh negeri ini.

Kesimpulan

Apa yang kami lakukan di sini hanyalah berlogika. Kami sendiri pun anak kemari sore yang bahkan belum lahir pada tanggal 30 september. Lucu juga kalau tentara yang bersenjata bisa terbunuh oleh masyarakat biasa. Akan tetapi, lebih masuk akal rasanya jika tentara melawan tentara sehingga jatuhlah korban jiwa dengan cepat. Hanya satu malam saja orang-orang penting yang dikawal ketat dapat ditumbangkan. Ini jelas-jelas bukan perbuatan rakyat biasa melainkan dilakukan oleh prajurit yang terlatih. Lalu apa hubungannya prajurit terlatih ini dengan PKI? Masakan pihak yang seharusnya dilawan malah jadi kawan? Atau jangan-jangan komunis hanya dikambing hitamkan sekaligus menakut-nakuti kader-kader pemikir beraliran sosialis yang memperjuangkan keadilan sosial? Sedangkan duduk perkaranya adalah perpecahan di tubuh tentara nasional yang dianggap memerlukan tindakan pembersihan. Ini mungkin saja terjadi di masa tersebut sebab aura perang di masa lalu (pra dan pasca kemerdekaan) masih menggebu-gebu di dalam sanubari beberapa orang. Baiklah itu menjadi pelajaran bagi kita untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Kejanggalan Peristiwa G30S PKI – Keanehan Fakta Dan Kebohongan Di Dalamnya 2

Salam, Kami bukan komunis,
dan tidak setuju dengan pemikiran komunis.
Tetapi komunis adalah abang sulung sosialis,
yang sesat jalan memperjuangkan keadilan
dengan cara-cara yang keras.
Sekali pun di Indonesia partainya pernah bernafas
tetapi tidak sampai mengakar ke pelosok
dan belum menerapkan kekerasan
yang sifatnya meluas.
Sekalipun ada jejak kekerasan
itu hanya di antara para petingginya!
Alibi terkuat dari pernyataan ini adalah
“komunis belum sempat
memiliki kekuasaan di Indonesia!”
Jika di luar negeri partai buruh
melakukan kekerasan dan membunuh:
itu karena merekalah yang
berdiri di tampuk tertinggi
kekuasaan negara
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.