7 Saat Menantang Diri Sendiri Berbuat Baik Dan Menghindarinya – Kapan Menguji Diri Sendiri Dan Kapan Mengurangi Aktivitas Yang Menantang Ini?

Kenyamanan adalah sampah pengotor kehidupan yang melemahkan manusia, tatkala hal-hal tersebut dinikmati secara berlebih-lebihan. Kamu, aku dan kita semuanya butuh nyaman dalam segala waktu. Akan tetapi, nyaman yang lebay itu justru melemahkan fisik dan mental. Ambil saja satu contoh tentang keengganan untuk bekerja, maunya santai terus menerus. Lantas pekerjaan diserahkan kepada pembantu rumah tangga dan mesin-mesin berkekuatan tenaga kuda. Diawal-awal, hal-hal yang mewah semacam ini memang kelihatannya baik. Akan tetapi, bertahun-tahun kemudian (>10 Tahun) efek sampingnya mulai memiskinkan fisik, mental dan moral manusia.

Pada bagian ini, kita singkirkan pembahasan tentang miskin fisik. Kita akan memasuki beberapa pemahaman apa adanya dari sesuatu yang tidak pernah belajar ilmu psikhis. Jadi, apapun yang kami tulis di blog ini, anda bisa memercayainya dan bisa juga tidak. Kami berharap setidaknya anda mendapatkan sedikit telaah dangkal terhadap keilmuaan perilaku. Bukankah lebih baik sedikit daripada tidak ada sama sekali? Berbicara tentang mentalitas manusia, tidak pernah jauh-jauh dari masalah yang dihadapinya dari waktu ke waktu. Segala bentuk soal-soal kehidupan, bisa membantu mengasah kekuatan hati, kecerdasan menganalisa situasi, kemampuan menunggu, ketepatan mengambil kesimpulan dan kecermatan sikap yang diekspresikan.

Dalam hidup ini, yang namanya susah-senang itu bukanlah bencana. Kesenangan pun itu beresiko menjadi bencana ketika tarafnya berlebihan. Kesusahan juga bisa jadi awal kehancuran karena terlalu fokus memikirkan buruknya masalah. Jadi, efek samping dari suatu aroma sosial sangat tergantung dari sikap kita menanggapinya. Terserah, yang datang ke hadapan kita, baik atau buruk. Yang lebih penting adalah apakah sikap kita sudah baik menanggapi gejolak sosial tersebut? Sebab seperti apapun hal-hal buruk itu datang, tidak akan bisa mempengaruhi suasana hati kita. Asalkan kita selalu mengkondisikan pikiran dalam angka positif, niscaya badai yang datang dari luar akan ditenangkan delam ketenangan yang menyejukkan hati.

Mampu menjadi seorang yang bahagia, merupakan sebuah kemurahan hati yang pantas dinyanyikan dari waktu ke waktu. Tetapi, kemampuan untuk menjadi orang yang kuat hati ditempa dari berbagai macam persoalan hidup. Sayangnya yang namanya soal-soal hanya ditumpuk banyak-banyak di berbagai sekolah dan kampus belaka. Hasrat akan kenyamanan hidup sepertinya sudah menjadi momok yang justru semakin membuat kita jauh dari masalah: memang itulah yang dikehendaki banyak orang. Mereka ingin semuanya di bawah kendali sehingga tidak ada masalah dalam hari-harinya sedikit pun. Padahal keadaan semacam inilah yang membentuk manusia menjadi pribadi yang lemah hati mental anjlok hingga sikap mudah menikung ke arah yang negatif..

Beberapa orang yang ingin maju, tidak mau membawa dirinya dalam situasi yang terlalu tenang. Mereka ingin merasakan riak lingkungan yang mengarahkan manusia menjadi dewasa. Tetapi bukan keliaran berlebihan yang menimbulkan kerugian fisik yang nyata. Melainkan mengambil suatu ujian yang menantang komunikasi dan kemampuan berinteraksi dengan sesama manusia. Memanfaatkan keramah-tamahan sebagai sebuah celah untuk menjalin kedekatan. Walau di sisi lain dapat pula bermanfaat menguji hati. Biarlah dengan kesantunan kita, orang lain berupaya mendiamkan, mengabaikan dan menolaknya. Bagi yang belum terbiasa, penolakan semacam ini akan sangat menjengkelkan. Akan tetapi, bagi mereka yang sudah terbiasa akan menanggapinya dengan santai sambil melanjutkan aktivitas dalam kesibukan positif.

Saat yang tepat untuk menantang diri sendiri berbuat baik dan saat menguranginya.

