10 Alasan Kebenaran Tidak Relatif Tetapi Adaptif (Disesuaikan Dengan Momen Dan Sikon Yang Dihadapi)

Alasan Kebenaran Tidak Relatif Tetapi Adaptif (Disesuaikan Dengan Momen Dan Sikon Yang Dihadapi)

Teori relativitas Einstein, telah menimbulkan banyak pertanyaan di antara kaum cendikia, “apakah ada kebenaran yang benar-benar, BENAR?” Sebab teori ini menyebutkan bahwa tidak ada yang mutlak di seluruh alam semesta. Pemahaman semacam ini sangat fundamental sebab bisa saja membuat keyakinan seseorang terhadap apa yang dipercayainya malah menemui jalan kesimpang-siuran. Sebab apa yang selama ini dianggapnya benar, malah dapat berpotensi menjadi sebuah alasan untuk melakukan kejahatan yang merugikan sesama dan lingkungan sekitar. Bahkan akan banyak orang yang menjadi tak percaya lagi terhadap keberadaan Tuhan karena mata kepalanya tidak bisa melihat hal-hal ilahi tersebut.

Sebelumnya, kita perlu mengurai terlebih dahulu, “apa yang kami maksud dengan kebenaran?” Seperti yang sudah-sudah kami sampaikan bahwa tidak ada sesuatu yang benar di dunia ini selain mengasihi Allah sepenuhnya dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Lantas, apakah dalam penerapannya kedua hal ini tidak bisa diterapkan dalam segala waktu dan segala kondisi yang kita hadapi? Sejauh apa pun teori relativitas menjengkali kehidupan, itupun tidak akan menjawab semua permasalahan yang ada di dunia ini. Mungkin beberapa persoalan yang kurang populer akan memanfaatkan teori tersebut untuk kepentingan kalangan tertentu saja. Akan tetapi, dua poin kebenaran yang selalu diingatkan oleh Tuhan Yesus Kristus adalah solusi dari segala permasalahan yang terjadi di seluruh bumi.

Faktor yang menyebabkan nilai benar sifatnya tidak relatif adanya.

Pada dasarnya, teori relativitas ini dmanfaatkan secara berlebihan oleh beberapa kalangan untuk membenarkan apa yang seharusnya tidak termasuk dalam golongan kebenaran. Orang-orang tersebut hanya berusaha untuk memanfaatkan sesuatu demi kepentingan pribadi dan kelompoknya semata. Sedang mereka sendiri semakin menjauh dari nilai-nilai yang benar dengan alibi bahwa kebenaran itu relatif. Mengedepankan solusi yang kurang adil saat menyelesaikan suatu perkara sehingga hanya satu yang diuntungkan, yaitu dirinya dan kelompoknya semata. Berikut akan kami jelaskan alasan mengapa yang benar itu tidak relatif melainkan adaptif.

  1. Kebenaran selalu kita lakukan, sadar atau tidak.

    Sadarkah anda bahwa kita selalu melakukan hal yang benar di segala waktu yang kita jalani? Misalnya saja, bernafas, minum air dan bergerak dengan benar. Coba bayangkan bagaimana jadinya seseorang saat cara bernafasnya salah atau saat porsi air yang diminum kurang atau saat cara jalannya salah? Pasti lama kelamaan orang tersebut jatuh sakit.

    Demikian juga selama menjalani hidup kita selalu melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Selalu mengucap syukur, berdoa dan bernyanyi memuliakan Dia. Berusaha untuk hidup seturut firman-Nya dari waktu ke waktu. Saat bersama orang lain, kitapun berusaha berbuat yang benar dimulai dari memikirkan yang baik bagi orang lain, mendoakannya, ramah-tamah dan lain sebagainya. Jadi, bisa dikatakan bahwa sesungguhnya kebenaran menyentuh seluruh lini kehidupan kita tanpa terkecuali.

  2. Kebenaran tidak berubah-ubah tetapi bentuk dan jenisnyalah yang bermacam-macam.

    Kasih kepada Tuhan terdiri dari beragam bentuk. Ini bisa diekspresikan dengan membaca firman-Nya, memanjatkan doa-doa dan bernyanyi memuji-memuliakan nama-Nya. Tidak sampai di situ saja, bahkan setiap sikap yang kita ekspresikan pun menjadi alat untuk memuliakan nama-Nya asalkan kita melakukannya dalam kebenaran.

    Kasih kepada sesama juga bisa terwujud menjadi berbagai bentuk kebaikan. Memang ada yang namanya kebaikan memberi dengan bersedekah materi. Tetapi ada juga kasih yang lebih sederhana dari itu, yakni dengan bersikap santun dan ramah kepada siapa pun. Mau yang lebih sederhana lagi yang dapat dilakukan tanpa batas dan berulang kali? Mendoakan kebaikan sesama adalah kasih yang paling sederhana: sudahkah anda rutin melakukannya?

