7, Tuhan tidak Mengecewakan Apalagi Menyakiti Kita Tetapi Manusialah Yang Menyakiti Diri Sendiri

Alasan Tuhan tidak Mengecewakan Apalagi Menyakiti Kita Tetapi Manusialah Yang Menyakiti Diri Sendiri

Memang jelas bahwa rasa sakit adalah sesuatu yang lumrah. Sebab tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak pernah dihinggapinya. Masalah yang datang ke hadapan kita, tidak hanya membebani pikiran tetapi menyayat hati juga. Kita seperti terpukul dobel-dobel oleh karena pergumulan hidup yang bisa datang dari mana saja tanpa disadari. Akan tetapi, orang yang mau dengan tulus hati mengasihi musuhnya akan belajar membiasakan diri dengan ketidaknyamanan itu. Jika ia terus berusaha tetap meresponi setiap ejekan dengan ramah senyum lestari. Niscaya suatu saat nanti akan menjadi terbiasa dengan semuanya itu dan teman-teman yang awalnya membenci malah dijadikan kawan.

Sadar atau tidak, rasa sakit tidak akan menyengat menyakiti. Apabila kita telah berulang kali mengalami hal yang sama namun tetap meresponinya dengan sikap positif. Tetapi, tahukah anda, bahwa ternyata selama kita hidup di dunia ini, bukan orang lain apalagi Tuhan yang menyakiti kita melainkan diri kita sendirilah yang menyebabkannya. Salah satu jalur umum dimana hati tersudut kecewa adalah melalui keinginan. Sesungguhnya, hawa nafsu yang tidak terkendalilah yang membuat kita terluka berulang-ulang kali sampai terpuruk tidak mau hidup lagi. Di satu sisi, siapa pun bisa belajar dari kesalahan yang pernah dilakukannya. Mereka yang biijaksana tidak akan terjerembab berulang-ulang dalam salah nafsu yang serupa.

Pengertian

Lantas bagaimana dengan Tuhan? Bukankah janji-janji-Nya dalam kehidupan kita sungguh sangat-sangat banyak sampai dibukukan? Sudahkah semuanya itu terjadi dalam kehidupan kita? Saudaraku, harap diketahui bahwa janji-janji Tuhan sifatnya general dan selalu mengarah kepada hal-hal positif. Akan tetapi, kitalah yang sering sekali salah persepsi sehingga terlalu fokus pada kata per kata yang diarahkan kepada impin pribadi yang egois. Harap dipahami bahwa Tuhan mengasihi anak-anak-Nya dan bukan gaya-Nya Tuhan untuk mengunggulkan satu dua orang saja sedangkan yang lain diinjak-injak. Sebab berkat-berkat-Nya selalu adil terhadap setiap insan. Allah tidak pernah menyakiti manusia sebab janji-janjinya bersifat umum dan mengarah pada hal-hal positif. Segala keunggulan yang dijanjikan Sang Khalik bersifat pribadi, yakni hanya dirasakan oleh diri sendiri/ hati sendiri dan tidak dimaksudkan untuk mengungguli apalagi sampai berkuasa atas sesama anak Tuhan.

Alasan mengapa janji Tuhan tidak pernah mengecewakan manusia

Allah bukan kurang kerjaan menyakiti mereka yang percaya kepada-Nya. Hanya saja butuh kerendahan hati untuk memahami maksud-maksud yang telah direncanakannya sejak dari zaman awal di masa penciptaan. Hanya saja, karena pemahaman yang kurang, kerap kali kita miris membaca beberapa ayat. Akan tetapi, semuanya itu adalah sesuatu yang lumrah terjadi untuk seorang pemula. Yang penting tetaplah setia di dalam Tuhan maka pemahaman anda dalam berbagai hal akan diperluas. Sehingga tidak ada lagi pertanyaan yang tidak ada jawabannya sebab Roh Tuhan telah memenuhi kita dengan hikmat yang daripada Allah. Berikut ini akan kami jelaskan seadanya, faktor penyebab Bapa tidak pernah mengecewakan dan menyakiti umat-Nya.

  1. Kita saja yang terbawa suasana Alkitab.

    Harap dipahami bahwa situasi kehidupan orang percaya, awalnya minoritas. Sedang mayoritas bangsa-bangsa lain disekeliling mereka, tidak mengenal Tuhan atau disebut juga bangsa kafir. Sedang firman yang mereka terima dari para nabi berupaya mengunggulkan israel, semata-mata bertujuan untuk menyemangati mereka. Agar tetap setia dan bertahan di tengah hebatnya kesesakan yang ditimbulkan oleh bangsa lain.

