10 Ancaman Terbesar Kemanusiaan Adalah Kenyamanan

Ancaman Terbesar Dalam Kehidupan Manusia Adalah Kenyamanan

Silahkan baca kisah nenek moyang kita di masa awal penciptaan. Mereka telah dianugerahkan alam yang gemah ripahloh jinawi: bukannya bersyukur, malah yang mereka lakukan adalah mengabaikan perintah Allah. Seperti apa gejolak dalam kehidupan mereka sampai semuanya ini terjadi? Ada yang mengatakan bahwa ini terjadi karena mereka belum dewasa dalam hal berpikir. Yang lainnya berkata bahwa hidup mereka terlalu nyaman dan terlena dengan semua kecukupan yang dimiliki. Sedang ada pula yang mengatakan bahwa keadaan ini disebabkan oleh karena kepribadian manusia itu sendiri yang cenderung suka melakukan dosa ketimbang hal-hal yang benar.

Di atas semua spekulasi yang terpikirkan oleh tiap-tiap orang. Kami lebih memilih untuk menganggap bahwa keadaan ini disebabkan oleh karena kenyamanan yang menyelubungi kehidupan manusia. Sebab rasa nyaman tersebut seperti narkoba yang melemahkan kesiagaan seseorang. Keadaan terlena membuat tingkat kewaspadaan menurun sehingga ketika jerat akar dosa merintangi jalan: dilalui tanpa sadar sehingga kembali terjebak dan takluk menjadi hamba dosa. Dari banyak kisah-kisah kejadian di masa lalu, ada banyak tokoh-tokoh Alkitab yang melakukan pelanggaran hebat saat hidup sedang nyaman-nyamannya. Ambil saja salah satu contoh tokoh tersebut adalah raja Daud.

Memang di satu sisi, kita perlu juga memahami betapa hal-hal semacam itu, manusiawi. Artinya, tidak ada seorangpun manusia yang terluput dari noda akibat pelanggarannya sendiri. Tetapi bukan dalam arti kita bisa menirunya, melakukan hal yang sama lalu sekonyong-konyong berasumsi membela diri bahwa “ahh… tokoh Alkitab ini-itu juga melakukan pelanggaran tersebut, mengapa saya tidak boleh? Saya khan juga manusia biasa….” Berhati-hatilah kawan, hindari mencari-cari alibi setelah melakukan kejahatan. Sebab yang salah tetaplah salah! Hindari sifat kekanak-kanakan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Kalau memang kita yang melakukannya, akuilah itu dengan terbuka sambil meminta maaf kepada Allah dan kepada sesama. Juga jangan lupakan untuk siap-sedia menanggung beban resiko kerugian materi akibat ketelodoran tersebut.

Tidak ada seorangpun manusia yang tidak menggemari rasa nyaman, bahkan bila perlu rasa tersebutlah yang mengisi kehidupannya dari waktu ke waktu. Kami pun menyukai hal yang demikian. Namun, bagaimana jadinya kehidupan kita ketika terlena dengan hal-hal tersebut? Orang yang sedang keenakan, disudutkan oleh gangguan kecil saja, bisa-bisa terkejut sehingga sikap yang kesal meluap menjadi amarah lebay yang agak tidak tahu malu. Siapa pun orangnya, kalau ketenangan hidupnya diusik pasti akan melakukan hal yang sama. Masalahnya sekarang adalah bagaimana kalau pihak tertentu sedang gencar-gencarnya menguji-cobai kita? Bahkan saking banyaknya pencoba itu, kita sampai kewalahan menghadapinya sebab belum siap kesesakan yang satu sudah muncul kesesakan yang lain.

Pada saat-saat genting dimana persoalan hidup lagi ramai-ramainya, itulah waktu dimana hampir tidak ada hal yang membuat kita nyaman. Keadaan ini akan semakin parah saja ketika kita belum ikhlas menerima kenyataan yang terjadi. Distorsi kuat antara apa yang kita inginkan dengan kenyataan yang terjadi, membuat mental tertekan alias stres. Kebanyakan manusia saat sedang stres tidak mampu berpikiran jernih dan otaknya negatif melulu serta kurang mampu mengendalikan diri. Di saat seperti ini, hanya ada tiga atau empat hal yang mungkin terjadi: merugikan orang lain, merugikan lingkungan alamiah atau bisa juga merugikan diri sendiri. Keadaan ini menandakan rendahnya kemampuan seseorang untuk bertahan situasi yang pelik. Artinya, besar kemungkinan semakin nyaman kehidupan maka semakin rapuh orang tersebut terhadap ketidaknyamanan bersumber dari gejolak sosial yang menghantam.

