7 Faktor Yang Menyebabkan Stres

Faktor Yang Menyebabkan Stres

Pikiran adalah kemudi utama kehidupan manusia. Tidak ada organ yang dapat mengendalikan kehidupan kecuali otak. Memang ada perintah yang bekerja internal pada setiap organ secara otomatis ketika otak tertidur. Ini disebut juga dengan sisitem alam bawah sadar manusia. Artinya, di dalam diri kita ada hal-hal yang bisa kita kendalikan secara langsung tetapi ada pula hal-hal yang bekerja secara otomatis, tanpa diperintahkan. Demikianlah juga dalam kehidupan ini, ada hal-hall yang bisa kita atur maka manajemenlah itu sebaik-baiknya. Akan tetapi, ada pula hal-hal yang di luar jangkauan kita, maka biarkanlah itu sambil menyesuaikan diri dalam kewaspadaan yang berintegritas.

Saat dilahirkan, kita hanya seorang diri saja. Sewaktu mati pun kadang seorang diri, walau ada pula yang matinya berbarengan. Oleh karena itu, kita perlu bertahan di tengah kesendirian sembil berusaha menjalin hubungan yang baik dengan Allah dan sesama manusia. Mengasihi Allah berarti merendahkan diri dihadapan-Nya. Menjadikan Dia sebagai dasar dan alasan, mengapa kita melakukan sesuatu. Memiliki tujuan-tujuan yang sesuai dengan kehendak-Nya hingga akhir hayat. Sedang untuk mengasihi sesama, kita perlu menganggap orang lain seperti diri kita sendiri. Apa yang biasanya kita lakukan kepada diri sendiri, lakukanlah juga itu kepada sesama.

Sayangnya, kadang-kala kita merasa bahwa dunia menentang keberadaan kita. Hati penuh sesak dengan masalah dan banyak tujuan-tujuan kita yang tidak terealisasi. Semua yang terjadi hanya menimbulkan kepenatan dan kesesakan yang tidak akan pernah berakhir sebelum kita mengatakan: “cukup sudah, yang terjadi, terjadilah!” Dalam dunia ini, kita perlu banyak-banyak mengikhlaskan apa yang telah terjadi dan tidak bisa kita kendalikan. Sambil menjaga wilayah pribadi yang berada dalam kewenangan sendiri. Jangan sampai orang lain memergoki kita yang kurang mampu mengontrol sikap sendiri sehingga menyebabkan kerugian kepada sesama dan lingkungan sekitar. Kemampuan mengontrol diri dan mengendalikan wilayah pribadi akan memperkecil kemungkinan depresi.

Defenisi – Stres adalah situasi yang berada di luar kendali kita yang membuat pikiran kacau dan sikap cenderung mengarah ke hal-hal negatif.

Hal-hal yang biasanya membuat orang stres

Kita bukanlah manusia sempurna dan kita juga tidak mampu hidup sendiri di hamparan dunia yang luas. Ada angin sepoi-sepoi tetapi kadang pula badai kencang menghantam. Kehidupan ini fluktuatif maka biasakanlah diri dengan perubahan yang terjadi. Karena tidak semua hal yang ada di sekitar bisa kita kendalikan. Ada hal-hal tertentu yang dapat diabaikan tetapi hal-hal lainnya perlu diwaspadai. Kita pelu bijak menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi agar tidak kehilangan fokus. Di saat fokus kita lari ke hal-hal negatif maka itulah momen yang paling rentan dengan depresi. Oleh karena itu, silahkan perhatikan beberapa faktor yang menyebabkan seseorang kehilangan dirinya.

  1. Keinginan yang dipaksakan.

    Memaksakan keinginan kita kepada adek yang lebih kecil dan masih kanak-kanak: mungkin saja bisa. Akan tetapi, memaksakan hasrat kita kepada orang yang sebaya bisa berujung pertengkaran. Demikian juga halnya saat memaksakan hasrat kita kepada orang yang lebih tua, justru mereka akan menekan kita dengan rupa-rupa pencobaan.

    Saat apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Tidak ada yang bisa dilakukan selain ikhlas terkecual jika ada yang namanya kesempatan kedua. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan sebaik-baiknya sebab langka sekali yang namanya kesempatan kedua. Hasil yang berbeda tolong dimaklumi dalam rasa bersyukur yang penuh: sebab semua terjadi atas izin Tuhan.

    Nasi telah menjadi bubur, rekaman kehidupan mustahil diulang kembali. Daripada susah hati menghadapi kontrasnya kenyataan. Lebih baik persiapkan diri untuk hari esok agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.

  2. Harapan yang tidak jadi-jadi.

    Mengapa doa-doa yang dipanjatkan dengan tekun, tidak jadi-jadi? Mungikin saja doa kitalah yang terlalu spesifik kepada Tuhan. Oleh karena itu, mohonkanlah hal-hal yang umum-umum saja. Sesuatu yang selalu terkabul dan kita terima hari lepas hari. Misalnya berkat kebahagiaan, kedamaian, ketenteraman, ketenangan, kecukupan, kesehatan dan lain sebagainya. Doa semacam ini membuat pikiran terasa ringan saat menanggungnya seolah tidak ada beban karena pasti selalu terwujud hari demi hari.

