Tidak Menguji Orang Lain Sebelum Mengujikannya Kepada Diri Sendiri

Tidak Menguji Orang Lain Sebelum Mengujikannya Kepada Diri Sendiri

Rupa-rupa kehidupan umat manusia sungguh elok jikalau dipandang dari luar. Terlebih ketika anda melayangkan pandangan kepada orang-orang yang berada di atas awan. Mereka dicap lebih baik dari sesamanya sehingga lebih makmur. Bukan karena kerja keras sebab masih ada orang yang jauh lebih giat bekerja dari mereka namun kurang mendapat perhatian bahkan tidak mendapat apa-apa (sukarelawan). Sesungguhnya, mereka bukan siapa-siapa, bukan manusia super dan bukan pula pahlawan. Melainkan mereka hanya beruntung memperoleh lebih banyak air susu sumber daya Ibu Pertiwi. Tampil beda memang indah tetapi tampil beda juga menciptakan masalah di dalam masyarakat yang berakibat pada orang lain, lingkungan sekitar termasuk terhadap diri sendiri.

Sesungguhnya keadaan yang kita hadapi ini adalah suatu akibat dari hierarki raja-raja masa lalu yang manja dalam kemewahannya. Seperti halnya banyak kerajaan kuno yang berakhir dengan perpecahan dan kehancuran total maka demikianlah kehidupan kita tanpa sesuatu yang adil. Lalu banyak pemikir yang mencoba mengungkapkan isi hatinya untuk mendefenisikan rasa yang adil. Ada yang merasa kurang puas sehingga bertindak kasar dan malah dijadikan orang lain sebagai dasar menyakiti dan memerangi sesamanya. Semuanya ini bisa bias jikalau kita tidak memikirkan terlebih dahulu, matang-matang. Pakailah pikiran cerdikmu untuk menelaah segala sesuatu agar penerapannya tidak bias.

Satu kekuatan yang telah dianugerahkan kepada setiap manusia adalah kekuatan berpikir. Mengambil tindakan dengan cerdik sehingga mampu bertahan hidup di tengah peliknya situasi. Mencoba segala sesuatu yang diperlukan untuk dianalisis kemudian ditarik sebuah kesimpulan agar selesailah suatu permasalahan. Kekuatan inilah yang membuat kita pantas merasa lebih dari makhluk hidup lain tetapi tidak di antara sesama manusia. Sistem berpikir menghasilkan sesuatu yang luar biasa yang disebut sebagai kepintaran. Beberapa kalangan lebih hangat saat menyebutnya sebagai kecerdikan. Merupakan sebuah taktik untuk mencapai suatu tujuan yang sebelumnya telah direncanakan dengan matang.

Selama hidup di dunia, manusia memanfaatkan pengetahuannya untuk memanajemen kehidupan. Mengasah diri dengan cerdik agar sedapat-dapatnya mampu menyelesaikan rupa-rupa persoalan yang timbul dalam setiap hari-harinya. Berupaya untuk mengembangkan diri, membuka apa-apa saja yang menjadi potensi yang mulai tersibak. Dengan kepintarannya, berusaha mengatur diri sendiri dan memanajemen situasi agar dapat mengatasi, menghindari atau mencegah berbagai kemelut hidup yang muncul. Agar sedapat-dapatnya meminimalisir angka kerugian. Memang kerugian itu selalu ada tetapi tetap dapat ditekan agar dampaknya tidak meluas.

Sayang, dalam penerapannya, penggunaan pikiran dapat pula mengekspresikan suatu keilmuam secara berlebihan sehingga terjadilah bias yang kontras dari tujuan awal. Saat kecerdikan digunakan untuk tujuan sempit maka biaslah penerapan pengetahuan yang kita peroleh. Malahan yang terjadi adalah, kita melandaskan sikap pada telaah-telaah dangkal yang membuat kehidupan menyimpang dari jalan yang benar. Bodohnya lagi, kita menganggap penyimpangan tersebut sebagai suatu tindakan yang benar. Padahal jelas-jelas orang lain dan/ atau lingkungan sekitar dilemahkan/ disakiti. Lantas, sekonyong-konyong merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Namun sesungguhnya rasa bersalah yang tersembunyi ini akan membuat kita ketakutan saat bertemu orang lain dan juga menjadi enggan masuk dalam hadirat Tuhan.

(Ayb 5:13)  Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikanny  sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan.

(Mazmur 18:27)  terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.

Adalah baik bagi tiap-tiap orang untuk tidak mengakali firman Tuhan secara berlebihan namun sempit dan menyimpang. Sebab Tuhan adalah Allah sekaligus hakim yang adil. Dia berlaku lurus kepada orang yang lurus hati tapi akan berlaku belat-belit kepada orang yang bengkok hatinya. Ujian kehidupan adalah celah yang sering sekali dipreteli untuk menyakiti seseorang. Lalu sekonyong-konyong pelakunya berucap: “Itu ujian, itu biasa, biar dia dewasa!” Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan ujian kehidupan. Tetapi yang menjadi masalah adalah sudahkah anda melakukan hal tersebut terhadap diri sendiri? Atau lebih tepatnya sudahkah anda mencicipi apa yang diujikan itu kepada diri sendiri? Sudahkah kita merasakan sendiri dampaknya terhadap diri sendiri. Inilah keadilan itu: kalau orang lain mengalaminya, mau tidak mau kita sebagai penguji juga harus merasakan hal yang sama.

Kesimpulan

Ujian yang kamu ujikan kepada orang lain, ujikan terlebih dahulu kepada dirimu sendiri: itulah keadilan alias itulah mengasihi sesama seperti dirimu sendiri. Hal ini juga merupakan suatu jaminan bahwa apa yang sedang dilakukan tidak lebay/ tidak berbahaya/ dapat ditanggung oleh siapa saja.

Mau mengejek orang = ejek dulu diri sendiri. Hendak meracuni orang = racuni dulu diri sendiri. Jebak dulu diri sendiri = baru menjebak orang lain demi tujuan positif (menguji). Alami hal yang sama dengan yang dialami orang lain, sebab penguji dengan yang diuji adalah setara. Itu adalah jaminan bahwa apa yang kita lakukan demi mendatangkan kebaikan karena setiap yang mengalaminya dapat menanggungnya pula.

Apa tujuan awal kekristenan? Kristus menyebarkan ajarannya bukan untuk menciptakan kekacauan dan kelaliman di tengah masyarakat. Melainkan tujuan Tuhan mengajar manusia adalah agar masing-masing orang saling mengasihi satu-sama lain. Bagaimana mungkin kita bisa membiarkan orang lain tersakiti? Apakah kita rela dan sanggup saat disakiti seperti itu? Ingat ajaran Tuhan “kasihilah sesamamu seperti diri sendiri” atau “kasihilah sesamamu dengan adil.” Artinya, apa yang kamu lakukan kepada diri sendiri, lakukan jugalah itu kepada orang lain. Saat anda berbuat baik kepada diri sendiri, berbuat baik jugalah kepada orang lain. Jika anda menyakiti orang lain, beranikah anda menyakiti dirimu sendiri? Jangan pernah lakukan kepada orang lain, apa yang tidak kamu lakukan kepada diri sendiri!.

Salam, Luruskan hati
maka hidup penuh sukacita.
Bengkok hati
mengakali firman
siap-siap kena ganjaran
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.