Cara Hidup Manusia Pertama, Baik Saat Di Dalam Maupun Saat Diusir Di luar Taman Eden

Cara Hidup Manusia Pertama, Baik Saat Di Dalam Maupun Saat Diusir Di luar Taman Eden

Taman Eden adalah pusat sorga dunia, tempat kenyamanan hidup tanpa batas yang pernah didiami oleh manusia. Pada dasarnya, taman tersebut bukanlah suatu tempat yang ajaib melainkan, sama seperti wilayah hijau bumi pada umunya. Memiliki banyak pepohonan besar, sedang maupun kecil. Hanya saja, kebanyakan pohon yang tumbuh dapat menghasilkan aneka buah yang bisa langsung dicicipi. Di sana semua yang kita butuhkan ada, tersedia dalam jumlah yang melimpah. Keberuntungan lainnya adalah, semua yang ada, semua yang kita pakai, semua yang diambil, disediakan gratis oleh alam. Sadar atau tidak, alam adalah pabrik perusahaan alamiah dengan sumber daya terbesar di bumi, tempat kita berjejak dan mencari nafkah seumur hidup.

Pertanyaan yang sungguh menggebu-gebu dan terus ditanyakan manusia sampai sekarang adalah “Apakah Taman Eden nyata atau hanya sebuah perumpamaan belaka?” Sebab ada juga orang yang percaya bahwa taman tersebut layaknya nirwana yang dipenuhi dengan keberkahan tanpa batas. Sedang kami sendiri meyakini bahwa taman itu bertempat di bumi namun telah tersegel oleh sesuatu hal sehingga kita tidak dapat menyaksikannya secara kasat mata. Selain itu, ada baiknya bila kita menahan dan mengendalikan rasa penasaran tersebut. Sebab pada dasarnya Taman Pertama yang pernah ada itu serupa dengan hutan hijau yang ditumbuhi banyak pohon, dialiri oleh banyak sungai dan disekelilingnya ada pegunungan yang menjulang tinggi.

Cara Adam dan Hawa hidup di luar Taman Eden

Bagaimanakah nenek moyang kita mampu bertahan dalam perubahan ekstrim dari pusat kenyamanan hidup yang beralih kepada hari-hari yang melelahkan di bumi? Keadaan ini jelas tidak mudah tetapi juga tidak susah-susah amat. Sebab manusia adalah makhluk yang lihai bertahan hidup dilingkungan ekstrim. Tingkat kecerdasan yang unik menjadi keunggulan yang membangun dan beresiko pula menghancurkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, dalam momen kali ini, kami akan mengupas tuntas tentang cara manusia pertama bertahan dari kerasnya hidup selama di bumi. Berikut selengkapnya.

  1. Manusia pertama, sekalipun badan dewasa tetapi pikiran masih kekanak-kanakan.

    Cara-cara Tuhan selama bertindak di bumi selalu dapat diterima dengan akal sehat. Ketika Tuhan menciptakan manusia pertama, mereka seperti bayi yang baru lahir dari kandungan. Tidak tahu apa-apa dan tidak memahami banyak hal.

    Salah satu bukti otentik yang menunjukkan bahwa manusia pertama hanya besar badan saja tetapi miskin pemahaman hidup adalah ketelanjangan. Adakah yang suka telanjang di antara kita selain dari balita? Karena pikiran mereka masih pikiran bayi, itulah yang membuatnya tidak menyadari bahwa mereka telanjang bulat.

  2. Nenek moyang kita sama sekali tidak bekerja di Taman Eden.

    Apa yang dapat dikerjakan kalau semua yang kita butuhkan telah tersedia tanpa terkecuali? Kosong job sehingga lebih banyak waktu yang dihabiskan menikmati hidup. Tidak ada yang namanya kerja keras sebab segala sesuatu tersedia dan tersaji tanpa harus berlelah-lelah. Lagi pula mentalnya masih kekanak-kanakan yang sukanya hanya bermain-main seharian penuh. Mungkin ini jugalah yang dialami oleh nenek moyang kita, yang merasa keenakan berada di Taman Eden.

