7 Dunia Tanpa Keadilan Sosial

Dunia Tanpa Keadilan Sosial

Adakah dunia tanpa kesetaraan? Tentu ada. Anda bisa langsung mengamati lingkungan semacam ini saat berkunjung ke hutan-hutan rimba. Di sana, yang kuat memangsa yang lemah. Dan yang lemah ketakutan menghadapi yang kuat. Demikianlah tabiat manusia saat hidupnya terlalu fokus pada penghormatan dan penghargaan yang diterima dari orang di sekitarnya. Mereka ini salah belajar: masakan binatang dijadikan guru? Pandanglah kepada Guru Yang Sejati, Yesus Kristus maka ia akan mengajarkan banyak hal tentang betapa indahnya kerendahan hati dan kesejajaran hidup di bumi ini. Dimana tidak ada yang lebih baik atau lebih diunggulkan sebab masing-masing manusia unggul dalam bidangnya. Pula tiap-tiapnya punya kelemahan yang mengimbangi kelebihan yang dimiliki.

Pernahkah anda menonton secara langsung betapa kejamnya alam liar? Atau setidak-tidaknya pernahkah anda melihat adegan kebengisan tersebut lewat salah satu chanel di televisi? Saat menyaksikan betapa bengisnya binatang, di saat seperti itulah kita belajar untuk meninggalkan perbuatan jahat itu. Artinya, tontonan liar yang kita saksikan yang ditampilkan alam rimba telah mengingatkan kita untuk meninggalkan perilaku tersebut dan mulai mendedikasikan hidup pada sesuatu yang lain dan lebih berarti. Tetapi di sisi lain, ada juga manusia yang kurang bijak lagi lemot. Justru dirinya bukan menolak kekejian tersebut melainkan menirunya. Secara terselubung, ia yang memendam dendam kepada orang lain malah ingin pembalasan keji saat dirinya menyaksikan kebinatangan itu.

Otak manusia suka kopi-paste

Di sinilah pemahaman tiap-tiap manusia perlu dipertangkas. Agar tidak langsung menerima segala informasi yang berputar indah penuh pesona di sekelilingnya. Melainkan mampu bersikap selektif dan kritis, menyesuaikan segala sesuatu dengan standar hidup yang diyakini. Itulah saat-saat dimana seseorang menjadi dewasa dalam hal menyimak informasi. Tidak me-replay segala sesuatu (100%) melainkan hanya fokus pada yang positifnya. Pikiran kita lengket seperti lem suka kopi paste. Jika selama menjalani hari, kita selalu memikirkan yang positif nisacaya saat menyimak informasi terburuk sekalipun: tetap saja yang lengket dan diambil untuk ditiru sehari-hari adalah yang positifnya. Demikian sebaliknya, bila pikiran kita telah terbiasa membahas-bahas hal yang negatif, saat terpapar dengan informasi yang penuh dualisme. Orang tersebut justru menyerap dan menirukan yang buruk-buruknya.

Tiap-tiap orang adalah raja dalam dunianya

Perlu dipahami bahwa masing-masing dari kita memiliki imajinasi terstruktur yang terpisah-pisah satu sama lain. Inilah tempat dimana kita dapat berkreasi menjadi seperti yang kita mau. Dalam pandangan umum, masing-masing kita menempat diri sendiri dalam posisi raja dalam dunia imajinasi yang dimiliki. Akan tetapi, kebiasaan mengkhayal seperti ini justru berbahaya bagi diri sendiri, akibat kesombongan bisa fatal. Ketika kita mulai beranjak dewasa dan mengerti bahwa ada Tuhan, maka tiap-tiap orang berupaya meninggikan Allah dalam hati masing-masing. Di dunia nyata, kita juga bisa menciptakan dunia sendiri yang semi real, dilukiskan dalam kanvas konvesional maupun digital. Sedang di sisi lain ada juga dunia yang dibuat secara bersama-sama yang disebut dengan sistem.