Keinginan akan rasa nyaman juga turut berkembang dalam diri tiap-tiap orang. Ini bisa berhubungan erat dengan hasrat tiap-tiap orang, bila hasrat cenderung dibiarkan saja merajai kehidupan tanpa suatu kendali yang mengontrol ekspresinya. Besar kemungkinan rasa nyaman yang kita kejar justru menjadi jerat dalam keseharian kita. Sebab hal tersebut justru hanya memanjakan indra belaka sedang manfaat yang dirasakan sangatlah minimal. Yang terjadi justru kita hanya memboros-boroskan uang untuk sesuatu yang pemakaiannya sesaat saja. Kalangan yang menguasai sumber daya besar akan dimampukan pulla untuk membeli kenyamanan yang lebih hebat: istilah kerennya “lain dari yang lain.” Tentu saja rasa nyaman ekstra tersebut turut pula menghabiskan lebih banyak energi dan sumber daya lainnya selama proses pembuatan dan pengoperasinya.

Lihat lingkungan sekitar anda: kenyamanan kapitalis adalah materi super besar yang menghabiskan banyak sumber daya dalam proses pembuatan dan pengoperasiaannya. Artinya, semakin besar pendapatan seseorang maka semakin besar pula rasa nyaman yang dapat dibeli. Sedang untuk membuat hal yang besar-besar itu, dibutuhkan kekuatan sumber daya ekstra. Jika ini dilakukan oleh banyak orang maka semakin lama potensi lingkungan akan semakin merosot karena dirusak oleh aktivitas mesin dan industri demi memuaskan hasrat super nyaman dari para pemodal super tajir. Karena semua kelas kenyamanan hidup yang dipeliharanya, pemodal besar tersebut secara tidak langsung telah merusak lingkungan. Oleh karena itu, untuk apa menggaji pejabat dan pemimpin sangat tinggi jika mengetahui bahwa uang tersebut justru digunakan untuk membeli kenyamanan yang merusak lingkungan hidup?”

Ancaman terbesar kemanusiaan adalah kenyamanan

Yah…. Begitulah seharusnya hidup yang lebih baik. Harta benda lebih banyak, rumah lebih gede, halamannya sangat luas, mesin-mesin selalu siap ditekan, pembantu siap disuruh-suruh dan lain sebagainya. Belum cukup sampai di situ saja, saat menikmati hidup di luar rumah selalu memilih yang lebih dari biasanya. Budaya nyaman ala konglomerat memang jelas berat diongkos. Mereka menghabiskan banyak hanya untuk memuaskan nafsu sesaat tanpa sempat berpikir tentang nasib orang lain dan generasi berikutnya. Akan kami ceritakan kembali beberapa hal yang perlu diwaspadai saat kita sedang menikmati betapa nyamannya hidup ini.

  1. Terlena dan kehilangan kesadaran terhadap dosa (cenderung melakukan kejahatan).

    Manusia kalau sudah tahu ini-itu nyaman, pasti akan digandrungi secara terus-menerus. Saat merasa bahwa sesuatu itu enaknya minta ampun, pasti akan dikonsumsi lagi dan lagi. Sayangnya saat seseorang sedang mabuk dalam nikmatnya kehidupan, tidak ada lagi kata-kata yang dapat dipahaminya. Seolah otaknya jadi tumpul sehingga tidak mampu menyaring sikap. Akhirnya keluarlah sikap picik, jahat dan mesum menguasai kehidupannya yang sementara

  2. Menginginkan kenyamanan yang lebih dan lebih lagi.

    Begitulah manusia, mereka selalu memiliki nafsu yang bekembang dari satu waktu ke waktu lainnya. Orang memang tidak diciptakan untuk senang-senang terus tetapi kita bisa bahagia selamanya dalam rasa cukup, berpuas diri dan senantiasa bersyukur. Sebab saat satu kesenangan tidak bisa terpenuhi seluruhnya maka lupakanlah itu. Sebab saat kita masih terpaku pada apa yang kurang maka semakin kekuranganlah hidup ini. Akan tetapi, saat anda merasa puas dengan apa yang ada, niscaya kebagiaan yang lebih bernilai dari rasa nyaman akan bersinar.