    Apa pun firman Tuhan yang anda simak, yang menunjukkan janji yang seolah-olah melebihkan kita dari orang lain. Sadarilah bahwa itu tidak ditujukan agar kita merasa lebih dari orang percaya lainnya melainkan dari mereka yang tidak mengenal Allah/ orang kafir/ pembunuh dan pendosa besar yang tidak mau bertobat lainnya.

    Orang kafir adalah orang yang tidak hanya berdosa saja tetapi gemar mengulang-ulang dosanya, sekali pun telah diingatkan oleh orang lain.

  2. Janji berkat seumur hidup.

    (Ulangan 30:9a) TUHAN, Allahmu, akan melimpahi engkau dengan kebaikan.

    Bisa dikatakan bahwa tidak ada orang yang tidak mau hidup makmur dan melimpah. Akan tetapi, terkadang ada orang yang selalu mengaetkan hal tersebut hanya pada materi duniawi. Oleh karena itu, janganlah membatasi janji Allah hanya pada uang dan harta benda. Namun kelimpahan di sini bisa juga berarti kelimpahan dalam hal pengetahuan, kelimpahan kesabaran, banyak kawan yang mendukung, hewan peliharaan yang beranak-pinak, buah pohon yang terus ada sepanjang tahun dan lain sebagainya. Saat segala sesuatu yang kita butuhkan ada dan sudah tercukupi semuanya: ini juga disebut makmur.

  3. Janji untuk menjadi pemimpin.

    (Ulangan 28:13a) TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor.

    Jangan berkecil hati apalagi sampai merasa kecewa kepada Tuhan. Sebab apa yang kita inginkan di dalam masyarakat tidak terwujud. Alangkah lebih bila kita memandang janji tersebut secara personal. Jangan lebay memperluas janji tersebut sampai memimpin banyak orang dalam masyarakat. Itu cita-cita yang perlu diperjuangkan secara berkelompok/ bersama-sama. Akan tetapi, mulailah memimpin dari diri sendiri. Pemuda yang baik pastilah mampu cerdik dan tulus memimpin dirinya agar tidak menyimpang dari jalan Tuhan. Kalau para ayah memimpin keluarga sedang para ibu memimpin keuangan (bendahara).

    Kecanggihan teknologi yang ada saat ini memungkinkan kita menjadi pemimpin di antara robot. Coba mainkan beberapa game bertemakan membangun kerajaan, membangun kota dan lain sebagainya.. Bukankah dengan demikian anda bisa merasakan bagaimana rasanya bisa memimpin sebuah kerajaan dengan sekelumit masalah di dalamnya. Mainkan game maka anda akan menjadi ketua tim dalam banyak misi yang menegangkan.

    Harap dipahami bahwa untuk menjadi pemimpin, mulailah dari diri sendiri. Bagaimana kita bisa memimpin orang-orang jika hidup kita saja berantakan? Terkecuali jika memang anda sedang tidak berencana untuk itu. Tuhan telah berjanji bahwa kita akan selalu menjadi pemimpin, apa salah kalau kita memimpin di dunia kita sendiri? Dunia game dimana masalah-masalah kepemimpinan akan dihadapi dari waktu ke waktu.

  4. Hidup yang terus naik, bukannya menurun.

    (Ulangan 28:13b) engkau akan tetap naik dan bukan turun.

    Bagaimana ini? Sebab kami sendiri mengajarkan para pembaa bahwa hidup ini sifatnya fluktuatif. Di sinilah kebijaksanaan kita dibutuhkan. Kita perlu pandai memilah-milah dan tidak menyamaratakan segala sesuatu. Saat menikmati hidup, selalu ada naik dan turunnya. Saat bermain game juga ada istilah menang dan kalahnya.

    Jangan fokus pada hal-hal yang kita hadapi dari hari ke hari. Tetapi coba pandang hidup anda, dari awal bertahun-tahun yang lalu. Kemudian bandingkan dengan keadaan anda yang sekarang. Bagaimana kira-kira hidup kita dibandingkan sepuluh tahun yang lalu? Pasti ada peningkatan, setidaknya peningkatan pengetahuan, peningkatan kelas, peningkatan jumlah teman, peningkatan kesehatan dan lain sebagainya.

