Menjadi Manusia: Itu Yang Kita Butuhkan!

Menjadi Manusia - Itu Yang Kita Butuhkan

Pada dasarnya, tiap-tiap orang suka menyombongkan diri. Seolah-olah sikap arogansi ini  begitu hangat di dalam dada. Sehingga besar kecenderungan merasa hebat dari siapapun. Tabiat ini sudah bawaan (manusiawi) dan sulit untuk ditinggalkan tapi bukan mustahil! Sebab salah satu manfaat yang dirasakan ketika merasa hebat adalah meletupnya kesenangan dari dalam hati. Itulah mengapa banyak orang yang angkuh saat situasi hidupnya sedang berada di atasyang lai. Mereka tidak ingat lagi dengan tonggak penting kehidupan karena keangkuhan itu sudah mampu membuatnya senang lagi dan senang terus. Jadi, sadar atau tidak, sikap tinggi hati ini adalah awal dari rusaknya hubungan  baik dengan Tuhan dan kepada sesama.

Semua orang tanpa terkecuali, di awal-awal kehidupannya pasti ingin sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Inilah faktor utama yang menyebabkan timbulnya berbagai niat jahat yang menyebabkan kemalangan bagi orang lain dan orang itu sendiri serta lingkungan sekitar. Terlebih ketika mereka belum mengenal Tuhan sehingga pencarian akan nikmat mulia yang tinggi-tinggi menjadi kejaran. Ketika manusia masijbelum mampu mampu menemukan kebahagiaan di dalam dirinya maka salah satu cara untuk menjadi senang adalah dengan menyombongkan diri. Jika cara senang semacam ini terus dipelihara maka besar kemunbkinan bumi semakin dekat dengan bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Sesungguhnya inspirasi menjadi sombong diperoleh dari lingkungan sekitar. Misalnya saja saat manusia melihat pohon besar maka ada kemungkinan mau mau membangun rumah yang megah besar. Ketika orang mulai menyaksikan betapa indahnya burung berterbangan di angkasa maka mulailah mereka berpikir untuk terbang ke udara. Sewaktu menyaksikan raja singa yang sangat berpengaruh terhadap kelompoknya, kita juga berpikir untuk diangkat menjadi raja, berkuasa atas manusia lainnya. Demikianlah nenek moyang kita yang secara tidak langsung belajar dan meniriu sikap-sikap hewan dan tumbuhan yang ada disekitarnya. Pola-pola inilah yang secara perlahan-lahan membentuk kehidupan masyarakat ke arah kapitalisme.

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah mengapa orang-orang ingin menjadi kapitalis? Memiliki nama besar, jabatan tinggi, posisi sentral, gaji selangit, fasilitas super dan lain-lain, semata-mata untuk membuatnya berbangga hati sehingga pecah menjadi kesenangan. Inilah sisi kesombongan kapitalisme yang ditolak Tuhan, sehingga berfirman “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (bnd Matius 19:24). Sebab sumber sukacita mereka adalah dengan membanggakan diri atas semua pencapaian hidup yang diraihnya. Jadi, bukan melakukan kebenaran dan keadilan yang membuatnya senang tetapi saat besar uangnya, tinggi jabatannya, besar pangkatnya dan saat besar gajinya. itulah sumber sukacitanya yang fana.

Seharusnya kita merasa malu atas pilihan yang ditempuh, masakan kita memilih hidup seperti binatang yang berkelas-kelas. Kita mencari kesenangan bukan dengan melakukan kebenaran dan keadilan tetapi dengan menyombongkan diri. Berusaha mencapai nama besar di atas segalanya hanya demi mencicipi rasa kebanggaan hati sehingga terbitlah kesukaan setiap hari. Kita tidak begitu peduli dengan kebenaran karena berat beban yang ditanggung dan tujuannya bertentangan dengan apa yang benar dan adil. Malah yang terus kita bahas-bahas di dalam hati adalah bagaimana lagi caranya untuk mencapai derajat hierarki kehidupan yang tertinggi. Padahal dengan berlaku demikian kita menaburkan benih-benih iri hati di dalam pikiran setiap orang yang menyaksikannya. Kedamaian pun semakin jauh dari dalam hati walau hidup dalam kelimpahan semangatn.