Dalam dualisme rasa selama nafas berhembus di dunia yang fana. Kita tidak bisa hanya memilih yang enak dan nyamanya saja. Melainkan pilihan terbaik adalah: “mengharapkan apa yang nyaman tetapi tidak menolak ketika yang menyakitkan itu pun tiba.” Bila perlu menghidupi tantangan tersebut hari demi hari yang kita jalani bersama. Berikut ini akan kami berikan beberapa kaidah-kaidah, kapan saat yang tepat untuk menantang diri sendiri dalam badai gejolak kehidupoan. Agar sedapat-dapatnya, kita beroleh manfaat positif dari kekacauan yang sering timbul tanpa kita perkirakan sebelumnya. Berikut selengkapnya.

  1. Sedang berada dalam suasana bahagia aktivitas.

    Kebahagiaan yang selalu ada adalah bahagia lewat aktivitas yang ditekuni. Setiap jengkal aktivitas positif yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, pasti dapat mendatangkan sukacita. Cintai apa yang kamu lakukan dan lakukanlah apa yang kamu cintai. Apa hasrat utama anda selama hidup di dunia ini? Memang selama hidup di dunia ini ada banyak yang menjadi keinginan kita: tetapi apakah yang terutama? Apakah anda setuju jika kami mengatakan bahwa hasrat utama atau tujuan terpenting manusia di bumi adalah “mengasihi Allah seutuhnya dan mengasihi sesama seadil-adilnya.” Kalau dua hal ini saja kita lakukan bahkan ditekuni dari waktu ke waktu niscaya rasa hati positif selalu berbahagia.

    Mungkin saja pekerjaan kita, kurang padat merapat sehingga ada beberapa waktu luang yang dapat dihabiskan untuk melakukan aktivitas santai. Dalam aktivitas inilah kita perlu mengasah kemampuan memuji-muji Tuhan di dalam hati. Bersantailah sambil memuliakan Allah kita di segala waktu. Niscaya , tabung hati akan senantiasa bersukacita dalam improvisasi lagu sepanjang hari. Juga jangan lupa untuk berbagi kebaikan kepada siapa saja yang dapat anda jangkau (semampunya)

  2. Tetap rendah hati dan tidak sok baik atau sok kuat.

    Kerendaahan hati itu seperti air yang selalu di bawah walaupun perannya sangat vital dan viral di dalam masyarakat. Berbuat baik bukan untuk dilihat orang lain. Bersikap sabar bukan demi diakui ketangguhannya menghadapi masalah. Tidak mengumbar kelebihannya dari orang lain. Berupaya untuk tidak mencolok walau memiliki potensi. Sebab dia tahu bahwa hidup ini bukan miliknya seorang. Melainkan hidup ini adalah milik Tuhan maka semuanya didedikasikan untuk kemuliaan nama Tuhan. Sekalipun dalam pelaksanaannya kita melakukan hal-hal positif tersebut kepada sesama manusia dan lingkungan sekitar.

    Orang yang sok baik, mengabarkan kepada semua orang sesaat sebelum dan setelah dia melakukan suatu kebaikan. Sedangkan orang yang sok kuat mewartakan kekuatan/ potensi yang diunggulkannya kepada orang lain. Berhati-hatilah mewartakan sesuatu, sebab bisa jadi itu hanyalah kamuflase yang berujung menyombongkan diri. Daripada mewartakan kehebatan sendiri, lebih baik mewartakan firman Tuhan niscaya sukacita pun penuh.

  3. Menerima tantangan dalam beramah-tamah.

    Menantang diri sendiri agar mampu mengalahkan rasa takut terhadap kekecewaan yang mungkin terjadi. Saat kita sopan kepada sesama, ini adalah awal dari kerendahan hati. Selanjutnya untuk beramah-tamah, dibutuhkan segenggam tekad bulat agar sepatah kata santun bisa keluar otomatis, tanpa membebani jiwa.

    Ramah tamah ini sangatlah menantang sebab kita perlu momentum yang tepat untuk mengekspresikannya. Keramahan yang baik diekspresikan di waktu yang tepat. Akan tetapi, namanya juga tantangan hidup, pastilah ada saatnya dimana kesantunan kita tidak ditanggapi sama sekali sekalipun sudah diekspresikan pada momen yang tepat. Awalnya, pengabaian dan penolakan semacam ini, terasa menyakitkan dan sangat mengganggu konsentrasi. Sebab terus saja terngiang-ngian dalam ingatan. Setelah lebih dari ribuan kali diabaikan, anda pun akan terbiasa dengan hal-hal tersebut. Seolah tidak terjadi apa apa dan hidup pun terus berlanjut ke arah yang positif.”

  4. Menghadapi masalah berupa gangguan indra.

    Tantangan berikutnya selama kita menjalani hidup adalah gangguan indra yang berasal dari berbagai sumber. Mulai dari alat musik atau sejenisnya, hewan dan mesin berteknologi. Biasanya gangguan tersebut datang tanpa kita sadari sebelumnya sehingga menjadi terkejud tiba-tiba. Akibat terburuk dari gangguan semacam ini adalah tidak dapat berkonsentrasi saat bekerja. Alias resikonya bisa-bisa pekerjaan tidak siap-siap.

