+7 Kronologi Kejadian Di Taman Eden Dan Kutukan Yang Menyertainya

Kronologi Kejadian Di Taman Eden Dan Kutukan Yang Menyertainya

Peristiwa di dalam Kitab Suci merupakan kisah kemaknaan yang mengandung banyak arti khusus. Ceritanya bukanlah cerita biasa yang melegenda dari zaman ke zaman. Sebab legenda yang termaktum dalam Alkitab, bukan dongeng biasa yang semata-mata dibuat untuk tujuan menakuti anak-anak. Orang percaya bukanlah anak-anak yang mudah dibodohi oleh cerita-cerita mistis kaki lima. Saking hebatnya firman, satu cerita saja memiliki banyak arti positif membangun apabila ditinjau dari berbagai sudut pandang. Terlebih ketika anda senantiasa membacanya dari awal sampai akhir lalu mengulangnya lagi dan lagi. Tidak ada ruginya tetapi hidup terus diuntungkan lewat pencerahan-pencerahan sorgawi yang mendunia.

Menurut kami, salah satu kisah yang sangat eksentrik di dalam Alkitab terdapat di awal-awal kitab Kejadian. Ada kisah penciptaan di sana, dimana terdapat suka dukanya. Ada sukacita karena Tuhan telah menyediakan semua yang kita butuhkan. Namun, tidak lama setelah penganugerahan kenyamanan itu, kita diusir pula karena melanggar perintah Tuhan. Pada bagian ini, kami tidak fokus membahas secara detail tentang ayat-ayat tertentu yang dapat mereka ulang peristiwa naas itu. Tetapi yang hendak kami bahas di sini adalah kronologi kejadian tersebut secara umum dengan memperhatikan beberapa faktor yang dapat dilogikakan dan dianalisis secara harafiah.

Kronologi kejadian di Taman Eden

Taman Eden adalah sorga dunia sebab di sana, manusia tinggal ambil, petik dan potong apa saja yang diinginkannya terkecuali satu pohon spesial di tengah taman. Pada bagian ini, kami akan menjelaskan tentang pendapat pribadi: sekali lagi harap digaris bawahi, yaitu tentang “pendapat pribadi.” Ini tidaklah alkitabiah sebab yang kami gunakan hanyalah penalaran “menulis analisis” menurut pengalaman kami selama ini. Anda bisa menganggapnya sebagai sebuah kebenaran tetapi dapat pula menolaknya mentah-mentah: itu pilihan pribadi tanpa paksaan. Berikut ini akan kami jelaskan deretan peristiwa yang berlangsung ditaman yang masih dimimpikan untuk ditemukan.

  1. Tanahnya ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon.

    Tidak ada pertanian sebab semuanya sudah tersedia. Sedang pohon-pohon besar menghasilkan buah lezat yang berlimpah-limpah. Dahan-dahan pepohonan jatuh melengkung ke bawah, saking banyaknya buah yang bergelantungan. Kekuatan sumber daya lingkungan tumpah ruah sehingga situasinya sangat mendukung kenyamanan dan kemudahan hidup.

  2. Adam dan Hawa tidak perlu bekerja keras.

    Semua yang dibutuhkan manusia telah tersaji dengan sempurna. Dalam posisi ini, nenek moyang kita, Adam dan Hawa tidak perlu bekerja sampai banting tulang. Apa yang mereka butuhkan sangat dekat dengan sikutnya. Bergerak sedikit saja, berbagai plasma nutfah yang menyegarkan, tinggal petik dan tidak perlu minta izin kepada siapa pun. Sebab semuanya itu adalah milik yang berada dibawah kekuasaan manusia.

  3. Mereka hanya bermain, tidur, makan, buang hajat, duduk dan jalan-jalan.

    Taman Eden bukanlah taman biasa. Tuhan sudah tentu membuat tempat tinggal nenek moyang kita. Diletakkan pada sebidang lahan yang sederhana dengan pohon pendek, bunga liar dan rumput kecil di sekelilingnya. Kemungkinan besar, bentuk rumah tinggalnya seperti piramida segi empat. Mereka adalah manusia pertama yang langsung mendapatkan kenyamanan dari tangan Sang Pencipta.

    Manusia yang masih belum berkembang biak bebas melakukan apa saja. Mereka tidak perlu berlelah untuk mengisi perut dan tidak perlu bersusah payah untuk memperoleh hal-hal yang diinginkan hatinya. Tidak ada tugas yang perlu diselesaikan selain dari kebutuhan makan, minum, tidur, duduk, bermain, jalan-jalan dan termasuk buang hajat.