Mengunggulkan pihak tertentu di dalam masyarakat hanya memupuk rasa saling membenci yang kemudian menguncup menjadi persaingan, berkembang menjadi konflik di antara manusia. Sebab tiap-tiap orang secara nyata memiliki sifat iri hati yang menunggu dibangkitkan. Hanya mereka yang sudah menerima keadaan dan bersahabat dengan musang berbulu dombalah yang mampu bertahan menepis segenap sikiap buruk tersebut. Sedang mereka yang dengki secara diam-diam akan melakukan siasat-siasat jahat agar sedapat-dapatnya saling menakuti satu sama lain. Sedang di sisi lain materi mulai terbatas dan jangka waktu jabatan juga akan segera berakhir. Padahal kebutuhan sedang banyak-banyaknya sehingga berupaya ditutupi lewat tindakan korup yang merugikan sistem dan seluruh masyarakat.

Kesimpulan

Berhenti meniru-niru perilaku binatang yang megah-megah, sok-sokkan dan lebay. Masakan manusia yang derajatnya lebih tinggi malah meniru kehidupan hewan yang rendahan? Jangan dengarkan guru yang jahat tetapi berilah perhatian kepada Bapa Yang Kekal (Allah), Guru Sejati (Yesus Kristu) dan Roh yang di dalam kita (Roh Kudus). Niscaya Mereka akan menuntun kehidupan ini dalam kebahagiaan sejati yang tak terbatas sepanjang usia bahkan sampai hidup yang kekal. Puaskan dirimu dengan melakukan apa yang benar dan sukakan hatimu dengan menuruti apa yang adil. Sedang konsumsi materi nikmat duniawi, biarkanlah sederhana saja sebab yang namanya sumber daya, hanya tersedia dalam jumlah yang terbatas. Penggunaan materi baiknya disama-ratakan saja agar sumber daya tetap lestari, tidak kering dan eksplorasinya tidak memicu bencana di masa depan.

Yang dikehendaki Tuhan adalah agar kita menjadi manusia. Benar manusia sorgawi yang seutuhnya. Mengikuti ajaran-ajaran-Nya. Dan bukannya malah menentang ajaran kebenaran dan keadilan yang disampaikan Tuhan kepada kita. Sama halnya seperti cara hidup Tuhan Yesus Kristus, demikianlah seharusnya hari-hari kita dalam kesederhaan. Tidak ada pihak yang lebih besar, karena apa yang dirasakan seseorang, dirasakan pula oleh orang lain. Apa yang dimiliki oleh orang ini, dimiliki pula oleh orang itu. Lantas sumber kebahagiaan kita tidak melulu dari materi saja. Melainkan yang terutama adalah saat menuruti firman Tuhan. Adakah perintah Tuhan yang berada diluar jangkauan kasih yang utuh kepada Tuhan dan kasih yang adil kepada sesama manusia. Inilah yang kita utamakan sedang yang lain-lain itu hanyalah faktor sekunder, apa adanya saja.

Saat seseorang merasa dirinya luar biasa maka ego dan arogansi akan meningkat yang dilengkapi dengan nafsu ingin berkuasa (menguasai segala sesuatu) dan sangat banyak menyepelekan orang lain bahkan Tuhan pun hampir-hampir disangkal. Orang yang merasa super, selalu merasa bahwa setiap keinginannya harus dipenuhi atau siap-siap mengamuk: menghancurkan sesama, lingkungan sekitar dan menghancurkan diri sendiri.

Menjadi manusia biasa berarti bahwa kita tidak lebih super dari orang lain. Melainkan menjadi diri kita sendiri. Mengejar apa yang kita inginkan. Belajar untuk memahami mana nafsu yang buruk dan mana keinginan yang baik untuk dihidupi dari hari ke hari. Menjadi manusia yang memiliki beban hidup yang kadang membuat kita menderita namun dapat ditanggung dengan tabah hati. Menjadi manusia yang memiliki kelemahan namun telah dimaklumi dan diantisipasi sedini mungkin. Menjadi manusia yang suka merendahkah ego, menyangkal diri bahkan menginjak diri sendiri di tengah kebermanfaatan hidup yang terus berkembang. Kita menjadi manusia dengan senantiasa mencintai Sang Pencipta sepenuh hati dan mengasihi sesama manusia dengan adil sepanjang masa.

Salam, Jangan meniru sifat buruk hewan
Belajarlah cara menjadi manusia biasa,
dari ilmu sorga Yesus Krisutus
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.