  3. Apa yang nyaman bisa jadi tameng sehingga kita tidak perlu menjalani ujian sosial.

    Rumah dan halaman luas yang memberi perlindungan memang sangat membuat penghuninya berada dalam zona aman tanpa gangguan sosial sedikit pun. Apakah keadaan semacam ini akan terus-menerus berlangsung? Inilah yang tidak bisa kita jamin. Sehebat apapun kita melindungi diri agar tetap aman dan tetap nyaman. Selalu saja orang lain punya kesempatan untuk mencobai kita.

    Justru bisa buruk akibatnya kalau kita terlalu over protektif, sangat hebat membentengi diri dengan pagar dan tembok yang besar lagi tebal. Apabila kita tak pernah bermasalah, bagaimana kita belajar sabar? Bagaimana kita belajar memilih yang baik di antara banyaknya pilihan yang salah? Mungkinkah ada pelajaran ikhlas saat kita hanya menatap tembok? Bisakah kita belajar tulus berbuat baik hanya dengan menatap layar kaca?;;;;;;

  4. Kurang siap saat timbul masalah.

    Orang yang selalu siap sedia menghadapi masalah, tahu harus berbuat apa saat persoalan itu timbul. Terlena dalam kenyamanan hanya memanjakan pikiran. Saat hati-pikiran tidak siap sedia menjalani suatu tekanan, bisa membuat kalang kabut. Saat sesuatu menyerangnya, seolah dia bingung harus berbuat apa. Justru di tengah semua kekacauan berpikir tersebut, malah fokus kepada besarnya pergumulan hidup yang sedang menimpanya. Semua ini bisa berimbas membuat susah hati yang menyebabkan stres dan semakin diperparah karena solusinya belum ditemukan.

  5. Bereaksi lebay saat dihampiri oleh ujian sosial.

    Kenyamanan terus-menerus lebih banyak menimbulkan kebanggaan. Sebab salah satu ciri khas kata-kata yang menyamankan rasa adalah pujian. Bila seseorang banyak dipuji dan ia sendiri pun terus-menerus memuji dirinya di dalam hati, besar kemungkinan menjadi bangga terhadap diri sendiri. Pada saat inilah orang sangat mudah tersinggung sebab ujian yang sampai dihadapannya seolah-olah membuatnya seperti orang yang paling hina. Tepat saat situasi yang menyakitkan itu kembali terulang langsung di balas balik dengan hinaan yang lebih menggelegar (skala besar: dimuka umum, dipamerkan di media sosial atau lewat situs pribadi sebagai sebuah kebanggaan).

  6. Rasa nyaman yang mewah dan berkelas memboroskan sumber daya.

    Di dunia nyata, membuat sesuatu yang menawan menurut indra sangat menyita waktu dan tenaga. Bukan hanya sampai di situ saja, sumber daya yang dibutuhkan untuk merancang dan membangun semuanya itu sangatlah besar. Seolah terjadi pemborosan tetapi mereka yang melakukannya tidak merasa berboros-boros, sebab hartanya banyak dimana itu hanya secuil dari warisan keluarganya. Tidak ada konglomerat yang merasa memboroskan sumber daya sebab dia membandingkan pengeluarannya dengan gaji besar yang diterima. Masih banyak sisa gaji yang dapat disimpannya, kalau itu boros, tidak mungkin dia menyimpan segede itu.

    Demikianlah orang-orang yang mencicipi kenyamanan yang mewah dan berkelas memandang sikap hidupnya seolah-olah positif. Padahal kalau dihitung-hitung, besaran pengeluarannya dapat membiayai kebutuhan penduduk satu desa bahkan satu kecamatan.

  7. Nyamannya hidup konglomerat berpotensi menyebabkan bencana alam dan bencana kemanusiaan.

    Pemborosan orang-orang tajir adalah nafkah bagi rakyat kecil. Sistem yang tidak adil memang selalu saja seperti ini. Justru kalau orang-orang kayanya pada hemat semua maka akan banyak orang yang tidak punya penghasilan dan miskin. Jadi, saat kaum bangsawan melakukan pesta memamerkan dirinya dan keluarganya: penghasilan penduduk lebih lancar dan meledak dalam satu waktu. Inilah dilema sistem kapitalisme yang merusak sistem itu sendiri.