Ada dunia kecil (organisasi) dalam dunia besar (Indonesia)

Tiap-tiap organisasi yang ada adalah satu dunia. Sekali pun demikian bukan berarti orang-orang di dalamnya dapat berlaku sewenang-wenang, terlebih ketika sistem tersebut terikat dengan negeri kita Indonesia. Mau tidak mau tiap-tiap organisasi harus menyesuaikan falsafahnya dengan falsafah Pancasila dimana salah satu poinnya adalah menjunjung tinggi keadilan sosial.  Jadi tidak mungkin di negeri kita ada sistem yang tidak mendukung kesetaraan antar manusia. Bagi mereka yang tidak suka dengan paham tersebut, baiklah hengkang dan membuat negaranya sendiri. Karena Pancasila adalah landasan hidup berbangsa dan bernegara yang sudah final, tidak ada kompromi untuk mentolerir hal-hal yang menyalahi kelima dasar tersebut.

Dunia tanpa keadilan sosial

Bagaimana jadinya dunia ini tanpa keadilan sosial? Yang pasti seru dan sangat menegangkan. Sebab dimana-mana terjadi pertarungan dan pertandingan yang sengit. Saling adu kekuatan, saling pamer dada, saling ogah-ogahan dan semuanya itu dilakukan hanya untuk menjadi terhormat, dihargai dan menang. Di sisi lain, angka kejahatan meningkat tajam karena manusia berburu uang dari tangan kapitalis keji yang memanfaatkan masyarakat untiuk melakukan pekerjaan kotor. Misalnya saja PSK, gigolo, penari strepsis, pembobol bank, crakcer, begal motor, pencopet dan lain sebagainya. Bukankah semuanya ini kita temukan dalam karya seni yang kita nikmati hari lepas hari? Berikut ini berbagai dunia yang tidak menganut nilai-nilai keadilan dan kebenaran.

  1. Dunia hewan rimba.

    Mungkin faktor yang sangat mendasar mengapa dunia hewan bengis adalah kurang mampunya mereka untuk berkomunikasi satu-sama lain. Faktor lainnya adalah ketidakmampuan hewan untuk membuat makanan sendiri sehingga terpaksa harus bergantung dari alam dengan memburu hewan lainnya. Ini mengingatkan kita untuk menjauhkan diri dari sikap yang kesetanan, membabi buta tak tahu malu.

  2. Dunia cerpen/ novel/ komik dan karya tulis lainnya.

    Setiap cerita dalam karya tulis memiliki sisi epik sendiri-sendiri. Memang ada kesan yang khas di dalamnya sehingga membuat setiap pembaca tertarik untuk menikmati kelanjutannya. Ada kisah-kisah kapitalisasi yang mewujudkan sifat-sifat manusia yang khas dalam setiap cerita. Sikap sombong/ arogan yang ditunjukkan tokoh menggambarkan betapa hebat dan banyak kelebihannya dari orang lain. Karya seni lama sangat khas dengan konten-konten semacam ini dan kita pun yang membacanya sangat asyik dan mendapat banyak pengalaman baru.

    Bagi seorang penulis profesional, kesenjangan keadilan ini tentu akan diperbaiki di bagian tertentu agar banyak peminat yang membacanya. Akan tetapi, khusus karya yang bersifat pribadi, cerita tidak adil sama sema sekali pun, tidak masalah. Hanya saja siap-siap enggan dibaca orang apalagi dibeli.

  3. Dunia film/ sinetron.

    Tidak ada film tanpa konflik. Justru saat ada konfliklah suatu drama berkesan seru dan enak untuk ditonton. Salah satu dari sekian banyak penyebab konflik tersebut adalah ketidakadilan. Misalnya saja ada koorporasi yang memiliki pendapatan luar biasa. Lantas pengaruhnya dapat menekan, menjatuhkan dan menghentakkan mereka yang lebih kecil darinya. Lantas dari tempat yang jauh ada tokoh utama yang mencoba membalikkan keadaan tersebut menggunakan kelihaian dan kepintarannya. Kisah-kisah yang ditampilkan seolah-olah menyatakan bahwa kebaikan itu dipenuhi magic dan keberuntungan.

    Sutradara profesional punya gaya khas tersendiri untuk memperbaiki ketidaksejajaran di dalam filmnya. Tapi belum tentu itu bisa diterima oleh semua orang. Mereka akan mengambil jalan terbaik namun tetap mempesona untuk membuat kisahnya berkesan di hati para penonton.