    Tidak semuanya harapan dapat terkabulkan. Jadikanlah kekecewaan sebagai makanan hari-hari seumur hidup. Ikuti undian, ikuti lotre, mainkan game berhadiah dan berbagai hal-hal lainnya dimana ada yang namanya peruntungan. Keterbiasaan kita menjalani hidup semacam ini meningkatkan resistensi terhadap stres sekalipun ratusan bahkan ribuan harapan yang tidak jadi-jadi.

  3. Terlalu mendewakan sesuatu.

    Tidak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah tritunggal. Secara otomatis manusia mendewakan sesuatu saat dia membanggakannya. Ini seperti, kita mendahulukan sesuatu tersebut lebih dari yang lain bahkan lebih dari persekutuan dengan Tuhan. Lagi, tandanya ketika kita mendewasakan sesuatu: saat ada yang mengganggu atau menghambat aktivitas dengan sesuatu tersebut, kita menjadi kesal dan marah-marah tidak jelas atau paling tidak mendendam.

    Jangan mengagungkan apapun di dunia ini. Sebab materi yang dapat diamati oleh panca indra adalah fana. Hindari membanggakan hal-hal duniawi. Sebab kebanggaan cenderung membuat kita over protektif terhadap suatu keadaan. Ketika hal-hal tersebut mulai berada di luar kendali maka mulailah si kawan jadi stres sendiri.

  4. Sifat ketergantungan yang merusak.

    Bergantung kepada Allah, itu indah! Saat kemana-mana selalu bergandengan tangan dengan Tuhan merupakan saat-saat kebersamaan yang paling menyukakan hati dalam nyanyian puji-pujian kepada Allah. Inilah ketergantungan yang baik dan pantas untuk ditekuni dari waktu ke waktu. Lagi pula, bukankiah semua aktivitas ini gratis adanya?

    Kecanduan yang merusak merupakan kekuatan yang dapat melemahkan hati manusia. Seolah-olah apa yang membuat kita candu, dapat pula mengendalikan kita. Saat sesuatu tersebut tidak ada di dekat kita, hati menjadi gelisah. Seolah-olah itulah yang mampu menyemangati kita. Hampir segala sesuatu dalam kehidupan kita meredup dan menyimpang ke arah negatif karena apa yang kita candui tiba-tiba hilang begitu saja.

    Lagipula, penyakit kecanduan membuat kita mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan. Akibatnya, lama kelamaan akan timbullah penyakit mental dan penyakit fisik. Stres merupakan salah satu efek samping karena kita belum mengkonsumsi candu tersebut.

  5. Fokus kepada masalah.

    Kekurangan kita adalah masalah batin pertama yang beresiko menimbulkan stres. Terlebih ketika soal-soal lainnya turut menghantam dari berbagai arah. Karena minimnya wawasan iman, cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang dialaminya, bahkan kadang-kadang menyalahkan orang-orang terdekatnya (orang tua, saudara/ saudari). Jika hal-hal ini terus yang dibahas-bahas di dalam hati maka orang tersebut beresiko mengalami frustasi.

    Pergumulan hidup seperti batu, begitu anda memikirkannya maka batu besar itu akan berpindah di kepala. Bisakah anda membayangkannya? Terlebih ketika persoalan yang datang menghampiri kita bertubi-tubi adanya. Semakin banyak menghadapi pergumulan, efek positifnya dapat membuat kita menjadi orang yang tabah/ kuat hati menjalani hidup. Namun efek negatifnya jelas dapat memancing depresi.

    Pastikanlah saat memikirkan masalah demi mencari solusinya, menganalisisnya, membedahnya atau memilah-milahnya. Jika kita memikirkan persoalan hidup hanya untuk membahas-bahas betapa susahnya itu, niscaya beratnya kehidupan akan semakin meningkatkan kemungkinan mengalami depresi. Semakin baik seseorang memanajemen pikiran maka semakin baik suasana hatinya dan semakin jauhlah stres itu.

  6. Fokus kepada sesama manusia.

    Perlu kita pahami bahwa dalam segala sesuatu, manusia bukanlah standar. Satu-satunya standar kemanusiaan adalah Yesus Kristus itu sendiri. Sedang ada pula standar lainnya yang lebih keduniawian, yaitu peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

    Tidak ada gunanya fokus pada kehidupan orang ini atau orang itu. Menirukan segala yang dilakukannya seolah dialah pionernya. Sekali pun manusia memiliki segudang kelebihan, tetap saja ada pula kekurangannya. Sehingga saat berpedoman pada kehidupan seseorang pasti yang buruk-buruknya juga akan menjadi nyata. Sehingga kita menjadi kecewa terhadap mereka dan beresiko kehilangan arah.