  4. Adam dan Hawa masih seperti anak bayi.

    Sekalipun badan mereka besar, tetap saja pikiran belum berkembang. Mereka sama seperti balita pada umumnya. Sangat polos namun memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Kami menduga bahwa komunikasi keduanya masih sederhana lebih banyak/ didominasi oleh bahasa isyarat belaka. Tentulah mereka saling berbincang tetapi terbatas kata-kata yang keluar dari bibir masing-masing. Tetap saja, ini tidak mengurangi kemampuannya untuk saling memahami satu sama lain. Berpegangan tangan, berjalan berduaan bahkan berlarian mengelilingi taman sambil mengeksplorasi keindahannya yang eksotik.

  5. Ada malaikat yang bertempat tinggal tidak jauh dari kediaman Adam dan Hawa.

    Kami yakin bahwa mereka tidak sendiri di taman tersebut. Ada makhluk sorgawi yang menjadi manusia, berada di sekitar. Keduanya tahu keberadaan hamba Tuhan tersebut dan dapat sewaktu-waktu ditemui di kediamannya. Kemungkinan rumah hamba Tuhan tersebut tidak jauh dari kediaman Adam dan Hawa.

    Malaikat ada di sekitar nenek moyang kita namun tidak mengawasi mereka 24 jam bak cctv. Mengapa ada hamba Tuhan di sekitar mereka? Sebab nenek moyang kita butuh pencerahan dalam berbagai aspek kehidupan sebagai manusia pertama yang banyak melihat hal-hal baru. Mereka masih tidak tahu apa-apa. B#elum bisa memilih dengan cermat, apa saja yang bermanfaat dan apa juga yang merugikan bagi dirinya sendiri. Saat menemukan suatu kendala yang berarti, pasti yang ditemui adalah hamba Tuhan untuk mencari solusi/ jawaban. Tetapi, bisa juga yang terjadi sebaliknya, yaitu hamba Tuhan tersebutlah yang mengunjungi nenek moyang kita secara rutin.

  6. Tuhan berfirman kepada Adam untuk menamai binatang.

    (Kejadian 2:19) TUHAN Allah membentuk semua binatang di padang dan semua burung di udara dari debu tanah dan Ia membawa semua binatang itu kepada manusia untuk melihat bagaimana ia memberi nama semua binatang itu. Dan, nama apa pun yang diberikan manusia itu kepada masing-masing mereka, demikianlah nama makhluk itu.

    Pada momen ini, jelas sekali bahwa semua hewan yang berkeriapan berada dibawah kekuasaan manusia. Seperti kita takut dan gentar kepada Tuhan, maka demikianlah juga binatang takut dan gentar kepada manusia pertama. Kita bisa memanfaatkan mereka untuk melakukan berbagai hal.

  7. Dari semua jenis binatang, Adam mengambil satu atau beberapa sebagai peliharaan.

    Dari dulu sampai sekarang, manusia suka memelihara hewan. Ada kemungkinan setelah Adam memberi nama kepada makhluk yang berkeriapan tersebut, mengambil satu atau beberapa dari mereka untuk dijadikan peliharaan. Bisa jadi, hewan yang kita pelihara sampai sekarang merupakan deretan hewan yang menjadi koleksi pilihannya.

  8. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam.

    (Kejadian 2:21-22) Maka, TUHAN Allah membuat manusia itu tertidur lelap, dan ketika ia tertidur, Allah mengambil salah satu tulang rusuk manusia itu, lalu menutup tempat itu dengan daging. Kemudian, TUHAN Allah menjadikan perempuan dari bagian yang diambil dari tubuh manusia itu dan membawa perempuan itu kepadanya.

    Ini adalah teknologi kloning Tuhan. Allah tidak mengambil rambut, ujung kuku atau kulit Adam untuk menciptakan manusia lainnya dengan jenis kelamin yang berbeda. Tetapi bagian khas yang direkrut adalah tulang rusuk laki-laki pertama untuk dikloning menjadi perempuan pertama. Ternyata dari kejadian dari Perjanjian Lama inilah, para ilmuan duniawi juga berusaha mengkloning manusia tetapi gagal. Jangankan hewan tingkat tinggi, hewan tingkat rendah saja tidak mampu dikloning dengan teknologi zaman ini. Melainkan semuanya harus melalui proses perkawinan, kehamilan dan melahirkan.