  3. Sesuatu yang benar berbeda menurut kemampuan/ bakat/ kelebihan masing-masing orang.

    Kebenaran adalah nilai mutlak dalam kehidupan kita sebab prinsip ini menyentuh semua sisi-sisi kehidupan manusia. Akan tetapi, dalam beberapa wujud, kebaikan satu orang bisa saja berbeda dengan kebaikan orang lain, tergantung dari potensi yang dimiliki tiap-tiap orang. Mereka yang memiliki bakat di bidang pengetahuan umum akan membagi pengetahuannya. Orang yang kelebihannya melakukan pekerjaan tertentu akan berbagi lewat pekerjaan tersebut. Manusia yang memiliki bakat khusus di bidang ini-itu: berbuat baik kepada sesama lewat bakat yang dimilikinya. Jadi, kesih yang dibagikan seseorang kepada yang lain tidak selalu sama, tergantung dari potensi yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jadi kebenaran kasih itu mutlak, hanya saja bentuknya berbeda-beda menurut apa yang dimiliki oleh tiap-tiap orang.

  4. Kasih menyesuaikan dengan waktu (momen) dan sikon yang kita hadapi.

    Dari yang kami pelajari, hal-hal yang benar itu sifatnya tidak kaku. Melainkan masing-masing menyesuaikan dengan situasi dan momen yang dihadapi oleh tiap-tiap orang. Misalnya saja, saat di gereja, bernyanyi memuliakan Tuhan dengan mengeluarkan suara. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih banyak bernyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati sambil menyelesaikan pekerjaan lainnya.

    Contoh lainnya saat beramah tamah: kita melakukannya saat ada kontak mata atau posisi kita sangat dekat dengan orang lain. Tentu saja, kita tidak mungkin ramah kepada orang yang sangat jauh keberadaannya. Yang terjadi malah ekspresi keramahan tersebut tidak dapat ditangkap oleh orang lain sehingga dia terkesan cuek, padahal kitalah yang kejauhan.

  5. Peraturan dihasilkan karena kebenaran.

    Hal-hal yang benar mutlak diperlukan dalam segala lini kehidupan ini. Salah satu perwujudan kebenaran yang dampaknya sangat nyata yaitu lewat peraturan yang berlaku luas di dalam masyarakat. Memang di dalam peraturan tidak dijelaskan tentang hal-hal spesifik soal mengasihi sesama. Namun pada hakekatnya kasih yang adil antar manusialah yang mendasari pembuatan setiap aturan. Ada tujuan bersama yang perlu dicapai oleh masyarakat/ komunitas profesi sehingga dibuatlah suatu gambaran umum dari harapan yang hendak dicapai dan cara-cara untuk mencapainya yang dituangkan dalam standar operasional prosedur. SOP yang dimiliki oleh setiap lembaga memang tidak menyebutkan secara tertulis tentang “kasihilah sesamamu dengan seadil-adilnya.” Akan tetapi saat kita mempelajari keseluruhan dari protap tersebut: semuanya bertujuan untuk menciptakan kebenaran yang kondisif di dalam masyarakat.

  6. Kebenaran saat menghadapi ujian (anak sekolah atau kuliahan).

    Ada yang mengatakan bahwa saat menempuh ujian di dunia pendidikan, tidak ada lagi kasih di sana. Sebab masing-masing orang menjadi egois dengan menyembunyikan jawabannya. Ini jelas-jelas tidak mencerminkan sikap yang baik, bukankah semua manusia harus saling tolong menolong?

    Tapi, tahukah anda bahwa saat kita menyembunyikan jawaban dari orang lain kala ujian sedang berlangsung, kita menyelamatkannya dari kebodohan di masa depan? Sebab dengan memberikan jawaban saat ujian, bisa jadi kawan tersebut akan malas belajar di hari-hari berikutnya. Jadi, tidak memberikan jawaban saat ujian sedang berlangsung justru mendidik teman agar senantiasa rajin belajar untuk mendapatkan hasil terbaik.

  7. Kebenaran dalam rasa sakit/ penderitaan adalah ujian yang meningkatkan kualitas kepribadian.

    Lalu ada yang berkata, “dimana kebenaran saat kita mengalami kesesakan hidup? Sadarilah bahwa ini adalah salah satu bentuk lain dari nilai yang benar. Memang benar bahwa penderitaan membawa hidup kita semakin intim dengan Tuhan dan semakin dekat dengan sesama.

    Persoalan menggoncangkan kehidupan kita sehingga menimbulkan gejolak emosional yang tinggi. Mereka yang bisa mengendalikan diri dari situasi yang pelik telah dituntun dalam kebijaksanaan yang sesungguhnya. Mampu bersabar dan tenang di tengah masalah yang datang bertubi-tubi merupakan bukti kuat dari perkembangan kepribadian seorang manusia yang semakin lama semakin baik/ positif.