    Pemborosan sumber daya demi kenyamanan bukan tanpa efek samping. Dimana polanya seperti biasa, “saat satu keinginan telah terpenuhi akan timbullah nafsu terhadap rasa nyaman lainnya dan ada kecenderungan semakin lama semakin besar saja nafsu itu.” Bila hal ini terus berlanjut, niscaya kerusakan lingkungan akan membayangi masyarakat, bahkan satu-dua bencana alam pun mulai terjadi.

  8. Mudah dikendalikan pihak tertentu.

    Pada bagian inilah orang-orang super cerdas bekerja secara terampil. Mereka sengaja menebar kenyamanan yang membuat manusia terlena sehingga sangat rapuh dalam situasi yang pelik. Kerapuhan inilah yang dijadikan konglomerat kelas wahid sebagai tali kekang sekaligus menjadi sesuatu yang bisa diperjual-belikan dengan harga tinggi.

  9. Mudah disakiti.

    Pada dasarnya rasa sakit dinilai dari kemampuan seseorang untuk bertahan di tengah persoalan yang rumit. Saat kehidupan kita terus-menerus dihangatkan oleh rasa nyaman tanpa sedikitpun tersakiti. Hidup yang selalu tersanjung dalam kenyamanan justru akan menempatkan kita dalam kehampaan tak terbatas ketika hal-hal tersebut tiba-tiba raib. Orang lain, entah siapa-siapa pun itu, yang mengetahui “apa yang membuat kita nyaman.” Mereka akan menyakiti kita dengan menjauhkan kita dari hal-hal yang menyamankan tersebut.

  10. Apa yang nyaman tidak meningkatkan kecerdasan dan kebijaksanaan manusia.

    Bagaimana menurut anda konsep dasar suatu rasa nyaman? Sudah pasti saat itu tiba, tidak jauh-jauh dari rasa tenang dan santai. Tidak ada sesuatu yang dengan sengaja memberatkan kita, seolah-olah situasinya sangat lengang. Seperti sedang tidak ada aktivitas dan tidak ada pula pekerjaan yang perlu diselesaikan. Apabila hal-hal yang menyamankan tersebut seperti yang kami sebutkan (tidak ada kerjaan, tidak ada aktivitas), ketahuilah bahwa keadaan tersebut justru semakin lama semakin membuat tingkat kecerdasan otak menurun. Sebab konsep utama peningkatan kecerdasan manusia adalah kepadatan dan keanekaragaman aktivitas yang digeluti dari waktu ke waktu.

Kesimpulan

Rasa nyaman adalah kenikmatan hidup yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mereka yang fokus hanya kepada hal-hal tersebut justru akan semakin menginginkan yang lebih besar dan yang ekstra besar lainnya. Akan tetapi, mereka yang bahagia adalah orang yang berpuas diri, merasa cukup dan bersyukur terhadap besar-kecilnya nikmat yang dicicipi dari waktu ke waktu.

Rasa nyaman adalah buah simalakama yang efeknya dapat positif dan dapat pula negatif. Rakyat biasa sudah merasa nyaman hanya dengan menikmati hal-hal kecil. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang penghasilannya sangat fantastis?” Sudah pastilah, pendapatan sebanyak itu digunakan untuk membeli materi super nyaman dan berkelas. Padahal segala yang super tersebut berpotensi besar mengganggu keseimbangan alam. Bila para kapitalis ini dibiarkan, keberadaan lingkungan semakin terancam. Sebab sumber daya yang terkandung di dalamnya digali, dikeruk dan disedot sebanyak-banyaknya demi memuaskan hawa nafsu konglomerat kelas atas terhadap kenyamanan hidup yang berlebihan. Oleh karena itu, bagi teman-teman yang bercita-cita jadi orang kaya raya, sebaiknya berhenti. Sebab semakin kaya manusia, semakin banyak pula kerusakan yang ditimbulkannya demi membuat dirinya merasa nyaman.

Salam, Menyamankan diri
bukanlah tujuan utama kita.
Sebab ini justru membiakkan
nafsu yang makin membesar.
Melainkan lakukan kebenaran
sebab itulah tonggak
kenyamanan hidup
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.