    Saat hati terlalu tertuju kepada kehidupan orang lain, moga-moga orangnya baik maka kitapun turut baik. Jelaslah bahwa mustahil ada manusia yang mau mempedomani orang yang jahat sikap. Tetapi yang lebih parah adalah saat kita menyadari bahwa selama ini belajar dari si musang berbulu domba. Besar penyesalan karena orang yang selama ini baik ternyata ada kejahatan tersembunyi yang digelutinya (imunafik).

    Saat kita fokus kepada kehidupan seseorang , besar kemungkinan membanding-bandingkannya dengan hidup kita. Sikap semacam ini adalah kesempatan berkembangkan hati yang mendengki. Saat berkawan dengan orang yang kurang beruntung dibanding kita: hati senang. Akan tetapi, saat kebetulan kita membandingkan diri dengan seseorang yang jauh di atas kita, bagaimana jadinya perasaan batin? Terlebih ketika diri sendiri enggan mengakui kelebihan kawan, dan amit-amait rasanya memberikan pujian. Lama kelamaan keadaan ini membawa kita mengalam hancur hati bercampur susah yang meriang. Bila kegalauan tersebut terus saja berlarut-larut, kemungkinan stres semakin dekat.

  7. Kurang waspada/ kurang hati-hati.

    Orang yang tidak hati-hati, banyak masalahnya. Ingatlah bahwa sehebat-hebatnya dirimu, kita bukan manusia super. Kalau masalah terlalu banyak, kita tidak dapat menanggung semuanya. Memang dalam momen tertentu, kita perlu menantang diri sendiri dan menghadapi masalah yang ada di depan mata. Akan tetapi, saat kita sedang mengalami terlalu banyak masalah, lebih baik jangan menambahnya dengan soal-soal yang lain. Cobalah untuk menghindari dan mencegah masalah tersebut dengan sikap yang lebih hati-hati. Berupaya memproteksi diri dari kemungkinan terburuk agar beban hidup tidak makin bertambah berat.

    Dalam situasi tertentu kita perlu terbuka kepada orang lain. Berbaur tanpa maksud yang tersembunyi. Lagi pula apa yang mesti dirahasiakan, toh apa yang kita miliki, dimiliki pula oleh orang lain. Memang dalam hidup ini ada yang namanya masa-masa lengang dimana tidak ada orang yang secara sengaja mengusik kehidupan kita. Akan tetapi, saat situasinya berubah drastis, dimana para pencoba berseliweran dan sangat banyak di sekitar. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan. Sebab para pencoba tersebut mencari celah untuk sedapat-dapatnya membuat kita terluka hatinya sampai ketakutan, gelisah, kesal, marah-marah dan akhirnya stres sendiri.

    Meningkatkan kewaspadaan berarti menjaga diri tetap sadar dan menggunakan alat pelindung diri yang standar. Ini dilakukan agar kita sedapat-dapatnya terhindar dari potensi dikerjai orang lain di dalam rumah sendiri. Memang dalam perjalanan hidup kita, orang yang berupaya melemahkan kita datang silih berganti. Akan tetapi, saat tiba di rumah sendiri, jangan biarkan celah kecil menjadi jalan orang lain mengacaukan kebersamaan dalam keluarga. Tingkatkan kewaspadaan dengan memakai alat pelindung diri yang standar (misalnya simpan makanan di lemari, kunci pintu dan jendal saat sedang tidur atau saat keluar rumah sebentar.).

Kesimpulan

Orang yang berulang-ulang kali stres karena masalah yang sama adalah bodoh. Artinya, pelajarilah hidupmu kawan! Jangan sampai kita stres berkali-kali dengan cara yang sama. Depresi karena masalah baru dan langka, mungkin masih bisa dimakluimi. Itu terjadi dua-tiga kali, belajarlah dari sana! Itulah sejatinya kehidupan yang selalu meningkat (upgrade) dari waktu ke waktu. Terimalah kenyataan dengan ikhlas sekalipun tidak sesuai dengan keinginan. Biarkan kekecewaan berulang karena gagalnya harapan membentukmu menjadi pribadi yang tangguh. Buatlah harapan yang bersifat umum agar mudah dan pasti terpenuhi, Jangan mendewasakan sesuatu selain dari Tuhan saja. Berhenti candu terhadap hal-hal tertentu agar kemana-mana lebih luwes. Perhatikan masalahmu, ketika terlalu banyak: batasi, hindari dan cegah sedini mungkin. Hindari terlalu fokus kepada masalah atau sesama tetapi fokuskan pikiran pada hal-hal positif saja (memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama sambil sibuk belajar serta bekerja memberi manfaat). Niscaya stres semakin jauh saja.

Salam, Depresi karena manajeman diri lemah.
Belajarlah dari pengalaman.
Agar semakin lama, justru bertanya-tanya
:
Kapan ya terakhir kali saya depresi?”
Sepertinya itu sudah sangat lama!”

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.