    Peliknya persoalan di dunia ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu ketergantungan dengan gemerlapan materi apapun. Melainkan mulai mendedikasikan hidup untuk mencari kepuasan jiwa lewat kebaikan yang dilakukan, baik kepada sesama, lingkungan sekitar maupun kepada diri sendiri.

  8. Kebenaran antara manusia dan lingkungan sekitar.

    Kebenaran hakiki hanya mengarahkan kita untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Bagaimana dengan lingkungan sekitar yang di dalamnya berisi hewan dan tumbuh-tumbuhan hijau, bisakah kita berlaku semena-mena terhadap lingkungan sekitar kita?

    Di sinilah sisi universalitas dari nilai yang benar menjadi nyata. Saat kita mengasihi sesama berarti perlu merawat kelestarian lingkungan. Sebab lingkungan hidup adalah penopang utama kehidupan umat manusia di bumi ini. Demikian juga saat kita mengasihi Sang Pencipta maka kitapun perlu menyayangi dan melindungi lingkungan yang merupakan bagian dari ciptaan Allah kita.

  9. Kebenaran dan sandiwara kehidupan.

    Ada beberapa orang cendikiawan yang masih ragu, apakah saat ini masih ada kebenaran? Sebab masing-masing manusia hanya melakukan sandiwara dalam banyak aktivitas di dunia kerja. Sedang kita tahu bersama bahwa dimana ada sandiwara, di sanalah ada kebohongan. Padahal yang namanya penipuan jelas-jelas dilarang oleh ajaran Tuhan.

    Menurut hemat kami, penipuan dalam sandiwara adalah kebohongan yang jinak sebab tidak ada yang hendak kita ambil/ kita curi dari orang lain. Kebohongan itu menjadi salah saat kita menggelapkan hak-hak orang lain lewat sandiwara tersebut. Jika sandiwara yang anda lakukan tidak sedang menggelapkan/ merugikan/ menyembunyikan/ mencuri hak-hak sesama manusia lainnya, selama itulah sebuah karya seni aman untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, berlakukanlah keadilan sosial agar tidak ada manusia yang mati-matian berbohong untuk tujuan meraup untung besar, sebanyak-banyaknya. Lagipula dengan bersandiwara manusiaa aktif yang membuat otak aktif, kecerdasan selalu terasah dan masih banyak manfaat lain dari beraktivitas ketimbang diam sepanjang hari.

  10. Ada banyak standar yang benar dan tidak bertentangan dengan kebenaran hakiki.

    Bisakah anda menyelami bahwa di segala waktu dan tempat ada kebenaran? Lantas apa yang benar itu memiliki standar yang berbeda-beda. Misalnya, ada yang sebenarnya di dunia kesehatan, hukum, politik, sosial dan berbagai-bagai bidang kehidupan lainnya. Intinya, semua hal tersebut bagus untuk dilakukan asalkan tidak bertentangan dengan kebenaran hakiki: kasih yang utuh kepada Tuhan dan kasih yang adil kepada sesama manusia.

  11. Dan lain sebagainya. Silahkan temukan sendiri hal-hal yang menimbulkan kontroversi sehingga diragukan kebenarannya.

Kesimpulan

Kebenaran tidak relatif (berubah-ubah) melainkan selalu ada dan nyata kita lakukan dari waktu ke waktu. Hanya saja yang mungkin berbeda adalah bentuknya. Saat berbuat benar di hadapan Tuhan, pikiran selalu fokus kepada-Nya sedangkan saat berlaku benar kepada sesama dimulai dari doa, ramah tamah, menghormati hak orang lain dan sebagainya.

Apakah kebenaran berubah-ubah? Inilah yang harus kita pahami, bahwa apa yang benar itu sifatnya sangat umum. Artinya, sisi kehidupan yang satu ini masih memiliki banyak turunan sikap yang lebih spesifik. Dalam artian, bukan nilai benarnya yang senantiasa berubah melainkan pembagian jenisnyalah yang banyak ragamnya. Selain itu penggunaannya disesuaikan dengan momen yang tepat dan tergantung dari situasi yang sedang berlangsung (adaptif). Sampai di sini sudah jelas bahwa nilai kebenaran sangat penting di dalam kehidupan kita. Segala sesuatu yang kita alami di dunia ini pasti ada esensi benarnya. Hanya saja, kelemahan kita mungkin adalah belum pandai mengambil sudut pandang yang tepat untuk menggali esensi yang benar tersebut. Oleh karena itu, bersabarlah menunggu penjelasan dari Roh Allah saat berada dalam persimpangan yang penuh dilema. Niscaya sukacitamu penuh ketika tahu bagaimana menjawab yang sebenarnya.

Salam, Kebenaran itu sekop besar
alias cakupan luas,
banyak yang terpaut di dalamnya.
Nilai yang tidak sempit
dan sangat bergantung
dari sudut pandang.
Mustahil yang benar itu relatif
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.