    Sekali pun perempuan dikloning dari laki-laki, bukan berarti keduanya sama persis. Ada sesuatu yang lain yang dimiliki perempuan sehingga sangat ketergantungan terhadap pihak lain. Itu jugalah yang nantinya akan dimanfaatkan iblis untuk memperkuat godaannya sehingga manusia jatuh di dalam dosa.

  9. Dari semua jenis binatang, Hawa mengambil salah satu sebagai kesayangannya, yaitu ular.

    Adam telah dibawa Tuhan untuk melihat berbagai binatang yang ada dibawah kekuasaannya dan memilih beberapa di antaranya untuk dijadikan peliharaan. Alkitab tidak menyebutkan secara detail binatang tersebut tetapi mungkin di antaranya merupakan hewan yang menjadi peliharaan manusia sampai sekarang.

    Hawa mungkin memiliki selera yang berbeda dengan suaminya. Pastinya, dia mengambil satu atau beberapa binatan sebagai peliharaannya. Tidak tanggung-tanggung, peliharaan kesayangan tersebut di bawa ke kediamannya bahkan tidur di sekitarnya. Salah satu hewan favoritnya adalah ular.

  10. Hawa suka bermain-main dengan ular, keduanya sangat dekat.

    Apakah anda paham, mengapa ibu pertama manusia sangat menyukai ular? Ini berhubungan dengan kulit aslinya yang sensitif dibanding laki-laki. Dia suka geli dan bawaannya nyaman ketika ular melilit menjalari tubuhnya. Bahkan besar kemungkinan binatang ini selalu dibawa kemana pun dia pergi. Bisa saja itu dililitkan ke lehernya atau ke tangannya sehingga seolah-olah seperti perhiasan yang membuat nyaman.

    Selama melalui hari dengan beban kerja nihil, Adam dan Hawa lebih banyak bermain-main mengelilingi taman. Hawa sendiri mempunyai waktu khusus untuk bermain-main dengan binatang kesayangannya, si ular yang menggemaskan: dimana hal tersebut sangat menggugah selera indra perabanya. Kedekatan keduanya seolah sulit dipisahkan, tidak ada jarak di antara mereka bahkan saat tidur pun, si ular diletakkan disampingnya.

  11. Hawa gelisah: “pada suatu pagi, ular tiba-tiba hilang dari sekitarnya.

    Pada awal suatu pagi, seperti kaum perempuan pada umumnya, Hawa lebih cepat bangun, sedang Adam masih tertidur pulas. Lantas seperti yang sudah-sudah, dia mencari peliharaan kesayangannya dengan teliti. Memeriksa seluruh rumah bahkan hingga ke luar rumah, di dalam Taman Eden. Mencarinya dengan sungguh-sungguh dalam waktu yang cukup lama.

  12. Ular dirasuki iblis, melilitkan badannya di tengah taman sambil menjulurkan lidah ke buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

    Hewan dan siapa pun juga (termasuk manusia) bisa saja dirasuki oleh si iblis. Dari segi penampilannya, tidak ada bedanya antara mereka yang disisipi oleh Roh Allah dengan orang yang dirasuki roh jahat. Akan tetapi, ciri khas yang membedakannya adalah sikap yang diekspresikan.

    Biasanya, perbedaan nyata antara kerasukan iblis dan memiliki Roh Kudus dapat diamati dengan jelas lewat sikap yang ditunjukkan: baik yang berupa kata-kata maupun tindakan nyata. Orang benar pastilah sikapnya konsisten mengasihi Allah dan sesama seperti diri sendiri.

    Akan tetapi, orang jahat tidak memelihara konsistensi sikap: baik kalau ada maunya atau kalau di depan umum saja. Semuanya berubah cepat menjadi buruk lakunya begitu tidak ada yang melihat di tempat-tempat sepi. Jika sudah tiba hari Tuhan, akan tampaklah keburukan itu dihadapan semua orang.

    Pada kasus ini, ular dirasuki iblis untuk mempermainkan manusia. Ular yang biasanya ada di sisi perempuan itu, tiba-tiba di bawa lari ke Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat. Harap dipahami bahwa iblis tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan kita. Melainkan saat seseorang berbuat jahat: ini terjadi karena pilihan dan keputusan orang yang bersangkutan.

  13. Hawa berusaha mengangkat ular yang melilit di dahan Pohon Pengetahuan tetapi tidak bisa.

    Sebenarnya, kalau ibu moyang kita bijak, ada usaha untuk membuat pilihan yang baik dalam situasi menyesakkan. Akan tetapi, dia tenggelam dalam kegelisahan hatinya dan memaksakan kehendak, “ular itu harus turun dan kembali padanya.” Seandainya hawa mau menunggu dan mengabaikan situasi tersebut lalu menyibukkan diri melakukan hal positif. Ia tetap terkendali dan tidak sampai melakukan dosa ketidaktaatan tersebut.