  3. Di awal zaman, manusia tidak berdosa dan hubungan dengan Allah tidak terpisahkan (manusia bisa berkomunikasi dan melihat Allah).

    Dahulu kala, bumi ini penuh keasrian dan tidak ada yang namanya padang gurun. Allah dan manusia bisa langsung berkomunikasi tatap mata (face to face). Keadaan ini terjadi karena manusia masih setia dan patuh terhadap perintah dan larangan-Nya. Ada sebuah pola khas kunjungan Allah di waktu-waktu tertentu. Pola kunjungan rutin tersebut disadari dan diketahui tandanya oleh Adam dan Hawa.

    (Kejadian 3:8) Ketika mereka mendengar suara Tuhan Allah yang sedang berjalan di dalam taman, di suatu hari yang sejuk, maka manusia dan istrinya itu menyembunyikan diri mereka dari TUHAN Allah di antara pepohonan di taman.

  4. Malaikat Tuhan berkemah di sekitar taman.

    Manusia pertama masih kurang cerdas atau lebih tepatnya polos dan lugu. Jadi, tidaklah mungkin Sang Pencipta meninggalkan mereka sendirian di dalam dunia yang luas penuh misteri yang awalnya dikenal sebagai Taman Eden. Besar kemungkinan, anak Allah (malaikat) turut mendiami taman tersebut. Tempat tinggalnya tidak jauh dari perkemahan manusia. Saat manusia memiliki kendala selama menjalani harinya, pasti mereka mendatangi hamba Tuhan tersebut untuk meminta petunjuk.

    Di awal setelah masa penciptaan, tidak ada manusia yang menjadi hamba Tuhan. Manusia meminta petunjuk Tuhan, langsung kepada malaikat yang menjadi manusia, berkemah tidak jauh dari tempat tinggal/ pemukiman manusia. Keadaan ini terus terjadi, yaitu malaikat diam di tengah-tengah manusia sampai hari dimana air bah memenuhi bumi (zaman Nuh).

    Salah satu dampak nyata ketika malaikat hidup di tengah-tengah manusia adalah diperolehnya pengetahuan yang benar. Tidak ada yang namanya bias dan informasi yang salah. Contoh konkrit keadaan ini adalah manusia yang berumur panjang sampai hampir seribu tahun. Bangunan-bangunan megah zaman purba (misalnya piramida mesir, candi borobudur, peninggalan bangsa maya dan lain-lain). Itu adalah berbagai bukti konkrit yang menunjukkan bahwa di zaman purba, manusia hidup bersama malaikat yang adalah hamba Allah.

    (Kejadian 6:1-2)  Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.

  5. Dosa ketidaktaatan mulai menjauhkan kita dari Allah.

    Pelanggaran kita secara otomatis menghasilkan ketakutan. Itulah rasa yang dialami oleh Adam dan Hawa sehingga bersembunyi dari hadapan Allah. Rasa segan menjadi sangat ekstrim karena seseorang menyadari apa perkara yang baru saja dilangkahinya. Kekuatannya seolah berubah cepat menjadi tremor yang tak terkendali. Dari jauh saja, mereka sudah gemetaran, semangat jatuh dan hilang kesadaran. Artinya, bukan Allah yang menjauh dari kehidupan kita, melainkan kitalah yang tidak sadar dengan keberadaan-Nya. Dia sebenarnya selalu dekat tetapi dosa membuat kita tidak menyadari kehadiran-Nya.

    Dari sini terbacalah sifat manusia, bahwa hidup yang selalu nyaman, cenderung membuat lupa diri. Nenek moyang kita sudah dibaik-baikkan sama Sang Khalik tetapi tega sekali mereka menentang-Nya. Seolah kenyamanan dan kemudahan yang mereka alami membuatnya terlena sehingga melupakan firman Tuhan. Itu barulah permulaan, masih banyak lagi dosa yang akan mereka lakukan setelah diusir dari taman tersebut.