    Selama kondisi tubuh dalam keadaan aktif dan pikiran tetap positif maka selama itu pula gangguan tidak dapat mengganggu hati kita. Semua kendala yang menghambat akan mampu diabaikan sehingga tidak ada tanggung jawab yang terbengkalai. Setiap hal yang kita lakukan pasti berhasil walau semuanya itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

    Ada baiknya bila kita menerima tantangan yang mengganggu di sekitar kita. Bukan untuk ditanggapi tetapi untuk dibawa sibuk positif. Artinya, saat kita sudah mampu menyesuaikan diri dengan gelombang besar tersebut, tepat saat itulah kita telah menerima bahkan berhasil melewati tantangan tersebut tanpa sikap kasar atau terhindar dari keputus-asaan yang menyimpang.

  5. Mundur beberapa langkah (mengurangi beberapa keramahan tanpa menghilangkannya) ketika masalah datang bertubi-tubi.

    Kita adalah orang yang ramah dimana pun berada. Setidaknya sebagian orang mengenal hal tersebut dengan baik karena kita selalu santun menyapa duluan. Akan tetapi, sehubungan dengan situasi sulit yang sedang dihadapi, kapasitas keramahan kita mulai memudar tapi tidak hilang.

    Kapasitas yang memudar itu dapat diumpamakan seperti: awalnya saat berpapasan dengan orang lain, kita menyapa duluan dengan mengeluarkan suara, tersenyum dan menganggukkan kepala. Akan tetapi di saat masalah kita sedang banyak, jangan hilangkan kebiasaan ramah itu dengan menjadi acuh tak acuh sama-sekali. Melainkan kurangi kapasitas keramahan, dari yang biasanya mengeluarkan suara, tersenyum dan menganggukkan kepala menjadi tersenyum mungil sambil menganggukkan kepala saja. Atau cukup dengan menundukkan kepala saja sebagai tandap bahwa kita sedang mengalami hari yang kurang menyenangkan.

    Ini kita lakukan sebagai pertanda bahwa keadaan lagi memburuk. Semoga saja mereka maklum. Lagipula dengan memperkecil kapasitas keramahan (bukan menghilangkannya sama sekali) beban moral akibat diabaikan tidak begitu besar/ tidak berat. Sebab sikap kita berada dalam mode senyap dan kemungkinan hanya diketahui oleh sedikit orang saja (tidak banyak yang menyadarinya).

  6. Menghindar dari potensi gangguan saat pergumulan hidup sedang keras-kerasnya.

    Biasanya, kalau terjadi gangguan besar maupun kecil, kita hadapi saja. Masuk dalam gencarnya pencobaan dengan tetap tenang menyelesaikan tanggungjawab yang diberikan kepada kita. Tidak ada dendam yang perlu dipendam sebab kebahagiaan sejati bebas dari keterikatan buruk di masa lalu. Justru gangguan sosial seolah-olah dianggap seperti musik klasik versi jalanan yang memijat otot pikiran .

    Saat kita sedang mengalami goncangan yang bertubi-tubi lalu tiba-tiba muncullah gangguan indra yang begitu kontras dan kurang jelas dari mana asalnya. Pada saat seperti ini, lebih baik kita menghindar dahulu. Ini kita lakukan bukan karena takut tersakiti melainkan mencegah agar kita yang sedang terpuruk tidak menjadi lebih buruk lagi. Desakan yang muncul dari berbagai arah, bisa kita tutup dengan menggunakan headset peredam suara, masuk kamar sendiri sambil sibuk positif, tidur sejenak, bisa juga dengan jalan-jalan ke taman atau ke tepi pantai yang tidak begitu ramai. Kunjungi museum, kunjungi perpustakaan: yang sekalipun ramai tetapi sangat tenang dan masing-masing sibuk positif. Kecuali bila hari itu adalah hari libur, tidak perlu ke pantai atau ke taman melainkan dikamar saja fokus kepada Tuhan: membaca firman, bersekutu dengan-Nya, mempelajari sesuatu, bermain game dan aktivitas positif lainnya.