    Coba mainkan game komputer atau smartphone maka anda akan terus naik level sekalipun ada waktunya menang dan ada waktunya kalah (bahkan terkadang kalah terus-menerus). Mainkanlah sesuatu yang mendidik dengan memanfaatkan teknologi niscaya perasaan senang bahagianya karena kita terus naik level membantu pikiran menjadi positif.

    Kalau dalam jangka waktu sepuluh tahun ke belakang tidak terasa peningkatan. Silahkan perpanjang rentang waktunya menjadi dua puluh tahun, tiga puluh tahun, empat puluh tahun yang lalu dan seterusnya. Kalau bisa jujur, pastila ada-ada saja peningkatan yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hari-hari yang tidak selalu mudah.

  5. Merasa menanglah dari binatang atau dari robot.

    (Roma 8:37) Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

    Apabila anda ingin sekali menikmati janji Tuhan yang membuat hati merasa lebih. Hindari melebih-lebihkan diri sendiri dari sesama manusia. Berupayalah untuk merasa lebih dari binatang atau makhluk yang lebih rendah dari kita.

    Perhatikan teknologi yang anda miliki. Di dalam smartphone ada bot yang berjalan secara otomatis. Mungkin ini sulit diterima akal sehat tetapi perhatikanlah baik-baik game yang rutin anda mainkan. Tahukah anda bahwa di dalam game tersebut ada robot yang rela anda kalahkan habis-habisan. Merasa menanglah dari robot! Salah satu ciri khas robot saat kita bermain game antar pemain online adalah nama akunnya “guest.” Jika anda menemukan lawan PvP yang demikian, kemungkinan besar rivalmu adalah robot. Satu lagi yang perlu anda lakukan adalah “biasakan diri untuk bernyanyi memuliakan Tuhan saat menggunakan permainan online/ offline.” Simaklah, Penyebab kurang fokus berdoa setelah main game.”

    Kita juga bisa merasa lebih baik dari binatang di padang belantara. Bandingkan diri dengan keadaan mereka yang kotor, kumuh dan hidupnya selalu terancam oleh pemangsa. Binatang hina yang hidupnya tertekan saja, ingin tetap hidup sebab saat kehadiran manusia membuatnya sedikit terancam, hewan-hewan itu lari terbirit-birit menyelamatkan nyawanya.

  6. Janji tentang keselamatan.

    (Yesaya 45:17) Sedangkan Israel diselamatkan oleh TUHAN dengan keselamatan yang selama-lamanya; kamu tidak akan mendapat malu dan tidak akan kena noda sampai selamanya dan seterusnya.”

    Tiap hari kita selalu berdoa agar bisa selamat dari ini dan itu. Namun nasib manusia siapa yang tahu. Bisa saja dalam suatu keadaan yang tak terduga, kita terjatuh, terbanting, terluka dan kehilangan ini atau itu. Lantas apakah ini menunjukkan bahwa Tuhan menyakiti kita? Padahal firman-Nya telah berjanji dan kita pun telah mendoakannya. Pada saat-saat seperti inilah dibutuhkan yang namanya pikiran positif. Sebab kalau kita merasa dikecewakan maka hidup yang telah terpelanting akan semakin terpuruk.

    Perlu memandang peristiwa tersebut sebagai ketelodoran sendiri agar lain kali kita bisa berhati-hati. Bila kita merendahkan hati maka sudah syukur, kerugian yang diderita hanya sebatas itu. Sedang Tuhan telah menyelamatkan kita dari potensi kehilangan nyawa. Apa yang lebih berharga dalam hidup ini selain nyawa kita? Jadi bersyukurlah karena hanya mengalami luka-luka kecil di badan sedang nyawa kita masih dipelihara Tuhan.

    Bagaimana dengan rasa malu? Padahal ada waktu-waktunya kita merasa malu? Sadarilah bahwa kita malu karena apa yang kita banggakan dan kita anggarkan selama ini, tidak ada faedahnya. Tapi, andalkanlah Tuhan dan patuhlah pada kehendak-Nya niscaya rasa malu itu tidak ada lagi. Yang penting kita sudah berusaha keras, apa pun hasilnya terima dengan ikhlas. Tidak ada orang beriman yang malu menerima kehendak Tuhan.