  6. Apakah dosa memakan buah pohon? Mengapa manusia pertama berdosa?

    Mengapa manusia tidak boleh memakan buah Pohon Pengetahuan? Ini murni kehendak Tuhan yang menguji manusia. Seandainya Hawa meminta buah pohon Pengetahuan itu kepada Tuhan, pastilah akan diberikan. Walau awalnya ditolak oleh Tuhan namun apabila manusia pertama terus-menerus berdoa memintanya dengan tekaun: pasti akan diberikan.

    Allah itu baik dan Dia hendak memberi kebaikan itu kepada manusia, tetapi semuanya ada masanya. Perintah-Nya untuk tidak mengonsumsi buah di tengah taman, bisa jadi hanya untuk sementara waktu saja. Tentu saja Allah suka memberi hikmat kepada manusia sama seperti hikmat yang dianugerahkannya kepada Salomo. Jadi, bukan mustahil kalau buah terlarang itu pun, pada akhirnya akan diberi izin untuk dimakan. Hanya saja, tunggu dulu dan taatilah perintah Tuhan: bukankah semuanya ada waktunya?

    Sayang, manusia bawaannya tidak sabaran, tidak mau menunggu dan mengabaikan perintah Tuhan. Artinya, bukan buah terlarang itu yang menimbulkan dosa tetapi ketidaktaatan terhadap perintah Tuhanlah yang akibatnya fatal.

  7. Manusia di usir dari Taman Eden.

    Manusia pada umumnya, kalau dibaik-baikkan malah makin manja dan sifatnya menjadi-jadi. Seperti kata pepatah lama: “sudah dikasih hati malah minta jantung.” Segala fasilitas serba ada telah dianugerahkan Allah di awal kehidupan tetapi tidak ada sedikit pun rasa syukur terhadap-Nya. Bahkan mereka menjadi tidak segan untuk mencuri sesuatu yang jelas-jelas tidak diperbolehkan. Ada baiknya, sifat tidak tahu terimakasi semacam ini perlu kita waspadai dalam setiap hari yang dilalui.

  8. Harus bekerja keras di luar taman.

    Mereka terusir dari taman oleh karena beban pelanggarannya sendiri. Sejak saat itu, tidak ada lagi hidup yang benar-benar mudah. Tidak ada pula kebutuhan yang selalu terpenuhi. Melainkan, bila ingin kenyang maka mereka harus mengusahakannya sendiri dengan membuat ladangnya sendiri di luar sana. Harap diketahui bahwa manusia pertama mempelajari cara berladang langsung dari hamba Tuhan (malaikat yang menjadi manusia).

    Kenyamanan hidup kekristenan bukanlah jaminan yang membebaskan seseorang dari dosa. Bahkan alangkah lebih baik jika tiap-tiap orang tidak terpaku terhadap kemudahan hidup melainkan menyibukkan diri untuk selalu sibuk beraktivitas. Manusia yang sibuk bekerja keras tidak punya waktu untuk melakukan dosa. Itulah mengapa Tuhan mengusir manusia dari Taman Eden agar sekiranya mungkin, kesusahan tersebut membuatnya bertobat dan tidak melanggar titah Allah lagi. Sekali pun demikian, dosa itu masih mengakar karena manusia masih bisa menciptakan kenyamanan lebaynya sendiri. Misalnya dengan memperbudak binatang, memperbudak manusia lainnya, membuat hunian yang megah menjulang tinggi dan masih banyak lagi.

  9. Manusia diajari tentang kunci ilmu pengetahuan dan cara terbaik bertahan di bumi.

    Kami sendiri dalam menulis sesuatu, tidak semuanya benar, kadang-kadang ada salahnya: selektif dan kritislah saat menyimaknya. Lain halnya di masa purbakala dimana manusia pertama diajari langsung oleh para malaikat. Tidak ada ajaran sesat, tidak ada penipuan dan tidak ada kekhilafan dalam penyampaian firman Tuhan sebab semua pengetahuan asli yang mereka butuhkan, dianugerahkan secara cuma-cuma. Inilah yang menyebabkan peradaban purba penuh kemegahan yang memukau dan tidak diketahui rahasianya sampai sekarang. Misalnya saja tentang bagaimana cara membuat piramida Mesir, piramida Aztek dan piramida Borobudur.