  14. Ular masih saja menatap dan menjulurkan lidahnya pada buah Pohon Pengetahuan.

    Saat moyang kita berusaha memanggil turun si ular beludak bahkan sampai melepaskan lilitannya, namun tetap saja tidak bisa. Sejenak dalam suasana yang panas, dia mengamati bahwa ular tersebut fokus ke buah Pohon Pengetahuan, mendesis sambil menjulurkan lidahnya berulang kali keluar. Pada situasi inilah Hawa berasumsi bahwa ular tersebut menyuruhnya untuk memakan buah pohon terlarang itu.

  15. Akhirnya, Hawa menyerah dan mengambil buah pohon terlarang tersebut.

    Perempuan pertama merupakan sosok yang kurang sabar dan cenderung memaksakan kehendaknya. Sesungguhnya, dia bisa membuat pilihan untuk mengabaikan peristiwa tersebut, kembali ke kediamannya dan menungga ular sayang kembali sendiri.

    Tapi, pada masa itu, mungkin saja dia belum paham bahwa hewan peliharaan yang lari ke hutan pasti akan kembali lagi. Kemungkinan besar, kegelisahan memenuhi hatinya karena belum terbiasa melepaskan diri dari kenyamanan bersama si ular beludak. Akibatnya, dia tidak berpikir panjang sehingga melupakan perintah khusus Tuhan tentang pohon di tengah Taman Eden.

    Di tengah rasa bimbangnya, lagi-lagi Hawa terbuai oleh pesona indra memikat yang ditunjukkan oleh sekitarnya. Saat ular membuatnya nyaman: dia mengambilnya sebagai peliharaan. Demikian juga ketika buah Pengetahuan membuat matanya terpana: diapun mau memilikinya. Seperti ada tertulis:

    (Kejadian 3:6a) Ketika perempuan itu melihat bahwa pohon itu memiliki buah yang baik untuk dimakan, sedap dipandang, dan memikat sebab dapat membuat seseorang menjadi bijaksana;

  16. Dia juga memberikannya kepada suaminya, Adam.

    (Kejadian 3:6b) ia pun mengambil buah dari pohon itu dan memakannya. Ia memberikan buah itu kepada suaminya yang bersamanya, dan suaminya juga memakan buah itu.

    Setelah mencicipi betapa nikmatnya tekstur dan rasa yang dihasilkan oleh buah Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat. Dia tidak mau menikmatinya sendiri. Turut pula ia berbagi kepada kekasih hatinya, tercinta, yaitu suaminya-Adam.

    Apa yang terjadi pada laki-laki pertama, mengapa sampai memakan buah terlarang tersebut? Mustahil dia tidak ingat dengan perintah Tuhan. Sayangnya, laki-laki itu pun tergoda dengan bujukan dan rayuan hawa yang aduhai buat hati merinding. Akhirnya, mau-mau saja disuruh untuk ini-itu,

  17. Adam dan Hawa menyadari dirinya telanjang.

    Menurut pemahaman kami, nenek moyang kita menyadari dirinya telanjang lewat pertengkaran mulut. Adam yang awalnya tidak tahu apa-apa, kemudian tersadar lalu bertanya kepada istrinya. Setelah itu emosi keduanya meledak sehingga terjadilah aksi saling ejek-mengejek. Pada momen inilah mereka menyadari dirinya telanjang.
    Adm: Buah ini enak, kamu ambil dimana?
    Hwa: Dari tengah taman….
    Adm: Apa? Itukan dilarang Tuhan!!!
    Hwa: Ular itu yang menyuruh aku….
    Adm: (emosinya meledak memarahi istrinya bahkan memukul pula) Dasar binatang, tak tau diri…
    Hwa: (ikut-ikutan marah karena ditampeleng) Kau juga binatang!!!
    Adm: Kau yang binatang!!!
    Hwa: Kau yang binatang, lihat kamu telanjang!!! Tuhan tidak kelihatan itunya (kemaluannya)
    Adm: Kau juga telanjang!!! Itumu juga kelihatan!!!
    Suasana jadi diam seribu bahasa karena mereka tiba-tiba terkejut sadar bahwa dirinya telanjang.

