Meniru Tuhan Yang Kapitalis

Meniru Tuhan Yang Kapitalis

Kami bukannya tidak suka dengan kapitalisme sebab sosialis dan kapitalis adalah saudara kandung. Tidak ada yang salah dengan prinsip hidup keduanya hanya saja sering sekali dipreteli oleh orang-orang yang berdomisili dalam paham tersebut. Pada saat inilah kita mulai menemukan kejanggalan dari pemanfaatan falsafah yang cenderung mendatangkan kerugian bagi orang lain dan diri sendiri. Bahkan ketika sifat-sifat merusak itu tidak segera ditangani, besar kecenderungan akan berdampak luas merusak lingkungan sekitar dan sistem itu sendiri.

Mungkin tidak begitu jelas terlihat dampak dari pemanfaatan sempit prinsip hidup sosialis. Bisa dikatakan bahwa dampaknya mungkin tidak segera terjadi. Misalnya saja, saat kita terus bersosial kepada orang tertentu secara terus-menerus. Memang dalam waktu dekat, hal tersebut tampak tidak masalah dan dia bisa hidup normal kedepannya, itu yang diharapkan. Akan tetapi, ketika terus-menerus menopang kehidupan orang lain selama berhari-hari, berbulan-bulan bahkan menahun dengan tidak memberinya pekerjaan. Ini beresiko membuat mental kepribadiannya menjadi manja dan sulit menjadi dewasa.

Bila dampak penyalahgunaan paham sosialis lebih banyak bersifat personal (efek kepada individu). Namun lain halnya ketika efek samping dari pemanfaatan paham kapitalis meluas di dalam masyarakat. Besar kemungkinan dampak negatifnya akan lebih banyak merugikan orang lain, lingkungan sekitar bahkan sistem itu sendiri dapat rusak dengan cepat. Oleh karena itu, sampai sekarang yang nyata dihadapan kita adalah efek dari pekerjaan buruk para konglomerat yang telah mengacak-acak sistem bermasyarakat. Kemungkinan besar efek pekerjaan mereka sangat kentara karena banyak dan besar kekuasaan yang ada di bawah kendalinya. Jika seorang sosialis hanya menguasai satu yang pasti, yaitu ilmu pengetahuan tetapi konglomerat bisa menguasai kursi kepemimpinan, uang dan juga iptek.

Salah satu dari sekian banyak pemahaman yang salah dari para kapital adalah tentang hak manusia. Mereka yang kapitalistis cenderung memahami paham perbudakan dalam pengelolaan sumber daya. Artinya, ketika mereka menguasai sumber daya maka mereka juga menguasai manusia di dalamnya. Ini bukan keadaan tanpa alasan, bisa diamati dalam berbagai karya seni khusus yang dibuat oleh orang luar negeri. Tentu saja itu terjadi tidak hanya di film melainkan juga di dunia nyata. Jadi, para pemilik modal menganggap bahwa saat mereka menanggung nafkah seseorang maka mereka berhak atas hidup orang tersebut. Suka-sukanya orang tersebut mau diapakan dimana keadaan ini lebih tepatnya sama dengan sistem perbudakan.

Misalnya saja anda memiliki banyak uang dari beberapa perusahaan yang dikuasai. Lalu anda mempekerjakan seseorang di rumah sebagai pembantu. Lalu kebaikan anda tidak tanggung-tanggung terhadap orang tersebut sampai menikahkannya dan membelikannya rumah sendiri. Sampai suatu saat anak majikannya melakukan kesalahan fatal yang membuat anak pembantu tersebut kehilangan nyawanya. Kejadian ini hendak dilaporkan kepada pihak yang berwajib tetapi majikannya mengancam dengan mengatakan bahwa “seluruh hidupmu dan hidup keluargamu adalah milikku, aku yang membuat kamu menjadi seperti ini, masakan kamu mau memenjarakan anakku?”

Sadar atau tidak, demikianlah sebagian kapitalis duniawi bertindak. Saat mereka sudah menolong seseorang, maka orang tersebut harus mengorbankan dirinya untuk tuannya kapan saja diperlukan majikannya. Inilah sistem perbudakan yang telah dihidupi oleh nenek moyang kita sejak zaman dahulu kala. Mereka bisa berlaku sewenang-wenang dengan orang yang lebih kecil darinya karena merasa bahwa merekalah yang memelihara kehidupan orang-orang tersebut. Padahal sistem kepemimpinan semacam ini jelas sangat rapuh dan tidak manusiawi. Kesewenang-wenangan tersebut bisa menjadi sangat lebay, konglomerat dianggap bisa mengorbankan ratusan bahkan ribuan orang yang dibawahnya demi memelihara hidupnya dan keluarganya.

Sama halnya seperti dalam kejadian meningkatnya jumlah penduduk yang berimbas pada semakin menipisnya sumber daya yang tersedia. Para pemimpin kapital secara diam-diam berkonspirasi untuk mengurangi jumlah penduduk lewat berbagai-bagai aksi licik yang keji. Misalnya saja adalah dengan mengadakan peperangan, terorisme, menyebarkan penyakit, memicu bencana dan berbagai aksi konspirasi lainnya. Mereka merasa berhak mengorbankan rakyat kecil ditelan berbagai-bagai malapetakan yang dikonspirasikan. Padahal dengan berlaku demikian mereka menimbun dosa atas dirinya dan atas keturunannya yang ke tiga dan keempat.

Mari amati dan belajar dari kapitalismenya Tuhan. Seluruh bumi dan alam semesta adalah milik Allah kita. Dan kita sendiri pun meyakini bahwa kita hanya menumpang di bumi ini. Sepantasnya Allah bisa memaksa kita untuk selalu menyembah dan memuliakan nama-Nya. Akan tetapi, Tuhan tidak melakukan hal itu karena kita berjuang dan menderita selama hidup di bumi ini. Jadi semua manusia yang berjuang dan menderita di bumi berhak menentukan nasibnya, Tuhan memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih, mau berdiam dalam hadirat-Nya atau mau menjadi pribadi super bebas yang tidak bersandar dan tidak percaya kepada apa pun (ateis). Kapitalistis seperti inilah yang seharusnya kita tiru!

Tuhan sendiri memberi kita kehendak bebas untuk hidup di bumi ini karena Dia memahami bahwa apapun yang sudah kita raih, kita peroleh dengan jerih lelah dan rasa sakit yang luar biasa. Lantas mengapa sebagai kapitalis yang menguasai banyak sumber daya, kita merasa berhak mengatur kehidupan orang-orang kecil sesuka hati? Kita beralasan bahwa orang tersebut dari lahirnya makan dan minum dari harta kita yang sungguh amat banyak. Sehingga saat besarnya kitalah yang berhak atas kehidupannya. Sadarilah bahwa pemahaman kapitalistis semacam ini salah besar. Sebab sebanyak apapun sumber daya yang anda sedekahkan buat orang lain: anda tidak berhak atas kehidupannya, tidak berhak menyakitinya tanpa alasan dan tidak berhak mengorbankannya tanpa persetujuan! Tiap-tiap orang telah berjuang dan menderita menjalani hidupnya sehingga itulah yang membuatnya berhak untuk tetap hidup. Apa yang dimilikinya saat ini adalah miliknya sendiri, orang yang mengungkit asal-muasal semuanya itu terkesan berlebihan dan tidak dewasa!

Salam gembera baik!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.