    Manusia pertama tidak hanya hidup di Timur Tengah atau Eropa saja melainkan telah tersebar diseluruh penjuru bumi. Mereka pasti telah menguasai ilmu pelayaran dengan sangat baik. Ini terbukti dari penemuan candi-candi megah hampir di seluruh penjuru bumi. Sedang sampai sekarang, teknik pembuatan candi semegah itu tidak diketahui oleh siapa pun. Sayangnya semua itu dibangun untuk memegahkan diri (untuk membanggakan diri dan mencari nama).

  10. Pengetahuan asli yang dikuasai, dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan.

    (Kejadian 6:5) Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,

    Sekali pun para malaikat langsung yang mengajar mereka, manusia itu bawaannya jahat. Hatinya dipenuhi oleh kedagingan yang mengarahkan hidup pada nafsu yang sesat. Seharusnya, peradaban di masa itu bisa berkembang dengan pesat namun perilaku mereka seperti binatang. Sedang pengetahuan yang mereka kuasai malah dimanfaatkan untuk mencari nama bagi dirinya sendiri. Pengetahuan sejati yang diberikan para malaikat Tuhan telah diselewengkan menjadi pemenuhan ego dan arogansi yang jahat.

    (Kejadian 11:4)  Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

    Munculnya padang gurun di bumi menunjukkan betapa serakahnya manusia intelek, dalam memanfaatkan sumber daya secara berlebihan. Manusia yang berumur panjang merupakan salah satu bukti otentik dari tingginya ilmu pengetahuan nenek moyang kala itu. Bentuk lainnyha dari kecerdasan tinggi namun moral amburadur adalah pembuatan bangunan mewah yang bertujuan untuk mencari nama. Bahkan saking canggihnya, rahasia pembangunan candi dan piramida megah tersebut tidak diketahui oleh ilmuan sampai sekarang.

Kesimpulan

Perbedaan mendasar antara kehidupan di dalam taman dan di luar taman adalah dosa yang dilakukan dan kenyamanan hidup yang dirasakan. Di dalam Eden, manusia belum berdosa. Semua yang dibutuhkan sudah ada, manusia tidak perlu berusaha keras sehingga hidup keduanya penuh dengan kemudahan. Sedang, saat manusia bermukim di luar Taman Eden, manusia terus berdosa dan hidup menjadi lebih sulit. Mereka perlu banting tulang untuk memenuhi apa yang dibutuhkannya seumur hidup.

Ada baiknya, kita belajar dari kehidupan manusia di zaman purba kala saat air bah belum menenggelamkan bumi. Betapa baiknya Tuhan memberikan kenyamanan dan kemudahan kepada kita sampai detik ini. Akan tetapi, berhati-hatilah dengan semua nikmat tersebut. Jangan sampai saat kebutuhan duniawi serba ada bahkan makmur berkelimpahan, membuat kita melupakan Tuhan. Saat hati terlena oleh materi dan hormat mulia duniawi, kita bisa lupa diri dan kehilangan akal sehat. Bahkan firman Tuhan pun dilupakan semata-mata demi meraih, mempertahankan dan memperluas sumber daya yang berada di bawah kekuasaan kita. Sebelum hal ini terjadi dan mengakar dalam hidup kita, bertobatlah. Agar hari-hari kita terhindar dari pemusnahan habis-habisan seperti yang terjadi di zaman Nuh serta di Sodom dan Gomora.

Salam,
Manusia pertama polos tak berdosa
Kenyamanan & kemudahan hidup
membuat mereka terlena,
lupa diri dan lupa Tuhan
sehingga diusir dari taman kelimpahan.
Belajarlah untuk tetap sadar
dan tidak terlena dengan
Gemerlapan duniawi
yang dimiliki
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.