    Rasa malu lainnya karena diejek, dihina atau dibully lewat kata-kata dan perilaku yang kurang mengena. Bagaimana kita bisa bebas dari rasa malu ini, karena Tuhan sudah menjanjikannya? Milikilah motivasi “tidak ada rasa malu sebab kita berani karena benar.” Sedang untuk ejekan dan penghinaan: biasakanlah diri dengan semua rasa sakit tersebut, alhasil lama-kelamaan malunya lenyap.

  7. Janji tentang kemuliaan.

    Kemuliaan yang disampaikan Paulus memang ada tetapi konteksnya lain. Menurut kami, kemuliaan adalah penghiburan di tengah penderitaan. Sama seperti pengertiaannya, resiko memiliki kemuliaan adalah penolakan dan penderitaan. Jadi, bisa dikatakan bahwa semakin menderita dan semakin ditolak manusia maka kemuliaannya akan nyata asalkan selalu mengasihi Allah dan sesama manusia. Ditolak, ditekan dan menderita karena memperjuangkan apa yang benar, pasti akan mendapatkan kemuliaan. Akan tetapi, hal ini tidak bisa kita kendalikan seutuhnya, sebab sifatnya “datang tak dijemput, pulang tak diantar.” Itupun hanya kita yang merasakan sedang orang lain mungkin saja menganggapnya biasa-biasa saja.

    Sebenarnya orang yang mulia dan yang tidak mulia sama saja. Sebab orang yang mulia itu pastilah kesesakan hidupnya banyak. Akan tetapi mereka yang tidak mulia, kesesakan hidupnya juga lebih sederhana. Intinya adalah, ada keseimbangan antara kemuliaan dan penolakan/ tekanan/ penderitaan. Semuanya ini semata-mata dirancang Tuhan agar orang yang mulia tidak kebangetan lalu menjadi angkuh-sombong. Saat memiliki hal ini anda harus berhati-hati sebab “kemuliaan satu langkah lagi menjadi kesombongan yang membahayakan diri sendiri juga orang lain.”

    Ada pemahaman miring tentang kemuliaan. Orang tertentu menganggapnya sebagai nilai lebih yang seolah-olah “manusia super.” Sadarilah bahwa pemahaman hidup mulia semacam ini tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebab semua manusia sama dan tidak ada orang yang lebih baik. Malahan pemahaman yang merasa super ini menggiring kehidupan kita menjadi sombong. Yesus Kristus sendiri dimuliakan setelah “menderita karena benar” sampai titik darah penghabisan di kayu salib.

    Manusia sebagai pribadi yang mandiri, jangan menunggu kemuliaan/ penghiburan dari pihak lain baru bisa terhibur. Bukankah kitapun bisa menghibur diri sendiri? Saat kita bernyanyi-nyanyi dalam hati meninggikan dan mengagungkan Tuhan, bukankah hati juga dihiburkan lewat aktivitas ini? Jadi, bernyanyilah untuk menghibur diri sendiri. Sebab suara-suara penghiburan yang terdengar di sekitar kita tidak stabil/ hilang-timbul/ fluktuatif).

  8. Dan masih banyak lagi, silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Firman Tuhan Ya dan amin. Hanya saja, jangan memandangnya terlalu sempit. Perluaslah wawasan dan tambah perbendaharaan kata yang dapat dikuasai. Juga bacalah firman tersebut setiap hari dari awal sampai akhir: kalau sudah selesai, ulang lagi dan lagi. Niscaya, mereka yang mencari dengan tekun, lama-kelamaan dapat memahami janji-janji-Nya secara utuh. Ada janji yang berbicara tentang hal-hal yang umum dalam sekop besar, misalnya keselamatan, berkat dan peningkatan hidup. Di sisi lain ada pula janji yang berbicara tentang hal-hal pribadi, misalnya tentang kemenangan, kepemimpinan dan kemuliaan. Sedang janji lainnya yang menunjukkan keunggulan merupakan konsep yang membandingkan kehidupan orang percaya dengan orang fasik/ kafir, hewan dan robot. Jadi bersukacitalah senantiasa karena sejauh yang kita pahami, Tuhan telah menggenapi firman-Nya di dalam hari-hari yang kita jalani.

Salam, Perluas sudut pandang
saat menyelami firman.
Niscaya, kita akan
memahami janji Tuhan
yang sudah, sedang
dan akan terus digenapi
dalam hidup sehari-hari
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.