  18. Keduanya dikutuk Tuhan dan diusir dari taman eden.

    Kutukan terhadap ular: (Kejadian 3:14-15) Maka, berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu, “Karena engkau telah melakukan hal ini, terkutuklah engkau di antara segala binatang ternak, terlebih lagi di antara segala binatang liar. Dengan perutmu engkau akan menjalar, dan engkau akan makan debu tanah seumur hidupmu. Aku akan menaruh permusuhan antara engkau dan perempuan itu, dan di antara keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan mematuk tumitnya.”

    Kutukan terhadap perempuan: (Kejadian 3:16) Kepada perempuan itu Allah berkata, “Aku akan menambah-nambahkan kesakitanmu ketika mengandung, dan dalam kesakitan engkau akan melahirkan anakmu. Engkau akan berahi kepada suamimu, dan ia akan berkuasa atasmu.

    Kutukan terhadap laki-laki: (Kejadian 3:17-19) Namun, kepada manusia itu Allah berkata, “Karena engkau menuruti perkataan istrimu, dan memakan buah dari pohon itu yang kepadamu Kuperintahkan, ‘Jangan engkau memakannya,’ terkutuklah tanah karena engkau! Dengan bersusah payah engkau mengusahakan makanan darinya seumur hidupmu. Semak duri dan rumput liarlah yang akan ditumbuhkan tanah bagimu, dan engkau akan memakan tumbuh-tumbuhan di padang. Dengan keringat di wajahmu, engkau akan makan makananmu, sampai engkau kembali kepada tanah yang darinya engkau diambil. Sebab, engkau adalah debu, dan akan kembali kepada debu. Saksikan juga kawan, Makna kutukan terhadap manusia pertama.

Kesimpulan

Dari kejadian inilah tersirat bahwa binatang tidak selalu baik dan tidak selalu jahat. Pada momen tertentu, mereka mendukung kita tetapi tidak tertutup kemungkinan, mereka justru mendatangkan atau memancing agar manusia berdosa dihadapan Sang Pencipta. Oleh karena itu, jangan gantungkan iman kepada sikap hewan yang berkeriapan di sekitar kita. Hindari mengarahkan perilaku binatang untuk dijadikan ukuran/ standar tertentu. Sebab biar bagaimana pun juga, iblis bisa mengintimidasi hewan untuk mempermainkan kita. Lagi pula, orang lain di sekitar kita bisa memicu/ menghambat reaksi tertentu untuk mempengaruhi makhluk-makhluk mungil indah tersebut.

Pelajaran kedua yang kita tangkap dari peristiwa di Taman Eden adalah “candu kenyamanan menghilangkan akal sehat.” Beginilah jadinya hidup ketika kita terlalu ketergantungan dengan posona yang di tangkap oleh panca indra. Harus dipahami bahwa rasa nyaman yang timbul lewat gemerlapan duniawi, sifatnya sesaat saja. Saat yang keenakan itu, hilang dari sekitar: tetaplah tenang dan jangan biarkan kekuatiran membuat hati gelisah. Orang yang terlalu candu dengan kenyamanan terus-menerus, saat hal tersebut diambil darinya, sikap jadi tidak terkendali. Oleh sebab itu, jangan biarkan pikiran amburadur karena fluktuasi materi duniawi. Berusahalah untuk membiasakan diri dan selalu bersukacita sekali pun kantong kadang tebal dan kadang tipis.

Semuanya ada kemungkinannya dan dalam kemungkinan itulah kami bermain-main. Apakah anda percaya atau tidak, silahkan… Kami hanya berharap agar para pembaca dapat memetik hikmah dari semua kisah ini. Kecanduan yang alot terhadap materi duniawi semakin membuat manusia rapuh emosional: mudah gelisah, membenci sampai marah tidak karuan. Oleh karena itu, nikmati hidupmu dan nikmati duniamu tetapi berhentilah mencanduinya. Melainkan, milikilah sikap yang ikhlas fleksibel: kalau ada, ok; kalau tidak ada juga tidak masalah. Berupayalah menyesuaikan diri dengan gejolak materi yang kadang ada, kadang tidak ada, kadang pahit, kadang manis, kadang enak dan kadang tidak enak. Semuanya itu, adalah tantangan untuk membuat kita berkembang bahkan menjadi pribadi yang bijaksana.

Salam, Nenek moyang kita,
candu dengan kenyamanan.
Saat itu berhenti, hati gelisah,
melanggar perintah Allah.
Belajarlah fokus hati tenang
di tengah kenikmatan fluktuatif,
niscaya sikap pun jauh dari dosa
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.