  4. Dunia dalam berita (news), infotainmen dan majalah (koran).

    Kalau semua orang sudah mencicipi sumber daya yang adil dan makmur bersama, apa lagi yang perlu dipersoalkan? Akan tetapi aspek yang satu ini biasanya diabaikan sehingga timbullah kebencian, kekerasan, kejahatan, ketamakaan dan lain sebagainya. Semua konflik ini adalah sandiwara nyata yang sudah dipoles dengan sebaik-baiknya agar dapat mengedukasi penonton.

    Koran, majalah dan sumber berita lainnya selalu memuat masalah dan masalah tersebut memang benar sandiwara. Tidak ada yang pernah benar-benar mengalami masalah-masalah ya begitu banyak setiap hari. Semuanya ini hanya permainan kata-kata sekedar menambah ilmu pengetahuan dan wawasan para pembacanya, baik secara ekonomi, politik, hukum dan lain sebagainya.

    Dalam dunia infotainmen terus terjadi konflik. Ada-ada saja masalah yang diangkat dan biasanya timbul akibat minimnya kesetaraan sehingga muncullah iri hati, persaingan, pertengkaran dan berbagai guncangan lainnya. Hanya saja ada kesan yang dibesar-besarkan seolah-olah sesuatu itu indah. Di sisi lain ada yang membahas sisi glamour dan ketenaran satu-dua artis. Diekspose dengan manis yang melenting kuat menimbulkan kesan wow. Itulah gula-gula yang memuaskan indra.

  5. Dunia game.

    Apa jadinya kehidupan ini kalau hari-hari kita seperti dalam game? Setiap hari seru, setiap hari bertarung, tidak waktu yang dilewati tanpa kemenangan dan ada pula kekalahan. Hanya masalah yang kemudian kita alami adalah habisnya nyawa dalam sekejap sedang manusia itu sendiri tidak mampu lahir kembali seperti dalam game. Kekuatan ada beraneka-ragam dan sangat kompleks juga bisa ditingkatkan secara mendalam dan terpimpin.

    Dimana tanah dipijak, di situ langit di junjung. Dimana pun kita hidup, jalanilah semuanya dengan memperhatikan aturan yang berlaku di lokasi tersebut. Ketika berada di dunia nyata, perhatikan dan gunakanlah aturan lazim di sekelilingmu. Saat kita memasuki dunia game, perhatikan dan patuhilah aturan yang ditetapkan oleh Admin.

    Pada dasarnya, aturan di dunia nyata lebih lembut dan tenang adanya. Akan tetapi, saat memasuki dunia game, di berbagai sudut penuh dengan kekerasan, kelicikan dan tipu muslihat. Sebab itu, tidak ada keadilan sosial di dalam game. Prinsip-prinsip yang digunakan saat menggunakan permaian sebaiknya jangan di bawa semuanya ke dalam kehidupan sehari-hari melainkan gunakanlah pertimbangan yang selektif untuk menentukan apa yang pantas dilakukan.

  6. Dunia maya.

    Di dunia yang satu ini kita bisa jadi apa saja yang diinginkan. Sama halnya seperti game, dunia maya juga merupakan hasil rekayasa dari perangkat digital dan jaringan yang terus berkembang. Orang yang biasa-biasa saja dan tak melek teknologi pun dapat memasuki dan mempelajarinya dengan cepat. Media sosial merupakan tempat yang penuh dengan kreasi. Ada orang-orang tertentu yang sukanya ditontonin user lain. Tentu saja ini terjadi bukan tanpa alasan melainkan karena orang tersebut berhasil mencuri perhatian masa dengan menunjukkan semua potensi dan kekayaannya.

    Jangan terheran-heran saat memasuki dunia sosial media. Hanya raksasa kapitalis yang populer dan selalu digemari. Sedang orang-orang biasa tidak akan dilirik oleh masa. Justru orang-orang ini akan semakin menghilang dari peredaran. Hanya orang kayalah yang semakin eksis dan meroket melebihi kebanyakan orang. Begitulah aturannya dan ini jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip kesetaraan di dunia nyata.