    Menghindari gangguan dengan mencari ketenangan di luar rumah memang baik tetapi alangkah lebih baik lagi kalau “rumah kita sebagai pusat ketenangan pribadi.” Sekalipun muncul gangguan dari berbagai arah namun tetap ada rasa aman dan damai sebab kita menginjakkan kaki di atas kepunyaan pribadi. Bagi anda yang bisa menyesuaikan diri, hindari menghindar terlalu jauh. Di rumah menikmati suguhan teknologi juga dapat menjadi kesibukan yang menghibur

  7. Menikmati penderitaan dan mampu mengembalikan semangat yang patah.

    Bagaimana caranya menikmati penderitaan? Dasar untuk menikmati derita adalah kerendahan hati: orang sombong akan bertambah-tambah pilu hatinya karena derita yang dialaminya. Tetapi, kemauan untuk menyangkal diri di tengah penderitaan membuat kita menjadi ikhlas menerima keadaan.

    Hindari fokus terus-menerus pada masalah yang sedang anda hadapi. Melainkan fokus tetap di arahkan kepada Tuhan atau pada pelajaran dan pekerjaan. Selain itu, nikmati jugalah berkat-berkat materi yang anda terima dalam taraf fluktuatif. Sebuah hidangan itu nikmat kalau kita mengonsumsinya tidak sampai kenyang. Sebab saat kita mengonsumsi sesuatu sekenyang-kenyangnya, rasanya akan melorot berubah hambar. Seolah kita bosan menikmatinya sehingga muncul hasrat untuk membeli yang lebih baik/ lebih mahal/ lebih ternama/ lebih populer. Tentu saja hal ini membuat pengeluaran keluarga semakin tinggi: mudah-mudahan anda bisa mengantisipasi ini!

    Saat suasana hati kembali enakan maka mulailah juga mentransfer energi positif dari dalam hati kepada orang-orang di sekitar lewat keramahan kita. Berusaha menyapa orang lain lebih dulu, menyapa dengan mengeluarkan suara, menyapa sambil bertanya dan variasi keramahan lainnya. Dalam keadaan normal, berupayalah untuk melakukan lebih hari demi hari.

Kesimpulan

(Matius 5:40-41)  Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.

_+_

Saat melakukan kebaikan, terutama saat beramah-tamah, selalu lakukan lebih: berusaha menyapa duluan, menyapa dengan berkata-kata, menyapa dengan bertanya. Akan tetapi, saat banyak masalah sedang melanda bertubi-tubi, kurangilah kapasitasnya: cukup ramah dengan tersenyum atau mengangguk saja atau bisa juga dengan menundukkan kepala saja, Saat suasana hati kembali bagus, kembalikan kapasitasnya pada level atas, selalu lakukan lebih.

Kenyamanan tidak selalu baik. Adakalanya dalam hidup ini, kita perlu menantang diri sendiri untuk masuk dalam ujian kehidupan yang tersebar di sekitar kita. Kalau anda mampu melalui suatu pencobaan tanpa sikap yang jahat, berarti kemampuan anda mengendalikan diri telah meningkat dengan pesat. Tetaplah menjadi orang yang baik sekalipun banyak yang kurang baik di sekitarmu. Tantang diri sendiri untuk siap menghadapi lebih banyak pencobaan dan pastikanlah bahwa sikap baik anda tetap konsisten. Saat masalah terlalu pelik menghimpitmu, jangan hilangkan sikap yang sopan dan santun tersebut. Melainkan yang perlu anda kurangi adalah kapasitasnya. Kurangi besar kecilnya keramahan itu: kalau biasanya dilakukan dengan mengeluarkan suara, tersenyum dan menganggukkan kepala. Maka perkecillah kapasitasnya saat kebetulan suasana hati sedang kurang enakan/ kurang bagus dengan hanya tersenyum mungil saja atau dengan menundukkan kepala saja atau melambaikan tangan saja. Atau andapun bisa melakukan keduanya sacara bersamaan: bukankah itu sangat mudah?

Demikian halnya saat anda diusik oleh gangguan indra di tengah ramainya persoalan hidup yang dihadapi. Anda dapat memilih untuk menghindarinya dengan menarik mundur diri sendiri ke wilayah pribadi di dalam rumah sendiri. Atau anda dapat menghindari persoalan yang bertumpuk-tumpuk itu dengan mengunjungi tempat-tempat yang aman dan senyap: misalnya perpustakaan, museum dan lain sebagainya. Tentu saja ini tidak mungkin berlangsung terus-menerus. Namun setidak-tidaknya ada ketenangan yang bisa menginspirasi anda bahwa ketenangan tidak diperoleh dari situasi yang sama sekali diam. Melainkan ketenangan sejati diperoleh sebagai hasil menyesuaikan diri di tengah situasi lingkungan yang bisa berubah dengan cepat.

Salam, Saat kehidupan kita lengang,
tantang diri sendiri untuk tetap ramah.
Bila keadaan sedang terpuruk
kita bisa mengurangi kapasitasnya
keluar sebentar untuk menghindarinya.
Tetapi tidak untuk menghilangkannya
atau tidak ditiadakan sama sekali.
Melainkan sekedar mengurangi
efek sampingan dari sikap cuek seseorang
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.