    Kita sebagai pemakai sederhana tidak perlu terlalu ilfil dengan kenyataan tersebut. Biarlah orang-orang tajir semakin meroket memanfaatkan sumber daya media sosial. Toh hal tersebut tidak mempengaruhi kita di dunia nyata.  Di atas semuanya itu manfaatkan apa saja yang bisa digunakan dan tidak usah peduli dengan ketidaksetaraan yang terdapat di dalamnya.

  7. Dunia ujian kehidupan.

    Hal terakhir di dunia ini dimana kita tidak menemukan keadilan adaalah saat sedang diuji oleh sistem. Berbagai energi kapitalis akan dipertontonkan kepada anda. Misalnya seputar kemewahan, kenyamanan, kekayaan, kehormatan dan lain sebagainya. Bagaimana reaksi anda saat menghadapinya? Hadapilah semuanya dengan lapang dada. Lakukan kebaikan kepada mereka, pujilah jika itu memang perlu. Hindari sikap bermusuhan sebab hal inilah yang kelak mudah melemahkan dan membuat sikap teledor (salah tingkah) dan akhirnya semua kesalahan jatuh ke kita. Melainkan bersahabatlah dengan si musang berbulu domba tanpa terpengaruh oleh sifat negatifnya.

    Saat anda sedang diuji, jangan mengeluh dengan berkata “dimana keadilan?” Jalani saja dulu itu. Toh dampaknya tidak sampai melukai kulit walau hati tersayat-sayat. Jangan sampai ketakutan dan kecemasan menguasai dan merusak kebaikan yang sudah ada sejak lama di dalam diri anda. Sesungguhnya solusi dari setiap masalah anda ada di sekitar anda! Orang yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat!

Kesimpulan

Pada dasarnya setiap karya seni menghadirkan konflik beragam yang diawali dengan sifat/ sikap ketidaksetaraan alias perbedaan yang cukup kontras di antara pribadi tokoh-tokohnya. Sekalipun nilai-nilai keadilan minus tetapi masih banyak nilai positif lain yang dapat kita petik dari dalamnya. Oleh karena itu, jelilah memilah-milah segala informasi dari luar dan hindari menerima semuanya itu apa adanya. Selalu sadari situasinya dan siagakan pikiran agar fokus tidak buyar yang membuat hidup mengarah pada hal-hal negatif terus.

_+_

Tidak ada dunia sandiwara bila semuanya adil. Justru ketidakadilan itulah yang membangun sebuah cerita sehingga sangat menarik untuk disaksikan. Apakah kita mau kehidupan di bumi ini semakin panas membakar segala sesuatu karena tidak ada keadilan layaknya di film dan game? Mari mengusahakan “kesetaraan kekuatan” (pengetahuan, pendapatan dan kekuasaan).

Saat anda menonton film, jangan harap ada keadilan sosial. Ketika menikmati karya seni jenis lain, sifat adilnya itu sangatlah subjektif dan terlalu tipis. Sebab saat tidak ada kesetaraanlah, sandiwaranya menjadi seru bahkan semakin kencang membakar setiap hati dengan nafsu ingin merajai. Dari sanalah kita belajar bahwa yang namanya setara, “sangat penting.” Salah satunya untuk menghindarkan kita dari pertarungan-pertarungan sosial  penuh emosional yang menguras sumber daya dan merugikan orang lain serta lingkungan sekitar: baik langsung maupun tidak langsung. Tidak perlu terlalu menuntut adil saat kita berada di dunia maya, dunia digital game dan dunia aplikasi lainnya. Sadarilah bahwa para pemiliknya mungkin tidak memahami nilai-nilai Pancasila. Ketika kita masuk dunia mereka, kita ikut aturan mereka! Lebih dari itu, berupayalah untuk menyesuaikan diri dengan biudaya tiap-tiap sistem yang kita masuki. Dengan demikian kita dapat meraih manfaat dari sana sekali pun kerap kali diperlakukan secara tidak adil. Sedangkan di dunia nyata: “mari perjuangkan keadilan sosial lewat jalur hukum!”

Salam, Tidak semua hal di dunia
meyakini falsafah Pancasila.
Ada celah tertentu
yang menyembunyikan
ketidakadilan.
Semata-mata agar
sandiwara makin seru.
Hadapi dengan kritis
ambillah manfaatnya
buang/ lupakan sampahnya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.